"oh ya besok kan libur, kamu ikut aku ya" ucap Abian
"kemana" tanya Hilya
"udah pokoknya besok aku jemput ya" ucap Abian
"tapi.." ucap Hilya namun langsung di sela oleh Abian
"ah gak ada tapi-tapian, pokoknya besok aku jemput jam 9 pagi oke" ucap Abian sambil tersenyum dan kemudian pergi.
saat Abian sudah pergi, Hilya yang duduk sendiri di taman di kejutkan oleh keempat sahabatnya Kia, Disa, Syifa, dan Fia.
"cieeeeee" ucap Kia, Syifa, dan Fia barengan sedangkan Disa hanya tersenyum tipis
"habis ngapain tadi berdua" ucap Syifa
"ih apaan sih" sahut Hilya yang salah tingkah
"hahahhaaha" tawa Kia, Syifa, dan Fia barengan
"yu masuk kelas yu" ucap Hilya yang mencoba mengalihkan pembicaraan
"ngomong apaan tadi dia" tanya Fia
"iya-iya tadi dia ngomong apa?" tanya Kia lagi
"ihh kalian gak boleh kepo" ucap Hilya yang berlari ke kelas
"ih Hilya tungguin aku" teriak Syifa.
Hilya, Kia, Disa, Syifa, dan Fia pun masuk ke kelas masing-masing. setelah mengikuti ujian terakhir, bel pulang pun berbunyi, dan merekapun pulang ke rumah masing-masing.
"eh neng sudah pulang" ucap bik Murni
"iya bik" jawab Hilya sambil tersenyum senang
"ya ampun neng, sumringah banget tuh wajah" ucap bik Murni yang sedang menggoda Hilya.
"apaan sih bik, biasa aja kali" ucap Hilya lagi
"Hilya masuk ke kamar dulu ya bik" ucap Hilya sopan
"Iya neng" sahut bik Murni.
malam pun tiba, Hilya makan malam bersama bik Murni.
"Neng tadi bapak telpon, katanya neng di suruh pindah ke Jakarta besok" ucap bik Murni
"Hilya gak mau bik, Hilya gak mau melihat ayah menikah dengan orang lain dan mengantikan posisi bunda" ucap Hilya yang sedang makan dengan raut wajah yang mulai sedih.
bik Murni yang mendengar ucapan Hilya juga ikut sedih karena bik Murni tau betul perasaan dan sifat Hilya apalagi bik Murni sudah merawat Hilya dari kecil.
"neng yang sabar ya" ucap Bik Murni yang menggenggam tangan Hilya
"bik kalau ayah telpon lagi, tolong bilang kalau ayah mau menikah maka menikahlah dan tidak perlu menunggu atau mengharapkan kedatangan Hilya" ucap Hilya yang kemudian pergi.
"eh neng, makanannya belum di habisin" ucap bik Murni dengan tau wajah sedih.
"Hilya sudah kenyang bik" ucap Hilya yang pergi masuk ke kamarnya.
di kamar Hilya kembali menangis mengingat bundanya.
"bunda Hilya kangen sama bunda, Hilya tidak bisa terima jika ayah mengantikan posisi bunda dengan wanita lain" ucap Hilya yang memeluk foto bundanya dan mengeluarkan air matanya.
saat Hilya sedang merindukan bundanya, ponsel dia pun berbunyi yang ternyata Abian yang melakukan panggilan video dengan Hilya.
Hilya langsung menghapus air matanya dan menerima panggilan tersebut.
"hai Hilya" sapa Abian di seberang sana
"Hai" sahut Hilya
"kamu kenapa?, kok mata kamu sembab, habis nangis ya" tanya Abian yang melihat mata Hilya
"engga kok, aku gak apa-apa" elak Hilya
"oh ya btw kenapa nelpon?" tanya Hilya lagi
"emang gak boleh kalau aku telpon kamu" tanya Abian
"ya boleh-boleh aja sih" ucap Hilya yang kemudian melihat ada seseorang yang iya kenal bersama Abian.
"eh, bentar kamu lagi sama Disa?" tanya Hilya
"iya nih, aku lagi sama Disa, tadi kebetulan ketemu pas akau ke cafe juga" ucap Abian
"Hilya" panggil Disa
"Hey, kamu ngapain ke Cafe malam-malam" tanya Hilya
"bosan aja di rumah, kamu taukan di rumah aku gimana" ucap Disa
"kenapa gak ke rumah aku aja" tanya Hilya
"Gak enak aja gangguin kamu terus" ucap Disa yang emang sudah sering ke rumah Hilya
"eh beneran deh kata Abian mata kamu sembab, habis nangis?" tanya Disa
"engga kok" elak Hilya
"oh ya udahan dulu ya, aku mau tidur" ucap Hilya
"iya, tidur nyenyak ya" ucap Disa
"eh Hilya besok jangan lupa ya" ucap Abian cepat sebelum Hilya mematikan panggilannya
"iya" ucap Hilya sambil tersenyum dan mematikan ponselnya
"Kira-kira Abian besok mau ajak aku ke mana ya" ucap Hilya yang ngomong sendiri
"semenjak bunda gak ada cuma Abian dan keempat sahabat ku yang bisa membuat aku kembali tersenyum" ucap Hilya
"mending aku tidur aja deh" ucap Hilya lagi dan tidur.
