Proses pembelajaran pun selesai bel istirahat sudah berbunyi. ibu Wardani menarik nafas dengan panjang dan berat.
semua murid memasukkan buku mereka ke tas kembali. mereka saat heran saat melihat ibu Wardani yang belum keluar dari kelas.
"murid-murid mungkin hari ini kalian akan kehilangan salah satu teman kelas kalian" ucap Ibu Wardani yang membuat semua murid saling tatap-tatapan.
"ada salah satu teman kelas kalian yang akan pindah sekolah" ucap Ibu Wardani lagi
"siapa bu" tanya Fia dan Kia
"iya bu, siapa?" tanya murid lainnya
"Hilya" ucap Ibu Wardani yang membuat semua murid terkejut.
Syifa, Kia, Fia, Disa dan Abian menatap Hilya dengan raut wajah yang sedih.
"nak, ibu tidak tau pasti alasan kamu pindah sekolah nak, tapi yang ibu harapkan di manapun kamu bersekolah nanti kamu bisa menjadi orang yang sukses" ucap Ibu Wardani yang menghampiri Hilya di mejanya dengan raut wajah sedih.
"ini surat pindah sekolah kamu nak" ucap Ibu Wardani
"terimakasih bu" ucap Hilya dan memeluk Ibu Wardani
"kamu harus jadi orang yang hebat ya" ucap Ibu Wardani yang membalas pelukan dari Hilya.
Ibu Wardani pun keluar dari kelas semua murid tidak ada yang keluar dari kelas mereka terdiam dan menunggu penjelasan dari Hilya.
"Hilya kamu kenapa pindah" tanya Syifa yang sudah menangis
"di sini aku sendiri, jadi aku mau tinggal bersama tante dan om ku di semarang" ucap Hilya
"Hilya terus kontakan sama kami ya" ucap teman sekelas Hilya
"iya" sahut Hilya sambil tersenyum.
Teman-teman kelas Hilya pun keluar kecuali Syifa, Kia, Fia, Disa Dan Abian.
Syifa memeluk Hilya sambil menangis.
"kalau kamu pergi, aku gimana?" tanya Syifa
"aku gak mau kamu pergi Hil" ucap Syifa lagi
"aku bakal sering ngabarin kamu kok" ucap Hilya
"aku pulang dulu ya, aku buru-buru" ucap Hilya yang kemudian mengambil tasnya dan pergi.
Syifa terduduk di kursinya dan menangis, Syifa teringat kata-kata dari bik Murni saat dia ke rumah Hilya kemarin.
flashback on saat Syifa ke rumah Hilya tapi Hilya pergi ke makam bundanya.
"halo bik" ucap Syifa yang menyapa bik Murni yang sedang menyapu
"eh neng Syifa" ucap bik Murni
"bik Hilya nya ada?" tanya Syifa
"neng Hilya lagi pergi ke makam bundanya" sahut bik Murni.
"oh gitu ya bik" ucap Syifa dan di balas anggukan oleh bik Murni.
"oh ya bik dalam beberapa hari ke belakang atau dalam minggu ini, Hilya suka murung atau menyendiri gitu gak kalau di rumah?" tanya Hilya
"sering neng, neng Hilya sering nangis di kamar nya" ucap bik Murni.
"bibi tau gak kenapa?" tanya Syifa
"sini neng, sini duduk biar bibi ceritain semuanya" ucap bik Murni yang menyuruh Syifa duduk di kursi yang berada di teras rumah Hilya.
"jadi gini neng, setelah tepat tiga bulan bundanya neng Hilya meninggal, ayah neng Hilya mau menikah lagi" ucap bik Murni
"apa om Irwanto sudah nikah lagi" ucap Syifa yang terkejut
"iya neng, parahnya lagi waktu pagi itu, neng Hilya di bentak oleh ayahnya karena neng Hilya gak mau pindah ke Jakarta atau datang ke acara pernikahan ayahnya lah neng" ucap bik Murni.
"dan itu pertama kali nya neng Hilya di bentak oleh ayahnya. neng Hilya nangis sampai masuk kamar, nah gak lama kemudian datang teman neng Hilya yang cowok, ngajak neng Hilya jalan. neng Hilya perginya dengan senyum tuh, eh pulangnya langsung nangis lagi sampai ada tante dan om nya yang nenangin"jelas buk Murni.
"mungkin waktu neng Hilya pergi dengan temannya ayah neng Hilya nelpon dan ngebentak neng Hilya lagi" ucap bik Murni.
