Pria senja itu berjalan membawa jaring dan wadah ikan. Ia menapaki jalanan menuju rumah Mirna.
Ia mencoba mengetuk ruamah sang gadis, namun tak ada jawaban. Ia berinisiatif untuk meninggalkan ikan tersebut kedalam sebuah kantong kresek dan menggantungnya di paku yang terdapat didepan pintu dapur.
Lalu pria itu berjalan meninggalkan rumah Mirna.
Sepanjang perjalanan, ada beberapa orang yang membelinya dan ikan itu tinggal beberapa kilo saja.
Lalu Ia berjalan menuju rumah Lela, janda yang baru saja ditinggal mati suaminya karena sebuah insiden tabrak lari, dan kematian suaminya membuatnya menjadi janda yang saat ini sedang memiliki uang dari santunan jasaraharja.
Dengan sedikit uang yang diterimanya, Lela dapat mebeli rumah sederhana yang baginya itu sudah sangat membuatnya senang. Karena Ia tidak lagi memikirkan uang sewa rumah.
Uang santunan 50 juta dapat membeli rumah sederhana seharga 35 juta disebuah desa tempatnya tinggal.
Lalu sisa uang itu digunakannya modal usaha warung kopi kecil-kecilan diteras rumahnya. Ia juga berkebun ditanah belakangnya. Menanam cabai dan sayuran disela-sela Ia menunggu dagangannya.
Setiap malam, warungnya ramai dikunjungi oleh para pria, dari tua sampai remaja. Semua itu karena Lela yang ramah dan juga seorang janda yang mampu menarik perhatian banyak pria didesa itu.
Meski banyak cibiran dan sindirin yang didapatnya, namun Lela tidak perduli, karena Ia berniat mencari sesuap nasi untuk menopang hidupnya.
Hari mulai tampak senja, tampak seorang pria tua sedang berjalan kearah warungnya.
"Kakek.. Baru pulang, Kek?" sapanya ramah, sembari mempersilah kakek itu duduk diteras warungnya.
"Duduk, Kek.. Mau Lela buatkan Kopi apa teh, Kek?" tanya Lela ramah.
"Kopi saja, Cu. Pakai susu" jawabnya lemah.
"Baik, Kek. Tunggu sebentar, Ya" ucap Lela, lalu membuka termos dan menyeduh kopi susu permintaan sang Kakek.
Gak berselang lama, Lela sudah menyajikan kopi tersebut kepada Kakek Nugroho yang sudah menanti sedari tadi dengan wajah dinginnya, berbeda dari biasanya.
Karena masih sepi, Lela mencoba menemani Kakek Nugroho menikmati kopinya.
"Banyak dapat ikan hari ini, Kek" tanya Lela dengan santai, sembari memandang wadah tempat ikan sang Kakek yang sudah tampak kosong.
"Lumayan, tapi sudah habis dibeli oleh orang yang bertemu dijalan. Itu masih ada 3 ekor ikan Nila, sengaja kakek singgahkan, satu untukmu, dan dua ekor lagi untuk istri kakek dirumah" jawabnya dengan sedikit lemah.
"Wah, kebetulan sekali saya belum belanja ikan hari ini, Kek. Boleh saya lihat?" tanya Lela penasaran.
"Silahkan" jawab Kakek Nugroho dengan tenang.
Lalu Lela merundukkan kepalanya untuk melihat isi tempat ikan yang ternyata didalamnya masih ada 3 ekor ikan nila dalam ukuran lumayan besar.
"Aku kira tadi sudah habis, Kek" ucap Lela yang tanpa sengaja memperlihatkan dua bongkahan buah melonnya yang tampak tumpah karena leher pakaiannya yang terlalu lebar.
Pria senja itu menatap tak berkedip, entah apa yang ada difikirannya saat ini, namun Ia tak ingin lepas memandangnya.
Lela mengambil satu ekor ikan yang sesuai keinginannya "Yang ini ya, Kek" ucap Lela sembari memegang seekor ikan nila ditangannya.
Kakek Nugroho hanya menganggukkan kepalanya, dan menatap bola mata Lela dengan begitu sangat dalam.
Lela lalu membawa ikan itu kedapur, meletakkannya didalam wadah plastik, dan menyimpannya sementara didalam lemari pendingin, sehabis maghrib nanti berencana akan digorengnya.
Lela mengambil dompetnya, lalu mengambil selembar uang 20 ribu rupiah, dan membawanya kedepan untuk membayar ikannya.
Kakek Nugroho terus memandanginya, membuat Lela sedikit merasa canggung dengan tatapan sang kakek yang tak biasa.
