Mirna berjalan menyusuri jalanan lintas untuk kembali pulang. Perjalanan 10 km tidaklah membuatnya lelah dalam berjalan menuju kerumahnya.
Sepanjang perjalanan Ia tampak tersenyum. Hanya dapat melihta pria itu, hilanglah sudah rasa kerinduan dihatinya, meskipun Ia dapat merasakan jika Satria tampak menghindarinya.
"Mirna kemana, Sayang" tanya Mala kepada Satria, sembari meletakkan wadah sup dan nasi dalam toples dan memasukkannua kedalm kantong kresek.
"Gak lihat, Bu. Mungkin saja sudah pulang" jawab Satria.
Mala mengernyitkan keningnya "Pulang? Kenapa tidak permisi, Ya?" tanya Mala bingung.
Satria mengangkat kedua bahunya, pertanda tidak tahu.
"Tolong antarkan sup ini buat Pak Bayu, Ya Sayang" ucap Mala kepada puteranya.
Satria mengamggukkan kepalanya. Meskipun hanya Ayah sambung, namun Bayu sangat mencintai Ibunya, dan pria itu tampak begitu tulusnya, sehingga Satria harus menghargainya.
Satria meraih wadah makanan itu dari tangan Ibunya, lalu beranjak mengambil kunci mobilnya.
"Nitip Syafiyah m, Ya Bu" ucap Satria kepada Ibumya, lalu berpamitan.
Mala mengamggukkan kepalanya, lalu kembali ke dapur untuk membersihkan sisa makan siang mereka barusan.
Satria mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, Ia juga ingin sesekali melihat proyek propetry yang sedang dijalankan oleh Ayah sambungnya itu.
Dipertengahan jalan, Ia melihat Mirna sedang berjalan dengan begitu santainya. Tak jarang banyak pria yang menggodanya saat gadis melenggangkan pinggangnya tanpa dosa.
Satria melewatinya, namun tak merasa tega jika harus melihat gadis itu berjalan dengan sangat begitu jauh.
Satria melambatkan laju mobilnya, lalu menepi dan menunggu gadis itu sampai ke sisi mobilnya.
Setelah jarak gadis tepat disisi mobilnya, Satria membuka pintu mobil, dan meminta gadis itu segera naik. Dengan tatapan sendu, sang gadis menatapanya.
"Jangan menatapku seperti itu, naiklah.." ucap Satria menggerutu. Sebab Ia tidak tahan dengan tatapan sang gadis.
Mirna mematuhi perintah sang pria. Bahkan apapun perintahnya akan Ia patuhi, asalkan dapat menatapanya saja sudah membuatnya begitu sangat bahagia.
Satri menutupkan pintu mobil, dan tanpa sengaja menyenggol dua benda kenyal itu, karena benda milik sang gadis memang terlalu menonjol.
Satria tercengang, lalu dengan cepat menjauhi sang gadis dan kembali fokus menyetir.
Sepanjang perjalanan, rasanya Satria ingin segera terbang saja agar cepat sampai kerumah gadis itu dan segera menurunkannya disana, sebab gadis itu bagaikan racun yang melemahkan iman siapapun
Satria membawa mobilnya dengan mengebut. Dan tak berselang lama, akhirnya mereka sampai didepan rumah Mirna, lalu meminta gadis itu turun. Karena Mirna tidak tahu cara membuka pintu itu, Satria segera turun dari mobilnya, lalu membukanya dari arah luar. Ia benar-benar tidak berani membukanya dari dalam.
Setelah Mirna turun, Ia buru-buru menutup pintunya, dan kembali kedalam mobil lalu tancap gas tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Sepanjang perjalanan Ia menggerutu menyalahkan gadis itu yang sudah membuat senjatanya bangun.
Sementara itu, Mirna berjalan menuju rumahnya, menuju pintu rumah dan memasukinya. Ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Bayangan pria itu sungguh membuatnya gila. Meskipun Ia sudah berulang kali melakukan percintaan terhadap beberapa pria bermata keranjang, namun Ia belum juga menemukan kepuasan.
Ia menginginkan pria itu, sungguh termat menginginkannya. Guling yang berada dipelukannya, Ia dekap dengan erat, mencengkram kuat dan membayangkan jika itu adalah sang Pria pujaaannya.
Ia tersentak dari lamunannya, setelah mendengar suara kake Nugroho memanggilnya. Ia menyudahi khayalannya terhadap pria itu, lalu beranjak turun dari ranjangnya, dan berjalan menuju dapur untuk melihat sang Kakek.
Sesampainya dipintu dapur, Mirna membukanya, tampak Kakek Nugroho membawakannya sekantjng ikan hasil tangkapannya yang dalam jumlah banyak.
