Mirna keluar dari toko menenteng kantong kreseknya dengan sangat santai.
Ia berjalan menuju rumahnya yang sedikit jauh dari toko sembako tersebut.
Setelah jau berjalan, pria tambun itu kembali mengikuti Mirna dari arah belakang, dengan memperlambat lanu motornya.
Ternyata bukan hanya pria itu saja, pria bertubuh tinggi yang tadi sempat menyenggol tubuh Mirna ditoko tersebut, juga diam-diam mengikuti Mirna.
Setelah sekian menit, akhirnya Mirna sampai dirumahnya.
Pria tambun itu berhenti tak jauh dari rumah Mirna, sedangkan oria bertubuh tiggi melaju melewati rumah Mirna.
Kedua pria itu akhirnya mengetahui dimana tempat tinggal Mirna.
pria tambun itu memilin kumis tebalnya, Ia sedang memikirkan sebuah rencana, lalu Ia tersenyum dan menghidupkan mesin motornya lalu perlahan menunggalkan lokasi rumah Mirna.
Sementara itu, Mirna membersikan daging ayam baru saja dibelinya. Ia membayangkan ayam cemani yang biasa Ia sajikan untuk untuk satu sosok waktu itu.
Ia mencoba menepis kenangan itu, Ia tidak ingin mengingatnya lagi.
Mirna memasak daging ayam tersebut dengan digorengnya saja. Lalu membuat sambal mentah yang dicampur dengan terasi goreng.
Mirna telah selesai memasak. Lalu menikmati masakan dari belanja pertamanya.
Ia begitu menikmati masakannya sendiri, memakannya dengan lahab. Meskipun Ia banyak makan, namun Ia tidak khawatir akan kenaikan berat badannya.
Mirna menyelesaikan makannya, lalu membersihakan sisa piring kotor dan menumpuknya dalam wadah plastik berukuran besar.
Mirna keluar kebelakang rumah, Ia mebersihkan halamannya, semua pekerjaan itu Ia pelajari saat berada dirumah Mala beberapa waktu lalu. Ia mulai menyapu halaman dan tampak begitu menikmati hidupnya.
Sesaat Ia terkenang akan Satria. Ia mengehentikan sapuannya. Ia menggenggam erat batang penyapu tersebut. Baru saja sehari tak memandang wajah pria itu, Ia begitu sangat kesepian.
Harapannya ingin hidup dengan pria itu begitu besar, Ia ingin mencapai kesempurnaanya, hanya pria itu yang mampu mewujudkannya.
Mirna kembali menyelesaikan sapuannya hingga kedepan rumah.
Setelah selesai, lalu Ia kembali ke halaman belakang, dan memncuci tangan serta kakinya disebuah wadah tong berwarna biru yang dijadikan tempat penampungan air hujan.
Kulitnya tampak begitu putih sempurnah, berkliau saat terkena sinar mentari.
Ia beranjak ingin masuk kedalam dapur, sebelum sebuah tangan menyergapnya, lalu membekap mulutnya dan membawanya masuk kedalam rumahnya.
Seorang pria tambun dengan kumis tebalnya, menghempaskan tubuh Mirna keranjang tidur dengan sangat kasar.
Wajahnya begitu sangat tak sabar untuk menyentuh sang gadis.
"Diamlah, jangan berteriak, atau Aku akan membunuhmu" ancam tambun itu dengan sebilah pisau dapur.
Mirna hanya menatap pria yang tadi sempat menawarkan tumpangan itu kepadanya saat berbelanja.
Ada senyum seringai menghiasi bibir sang gadis.
Melihat Mirna hanya diam saja tanpa perlawanan, membuat pria itu semakin bersemangat.
"Cepat buka pakainmu, atau Aku akan menikammu" titah pria itu dengan ancaman sembari menodongkan piasu dapur kearah Mirna.
Tanpa penolakan apapun, Mirna melucuti pakaianya hingga polos, bahkan sisa uang dari belanjanya saat tadi berserakan begitu saja.
Pria itu sangat senang melihat Mirna menuruti perintahnya.
Setelah itu, meletakkan pisau dapur tersebut ditepi ranjang.
Ia menyergap tubuh Mirna dengan tak sabar, melahabnya dengan rakus.
Senjata pamungkasnya yang hanya berukuran kecil itu memaksa masuk untuk melakukan penyatuan namun Ia sedikit kesulitan karena Mirna tetap Virgin, meskipun beberapa kali melakukan penyatuan sebelumnya dengan Anang dan juga Gugun.
Pria itu bertambah girang, mendapati gadis virgin. Dengan susah payah akhirnya senjatanya mampu menerobos masuk. Ia semakin bersemangat dan terus bekerja.
Hingga akhirnya Ia Ia merasakan puncaknya hanya dalam waktu beberapa menit saja.
Setelah mencapai kepuasannya. Ia beranjak ingin pergi, namun diluar dugaannya, Mirna mengapitkan kedua kakinya dipinggang pria tambun itu.