Lela duduk di kursi dekat sisi sang Kakek, mereka saling berhadapan " Kek, ini uang ikannya" ucap Lela, lalu menyodorkan uang tersebut.
Kakek Nugroho menepisnya "Ambillah tidak usah kamu bayar dengan uang" jawab kakek Nugroho terdengar sangat aneh ditelinga Lela.
"Maksud Kakek apa?" tanya Lela dengan masih kondisi bingung.
"Aku ingin kamu membayarnya dengan itu" ucap Kakek Nugroho dengan tanpa sungkan, sembari matanya menatap area dua gundukan yang tampak menonjol didada Lela.
Lela terperanjat mendengarnya, namun Ia seperti orang sedang linglung, tak mampu menolaknya saat pria senja itu menggiringnya kedalam kamar.
Lela tidak bereaksi saat pria senja itu melucuti seluruh pakainnya, dan melahab habis seluruh tubuhnya.
Bahkan Ia tak menolak saat pria senja itu mencoba meberoboskan senjatanya ke area pribadinya. Ia merasa bingung, karena Ia dapat merasakan jika si kakek memiliki tenaga yang sangat berbeda dari pria senja lainnya. Ia tampak masih sangat perkasa, seperti pria muda lainnya.
Setelah puas menggagahi Lela, pergi begitu saja meninggalkan wanita yang masih dalam ketidaksadarannya.
Setelah satu jam lamanya, Lela tersadar dan terperanjat saat Ia mendapati dirinya sedang tidak mengenakan pakaian.
"Apa yang sedang Aku lakukan? Mengapa Aku dalam kondisi seperti ini?" Lela tersentak dari lamunannya saat mendengar seseorang memanggilnya.
Ia segera mengemasi pakainnya dan mengenakannya. Ia menuju warungnya, dan menemui pelanggannya.
"Mbak, kopi susu segelas, Ya" pinta seorang pemuda yang sudah duduk dibangku kayu dengan bentuk memanjang.
Pemuda itu memainkan phonsel pintarnya dan tampak sedang berbalasan chat dengan seseorang, itu terlihat dari mimik wajahnya yang terkadang tersenyum sendirian, mungkin dengan pacar onlinenya.
Saat Lela menyajikan kopi susu pesanan pemuda itu, Ia teringat akan gelas kopi susu yang pesan sang kakek.
Namun setelah memeriksanya, Ia tak menemukan gelas itu ada dimeja.
"Andi, Kamu ada lihat gelas bekas kopi diatas meja, tidak?" tanya Lela kepada pemuda bernama Andi yang waktu itu pernah menemukan jasad pria tanpa identitas yang tersangkut didahan pohon.
"Gak ada, Mbak. Dari tadi meja ini kosong" jawab Andi, lalu menyeruput kopinya dan mengecapnya dengan dalam.
Lela semakin bingung, lalu Ia memeriksa lemari pendingin, mengecek Ikan yang diberi oleh kakek Nugroho padanya. Tak ada ikan tersebut didalamnya.
Bahkan Ia melihat wadah plastik yang digunakannya untuk menempatkan ikan tersebut masih berada dirak piring, sama seperti semula saat Ia mencucinya siang tadi.
"Apakah Aku hanya berhalusinasi saja?" Lela berguman lirih dalam hatinya.
Namun Ia teringat akan pergumulan panasnya dengan sang Kakek, Ia melihat kekamarnya, sprei tampak rapi, tak ada tampak yang berserakan, Ia semakin bingung dengan apa yang kini sedang dirasakannya.
Ia kembali ke warungnya, namun wajahnya tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Andi, saat kamu kemari tadi, ada lihat kakek Nugroho dijalan gak?" tanya Lela yang masih penasaran.
"Gak ada, Mbak.. Emangnya kenapa? Koq wajah Mbaknya tampak bingung gitu"
"Gak apa-apa kok, Ndi.. Cuma Mbak tadi ada pesan ikan sama Kakek, tapi sepertinya Kakek itu lupa membawakan pesanan Mbak" jawab Lela berbohong.
"Oo.. Kirain apaan" Andi menjawab dengan wajah datar, lalu melanjutkan chatnya dengan pacar onlinenya.
Namun Lela seperti merasakan area sensitifnya berkedut, Ia masih dapat merasakan sisa-sisa puncak surgawi. Namun Ia bingung apakah itu hanya sebuah halusinasinya saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
Sarita
lela main sama om wowo ya? mungkin perkasa sekali ya kalo sama wowo 🤣🤣🤣🤣
2023-12-24
2
Mimik Pribadi
Sereeem,,,Lela nganu sm sapa lgi itu 😬😬😬
2023-11-14
0
Chuu
genderuwo
2023-10-18
1