"Ini buat Kamu.. ucap sang Kakek kepada Mirna.
Mirna meraihnya "Makasih, Ya, Kek" ucap Mirna sembari tersenyum ramah.
Kakek Nugroho hanya menganggukkan kepalanya, lalu beranjak pergi sembari memanggul jala dan juga ikan hasil tangkapannya. Ia berjalan sembari terseok.
Setelah Kakek Nugroho tak terlihat, tampak bocah perempuan melintasi rumah bagian belakangnya. Ia tampak membawa banyak batang daun singkong. Sepertinya Ia barus saja mencari sayuran yang tumbuh liar ada disekitar tepi hutan. Tak jarang terkadang warga lain juga mencari lauk secara gratis disekitar tepi hutan.
Namun semenjak kejadian penemuan mayat yang tersangkut didahan pohon waktu itu, masyarakat masih merasa horor dan terngiang akan kengerian.
Namun bocah itu sepertinya tak perduli. Batang kecil daun singkong muda itu hampir menutupi wajahnya saking banyaknya.
"Heei.. Sini dulu" panggil Mirna kepada sang gadis.
Gadis itu tampak kegirangan dipanggil Mirna, lalu menghampirinya.
"Untuk apa daun singkong muda/pucuk ubi begitu banyaknya?" tanya Mirna dengan penasaran.
"Untuk dijual, kakak. Lalu sebagiannya untuk lauk makan" jawab Gadis kecil itu.
Mirna menganggukkan kepalanya. "Mengapa tidak Ibumu yang mencari?" tanya Mirna lagi.
"Adik masih sangat kecil kak, tidak bisa dibawa ketepi hutan, kasihan" jawab gadis kecil itu lagi.
Lalu Mirna menganggukkan kepalanya, mencoba menerjma alasan gadis kecil itu.
"Nah.. Bawalah ikan ini.." ucap Mirna, sembari menyodorkan ikan dalam kantung kresek tersebut.
Gadis kecil meraihnya dengan cepat, tampak wajahnya begitu sangat sumringah "Terimakasih, Kak" ucapnya dengan cepat.
"Siapa namamu?" tanya Mirna kepada gadis kecil itu.
" Kayla, Kak" jawabnya dengan cepat.
"Ya, sudah. Pulanglah, Ibumu pasti sudah menunggumu" titah Mirna kepada Kayla.
Lalu gadis kecil itu beroamitan dan beranjak pergi sembari berdendang riang membayangkan makan makanan enak hari ini.
Kemudian Mirna kembali masuk kedalam dapur, lalu menuju kamarnya, melanjutkan khayalannya terhadap Satria.
Sementara itu, Satria telah sampai didepan proyek property yang sedang dikerjakan oleh Ayah sambungnya itu.
Ia menghentikan mobilnya, lalu mencari pria paruh baya itu.
Dikejauhan tampak seorang pria paruh baya berwajah tampan sedang berdiri mematung menatap sebatang pohon rindang dengan rumput hiajau yang membentang. Ada sekitar 20 meter lebarnya. Pohon itu di kurung menggunkan pagar Cor, dan sedang dibangun taman bunga. Namun sepertinya tidak dapat sembarang orang memasukinya, karena tampak diberi gembok yang sangat besar.
Satria merasakan, jika pohon dan taman mini itu sepertinya memmiliki nilai history yang sangat begitu membekas dihati Ayah sambungnya, sehingga Ia menatapnya dengan begitu dalam.
Satria menghampirinya, lalu mencoba menegurnya, namun tidak direpon sama sekali, sehingga Satria menepuk pundak Bayu untuk menyadarkan pria itu dari lamunannya.
"Pak..." ucap Satria yang tanpa sengaja mengagetkan Bayu, lalu menoleh kepadanya.
"Eh.. Kamu, Sat.. Ada apa? Tanya Bayu tergagap dan merasa kikuk berhadapan dengan anak tirinya.
"Ini dari Ibu, tadi disuruh antarkan" jawab Satria, lalu menyodorkan toples persegi empat berisi makan siang Ayah sambungnya.
Bayu meraihnya "Wah...ngerepotin jadinya.. Maksih, Ya" ucapnya sembari tersenyum sungkan.
Satria menganggukkan kepalanya, lalu berpamitan pulang, dan tidak bisa berlama-lama. Sebab jika Syafiyah ingin buang air besar, maka tidak mungkin Mala, Ibunya yang membersihkannya. Oleh sebab itu, Satria segera bearanjak pulang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
Amara
satria ni tahu gak sih ,klo mirna cinta sama dia?
2025-01-20
0
yamink oi
lagi tapa aph yah Mirna.....
2023-03-19
3
Josss
Jossss
2023-03-17
2