Episode 5: Rahasia

Louise Menjadi kecewa tentang bagaimana ayahnya tidak menjawab tentang pertanyaan yang dirinya miliki masih sama seperti dulu.

Louise sejak masih cukup muda, selalu bertanya pada Ayahnya, Apa yang membuat ayahnya bertengkar dengan Ibunya ketika dirinya masih berumur 12 tahun.

Keluarga yang awalnya damai dan terlihat baik-baik saja tiba-tiba menjadi berantakan dalam sekejap.

Apalagi yang bisa dirinya pikirkan kalau bukan orang ketiga?

Ayahnya, memiliki selingkuhan atau sesuatu sehingga pada akhirnya membuat orang tuanya bertengkar hebat.

Keluarga yang awalnya damai...

Lalu, tidak lama setelah pertengkaran panjang selama satu bulan, Ibunya terlibat dalam sebuah Kecelakaan.

Dirinya saat itu masih begitu muda dan tidak tahu apa-apa.

Hanya, tiba-tiba semuanya menjadi berantakan seperti itu.

Orang yang paling dirinya sayangi tiba-tiba pergi begitu saja...

Hatinya hancur, namun bahkan Ayahnya tidak pernah memberitahu kepada dirinya tentang Apa alasan mereka bertengkar.

Dirinya memendam rasa penasaran dan rasa ingin tahu itu selama bertahun-tahun.

Sampai akhirnya, baru dua tahun setelah Ibunya meninggal, Ayahnya suatu hari memperkenalkan seorang wanita yang akan Ayahnya Nikahi.

Lalu apalagi yang bisa dirinya pikirkan jika ayahnya ternyata memiliki hubungan gelap dengan wanita itu begitu lama dan setelah itunya meninggal Ayahnya baru menunjukkan wanita simpanannya itu?

Wanita murahan, yang mengoda Ayahnya, dan mengambil posisi yang seharusnya menjadi milik ibunya.

"Ayah benar-benar tidak bisa menjelaskannya bukan? Itu karena Ayah sangat brengsek tukang selingkuh!! Laki-laki bajingan yang tergoda dengan wanita murahan semacam Nayra!"

"Louise, Cukup! Kamu selalu bilang Aku yang berselingkuh bukan? Tidakkah kamu pernah berpikir jika itu adalah Ibumu?"

Julian yang baru saja mengatakan itu karena terlalu emosi segera menutup mulutnya takut-takut dirinya malah keceplosan lebih dari ini.

Louise yang tiba-tiba mendengar itu jelas merasa syok lalu segera berkata,

"Ayah jangan memfitnah Ibuku yang sudah meninggal, hanya karena dia sudah meninggal, dia disalahkan? Karena orang meninggal tidak bisa membela dirinya?"

"Aku benar-benar tidak ingin membahas itu lagi. Louise, aku hanya meminta padamu bahkan jika kamu tidak bisa menganggap Nayra sebagai Ibu Tirimu, jangan pernah kamu memiliki rencana macam-macam padanya dan sedikitlah hormat pada yang lebih tua Hanya itu satu-satunya yang aku minta padamu!"

Louise jangan dengar itu segera tertawa penuh dengan kemarahan.

"Hahaha... Sungguh? Pada akhirnya kamu melakukan ini hanya untuk wanita murahan itu? Demi membela dia?"

"Cukup! Louise, kamu itu sudah Cukup dewasa seharusnya kamu cukup mengerti namun Kenapa kamu itu seperti ini?"

Louise yang melihat tentang bagaimana ayahnya itu selalu membuat alasan akhirnya merasa muak dan memilih untuk menutup telinganya dan segera pergi dari situ.

"Louise! Kemana kamu akan pergi?"

"Apakah itu penting untuk tahu aku akan pergi ke mana? Bukankah yang paling penting untuk Ayah adalah Wanita itu? Kapan Ayah mengagap ku sebagai Putramu dan meminta pendapatku? Kamu tidak pernah menganggapku sebagai putramu! Atau, Apakah aku ini benar-benar putramu?"

Louise sendiri hanya mengatakan omong kosong karena kemarahan yang dimilikinya, tidak benar-benar menganggap serius ucapannya karena hanya ingin membuat Ayahnya marah.

Namun Julian yang mendengar kata-kata itu dari Louise segera menjadi diam hatinya terasa begitu sakit seperti tertusuk duri ketika Louise mengatakan itu...

