Mirna berjalan menyusuri jalanan berundak ketepi sungai. Ia baru saja diantar oleh Satria, namun pria itu tak ingin singgah kerumahnya barang sebentar saja.
Mirna merasakan jika Pria mulai menjauhinya, dan Ia dapat merasakan semuanya dari gelagat yang ditunjukkan Satria.
Namun, Ia tak ingin memaksa Pria itu untuk mencintainya, namun Ia berharap jika suatu saat nanti pria itu mengerti akan hadirnya dirinya dihati sang Pria idamannya.
Mirna membenamkan tubuhnya disungai. Mencoba mengatur nafasnya yang terasa menyesak didadanya. Ia benar-benar mencintai pria itu, menginginkannya, namun apalah dayanya, Ia hanyalah seorang wanita yang hanya mampu berharap dan berharap.
Tampak dikejauhan, kakek Nugroho sedang mendayung sampannya menuju kearahnya. Ia sepertinya merasa jika tangkapan ikan sang kakek sangat banyak, sehingga Ia pulang lebih awal. Masih pukul 3 sore si kakek sudah pulang.
Kakek itu semakin mendekat dengan sampannya yang hanya muat untuk dua orang saja.
Benar saja, tampak banyak ikan yang didalam wadah jaringnya.
Kakek Nugroho semakin mendekat dan kini menepikan didekat Mirna yang sedang mandi berendam.
"Banyak dapat ikannya, Kek?" tanya Mirna ramah.
Kakek Nugroho tersenyum tipis "Ya.. Cucu mau?" tanyanya dengan nada lirih.
Mirna menganggukkan kepalanya. Lalu menatap ikan-ikan yang terdapat didalam jaring milik sang kakek yang berbentuk seperti sebuah lengukungan dan memiliki pengikat.
Kakek Nugroho naik ketepian, lalu menarik ember kecil milik Mirna, dan memasukkan beberapa ekor ikan untuk Mirna, lalu Ia berpamitan untuk pulang dan menjual ikan hasil tangkapannya.
"Terimakasih, Kek" ucap Mirna dengan nada senang.
"Ya.." jawab Kakek Nugroho tanpa menoleh kearah sang gadis, sembari terus menapaki jalanan berundak menuju rumah Mirna.
Sesampainya didepan pintu dapur Mirna, kakek Nugroho memandangi rumah itu sejenak, lalu beranjak pergi meninggalkan rumah itu.
Sementara itu, Mirna masih asyik berendam didalam sungai. Tanpa Ia sadari, sepasang mata pria sedang memandanginya dengan tatapan liar.
Pria itu baru saja pulang dari memancing ikan. Nafasnya memburu penuh dengan hasrat. Ini kedua kalinya Ia bertemu dengan gadis itu.
Pertemuan pertama saat berada ditoko sembako saat Mirna sedang berbelanja, dan pria itu berhasil menyenggol dengan sengaja bukit kembar sang gadis.
Namun saat ini, Ia berkesempatan kembali melihat gadis itu mandi sendirian disungai dengan kondisi sepi dan sangat menguntungkan.
"Mirnaaaaa" suara panggilan yang begitu sangat lirih namun penuh dengan dendam.
Mirna terdiam sejenak dan mencoba memejamkan matanya, merasakan sebuah panggilan yang begitu menusuk hatinya.
Ia bergegas dengan cepat naik ketepian kain penutup tubuhnya hanya sebatas dada dan juga setinggi lutut membuat kulitnya yang putih tampak berkilau dengan butiran-butiran air yang menempel dikulitnya, ditambah lagi dengan terpaan cahaya mentari senja yang bersinar melalui celah-celah dedaunan.
Mirna beranjak dan memunguti ember berisi ikan pemberian dari kakek Nugroho beserta tempat sabun.
Ia berjalan menapaki undakan jalanan setapak itu menuju rumahnya.
Gerakan Mirna yang berjalan dengan lenggokannya yang aduhai, membuat pria pengintai itu begitu sangat tersiksa. Ia seolah tak sabar ingin segera melahab gadis itu.
Mirna kemudian masuk kedalam rumahnya. Ia meletakkan ikan didalam ember kecil itu disebuah paku yang terdapat didinding belakang dapurnya. Ia berharap Kayla hari ini melewati rumahnya. Ia menyukai keramahan gadis kecil itu, dan gadis kecil itu satu-satunya yang mengajaknya bicara setelah Ia pindah ketepi hutan.
Amyra mengganti pakaiannya, sebuah daster pemberian Satria. Ia menci*um aroma pakaian baru itu dengan sangat dalam, mencoba menemukan bayangan sang pria dengan sangat kerinduan.
Setelah selesai berpakaian, Mirna membuka pintu dapurnya, berharap gadis kecil itu melintas dari arah belakang.