"Mengapa harus terburu-buru? Bukankah Kamu yang memulainya" tanya Mirna dengan senyum seringai.
Sementara itu, pria tambun dengan perutnya yang buncit itu tertawa senang. Ia mengira Mirna puas dengan permainannya dan tidak kngin melepaskannya.
"Malam nanti Aku pasti datang lagi sayang" jawab pria itu dengan nada yang begitu terdengar menjijikkan ditelinga Mirna.
"Jika Kau sudah memulainya, maka Kau juga harus mengakhirinya" jawab Mirna dengan tatapan dinginnya.
Lalu tanpa diduga oleh pria itu, Mirna mendorong tubuh pria kesisi kiri dan dan membuat pria itu terjerembab diranjang.
"Biarkan Aku yang bekerja, dan Kau menikmatinya saja" ucap Mirna, lalu menaiki tubuh pria itu kembali bekerja.
Waktu menunjukkan pukul 4 subuh. Seorang pria tambun, keluar dari rumah Mirna dengan sempoyongan.
Lututnya bergetar dan seolah-seolah tak mampu untuk berjalan.
Ia digempur habis-habisan oleh gadis itu dari pukul 10 pagi hingga pukul 4 subuh.
Wajahnya memucat dan seperti kehabisan energi.
Ia berjalan terseok-seok menuju motor yang disembunyikan berjarak 50 meter dari rumah Mirna.
Ia mencapai motornya dengan susah payah. Memcoba menghidupkan motornya, lalu menaikinya.
Baru beberapa meter motornya melaju, Ia yang tidak fokus akhirnya terperosok ke sisi jurang yang menghadap ke sungai.
Tubuhnya tersangkut disebatang dahan.pohon yang tumbuh ditebing jurang, sepeda motornya meluncur ketepi sungai dalam kondisi mesin masih hidup.
Pria itu terkapar berlumuran darah, karena tertancap dahan pohon yang telah telah patah sebelumnya.
Waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Seperti biasa, Mirna pergi kesungai. Mencuci spreinya yang kotor karena pergumulannya saat semalaman dengan pria tambun tersebut.
Ia berpapasan dengan kakek Nugroho yang akan berangkat kesungai untuk mengail ikan.
"terimakasih untuk ikannya, Ya, Kek" ucap Mirna ramah.
"Sama-sama, Cu..." doakan Kakek dapat banyak ikan, Ya" ucap Kakek Nugroho, lalu mengambil sampannya yang tertambat ditepi sungai.
Mirna menganggukkan kepalanya sembari melemparkan senyum manisnya.
Lalu Ia kembali mencuci dan membersihakan dirinya.
Sementara itu, Jasad pria tambun yang tertancap didahan pohon itu terus mengeluarkan darah segar dari bekas luka robeknya. Darah itu terus menetesi ketanah dan membasahi dedaunan kering, lalu membentuk sebuah genangan.
Sementara mesin motornya sudah mati karena kehabisan bahan bakar.
Amis darah dari pria itu mengundang beberapa hewan carnivora untuk datang menghampiri.
Bahkan seekor biawak besar mencoba memanjat pohon itu, dan mulai menggigiti daging tubuh tersebut, dan menyisakan sebagiannya.
Semut datang berkerumun menikmati darah yang menggenang ditanah dan dedaunan kering tersebut.
Tiga hari berlalu, sisa jasad tubuh pria itu mulai membusuk dan meninggalkan aroma yang tidak sedap.
Didi, seorang pria yang suka berburu hewan tupai menyusuri tepi jurang untuk mencari tupai dan dijual ke warung penjual minuman keras.
Hari ini Ia banyak mendapat tangkapannya.
Sesaat hidungnya mengendus aroma bau busuk bangkai yang sangat menyengat.
Saat endusannya dipertajam, Ia dikejutkan oleh sosok tubuh yang tersangkut dengan cara tertancap didahan pohon.
Seketika Ia ngacir ketakutan dan menceritakannya kepada para tetangga.
Penemuannya itu Ia laporkan kepihak kepolisian, dan polisi segera datang untuk melihat laporan tersebut.
Seketika tempat penemuan mayat tanpa identitas tersebut menjadi ramai dikunjungi para warga yang merasa penasaran dengan jal tersebut.
Namun diantara warga yang berkerumun, hanya satu sosok gadis yang tampak tidak begitu perduli.
Polisi mencoba menghampiri gadis itu, karena hanya rumah sang gadis yang dekat dengan kejadian perkara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
Rafa Retha
mbangke...
2023-09-26
0
Mirna Loden Mirna Mirna
siapa suruh mcm2 sma mirna,laki2 buaya sprti itu biarin mati mengganas disitu
2023-05-19
2
yamink oi
di gembok kue kudune lato2 Ben r pecicilan 🤣🤣🤣
2023-03-06
1