Mirna menatapi uang pemberian dari Pria pujaannya. Ia sepertinya tergoda untuk membelanjakannya, meski tidak mengetahui harus berapa lembar yang Ia akan gunakan.
Gadis itu mengambil dalam ikatan uang dalam jumlah 1 juta rupiah. Ia juga tidak tahu akan berbelanja apa.
Ia memasukkan uang tersebut kedalam Branya. Dimana leher dari pakaian yang dikenakannya sedikit lebar dan turun, sehingga memperlihatkan sedikit bongkahan bukit kembar miliknya.
Ia mengambil kain selendang miliknya, lalu mengenakan di lehernya.
Ia menggerai rambut panjang dan hitam miliknya, membiarkannya angin menerbangkan helaiannya, yang memeperlihatkan pesona kecantikan.
Untuk pertama kalinya Mirna keluar dari rumah, Ia menyeberangi jalan lintas dengan sesukanya. Meski saja hampir tertabrak truk, Ia tak begitu perduli.
Saat pengemudi itu ingin mengomel, namun langsung terdiam saat melihat rupa ayu sang gadis. Seketika sopir itu langsung blingsatan, apalagi melihat pakaian Mirna yang terkesan menggoda.
"Asem banget tu, cewek, untung saja cakep" ucap sang sopir, lalu kembali melanjutankan perjalanannya saat Mirna sudah sampai diseberang tepi jalan.
"Hati-hati kalau nyebrang, Neng. Kan sayang kalau mati muda" ucap Si sopir, lalu perlahan meninggalkan Mirna.
Mirna hanya memandang sesaat sang sopir, lalu kembali berjalan dengan santainya.
Suasana sangat sepi. Rumah Mirna sedikit jauh dari para tetangga. Ia berjalan menyurusi jalanan lintas menuju sebuah ruko yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya.
Sesaat sepeda motor berhenti disisinya "Mau kemana, Mbak? Butuh tumpangan?" tanya Pria berkumis tebal, dengan perut tambun dan membuncit.
Mirna menggelengkan kepalanya, menolak tawaran pria itu. Lalu Ia kembali berjalan, menyusuri jalanan.
Sinar mentari memendarkan cahayanya, menerpa kulit putih gadis itu, sehingga semakin membuatnya tampak begitu penuh pesona.
Pria tambun berkumis tebal itu tak patah semangat. Bagaimana mungkin Ia melepaskan gadis bertubuh elok dengan paras ayu begitu saja.
Ia terus mengikuti Mirna dengan memperlambat laju motornya.
"Ayolah, Mbak.. Nanti kulitmu itu terbakar matahari, kan sayang" ucapnya terus menawarkan tumpangan.
Hanya melihat bongkahan bukit kembar milik Mirna yang sedikit menyembul, membuatnya merasa sangat menegangkan senjata pamungkasnya yang berukuran tak seberapa itu.
Namun Mirna menolak kembali, hingga tidak terasa Mirna sudah sampai didepan ruko sembako yang Ia tuju.
Pria itu berhenti, memperhatikan langkah Mirna yang tampak berlenggak-lenggok bagaikan biola yang siap dipetik dawainya.
Pria itu memutar arah sepeda motornya, lalu menunggu dibawah sebuah pohon rindang dan terus mengintai pergerakan sang gadis.
Mirna memasuki toko yang sangat ramai dikunjungi oleh para pelanggan.
Disekitar toko, sangat banyak terdapat rumah penduduk yang begitu rapat hingga sampai ke penghujung desa.
Sementara itu, Mirna juga bingung akan membeli apa.
Diantara para pelanggan, salah satunya adalah Lela yang juga sedang berbelanja. Ia sepertinya tidak terlihat sedih atas kematian Gugun, Ia berbelanja sangat banyak hari ini.
Seminggu lagi uang santunan dari pihak jasaraharja akan segera cair.
Sementara ini, Lela hidup dengan membantu kakek Nugroho untuk menjualkan ikan-ikannya, dan Ia juga diberi ikan sebagai lauk dari sisa penjualan. Sedangkan keuntungan dari berjualan ikan, ia gunakan untuk membeli beras dan juga kebutuhan lainnya.
Mirna menuju ketempat yang dipadati oleh ibu-ibu yang sedang memilih ikan segar, daging ayam dan juga bahan lainnya.
Kehadiran Mirna ditengah-tengah mereka membuat perhatian mereka sedikit terganggu dan fokus menatap gadis yang mereka anggap asing itu.
Mirna hanya diam saja, tanpa banyak bicara.
Ia mengambil satu potong dada ayam, lalu mengikuti cara yang dilakukan ibu-ibu lainnya, memasukkan kedalam kantong kresek.
"Eh.. Mbak, lain kali kalau keluar rumah itu pakaiannya sopan sedikit, Mbak.. Jangan memakai pakaian yang menggoda begitu, kan bahaya juga buat, Mbaknya" ucap seorang wanita yang sedikit risih melihat penampilan Mirna.
