Feng Mo Tian yang beberapa waktu ini disibukan dengan berbagai urusan diluar ibukota hari ini memiliki waktu senggang sehingga diapun bermaksud untuk mengunjungi sahabat yang saat ini sedang sakit keras.
Meski banyak rumor yang menyebutkan jika putra sulung keluarga Chi tersebut menderita penyakit aneh yang mematikan dan menular, tapi Fen Mo Tian tak berpikir seperti itu.
Dia merasa ada sedikit keganjilan dalam penyakit aneh yang diderita oleh sahabatnya itu. Karena sepengetahuannya, sejak kecil Chi Ang Bei tak pernah menderita penyakit parah dan tubuhnya selalu sehat.
Jika tiba – tiba dia jatuh sakit dan mengalami masa kritis hanya dalam waktu satu minggu, dia sangat yakin ada seseorang yang berniat mencelakai sahabatnya itu.
“ *T*api siapa ?....”, itulah yang ada dibenak Feng Mo Tian saat ini.
Untuk memastikan semuanya maka hari ini dia menyempatkan diri untuk berkunjung. Feng Mo Tian sedikit menautkan kedua alisnya heran waktu menyadari jika penjagaan dalam kediaman Chi lebih ketat daripada sebelumnya.
“ Kurasa masalah yang ada tak sesimple yang kubayangkan….”, batin Feng Mo Tian sambil melangkah masuk kedalam kediaman Chi.
Begitu masuk, Feng Mo Tian disuguhkan pemandangan yang diluar ekspetasinya. Dia melihat sahabatnya itu duduk bersantai disofa samping ranjangnya sambil membaca sebuah buku.
Pemuda tampan itu langsung tersenyum lebar waktu mengetahui jika sahabatnya datang untuk menjenguknya.
“ Sia – sia aku membawa herbal berkualitas tinggi jika kondisimu baik – baik saja….”, ucap Feng Mo Tian sarkastik.
Mendengar sindiran halus yang diucapkan oleh sabatnya tersebut, Chi Ang Bei hanya bisa terkekeh. Diapun segera meletakkan buku yang dibacanya keatas meja dan menepuk sofa agar Feng Mo Tian duduk disampingnya.
“ Jika kamu datang kemarin mungkin kamu akan menangis melihat kondisiku yang mengenaskan….”, ucap Chi Ang Bei kembali teringat bagaimana kondisinya kemarin sebelum dewi penolong menyembuhkan tubuhnya tadi malam.
“ Apa maksudmu ?....”, kening Feng Mo Tian berkerut cukup dalam.
Melihat sahabatnya kebinggungan, Chi Ang Bei pun segera menceritakan semua hal yang terjadi padanya termasuk masalah racun yang ada dalam tubuhnya.
Untuk sesaat Feng Mo Tian terdiam dan memikirkan semua ucapan sahabatnya dengan cermat hingga akhirnya dia bisa menarik benang merah terhadap permasalahan yang terjadi.
“ Kaisar Ming Qin….”, gumannya geram.
“ Ternyata kamu juga berpendapatan begitu….”, ucap Chi Ang Bei sambil tersenyum sinis.
Dia sama sekali tak menyangka jika kontribusinya untuk menyehatkan keuangan istana malah merujung maut untuknya.
Diapun kembali teringat dengan kata – kata yang diucapkan dewi penolongnya jika dia harus mundur agar tak mati konyol.
“ Darimana gadis itu tahu hal tersebut sementara aku dan ayah saja baru saja terpikir mengenai permasalahan tersebut setelah mendapatkan peringatan darinya….”, batin Chi Ang Bei penasaran.
Feng Mo Tian yang memang bisa membaca pikiran oleh orang lain terlihat sedikit terkejut waktu mendengar pikiran sahabatnya itu.
“ Gadis ?....dewi penolong ?...siapa dia ?....”, tanya Feng Mo Tian dengan tatapan penuh selidik.
“ Aku juga tidak tahu siapa dia ?..tapi mungkin Bing'er mengetahuinya ?....”, ucap Chi Ang Bei menerawang jauh kedepan.
“ Bagaimana bisa gumpalan lemak itu tahu ?....”, tanya Feng Mo Tian dengan wajah terkejut.
Gumpalan lemak adalah sebutan Feng Mo Tian untuk adik Chi Ang Bei, Chi Bian Cheung karena tubuhnya yang gendut dan banyak lemak dimana – mana.
Bocah gendut itu tidak sepintar sang kakak, tentu saja Feng Mo Tian ragu jika bocah kecil itu memiliki kontribusi dalam kesembuhan sang kakak.