keesokan harinya setelah sholat subuh Hilya duduk di kasurnya sejenak, kemudian dia melepaskan mukenanya dan membereskan tempat tidurnya.setelah membereskan tempat tidurnya, Hilya menatap ponselnya yang ternyata sudah ada panggilan tak terjawab sebanyak 37 kali.
"sudah sebanyak 37 kali ayah menelpon ku" ucap Hilya sambil melihat ponselnya.
Hilya pun menghiraukannya, dia mengambil ponselnya dan turun ke bawah untuk melihat bik Murni yang memasak.
"pagi bik" sapa Hilya yang duduk di kursi
"pagi neng" sahut bik Murni yang sedang memasak
"nasi goreng ya bik" ucap Hilya
"iya neng" sahut Bik Murni
"wah Hilya gak sabar pengen makan" ucap Hilya
tiba-tiba ponsel Hilya kembali berbunyi.
dengan menarik nafas panjang saat melihat ternyata ayahnya yang kembali menelpon. Hilya pun menerima panggilan dari ayahnya.
"ada apa lagi yah?" tanya Hilya
("kenapa kamu begitu keras kepala Hilya, ayah sudah menyuruh mu untuk datang, besok pernikahan ayah Hilya, bagaimana bisa kamu tidak datang"ucap Irwanto dengan nada yang marah dan membuat Hilya kembali menitikkan air mata)
"Hilya akan tetap di sini yah, ayah jika mau menikah maka menikahlah" jawab Hilya
bik Murni yang melihat Hilya sudah mengeluarkan air mata langsung menghampiri Hilya dan mengusap kepalanya.
("kenapa kamu membantah ayah sekarang hah, ayah meminta mu untuk tinggal dengan ayah dan ibu baru kamu nanti, kamu bisa bersekolah di sini" bentak Irwanto)
("kamu jangan kurang ajar sama ayah, kalau kamu masih keras kepala, jangan harap ayah bakal kirim uang lagi ke kamu"sambung Irwanto)
("kalau kamu emang gak mau datang terserah, ayah tetap akan menikah tanpa kehadiran mu pun ayah akan tetap melakukan pernikahan besok"ucap Irwanto lagi dan mematikan ponselnya)
Mendengar ayahnya yang membentaknya Hilya sangat sedih, dia menangis di dalam pelukan Bik Murni.
"neng Hilya yang sabar ya neng" ucap Bik Murni yang terus mengusap kepala Hilya
"Bibi yakin neng Hilya anak yang tangguh, anak yang kuat" ucap Bik murni lagi
"sekarang kita sarapan aja, jangan ingat-ingat masalah tadi lagi" ucap bik Murni yang menaruh makanan untuk Hilya.
"makasih bik" ucap Hilya sendu
"Sama-sama neng, mari makan" ucap Bik Murni
("ya Tuhan malang bener nasib neng Hilya, tolong ya Allah kuatkan lah gadis kecil ini untuk menanggung beban ini"batin bik Murni yang melihat kearah Hilya)
"bik, Hilya mau siap-siap dulu ya, nanti teman Hilya jemput" ucap Hilya yang menaruh sendoknya di atas piring
"tapi neng abisin dulu makanannya" ucap Bik Murni
"Hilya sudah kenyang bik" ucap Hilya
"kenyang gimana, semalam neng Hilya makannya juga gak habis" ucap Bik Murni yang khawatir
"Hilya udah kenyang kok bik, beneran deh. Hilya ke kamar dulu ya" ucap Hilya dan pergi
"ya ampun neng, neng teh bisa sakit kalau begini terus. apa aku telpon adiknya nyonya saja ya buat ngasih tau masalah ini" ucap Bik Murni yang melihat kepergian Hilya.
Bik Murni pun membereskan kembali meja makan, dan setelah itu bik murni berencana untuk menelpon adik almarhumah nyonya nya yaitu tante Lola.
di kamar Hilya.....
...****************...
...****************...
...****************...
Hai guys dukung terus author ya
jangan lupa follow, like,comment, dan tambahkan ke daftar favorit kalian, supaya kalian mendapatkan notifikasi saat author update.
maaf jika ada kata-kata yang typo
byebye....
...----------------...
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
lily
masih ku pantau haha
2024-01-31
0