'Bukan Putranya...'

Julian bahkan tidak bisa berkata-kata ketika Louise berkata seperti itu...

Pada akhirnya, Louise pergi ke tempat Neneknya untuk coba menenangkan dirinya.

Tentu saja dirinya bertemu dengan Tantenya disana.

"Jadi Ayahmu memarahimu dan membela wanita sialan itu?" Tanya Sandra pada keponakannya itu yang saat ini terlihat sedih.

"Benar, bahkan Setelah 5 tahun berlalu dia sekarang sudah tidak mengagap Aku sebagai Putranya, dia bahkan tidak memikirkan perasaanku,"

"Itu semua jelas pengaruh Nayra itu, Louise, Ayahmu sudah banyak berubah sejak Nayra ada bersamanya,"

Sandra lalu mulai menceritakan berbagai cerita yang di buat-buat tentang keburukan Nayra di depan Louise.

"Apa? Tante bilang mungkin wanita murahan itu mandul?"

"Ya, kalau tidak kenapa kamu sampai saat ini belum memiliki seorang adik?"

Louise yang mendengar itu, tiba-tiba terasa tersambar petir.

Dirinya tidak pernah memikirkan untuk memiliki seorang adik dari wanita murahan itu.

Namun itu malah bagus, jika dirinya tidak perlu memiliki seorang adik dari wanita murahan itu.

"Hahaha... Sepertinya wanita murahan itu memang terkena karmanya, namun kenapa Ayah masih begitu setia padanya?"

"Mana Tante tahu? Kenapa kamu tidak menyelidikinya saja? Mungkin ada beberapa dokumen rahasia atau beberapa rahasia tersembunyi yang disembunyikan oleh wanita itu? Beberapa bukti kebusukannya misalnya?"

Louise yang mendengar ide itu jelas merasa itu juga ide yang bagus.

Rencana awalnya untuk mengoda Ibu Tirinya itu sepertinya gagal, lebih ayahnya sudah tahu jadi alangkah lebih baik jika dirinya mulai menuju ke rencana berikutnya Atau ke rencana lainnya.

Yaitu dengan cara menemukan bukti-bukti kejahatan Ibu Tirinya itu.

"Tante benar, aku pasti akan menemukan bukti soal kejahatan wanita murahan itu, yang namanya bangkai, walaupun disembunyikan pasti akan tercium juga baunya,"

Louise terlihat yakin dengan rencananya itu namun untuk bisa mencari tahu rahasia wanita itu....

Emm, Louise harus kembali ke Rumah?

Tapi setidaknya tidak untuk hari ini atau beberapa hari lagi.

Mari tunda itu untuk seminggu ke depan.

####

Beberapa hari telah berlalu dengan cepat, Nayra saat ini sedang mencoba menghibur Suaminya itu, soal masalahnya dengan Louise.

"Bagaimana jika kamu menemuinya saja? Aku pikir, nanti Louise akan pulang,"

"Jika aku melakukan itu anak itu hanya akan makin besar kepala," kata Julian dengan ekpersi sedih.

Julian masih bingung tentang bagaimana cara untuk menghadapi Putranya Louise.

"Tapi Julian, apakah kamu pikir Dengan kamu diam seperti ini akan menyelesaikan masalah? Lihat, sudah 5 tahun berlalu dan kamu memutuskan untuk dia mencoba memberikan putramu ruang untuk dia bisa mengerti namun kamu lihat hasilnya? bukannya dia mengerti namun dia malah semakin salah paham dan menuduh kamu tidak pernah perhatian padanya,"

Julian yang mendengar itu jelas segera terdiam dan mulai memikirkannya.

Sepertinya rencana Nayra itu ada benarnya.

Jadi, Julian kali ini segera menuju ke Rumah Keluarga Leonard.

Ketika Julian kesana, dan bertemu Louise, ada sebuah keheningan besar.

Julian, merasa dirinya tidak bisa meminta maaf pada putranya, karena dirinya tidak salah.

Julian melihat bahwa Putranya sepertinya juga berpikir sama.

Sekarang apa yang harus dilakukan?

"Louise, mari kamu segera pulang ke rumah Ayah,"

Julian hanya mengatakan itu secara acak, dirinya cukup yakin putranya ini sangat susah untuk dibujuk.

Lalu sebaiknya cara apa yang harus dinya gunakan agar putranya ini mau pulang?

