"Khairul Kamu jangan nakal ya, sayang. Mama akan pergi sebentar dengan Tante Desi." ucap Luna pada putranya, saat sudah berada di depan rumah Bimo dan sepupu Bimo.
"Iya ma, tapi pulangnya beliin Khairul es krim ya."ucapnya tersenyum terlihat anak sepupu Bimo sudah menunggu untuk bermain.
"Ya, Nanti Mama beliin." ucap Luna sambil tersenyum.
"Mbak, titip Khairul ya." seru Luna pada sepupu Bimo
"Iya, tenang saja lun, Khairul aman di sini." ucapnya mengurus rambut Khairul. Luna mengangguk dan meninggalkan rumah itu.
Luna melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan jam lima sore. Luna yang duduk di jok belakang Desi yang tengah fokus mengendarai motor Luna.
"Des, agak ngebut ya. Aku takut Mas Bram sudah keluar duluan dari kantor. Nanti malah susah untuk kita mengikutinya." Luna menepuk punggung sahabatnya dengan perasaan tak menentu.
"Iya lun, Ini juga udah ngebut say." jawabnya tanpa menoleh ke arah Luna.
Saat sampai di halaman, tampak sudah sepi. hanya tinggal petugas keamanan, sopir Yang sepertinya juga hendak pulang ke rumahnya.
"Pak....,kantor kok udah tutup? apa Mas Bram dan semua karyawan sudah pada pulang?" tanya Luna pada lelaki itu melintas di depan mereka.
"Eh Mbak Luna. udah Mbak, ini juga saya baru mau pulang. Pak Bram malah sudah keluar dari jam empat sore mbak." jawabnya
"Oh gitu ya Pak. "Ya sudah, jika Bapak mau pulang silahkan Pak. Saya kebetulan lewat sini, jadi sekalian mampir. Eh tahunya sudah pulang Mas Bram." Kilah Luna.
"Oh Mbak, saya permisi ya." pamitnya.
"Kita telat, Coba sekarang kamu hubungi Mas Bram." ucap Desi memberikan usul.
Luna sendiri sedikit bingung kenapa sekarang kantor lebih cepat tutup. Bukannya dulu waktu Luna masih terkadang ikut ke kantor membantu sang paman, sebelum jabatan Bram di percayakan sang paman menangani kantor sepenuhnya kantor tutup pada jam enam sore? atau kalau masih ada kerjaan Sampai jam tujuh malam."
Luna mencoba menghubungi ponsel Bram. tapi ponselnya mati, alias tak bisa dihubungi.
"Ponselnya mati Des, terus kita harus bagaimana ini." ucap Luna melihat sekeliling. Luna dengan Desi yang terlihat sedang berpikir juga.
"Sambil mencari ide, kita makan bakso dulu lun. Aku lapar nggak bisa mikir aku kalau perutku lapar." ucap Desi yang sedikit gusar. Mungkin karena rencana ini, tak berjalan sesuai rencana nampaknya sedikit menguras emosinya.
Luna tersenyum. Padahal tadi di rumah dia sudah banyak makan cemilan. Tapi dari dulu, dia tak berubah jika sedang banyak pikiran. justru makin nambah nafsu makannya.
"Okey, kita makan bakso dulu di seberang sana. Kan, ada kedai bakso langganan kita dulu. Sudah lama juga kita tidak mampir ke sana." ucapnya menunjuk ke arah seberang jalan.
"Oh iya, benar juga kamu Lun. Udah lama kita nggak makan bakso di sana. Aku juga sudah kangen sama bakso uratnya." ucapnya sumringah dengan senyum merekah di bibirnya.
Luna dan Desi makan di kedai bakso, sambil terus memikirkan apa yang akan Luna lakukan selanjutnya. Hingga tak terasa azan maghrib berkumandang. Mungkin lebih baik mereka mencari masjid atau mushola terdekat untuk menunaikan salat Magrib. mudah-mudahan Allah memudahkan jalannya.
"Des, salat dulu yuk! mudah-mudahan nanti setelah salat, Allah berikan kita petunjuk." ucap Luna dibalas anggukan dari Desi.
Usai melaksanakan kewajiban sebagai seorang umat muslim, mereka duduk sebentar di teras masjid. Rencana untuk mengikuti Bram seakan terhenti karena Luna tidak tau Bram Kemana dia pergi.
Tiba-tiba Luna teringat sesuatu. "Kenapa Luna tidak kepikiran sama sekali untuk datang ke alamat rumah Vanessa?" Luna menepuk jidatnya meretuki kelalaiannya sendiri. Luna mencengkram lengan Desi, yang mulai beranjak usai memakai sepatunya
"Tunggu Des, Kenapa kita nggak kepikiran untuk datang ke rumah Vanessa, kan aku ada alamatnya, info dari Bimo kemarin?" ucap Luna pada Desi.
Desi sontak menjitakkan pelan kepala Luna. Luna hanya nyengir.
Saat mereka berjalan menuju motor yang terparkir, tiba-tiba ponsel luna berdering. Tertera nama Bimo di layar ponselnya. Segera Luna geser tombol hijau yang ada di layar ponselnya, agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Bimo.
"Hallo assalamualaikum Bimo." sapa Luna di dalam sambungan telepon selulernya.
"Waalaikumsalam Mbak Luna, segera buka pesan dari aku mbak." ucapnya langsung tanpa basa-basi
Seketika luna melihat tirai layar ponselnya. Benar, ternyata Bimo telah mengirimkan pesan sepuluh menit yang lalu
"Okey Bimo, Mbak segera buka pesan darimu ya."
