Nayra yang baru saja mengatakan itu, merasa tiba-tiba menyesal, namun dirinya juga tidak merasa salah.
Nayra sejujurnya tidak pernah mengira jika kejadiannya akan seperti itu.
Bisa-bisanya, Louise berbuat nekat dan gila seperti itu...
Nayra benar-benar tidak pernah menyangka...
Lalu, Julian....
Nayra yang mulai memikirkan itu lagi, juga segera kembali menangis lagi.
Louise sekali lagi, tidak tahu harus berbuat apa karena dirinya sendiri merasa marah terhadap dirinya sendiri.
Louise juga tidak tahu bagaimana menenangkan wanita yang ada di hadapannya itu, yang saat ini masih menangis sambil memukul-mukul Louise.
Louise lalu segera memeluknya,
"Ya... kamu selalu bisa untuk menyalahkanku... Ini salahku... Karena Aku, Ayah bisa seperti ini... Ini memang Aku yang lebih baik mati, bukan Ayah..."
Louise merasa bersalah, namun tidak tahu bagaimana cara menghibur wanita yang ada di hadapannya itu.
Nayra sendiri, segera mencoba melepas paksa pelukan itu, lalu mencoba berkata,
"Kamu... Kenapa kamu begitu mudahnya mengalahkan dirimu sendiri? Bisa-bisanya kamu dengan gampang ingat berkata seperti itu? Setelah apa yang Julian lakukan sehari menyelamatkan nyawa mu?"
Louise sekali lagi menjadi terdiam, hatinya maaf ini penuh dengan pengetahuan dan keputusasaan.
Nayra merasa tidak ada gunanya untuk berbicara dengan pria yang ada di depannya ini, hanya segera berkata,
"Louise! Jika kamu sampai mengatakan atau memiliki keinginan bodoh seperti itu lagi, Ayahmu tidak akan pernah tenang di alam sana! Kamu jangan membuat Ayahmu repot, bahkan setelah dia pergi..."
Lalu Nayra segera pergi dari tempat itu.
Ketika Nayra sampai di ruangan depan, ingin hendak kembali menyapa beberapa tamu dirinya sekali lagi mendengarkan beberapa gosip tidak enak dari orang-orang.
"Astaga, sekarang Tuan Muda Julian sudah meninggal, bukankah ini hal yang di tunggu-tunggu oleh wanita murahan itu?"
"Ya, Aku yakin, sekarang Nyonya Nayra itu, pasti saat ini sedang berpesta dan bahagia memikirkan bahwa harta warisan suaminya itu akan menjadi miliknya,"
"Sungguh ironis, bahkan Tuan Julian yang begitu baik itu, di tipu oleh wanita murahan itu,"
"Tapi tunggu, Apakah menurutmu Tuan Muda Louise akan mendapatkan warisan Ayahnya?"
"Aku juga tidak tahu, kamu sendiri juga tahu bukan? Bagaimana wanita murahan itu, mencoba menyingkirkan Tuan Muda Louise ke Luar Negeri? Mungkin, dia menggunakan berbagai trik licik untuk membujuk Tuan Julian, agar tidak memasukan Tuan Muda Louise ke daftar warisan?"
"Astaga, dia jahat sekali bukan?"
"Memang, namanya wanita murahan tidak tahu diri!"
Hati Nayra yang mendengar itu segera menjadi bertambah sakit.
Senang apa?
Warisan apa?
Dirinya tidak memperdulikan soal semua itu.
Yang dirinya pikirkan adalah Julian..
Suaminya, yang telah pergi meninggalkan dirinya...
Sekarang, tidak ada lagu orang yang berada di sampingnya untuk membela dirinya...
Hanya tersisa orang-orang yang membencinya, yang sangat ingin memikirkan dirinya...
Namun apa yang bisa dirinya lakukan?
Nayra tiba-tiba merasa hatinya penuh dengan keputusasaan.
Tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan mulai dari sekarang.
Hal-hal terasa berat tanpa, Suaminya Julian...
Biasanya, ada Julian yang selalu mencoba untuk menenangkan dirinya untuk tidak mendengarkan rumor dan gossip yang ada.
Ya, karena semua orang-orang itu benar-benar tidak ada yang tahu kebenarannya.
Tentang apa yang dirinya rasakan..
Orang-orang Brengsek!
Nayra menjadi semakin tidak tahan mendengarkan ocehan mereka jadi segera memutuskan kembali masuk ke dalam ruangan dan menuju ke peti mati Julian.
Menatap Peti itu, hati Nayra masih sangat hancur.
Namun di samping peti mati itu, ada Louise yang saat ini masih menangis disana.
Ini tiba-tiba mengigatkan Nayra, tentang keinginan Julian.
Dirinya harus memperhatikan dan hidup damai dengan anak itu?
Nayra merasa jika keinginan itu terlalu berlebihan...
'Julian... Aku tidak tahu apakah aku bisa, memenuhi keinginan mu...'
Dan begitulah, akhir dari Upacara Pemakaman itu.
####
Hari-hari segera berlalu, sudah tiga hari sejak Julian meninggal.
Dan saat ini, Nayra masih berada di Rumah Keluarga Leonard, untuk mengurus soal Doa bersama untuk Suaminya.
Tiga hari, terasa begitu berat ketika berada di rumah itu, dimana hanya ada orang-orang yang membencinya.
Sekarang, Nayra yang berjalan di lorong, bertemu dengan Sarah,
"Sekarang setelah Kakakku meninggal, kamu pikir kamu bisa berbuat seenaknya lagi? Jangan harap! Setelah ini aku pastikan kamu akan segera diusir dari Keluarga Leonard!"
