Luna melirik jam dinding yang tertempel di dinding ruang tengah, menunjukkan jam tiga sore. Khairul masih lelap tidur siang. Hari ini Luna tak masuk kantor. Bahkan ia ingin berniat mengajukan pensiun dini kepada atasannya agar Luna dapat mengurus Khairul putranya sendiri dengan maksimal.
Apalagi dengan permasalahan rumah tangganya, ia ingin mengurus perusahan milik Pamannya sendiri. Yanga mana saham Luna juga terdapat sekitar 25% di sana selebihnya milik Paman Luna.
Hari ini Luna memang tidak memasak. Ia memilih memesan makanan dengan menggunakan aplikasi online. Sekalian untuk makan malam dengan Khairul. Luna tak lagi menyiapkan makanan untuk Bram.
Luna langkahkan kakinya memasuki kamar. Sebuah ranjang berukuran besar yang menjadi saksi bisu kebahagiaannya dengan Bram selama sepuluh tahun ini. Terbayang semua kebahagiaan yang mereka rajut dengan penuh pengorbanan peluh dan air mata.
Luna pertama kali bertemu Bram, sewaktu mereka masih sama sama kuliah di Jakarta. Luna asal dari Sumatera dan Bram asal dari Jakarta. Karena mereka merasa cocok, Cinta itu tumbuh bersemi di hati mereka. Hingga mereka memutuskan untuk menikah. Meski awalnya Ayah Luna dan keluarga sedikit ragu karena berasal dari jauh dan tak begitu mengenal asal-usul keluarganya.
Namun, Luna selalu meyakinkan ayah dan keluarganya kalau Bram itu pemuda yang tepat untuknya. Sikapnya yang lembut, hangat, tampan, dan mudah bergaul, membuat Luna selalu jatuh cinta padanya. Sebagai laki-laki, Bram nyaris sempurna. membuat hati para gadis berbunga-bunga saat di dekatnya. Dan Luna merasa sangat beruntung bisa menjadi gadis yang dipilih menjadi istrinya kala itu.
Sebelum menikah, Luna memang sudah bekerja menjadi pegawai negeri sipil di sebuah kantor departemen negara yang ada di kota Jakarta. Dan usai menikah, Luna tetap masih bekerja menjadi pegawai negeri sipil. Bram saat itu belum memiliki pekerjaan tetap, sehingga Luna memohon kepada sang Paman agar menerima Bram bekerja di perusahaan sang paman.
Luna selalu berusaha meyakinkan sang Paman kalau Bram layak bekerja di sana. seiring berjalannya waktu, akhirnya sang Paman mempercayakan perusahaan itu dipegang oleh Bram, yang kebetulan saja uang tabungan Luna ia tanamkan saham di sana. Membuat sang Paman pun merasa dirinya harus mempercayai suami dari keponakannya itu.
Luna duduk di tepi ranjang, mengusap lembut bed cover yang tertata rapi dan bersandar sudah berbulan, Bram tidak meminta haknya pada Luna. Ternyata ia telah mendapatkannya dari wanita lain.
Arrghhh!!
Luna meremas kuat bed cover itu. Dan membuangnya ke lantai dengan kasar. Sungguh ngerasa sakit, benci, kecewa semua bergemuruh dan bercampur jadi satu di dalam hati. Luna menangis pilu, meratapi nasib rumah tangganya yang entah akan dibawa kemana setelah ini.
Luna bangkit dan membuka lemari pakaian di dalamnya. Terdapat sebuah brankas yang kode kuncinya hanya luna dan Bram yang tahu. Luna tekan kode itu dan brankas itu terbuka. Sebuah sertifikat rumah atas nama Luna, dan sebuah sertifikat rumah satunya nama Bram serta BPKB mobil milik Luna BPKB motor milik Bram.
Mungkin lebih baik jika Luna amankan semua aset itu, Sebelum jatuh ke tangan wanita itu. Luna yakin Ia hanya menginginkan harta Bram.
Tiba-tiba terdengar suara mobil Bram disertai tawa kecil berhenti di depan rumah mereka. Luna kaget, segera Luna mengambil berkas itu dan menukarnya dengan kertas biasa.
Dengan langkah cepat, luna memasuki kamar Khairul. Dan menaruh semua berkas penting itu di laci paling bawah lemari Khairul.
Bergegas Luna keluar untuk melihat Bram. Ia pulang bersama siapa?sepertinya bahagia dengan tawa kecilnya terdengar hingga ke dalam rumah.
Luna menuju pintu depan Luna sikap sedikit gorden jendela dan melihat keluar.
Pemandangan di depan rumah mampu membuat matanya terbelalak. Luna menggeleng tak menyangka dengan apa yang ia lihat. Dengan santai dan mesranya Bram membawa wanita sialan itu ke rumahnya.