"Okey Mbak."
Bimo mengakhiri panggilan usai berpamitan. segera Luna buka pesan dari Bimo, ternyata isi pesannya sebuah gambar dengan caption. "Aku tadi bertemu mereka di rumah makan seafood."
Luna mengunduh gambar itu.
satu detik sampai tiga detik terlihat sebuah gambar Bram tengah merangkul punggung Vanessa di depan sebuah rumah makan. Luna langsung membalas pesan Bimo.
"Apa mereka masih di sana? pesan Whatsapp Itu yang dikirimkan Luna kepada Bimo.
"Kemudian balasan dari pesan Whatsapp Luna pun terdengar jelas di telinga Bimo.
Ia juga membuka di layar ponsel pesan Whatsapp balasan dari Bimo
"Mereka sudah pulang. Tadinya aku mau ngikutin mereka, tapi emak telepon minta aku segera pulang. Jadi aku pulang, tapi aku lihat mereka lewat jalan ke arah rumah Mbak Vanessa." balas Bimo
"Okey, terima kasih Bimo, atas informasinya." balas Luna.
Menjawab chat dari Bimo, membuat mereka duduk kembali di teras masjid.
"Gimana Lun, apa kata Bimo?" tanya Desi yang duduk di sampingnya.
"Tidak salah lagi Des, Bram ada di rumah Vanessa. Sekarang kita ke sana. Aku kesal menahan emosi dada Luna rasanya sesak. Luna berjalan cepat menuju motornya yang terparkir dan Desi mengikutinya.
"Biar aku yang bawa, kamu sedang menahan emosi. Takutnya nggak konsen." ucap Desi saat melihat Luna sudah duduk memegang setir motor.
Sungguh rasanya sakit saat lelaki yang masih bergelar suami itu, Dengan bahagianya bermesraan dengan wanita lain. Bahkan di tempat umum tanpa rasa bersalah. Tanpa memikirkan perasaan Luna dan Khairul. "Sungguh kamu tega Mas Bram." gumam Luna dalam hati menahan rasa perih yang ada di dalam hatinya.
Sepanjang perjalanan Luna terdiam. Rasanya ingin segera tiba di sana dan menggeluti mereka berdua.
"Mulai saat ini, tak lagi aku menangis untukmu Mas. Terlalu berharga air mataku, untuk menangisi lelaki penghianat sepertimu." ucap Luna di dalam hati menahan air mengalir begitu deras di wajah cantiknya.
"Kita sudah sampai Lun, Ayo turun." ucap Desi mengangetkan Luna.
Luna masih terdiam mencoba menguasai suasana hatinya, yang sedang bergemuruh tak menentu,
"Lihat tuh, itu mobil mas Bram Kan?" tanya Desi menunjukkan mobil yang terparkir cantik di halaman rumah sederhana yang tidak terlalu besar itu. Rumah bercat warna kuning di halamannya ditanami beberapa macam bunga yang tertata rapi di dalam pot.
Pandangan Luna mengarah pada mobil yang sangat ia kenal. "Iya benar, itu mobil milik suamiku. Dan Ku lihat dia depan pintu juga ada sepasang sepatu milik suamiku." ucap Luna kepada Desi.
"Tak salah lagi, pasti mereka sedang ada di dalam. Tapi mengapa terlihat sepi?"
Luna dan Desi berjalan pelan dan mengendap-endap agar tak menimbulkan suara aneh. Memang karena rumah ini terlihat sepi, namun saat mereka sampai di ambang pintu ternyata pintunya tidak tertutup sepenuhnya. "Apakah benar Bram ada di dalam tapi mengapa sepi sekali?"
Luna yang sudah diliputi rasa penasaran, ingin segera masuk ke dalam. Namun Desi mencegah luna, agar tidak krasak krusuk
Pelan namun pasti. Desi dan Luna nekat masuk ke dalam rumah itu dengan hati-hati. dan hati luna begitu yakin Bram pasti ada di dalam.
Mereka berada di ruang tamu, dan sepi tak ada siapapun. Hanya ada bekas gelas kopi, yang telah habis diminum dan hanya tinggal ampasnya saja. Tapi tunggu, sayup-sayup Luna mendengar suara ******* dari dalam kamar yang berada di samping ruang tamu. sontak Luna dan Desi menutup mulut dengan menggunakan telapak tangannya.
Luna dan Desi menggelengkan kepala. Meski tak mengucapkan sepatah kata pun, Luna dan Desi seperti saling mengerti bahasa tubuh masing-masing.
Tanpa pikir panjang, Luna raih daun pintu dan membukanya dengan kasar beruntung pintu itu tidak terkunci. Entah apa yang ada di pikiran mereka, sampai lupa mengunci pintu depan dan pintu kamar. Atau mungkin ini cara Allah tunjukkan pada Luna, untuk menangkap basah perbuatan hina mereka.
Brakkkk...
Pintu kamar itu terbuka lebar dengan sekali hentakan.
Seketika mata Luna membulat sempurna. Seakan mau lompat dari tempatnya, darahnya seakan naik dengan cepat hingga ke ubun-ubun, melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
Deru nafas yang memburu dalam dada ini sesak sungguh terasa sesak. Seakan asupan oksigen dalam tubuh luna menipis, bersamaan dengan detak jantung yang tak karuan.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Evy
jangan lupa divideokan... untuk bukti...
2024-12-28
0
Sunarti
seru dan saru,,, awkwkwk
2023-03-28
0
Gibran
seru😁
2023-03-22
0