Nayra yang mendengar kata-kata kemarahan tiba-tiba jatuh ingin diam dan mengabaikan nya.
Namun, dirinya sudah cukup lama diam dan merasa tidak tahan lagi.
"Aku mau bagaimanapun masih tetap pernah menjadi Istri Almarhum Julian Leonard, aku akan tetap menjadi bagian dari keluarga ini,"
"Cih, kamu itu menjadi sangat sombong lihat saja nanti!" Kata Sarah dengan marah.
Sarah jelas yakin, sekarang akan lebih mudah untuk menyingkirkan Nayra itu.
Terutama, karena Louise ada di pihaknya, dan Kakaknya Julian itu pastilah mewariskan perusahaan kepada putranya satu-satunya itu.
Tidak mungkin pada wanita murahan itu, seandainya Wanita murahan itu mendapatkan warisan, itupun harusnya tidak banyak.
Dan tentu saja dirinya juga akan mendapatkan jatah warisan dari Kakaknya itu, terutama soal kepemilikan Saham Perusahaan.
Dirinya harus segera meminta ibunya untuk mengurus soal wasit Kakaknya itu.
Ya, setelah ini dirinya dan Suaminya, pasti akan lebih mudah untuk menguasai Perusahaan.
Louise saat ini, masih terlalu muda untuk mengurus perusahaan jelas saja mulai sekarang manajemen perusahaan akan menjadi milik Suaminya dan dirinya...
Dan ketika itu, terjadi, dirinya akan mendapatkan semua yang dirinya mau...
Mengurus soal Louise yang labil itu akan sangat mudah juga, anak itu akan dirinya jadikan boneka yang menurut.
Sarah benar-benar mulai tersenyum dan gembira dalam rencana sempurnanya yang akhirnya akan bisa mengambil alih perusahaan kakaknya.
Malam itu, setelah Acara Doa bersama selesai, Pengacara sudah di undang oleh Sarah ke Rumah, untuk membicarakan soal warisan dari Kakaknya itu.
Nayra tentu saja, cukup kaget ketika mendengar hal itu.
"Ini belum tiga hari sejak Almarhum Suamiku meninggal, namun kalian sudah membahas soal warisan?" Nayra lalu menatap tajam kearah Louise.
Louise sendiri, tentunya tidak mengerti apa pun, Louise hanya dipanggil ke Ruangan itu, karena katanya Neneknya ingin membicarakan sesuatu yang penting.
Dirinya hanya tidak menyangka, hal-hal yang di bicarakan adalah soal warisan.
Namun sebelum Louise bisa berbicara apapun, Sarah sudah berkata duluan,
"Apa? Hal-hal seperti ini jelas harus di ketahui lebih dulu, karena Perusahaan masih harus tetap berjalan, bahkan ketika Kakak sudah meninggal, hal-hal ini harus diurus secepatnya agar tidak menghambat kinerja Perusahaan, terutama untuk menentukan siapa yang akan menjadi CEO Baru berikutnya,"
Nayra yang mendengar itu, ingat merasa sangat kecewa dan marah tidak mengira jika Adik Iparnya itu benar-benar menyebalkan.
Jadi sekarang, Sang Pengacara mulai berbicara,
"Baik, karena semua orang sudah berkumpul saya mulai akan membicarakan Wasit dari Tuan Julian,"
Orang-orang lagu menjadi cukup tegang setelah mendengar itu.
Sang Pengacara, lalu mulai membaca dokumen yang ada di tangannya.
"Tuan Julian mewarskan Perusahaan pada Putra Tunggalnya, Louise Leonard, mayoritas Saham akan di berikan pada Louise Leonard beserta Mayoritas Harta benda lainnya yang nantinya akan di rinci lebih lanjut, dan itu Istrinya Nyonya Nayra, dia akan di berikan 10% dari Saham Perusahaan, dan beberapa Aset Tahan dan bangun, yang nanti akan saya rinci lebih lanjut. Namun, saat ini Karena Tuan Muda Louise masih cukup muda dan masih harus melanjutkan Kuliahnya, Dia belum bisa dulu untuk mengurus Perusahaan, jadi selama Tuan Muda Louise masih melanjutkan Kuliahnya, dan belum bisa mengurus Perusahaan, CEO Perusahaan akan di serahkan sementara pada Nyonya Nayra yang akan menjadi Wali dan Perwakilan Tuan Muda Louise, agar Nyonya Nayra bisa mengelola Perusahaan sampai Tuan Muda Louise siap mengurus Perusahan,"
Semua orang, tentu saja menjadi sangat terkejut ketika mendengar hal hal itu.
Terutama, Sarah ini dipenuhi dengan rasa kebencian.
"Apa? Tunggu, tidak mungkin Kakakku menulis begitu? Bagaimanapun juga, bukankah Aku yang selama ini membantu Kakak mengelola Perusahaan? Kenapa tiba-tiba tanggung jawab itu diberikan kepada Istrinya Nayra? Aku yang seharusnya Tante dari Louise, yang lebih berhak menjadi Wali Louise, sebelum Keponakanku ini bisa mengelola Perusahaan, wanita bernama Nayra itu, tidak lebih hanya Ibu Tirinya yang tidak memiliki hubungan darah apapun dengan Louise untuk bisa menjadi wali dan perwakilan, Louise, benar bukan Louise?"
Sarah jelas mencoba untuk mendengarkan kata-kata keponakannya itu karena dirinya yakin jika keponakannya itu pasti akan lebih setuju padanya.
Telah semua Perusahaan tetaplah milik Louise Keponakannya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments