Zester tertawa hambar karena respon kepala desa itu, sebagai direktur harga dirinya merasa terinjak tapi dia sangat ingin bertemu dengan Ara.
Jadi, lelaki itu harus lebih bersabar lagi.
"Bolehkah saya masuk pak kades?" tanya Zester sesopan mungkin.
Sebagai kepala desa yang baik, Theo tidak boleh menolak tamunya.
"Masuklah," akhirnya Theo memberi izin untuk masuk.
Pada saat itu keluarga Theo akan makan malam bersama, sekarang Megan sudah pandai memasak karena belajar dari ibu mertuanya.
"Siapa itu?" gumam Megan. Hal ini bukan pertama kali terjadi, sebagai kepala desa rumah mereka harus siap menerima tamu kapanpun itu.
"Ara..." Megan memanggil anak gadisnya.
Ara keluar dari kamar dan mencoba membantu ibunya di dapur.
"Siapkan piring lebih, sepertinya ada tamu. Kita ajak makan malam saja sekalian," ucap Megan.
"Tamu siapa?" Ara masih tidak sadar jika tamunya itu mencari dirinya.
Saat masakan selesai dan tertata di meja makan, Megan memanggil suaminya.
"Ayah, makan malamnya sudah siap. Bawa tamunya kemari," ucap Megan dengan nada ditinggikan dari biasanya.
Theo pun mengajak Zester dan asisten Mike menuju meja makan.
"Ara, katanya kau mengenal bule ini, dia mencarimu," ucap Theo pada putrinya.
Ara kaget sampai mengangakan mulutnya, dia tidak percaya lelaki yang mengaku impoten itu akan nekat mendatanginya.
"Jadi, namanya Ara," batin Zester sambil tersenyum miring.
Lelaki itu mengguyar rambutnya pelan, penampilannya jauh berbeda daripada di telaga sebelumnya, Ara harus melihat auranya yang tampan dan kaya.
"Kenapa ayah mengizinkannya masuk?" tanya Ara yang justru merasa aneh melihat Zester tebar pesona. Di kepalanya hanya ada bayangan celana menyembul.
"Jadi bule ini mengaku-ngaku mengenalmu?" Theo menatap Zester dan Ara bergantian.
"Tentu saja tidak pak kades, Ara sangat mengenal saya luar dan dalam," sela Zester yang takut diusir.
Ara tidak percaya Zester akan berbicara seperti itu, yang mendengarnya pasti akan berpikir mereka mempunyai hubungan.
"Kalian pacaran?" Megan akhirnya ikut bersuara.
"Tentu saja tidak!!" Ara langsung membantah dengan keras.
"Kalau begitu lanjutkan saja nanti main tebak-tebakannya, sekarang makan dulu keburu masakannya dingin," ucap Megan yang ingin mengakhiri suasana di meja makan itu.
"Aku akan memanggil adik," Ara berlari meninggalkan meja makan untuk pergi ke kamar Agam.
Pada saat itu, Agam baru saja mandi dan memakai pomade ke rambutnya.
"Mbak kenapa?" tanya Agam saat Ara masuk ke kamarnya dengan wajah panik.
"Ada orang aneh yang ngejar mbak, sekarang orang itu ada di meja makan. Coba lihat, di belakangnya ada setannya apa tidak? Takutnya dia ketempelan setan telaga," jelas Ara. Dia meminta bantuan adiknya yang bisa melihat makhluk halus.
Karena penasaran, Agam menuruti permintaan sang kakak.
Agam dan Ara keluar kamar, mereka ikut bergabung di meja makan dan duduk bersebelahan.
Di sana Agam terus memandangi Zester.
"Bagaimana?" bisik Ara.
"Tidak ada setan apapun hanya saja..." Agam mendekat ke telinga kakaknya. "Sepertinya dia terkena kutukan!"
"Kutukan?" tanya Ara semakin merinding.
Ara tidak mengerti kenapa harus terlibat dengan urusan lelaki yang tidak dikenalnya itu.
Saat makan, Ara merasakan kakinya disenggol dari bawah.
"Berani-beraninya dia mengabaikan aku," batin Zester terus berusaha menyenggol kaki Ara dari bawah meja.
Ara hanya diam saja dan berusaha tenang walaupun kakinya terus disenggol.
"Ehem!" Theo berdehem karena merasa meja makan jadi bergoyang.
"Aku hanya diam saja ayah, bule lokal itu yang terus menggangguku," ucap Ara melapor.
"Kau suka pada anak gadisku, ya?" Theo langsung bertanya to the point pada Zester.
"Kaki saya hanya gatal pak kades," jawab Zester memberi alasan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
Ifah Ifah
hanya gatal 🤣🤣🤣🤣💪
2025-01-24
0
sarah shen
good agam 👍
2024-09-19
0
Zheil
penasaran sm si jester gehara baca novel si agam n arnet 😆
2024-03-11
2