"pokoknya kasian banget lah sama neng Hilya, masih muda begitu harus di tinggalin oleh bundanya, terus ayahnya menikah lagi, sedih bik Murni lihat nya" ucap bik Murni dengan raut wajah sedih
Hari itu bik Murni menceritakan semuanya pada Syifa tentang Hilya yang masih menangis sendirian di kamar. Syifa yakin penyebab Hilya begitu juga ada kaitannya dengan Abian dan Disa.
flashback off di kelas
Syifa terduduk di kursi dan menangis, Syifa teringat kata-kata dari bik Murni saat dia ke rumah Hilya kemarin.
"Syifa sudah kamu jangan nangis" ucap Fia
"iya Syif, kan ada kita di sini" ucap Kia yang juga memenangkan Syifa
"Syifa kamu jangan sedih ya" ucap Disa yang mendekati Syifa
"ini semua karena kalian berdua" ucap Syifa yang berdiri dan menunjuk kearah Disa dan Abian
"kamu udah nusuk Hilya dari belakang, tega kamu Disa. jelas-jelas kamu tau Hilya suka sama Abian, tapi kamu malah dekati Abian di belakang Hilya" teriak Syifa yang marah
"dan kamu, kamu teh benar-benar gak peka ya, Hilya tuh suka sama kamu, Hilya udah jadiin kamu sebagai orang yang mampu membuat dia kembali tersenyum" ucap Syifa pada Abian.
"kalian tau gak masalah yang di hadapi oleh Hilya, hah tau gak" bentak Syifa
"ayah Hilya nikah lagi, Hilya sedih, Hilya kecewa. dan tepat di hari kamu ajak Hilya jalan cuma untuk nunjukin tempat itu, itu Hilya baru di bentak oleh ayahnya" ucap Syifa yang membuat Abian, Disa, Fia dan Kia terkejut.
"dia pergi dengan kamu untuk melupakan bentak kan dari ayahnya, tapi setelah pergi dengan kamu kesedihan Hilya makin parah" ucap Syifa yang kemudian mengambil tasnya dan pergi.
Syifa bolos sekolah dan pergi ke rumah Hilya. jujur Syifa tidak rela Hilya pergi karena Hilya adalah sahabat Syifa dari kecil. bahkan saat orang tua Syifa meninggal, Hilya yang selalu di sampingnya.
di kelas tersisa Abian, Disa, Kia dan Fia
suasana kelas menjadi hening.
"Kia kita nyusul Syifa yok" ucap Fia
"yok" sahut Kia
"aku ikut" ucap Disa
"kita sahabatan dari SMP sampai SMA, tapi kamu tega Sa" ucap Kia dan pergi sedangkan Fia hanya menatap Disa dan kemudian juga pergi.
"Abian kita nyusul Hilya yok" ucap Disa
"percuma kita nyusul, dia juga udah terlanjur kecewa sama kita" ucap Abian dan pergi meninggalkan Disa sendiri di kelas.
Hilya sudah di jemput oleh tante dan om nya.
"bibi pasti akan sangat rindu sama neng Hilya" ucap bik Murni yang memeluk Hilya yang ingin berangkat.
"Hilya juga bik" ucap Hilya
"Hilya ayo kita berangkat" ucap tante Lola
"Bik Hilya pamit dulu ya" ucap Hilya yang di anggukin oleh bik Murni
Hilya pun ingin masuk ke mobil om dan tante Lola, namun langkah Hilya terhentikan oleh teriakan Syifa.
"Hilya tunggu" teriak Syifa
"Hilya jangan pergi" ucap Syifa yang memeluk Hilya
"aku harus pergi Syif, aku pengen tinggal bersama tante dan om ku saja" ucap Hilya
"tapi kamu jangan lupain aku ya, pokoknya kita harus sering-sering kontakan" ucap Syifa
"iya, aku bakal sering hubungin kamu kok" ucap Hilya
"aku pergi dulu ya" ucap Hilya dan di anggukin oleh Syifa yang menangis.
Hilya pun pergi bersama om dan tante nya. Syifa menangis melihat kepergian Hilya.
"Syifa, Hilya mana" tanya Kia yang baru sampai
"dia sudah pergi" ucap Syifa yang menangis
"udah-udah kamu jangan nangis lagi, kan Hilya udah bilang bakal sering kontakan sama kita" ucap Fia
"iya neng, jangan menangis terus, bibi juga sedih neng Hilya pergi tapi mungkin ini yang terbaik untuk neng Hilya" ucap bik Murni.
"yaudah bik kita balik dulu ya" ucap Fia
"yuk Syif" aja Kia dan di anggukin oleh Syifa.
semenjak kepergian Hilya semuanya menjadi berubah, dari persaingan Syifa dam Disa termasuk hubungan Disa dan Abian.
...****************...
...****************...
...****************...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
...****************...
...****************...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Nagus Hilya pindah aja, Biar tuh cowok sadar dgn perasaannya sendiri..
2023-11-02
1