Benar saja, tampak gadis kecil itu sedang berjalan tertatih membawa satu ikat besar kangkung yang besaranya satu pelukan orang dewasa. Kangkung itu diletakkannya diatas kepalanya, sepertinya Ia mencari kangkung-kangkung itu ditepi sungai yang banya tumbuh subur.
Ibunya tidak dapat bekerja karena memiliki seorang bayi, oleh sebab itu Ia yang menjadi tulang punggung keluarganya diusianya yang masih sangat kecil.
Sedangkan ayahnya merantau tak juga kembali dan tidak lagi mengirimkan uang belanja kepada ibunya.
"Hei.. Kayla.. Baru pulang?" tanya Mirna ramah. Ia mengulaskan senyum sumringah.
Gadis itu tersenyum girang saat bertemu Mirna.
"Iya, Kak.. Ada apa? Mau kasih Kayla ikan lagi?" tanya gadis kecil langsung pada intinya.
Mirna menganggukkan kepalanya "Ya.. Kamu mau?" tanya Mirna dengan ramah.
Kayla menganggukkan kepalanya, dan tak sabar.
Mirna mengambil kantong kresek, dan memasukkan ikan dari ember kecil tersebut, lalu menuerahkannya kepada Gadis kecil itu.
Kayla berpamitan, karena hari semakin sore, dan Ia harus segera kembali kerumah, sebab nantinya Ia akan membantu Ibunya mengikat kangkung-kangkung itu dengan ikatan kecil, lalu akan dijajakan dari rumah ke rumah.
Setelah tubuh mungil gadis itu menghilang dari pandangannya, Mirna masuk kedalam rumahnya dan berniat akan menutup pintu dapurnya.
Sesaat sebuah tangan mendorongnya dengan kasar, lalu menerobos masuk dan mengunci pintu tersebut.
Mirna mencoba mengingat wajah pria tersebut, dan seketika Ia tersenyum menyeringai.
Melihat calon korbannya tak melawan, pria itu seperti mendapatkan angin surga.
Ia mendorong Mirna keruang tengah dan menjatuhkan tubuh gadis itu dikursi tamu.
Ia seperti kucing lapar yang tak sabar melihat ikan segar dihadapannya.
Pria itu dengan mudahnya melucuti pakaian Mirna tanpa tersisa sedikitpun, dan melemparkannya kesembarang tempat.
Ia menerkam Mirna dengan sangat rakusnya, dan tertawa senang karena menggagahi seorang gadis perawan.
Setelah mendapatkan puncak surgawinya, Ia berniat hendak pergi meninggalkan sang gadis, namun Ia salah akan hal itu. Mirna melinhkarkan kedua kakinya dipinggang pria itu, lu menatap dengan tatapan misterius dan senyum seringainya.
"Mengapa begitu terburu-buru..bukankah Kau yang memulai semua ini? Dan ini belum berakhir.." ucap Mirna sembari menarik pria itu menggunakan kedua kakinya sehingga pria itu terjatuh kedalam pelukannya.
Awalnya pria itu merasa senang karena mendapatkan kenikmatan demi kenikmatan yang terus mengalir deras.
Namun semakin lama Ia semakin merasakan seauatu yang berbeda, dimana Mirna tak merasakan lelah sedikitpun. Sedangkan pria itu sudah tak sanggup lagi terus menerus menyemburkan cairan miliknya yang terus keluar seperti dipompa tanpa henti.
Bahkan Mirna tak memberinya waktu istirahat meski sejenakpun.
Wajah pria itu memucat, lututnya seperti tak mamlu lagi untuk digerakkan, pandangannya kian kabur dan membayang.
Mirna menydahi aksinya setelah waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Bayangkan saja, pria itu dihajar Mirna dari pukul 5 sore hingga pukul 4 pagi, yang membuat energi pria itu terkuras habis.
Mirna melepaskan pria itu melalui pintu dapurnya, ia mengalungkan pakaian pria dileher pemiliknya, lalu mengunci pintu dapur dan membiarkan pria itu berjalan sempoyongan.
Seperti ada yang menuntunnya, pria itu berjalan mengikuti sebuah bayangan hitam yang mengarahkannya ke jalanan sepi.
Tanpa sadar Ia memanjat sebatang pohon, lalu mengikat lehernya menggunakan pakaiannya dan menjerat lehernya sendiri, lalu menggantung didahan pohon.
Seketika Ia mati terjerat sendiri oleh ulahnya. Setelah pria itu tewas, sosok bayangan hitam itu mencabut paksa alat vital pria tersebut dengan paksa, lalu membawanya bersama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
Amara
siapa yaa ,bayangan hitam itu?mirna kah??
2025-01-20
0
Rafa Retha
oohh...villain'nya...the black shadow
2023-09-26
1
V3
jangan-jangan bayangan hitam itu adalah si Nimar ,, dan stp Mirna habis bermain dg mangsanya dan buah nya hilang itu tuk makanan Nimar psti nya
2023-03-24
1