Hari ini seluruh rombongan keluarga Satria sudah bersiap akan berangkat ke hotel tempat Paman Hamdan menggelar resepsi pernikahannya.
Seorang gadis mesir nan nan Ayu rupawan menjadi jodohnya, dan seorang anak pengusaha.
Gadis bernama Nahla yang merupakan Dosen saat Ia menempuh pendidikan di Universitas ternama dan kebanggaan Mesir.
Hati keduanya terpaut dengan pertemuan tanpa sengaja, saat Nahla menjadi dosen pembimbing bagi paman Hamdan. Seringnya bertemu, membuat bunga-bunga cinta tumbuh dihati keduanya.
Kecerdasan paman Hamdan menjadi salah satu pertimbangan bagi Nahla yang berusia 29 tahun, terpaut usia dengan paman Hamdan yang sudah berusia 50 tahunan.
Dengan sikap dan akhlak yang dimiliki oleh Paman Hamdan, tanpa malu-malu, sang dosen muda menyatakan cintanya, dan gayung bersambut, Paman Hamdan lalu melamarnya dan bersiap menikahinya.
Acara digelar sangat mewah. Dimana keluarga Nahla adalah keluarga terpandang. Semua tamu undangan begitu terpukau dengan sajian dan juga sambutan yang disediakan.
Satria berjalan sembari menggandeng lengan Syafiyah, begitu juga dengan yang lainnya, datang bersama dengan pasangan mereka masing. Bahkan Mala adalah salah satu dari pasangan tamu yang hadir yang wajahnya tampak selalu berseri.
Entah apa yang didapatnya malam tadi, sehingga Ia terlihat begitu sangat sumringah.
Melihat kehadiran para keponakannya, Mantan adik iparnya dan juga rombongannya, membuat Hamdan merasa sangat bahagia. Dimana hanya mereka keluarga satu-satunya yang hadir dalam memenuhi undangannya, sedangkan yang lainnya tentu terkendala oleh dana.
Mereka meminta sesi foto keluarga sebagai kenanh-kenangan. Semua tampak begitu bahagia.
Setelah melakukan sesi foto dan bersalaman, rombongan Satria turun pelaminan dan menuju ruang jamuan.
Berbagai hidangan khas mesir tersaji dengan berbagai olahan daging dan sebagainya.
Syafiyah mendadak ingjn buang air kecil, lalu Ia meminta ijin kepada Satria untuk ke toilet dan Satria menganggukkan kepalanya "Hati-hati ya sayang, jangan sampai kesasar" ucapnya lembut ditelinga Syafiyyah.
Wanita itu menganggukkan kepalanya.
Satria melihat kebab yang berisi daging kambing cincang beserta daun salada tersaji disalah satu sajian.
Satria mengambilnya 2 porsi, berniat untuk Sayafiyah jika sudah selesai dari kamar mandi.
Saat Satria ingin mengambil salah satu kebab itu, Seseorang juga mengambil kebab yang akan dipilih oleh Satria.
Satria merasakan indra penciumannya, mencium aroma kasturi, Ia sangat mengenal aroma itu, dan siapa pemiliknya.
Saat Satria menoleh melihat seseorang yang disisinya itu, Ia tercenngang dan mulutnya sampai ternganga tak percaya.
"Widuri... Kau sampai disini juga?" tanyanya kepada seorang gadis cantik penuh pesona berada disisi kanannya.
Gadis yang disebutnya dengan nama Widuri itu menganggukkan kepalanya.
Lalu Satria kembali mengambil dua kebab sekalian dan meletakkan dipiring saji.
"Bagaimana kondisi kedua sayapmu? Apakah sudah sembuh?" tanyanya lirih agar tidak terdengar dengan orang lain.
Gadis itu mengangguk, lalu meminta Satria menambahkan satu kebab lagi kedalam piring saji yang dibawa oleh Satria.
Satria mengangguk, lalu mengambilnya.
Keduanya menuju meja tamu, dan duduk dikursi kosong.
Widuri duduk disisi kiri Satria. Aroma kasturi Widuri sampai tercium oleh Hamdan yang sedang duduk dipelaminan, sejurus kemudian, matanya melirik kearah Satria yang sedang mengobrol bersama gadis cantik dimeja tamu.
"Satria.." ucap Widuri dengan sangat lembut.
"Ya" jawab Satria, sembari menggigit kecil dan mengunyah kebabnya.
"Nini Maru berusaha untuk bangkit kembali, Ia sedang berjuang melepaskan dirinya dari reruntuhan goa" ucap Widuri dengan sangat hati-hati.
Uuuhuuuk...
Satria sampai tersedak mendengarnya. Lalu menatap sang gadis cantik dan menelan sisa kunyahannya.
"Ku kira Dia sudah hangus terbakar terkena ajian segoro geni" jawab Satria sembari berbisik.
Disisi lain, Hadi yang berada tak jauh dari meja Satria, merasa bingung melihat Kakaknya itu sedang berbicara sendiri "Mengapa Kak Satria berbicara sendiri? Tidak ada sesiapapun didekatnya" Hadi berguman lirih dalam hatinya.