Astaga, Julian binggung sendiri menghadapi Putranya itu.

Namun jawaban, Louise jelas membuat Julian terkejut.

"Baik, Ayah. Aku akan pulang,"

Julian merasa dirinya salah dengar melihat putranya benar-benar setuju dengan usulannya itu.

"Kamu benar-benar akan pulang?"

Louise sekarang mencoba bersikap manis ini semua demi menjalankan rencananya.

"Aku akan pulang, aku sudah mendapatkan beberapa nasehat dari Nenek, Aku pikir memang tidak baik jika Aku terus marah. Jadi Aku memutuskan akan kembali ke rumah,"

Julian jelas segera mengiyakan takut takut putranya itu merubah pikirannya.

Dan dua orang itu, sekarang kembali ke Rumah Julian.

Makan malam kali ini, berjalan dengan cukup damai, Louise sudah tidak mengatakan apapun ataupun mengungkapkan soal kemarahannya tempo hari.

Bahkan, Louise tidak keberatan ketika Nayra mulai menyajikan makanan untuknya.

Nayra jelas merasa cukup bingung ketika melihat Louise, tiba-tiba menjadi begitu penurut.

Nayra tidak bisa untuk tidak berpikir jika mungkin kali ini Putra Tirinya memilih rencana apa lagi?

Nayra merasa dirinya harus hati-hati.

Namun sayangnya, setelah beberapa hari, Louise tidak melakukan apapun.

Louise juga sudah tidak lagi melakukan hal-hal tercela seperti sebelumnya, hal-hal seperti mengodanya.

Nayra hanya berpikir, mungkin Louise benar-benar sudah dinasehati oleh Neneknya?

Dan mulai belajar untuk menerima dirinya?

Setidaknya walaupun belum menerima namun dengan tidak membuat masalah, dan tidak marah-marah itu sudah cukup.

Ketika Nayra mulai menurunkan kewaspadaannya, Louise akhirnya memutuskan rencananya di mulai.

Itu adalah hari yang tenang, Ketika Semua orang pergi dan hanya dirinya yang ada di rumah.

Louise, akhirnya mencoba menari sesuatu di ruangan kerja Ibu Tirinya itu.

Masing-masing, di Rumah ini, baik Ayah dan Ibu Tirinya memiliki ruang kerja masing-masing yang digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang dibawa pulang dari kantor.

Louise yang baru memasuki ruangan itu untuk pertama kalinya merasa cukup terkejut tentang bagaimana desain ruang kerja Ibu Tirinya, terlihat sangat sederhana berbeda dari bayangannya yang itu merupakan ruang kerja yang dipenuhi barang-barang mewah.

Apakah ini hanya untuk menjaga image?

Louise semakin kesal ketika memikirkan bahwa wanita murahan itu hanya berakting dan berpura-pura baik.

Dirinya pasti akan bisa menemukan kelicikan atau bukti licik dari wanita itu.

Louise sekarang mulai memeriksa hal-hal di laci meja, tidak ada apapun di sana kecuali dokumen-dokumen kantor.

Sampai kemudian di bagian paling bawah lagi Louise menemukan sebuah surat dari rumah sakit.

"Huh? Surat pemeriksaan?"

Louise membuka surat itu, yang sepertinya berasal dari Laboratorium.

Disana tertulis, hasil pemeriksaan bahwa Nayra sedang di masa subur, dan keadaan rahimnya normal, jadi bisa untuk memiliki seorang anak.

Louise yang membaca itu jelas menjadi kaget karena mendengar rumor dari apa yang tantenya katakan sebelumnya.

"Huh? Dia tidak mandul?"

Namun segera jawaban dari pertanyaan itu muncul dari kertas setelah lembaran pemeriksaan Nayra.

Itu adalah lembaran pemeriksaan milik Julian.

Disana mengatakan, bahwa Julian memiliki kelainan, yang membuat dia tidak bisa memiliki anak sama sekali, sesuatu yang tidak bisa disembuhkan.

Louise yang membaca surat itu jelas tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Tidak... Surat ini jelas pasti salah, bagaimana bisa Ayah mandul? Lalu, Aku anak siapa jika Ayah mandul? Hah, surat ini benar-benar lelucon yang buruk,"

Namun, Louise tetap masih kepikiran soal surat itu, kemudian rasa panik dan ketakutan mulai memasuki dirinya.

Tidak...

Tidak...

Ini tidak mungkin bukan?

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!