“ Kemarin sore tiba – tiba Bing’ er datang kekamarku sambil membawa empat punch wewanggian yang diletakkannya disetiap sisi tempat tidurku….”
“ Sebelum beranjak pergi dia mengatakan jika nanti tengah malam akan ada orang yang datang untuk mengobatiku….”
“ Dia juga berpesan, apapun yang nanti dilakukan oleh orang tersebut aku harus mempercayainya…"
“ Dan, waktu tengah malam tiba – tiba ada seorang gadis bercadar masuk kedalam kamar dan mengobatiku…”
“ Selain mengobati, dia juga meninggalkan beberapa nasehat untukku…”
Chi Ang Bei terlihat menjelaskan semua hal yang terjadi kemarin kepada Feng Mo Tian.
“ Apakah gadis itu sangat cantik ?....”, tanya Feng Mo Tian dengan senyum menggoda waktu dia kembali membaca apa yang ada dalam pikiran sahabatnya itu.
“ Kurasa begitu, meski aku tak bisa melihat wajahnya secara menyeluruh karena tertutup cadar….”, ucap Chi Ang Bei tersipu malu.
Sebenarnya Chi Ang Bei cukup senang memiliki sahabat yang bisa membaca pikiran orang lain karena dia tak perlu menjelaskan panjang lebar, sahabatnya itu bisa mengetahui semuanya.
Tapi, untuk masalah yang satu ini Chi Ang Bei sangat berharap Fen Mo Tian tak bisa membaca pikirannya karena itu adalah hal yang sangat memalukan baginya.
Bagaimana bisa dia memiliki pikiran kotor mengenai dewi penolongnya itu. Bahkan dia sama sekali belum mengenal gadis itu.
“ Hahahaha…..kenapa kamu malu. Itu adalah hal wajar untuk pemuda seusiamu karena sudah waktunya menikah….”, ucap Feng Mo Tian sambil tertawa terbahak – bahak.
Sementara Chi Ang Bei yang merasa ditertawakan hanya bisa mengubah wajahnya menjadi datar karena sangat kesal dengan ucapan sahabatnya itu.
Dibalik tawanya yang menggelegar dalam hati Feng Tian Mo semakin penasaran terhadap sosok dewi penolong yang telah mencuri hati sahabatnya itu.
Bukan penasaran tentang wajah cantiknya, tapi dia lebih penasaran siapa gadis itu sebenarnya. Bagaimana dia bisa memiliki kemampuan medis yang lebih hebat dibandingkan dengan tabib Ryu.
Dan lagi, dia adalah seorang perempuan. Cukup langkah didunia ini ada ahli medis yang sangat berbakat seorang perempuan.
Apalagi menurut apa yang digambarkan oleh sahabatnya jika dewi penolongnya itu adalah seorang gadis muda yang usianya bahkan jauh dibawah mereka.
Rasa penasaran ini sungguh membuat hati Feng Mo Tian tak tenang. Untuk mengatasi hal tersebut terpaksa dia harus datang ke akademi, suatu tempat yang paling dia benci karena banyak gadis yang pasti akan mengerubunginya disana.
“ Sungguh memuakkan….tapi hanya itu satu – satunya cara untuk menjawab rasa penasaranku….”, batin Feng Mo Tian bermonolong.
Setelah dirasa cukup berbincang – bincang dengan sahabatnya, Feng Mo Tian pun pamit undur diri dan berharap sahabatnya itu menjaga kondisi tubuhnya dengan baik.
Sementara dirinya akan langsung meluncur menuju akademi guna menyelidiki siapa gadis hebat yang bisa menarik perhatiannya itu.
“ Kurasa aku akan masuk akademi lewat pintu belakang saja….”, guman Feng Mo Tian sambil mulai memacu kudanya menuju hutan yang ada dibelakang akademi.
Dia sangat tahu jika buntalan lemak selalu bersembunyi dilorong belakang akademi sebagai tempat persembunyian terbaik untuknya.
Dan jika dia beruntung, mungkin dia akan bertemu dengan gadis yang telah menarik perhatiannya tersebut disana.
“ Jika buntalan lemak itu cukup dekat dengan gadis tersebut, tentunya mereka akan bertemu di lorong belakang akademi….”, guman Feng Mo Tian bermonolog.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 162 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
buntalan lemak bikin ngakak aja nih 😅😅
2025-01-02
0
Kim Cindy
buntalan lemak wkwkwk sumpah lucu bgt
2024-12-27
0
lotus
auto ngakak
2024-08-18
1