Gadis itu hanya mendengarkan ucapan sang wanita berhijab itu, lalu memandangnya sendu.
Setelah itu, Ia pergi mencari bahan lainnya yang Ia rasa menarik perhatiannya.
Lalu terdengar suara bisik-bisik dari pada Ibu-ibu disana.
"Para suami perlu dijaga, bisa bahaya itu si mbaknya jika bertetanggan dengan kita, habis tergoda semua melihat Dia" ucap seorang diantara mereka yang bergosip.
Beberapa pelanggan pria yang juga kebetulan berbelanja begitu terperangah melihat kehadiran Mirna ditoko tersebut.
Mereka menelan salivanya, karena tak tahan melihat lekuk tubuh gadis asing tersebut.
Namun Mirna tidak begitu perduli, Ia terus memilih barang yang Ia inginkan.
Ia menuju rak bagian sabun dan deterjen, Ia mengingat jika barang itu sudah habis. Ia mencoba mengambil beberapa bungkusnya. Lalu dengan sengaja seorang pria yang juga sedang berbelanja mendekatinya. Ia menyenggolkan sikunya ke bukit kembar milik Mirna yang sangat membuatnya tidak fokus saat mengambil deterjen.
Mirna hanya menatap pria itu dengan tatapan dingin. Sang pria bertubuh tinggi itu mengedipkan sebelah matanya, lalu menyapukan lidahny ke bibirnya sendiri.
Mirna hanya diam, lalu mempercepat belanjanya. Pria itu seperti memiliki niat terselubung.
Mirna menuju meja kasir, disana ada seorang nenek yang sedang membeli beras seberat 1 kg.
Ia mengeluarkan uang recehan untuk membayar berasnya itu.
"Nek.. Hutang nenek sudah sangat banyak, saya tidak bisa lagi memberikan hutang kepada Nenek. Bagaimana nenek bisa membayar hutang-hutang ini, jika pekerjaan nenek hanya mengumpulkan botol-botol bekas" ucap pemilik toko tersebut.
Tak berselang lama, seorang kakek tua yang membawa sebuah sepeda dengan karung goni besar berisi bahan rongsokan masuk kedalam toko. Ia menghampiri Nenek tersebut.
"Ini ada tambahan sedikit, Bu. Mungkjn bisa menutupi hutang kita yang lama" ucap kakek tersebut, lalu menyerahkan selembar uang sepuluh ribu rupiah.
pemilik toko sudah menghitung jumlah total belanja Mirna. Tak sampai 50 ribu, lalu Mirna mengambil uang tersebut dari balik Bra nya, dan menyerahkan selembar uang senilai seratus ribu.
Pemilik toko yang merupakan pria berusia 40 tahuan itu tak berkedip matanya saat melihat Mirna mengeluarkan uang dari balik bra tersebut, bahkan Ia menyimpan uang milik Mirna didalam sakunya, Ia seperti terhipnotis.
Setelah mengembalikan sisa uang milik Mirna, Ia kembali mengomel kepada kedua pasangan renta itu.
Mirna yang ingin beranjak pergi, menghentikan langkahnya "Berapa hutang nenek ini?" tanya Mirna dengan nada lirih.
"Emm.. Sekitar 400 ribu" ucap pria itu menjelaskan.
Mirna kembali merogoh bra nya, yang membuat senjata pemilik toko itu berdenyut melihatnya.
"Tolong dicoret hutang nenek ini." ucap Mirna, sembari menyerahkan uang 4 lembar seratusan ribu kepada pemilik toko. Ia mengingat jika Satria mengatakan nilai uang itu perlembarnya 100 ribu.
Setelah menyaksikan pemilik toko mencoret hutang milik nenek tersebut, Mirna menyelipkan selembar uang seratus ribu kepada si nenek.
Nenek itu menatapnya haru, tanpa sadar menittikkan air matanya.
"Terimakasih, Cu" ucap sang nenek dengan suara bergetar.
Disisi lain, ibu berhijab yang tadi menegurnya tampak melongo melihat sikap sosial gadis yang berpakaian tidak sopan itu.
Mirna menganggukkan kepalanya dengan lembut, lalu pergi dengan tanpa sepatah katapun.
Pemilik toko mengembalikan sisa dari hutang itu kepada Mirna, namun sudah tidak lagi berada ditempat, dan pemilik toko memberikannya kepada si nenek.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
Rafa Retha
ehmm...cium cium dah tuh uang...🤣
2023-09-26
2
Mirna Loden Mirna Mirna
mungkin mirna ini wanita jadi jadian mkx dia gk tau mata uang
2023-05-19
1
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
senjata pamungkas nya tak seberapa itu? ya ampun onel nanti ada yg tersinggung wkwkwkwk
2023-03-13
0