Benar-benar tak punya perasaan. Entah memang sudah tak punya hati dan perasaan, hingga ia tega menabur garam di atas luka yang baru saja ia torehkan.
Luna buka pintu rumah mereka, saat mereka sudah di ambang pintu. Baru saja Bram akan membuka pintu, tapi Luna lebih dulu membukanya dari dalam.
Luna berdiri dengan melipat tangan dan tatapan tajamnya mengarah pada dua manusia durjana itu. Secara bergantian Bram tampaknya sedikit gusar. Tapi tidak dengan Vanessa, dia justru tersenyum sinis membalas tatapannya.
"Apa Dia pikir dia yang akan menang?
" Oh no!!! Aku tak akan membiarkanmu menang wanita murahan!" geram Luna dalam hati dan matanya memicing.
"Lun..., kita harus bicara. Biarkan kami masuk." ucap Bram saat beberapa menit mereka tak bersuara karena Luna berdiri tepat di pintu seolah menghalangi mereka masuk.
Luna memutar bola matanya dan mundur satu langkah, untuk memberinya jalan.
Bram dan Vanessa menjatuhkan bobotnya di sofa Begitu juga dengan Luna.
Aku membawa Vanessa kemari karena aku mau kamu tahu, kalau niatku untuk menikahi Vanessa itu serius Lun. Aku harap kau mengijinkan aku menikahi Vanessa menjadi istri muda ku." ucap Bram serius.
Vanessa duduk di sebelah Bram duduk santai dengan gaya sok cantiknya, rasanya Luna seperti ingin meremas wanita itu melihat gayanya .
"Terus kalau aku nggak ijinin kamu mau apa Mas?" cetus Luna.
"Iya Mbak, Aku janji kok akan bersikap baik dengan Khairul juga kali ini. Vanessa bersuara baru sekali ini Luna mendengar suaranya.
pandangan Luna beralih menatapnya
"Diam kamu wanita murahan! apa kamu tak laku dengan pria lajang di luar sana, hingga kamu merebut lelaki yang sudah beristri. hah!" ucapnya lantang dengan nafas memburu.
Memang itulah kenyataannya perempuan yang merebut suami orang Tak ubahnya seperti wanita murahan yang tak bisa menjaga kehormatannya.
Mendengar ucapan Luna, Bram terhenyak. Vanessa pun menunduk sepertinya ia takut untuk menatapnya.
"Luna, kami datang ke sini dengan niat baik ingin meminta izinmu. Kenapa kamu berkata kasar seperti itu? Lagi Dan Lagi Bram membela wanita murahan itu.
"Kamu pikir aku ini wanita seperti apa Mas? aku juga punya perasaan Mas." tukas Luna dengan penuh penekanan
"Sudahlah Lun, dengan atau ataupun tidak izin darimu, Mas akan tetap menikahi Vanessa."
"Mama...." terdengar panggilan Khairul dari kamarnya. Sepertinya ia sudah bangun.
Luna segera bangkit dan berjalan menuju kamar Khairul, tanpa menyahuti ucapan Bram.
Luna peluk erat Putra semata wayangnya, menahan sesak di dada. Pasti Khairul akan bingung dengan kondisi ini
"Mama kenapa? aku kayak dengar suara Ayah tadi ma?" tanyanya masih dalam pelukan Luna. Untuk saat ini, hanya memeluknya bisa membuat hati Luna sedikit tenang.
"Mama nggak apa-apa kok sayang. Iya itu, Ayah udah pulang. Tapi ayah sedang ada tamu, jadi Khairul di sini aja dulu ya. Jangan keluar kamar dulu." ucap Luna berbohong karena tak mungkin Luna bilang kalau ayahnya pulang bersama calon Mama barunya. Khairul pun mengangguk.
Luna beranjak hendak kembali ke ruang tamu. Namun, saat langkahnya tengah diambang pintu antara ruang tengah dan ruang tamu, langkah kakinya tercekat melihat dua orang tak tahu malu itu bermesraan di rumah mereka.
"Astagfirullah." ucap Luna dalam hati melihat beberapa kali Bram mengecup pipi dan kening wanita itu. Dan wanita murahan Itu tampak menikmati dan bergelayut manja di bahu lelaki yang bergelar suami itu. Sampai-sampai ia tidak menyadari sepasang mata Luna tengah melihat kemesraan Mereka. Benar-benar tak punya akhlak memang.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Evy
Tidak perlu dipertahankan lagi suami yang seperti itu...
2024-12-28
0
Sunarti
lanang,, wedok e podho bosok e gak punya otak
2023-03-28
0