Sedangkan Satria tampak begitu sangat fokus dengan lawan bicaranya.
"Kau harus segera menikah, Satria" ucap Widuri dengan lirih.
Seketika Satria terperangah, menatap heran dengan ucapan Widuri.
"Heeei.. Aku sudah menikah, lalu mengapa menikah lagi? Aku bukan penganut poligami" jawab Satria dengan tegas. Ia merasa jika saran yang diucapkan oleh Widuri terlalu mengada-ngada.
"Tetapi ini sudah menjadi garis kehidupanmu, dan Kau harus menjalaninya" ucap Widuri lagi.
Sesaat dikejauhan tampak Syafiyah sedang berjalan menuju kearahnya.
"Aku tidak mungkin mengkhianati pernikahanku dengannya" jawab Satria, sembari menatap wajah Syafiyah yang berjalan menuju kearahnya.
Widuri melirik kearah Sayafiyah "Namun, hanya menikahi gadis itu Kau dapat menambah kekuatan untuk mengalahkan kesaktian Nini Maru" ucap Widuri lagi.
"Gadis mana?" tanya Satria bingung.
"Dia yang menunggumu" jawab Widuri, lalu menghilang bersama dengan datangnya Syafiyah yang menghampirinya di meja tamu.
Satria tergugup sesaat, ketika Widuri menghilang begitu saja.
"Emmm.. Kebab, sepertinya enak, Yank" jawab Syafiyah, lalu mencomot kebab itu dan mengigitnya.
"Eh..iya enak, banget yank.." jawab Satria gugup.
"Kamu kenapa, Yank? Koq kelihatannya pucat banget" tanya Syafiyah dengan penuh selidik.
Satria hanya menggelengkan kepalanya, lalu mencoba menetralkan detak jantungnya. Sementara itu, tanpa sengaja tatapan mata paman Hamdan dan dirinya beradu, ada sesuatu yang ingin dihngkapkannya, namun belum waktunya.
Satria merundukkan kepalanya, tak mampu menatap lama mata Paman Hamdan yang penuh dengan Kharisma.
Sementara itu, Mala dan Bayu, tampak begitu sangat mesra, seolah-olah dunia bagaikan milik mereka berdua. Meski usia tak lagi muda, namun pubertas keduanya sepertinya lagi kambuh, sehingga mereka begitu merasakan kasmaran.
Satria melirik kearah Mala, Ibunya dan juga Bayu, ayah sambungnya, yang tampak menikmati momen perjalanan mereka ke Mesir.
Setidaknya Satria merasa bahagia jika Ibunya juga merasakan bahagia.
Lalu Satria melirik kepada Syafiyah yang telah menjadi istrinya. "Siapa gadis yang dimaksud oleh Widuri? Dan apa tujuannya memaksaku untuk menikah lagi? Aku bukan type pria yang suka berpoligami" gumannya lirih dalam hati.
"Lalu mengapa Nini Maru belum hancur hangus terbakar? Sedangkan aku sudah memusnahkannya... Apakah ada yang salah saat Aku menggunakan ajian segoro geni padanya?" Satria tampak berfikir.
Satria merapatkan kursinya kepada Syafiyah.
"Yank... Masih lama habis datang bulannya?" tanya Satria berbisik ditelinga Syafiyah.
Wanita itu tertawa geli. "Baru dua hari datangnya, masih lama, butuh 4 hari baru bersih" jawab Syafiyah tanpa dosa.
Satria terduduk lemah, gagal sudah bulan madunya ke luar negeri.
Gimana mau punya anak, jika Syafiyah tampak ogah-ogahan. Sepertinya Shafiyah type wanita yang tidak begitu bergairah dalam urusan ranjang, baginya masalah ranjang hanya formalitas saja.
Menurutnya pernikahan hanya sebuah jalinan dan untuk mendapat gelar istri saja.
Ia bisa disebut wanita frigid. Wanita yang tidak memiliki hasrat untuk bercinta. Jikapun melakukannya, maka hanya sebagai untuk pemenuhan saja, bukan sebuah kebutuhan.
Sedangkan Satria, merupakan pria yang memiliki tingkat yang termasuk hyper, namun masih dapat mengendalikan keiinginannya.
"Malam nanti bantuin ya, Yank" rayu Satria kepada Syafiyah.
"Ih.. Geli, Yank... Ntar aku eneg" jawabnya sekenanya, membuat hati Satria nelangsa.
Namun Satria mencoba bersabar, mungkin Ia harus membuat Syafiyah lebih berhasrat lagi dengan berbagai permainan baru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
Bunda Silvia
Di polygamy baru kelabakan kau baik jg kalau ceraikan saja
2024-10-25
1
Alby Upy
ntar dipoligami baru nangis2 kamu ya .....
2023-11-29
1
◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺
hmmm, syafiyah gak tau caranya bagaimana menyenangkan hati suami, ntar klau suaminya nikah lagi baru tau rasa ya 😒
2023-04-17
4