Adzan subuh berkumandang, Satria sudah bersiap untuk ke mushallah, begitu juga dengan Bayu, keduanya bertemu didepan pintu Kamar masing-masing dan akan berangkat untuk shalat berjamaah.
Mereka saling pandang, dan melempar senyum kikuk.
Lalu keduanya berjalan beriringan menuju mushallah tanpa banyak berkata-kata.
Setelah selesai shalat berjamaah, keduanya kembali berjalan beriringan pulang "Pukul berapa kita berangkat dari sini?" Tanya Bayu, membuka kebisuan mereka saat berjalan menuju kerumah.
"Kalau bisa setelah ini Kita bersiap dan berkemas, Pak" jawab Satria yang masih tampak canggung.
Bagaiamanapun Bayu dulu adalah orang kepercayaannya diperusahaan, namun karena kekhilafannya, Ia terpaksa risign dari perusahaan yang sudah lama ikut membesarkannya.
"Oh, ya. Pak Bayu... Apakah Bapak bisa kembali bergabung diperusahaan Almarhum Papa Bram?" tanya Satria. Menyebut nama Papa Bram, Satria menyadari jika kini Ia merasakan memiliki 3 orang Papa. Meski ya keduanya lagi sudah tenang dialam sana.
Bayu menoleh kearah Satria, Ia masih ragu untuk menjawabnya.
"Bapak bisa bekerja dari rumah, tanpa harus repot menyita waktu kekantor" jawab Satria cepat yang melihat keragu-raguan Bayu.
Satria tak dapat memungkiri, jika kinerja Bayu selama berada diperusahaan almarhum Papa angkatnya itu merupakan sosok yang mumpuni dan dapat diacungi jempol atas loyalitas dan juga kualitas kinerjanya.
Bahkan Bayu adalah penyumbang terbesar dalam kemajuan perusahaan Almarhum Papa angkatnya Satria.
"Saya akan mencoba memikirkannya nanti setelah pulang dari mengahdiri pernikahan Hamdan" ucap Bayu dengan tenang.
Satria menganggukkan kepalanya, mencoba memberi kesempatan untuk Ayah sambungnya itu dalam mengambil keputusan.
Karena sejatinya, Satria mengakui sangat sulit untuk merekrut pegawai baru yang dapat dipercaya dan juga berpengalaman.
Sedangkan Bayu sudah lama berkecimpung diperusahaan itu, dan tentunya Ia juga memiliki pengalaman yang lebih luas dibandingkan dengan dirinya.
Keduanya tiba dirumah. Mereka mencium aroma masakan Mala. Keduanya meyakini jika Mala sudah mempersiapkan sarapan untuk keberangkatan mereka.
Satria membuka pintu kamarnya, lalu melihat Syafiyah masih tertidur. Ia menghampirinya.
"Sayang, bangun... Shalatlah. Setelah ini Kita harus berangkat kebandara, dan bertemu Hadi disana" ucap Satria dengan mengguncang lembut pundak Syafiyah.
Wanita itu mengerjapkan matanya, lalu memandang pria didiepannya, dengan tatapan mengantuk.
"Bangunlah, shalat subuh, dan bersiap. Kita akan berangkat ke bandara" ucap Satria sekali lagi.
Syafiyah menggeliatkan tubuhnya, lalu mengangguk. Satria beranjak, dan menyalin pakaiannya. Lalu menuju meja makan dan untuk bersarapan.
Bayu sudah terlebih dahulu disana, Ia sudah tampak menyuapkan sarapannya, lalu Satria menyusulnya.
Sepertinya Bayu merasa orang paling bahagia didalam pernikahannya, karena Mala merawatnya dengan penuh telaten.
Tak berselang lama, Syafiyah sudah muncul dan sudah rapi. Ia menuju meja makan, bergabung untuk sarapan.
lalu mereka menyelesaikan sarapan mereka dan akan segera berangkat menuju kota, dan langsung kebandara malam itu juga.
Kini mereka sudah mengemasi barang yang akan dibawa untuk ke Mesir. Setelah memastikan semua koper telah masuk dan tidak ada yang tertinggal, maka Mala mengunci pintu rumahnya dan mereka pun bersiap melakukan perjalanan.
Satria memilih mengemudi dan Syafiyah berada disisinya.
Sementara itu, Bayu dan Mala duduk dibangku tengah. Keduanya begitu tampak sumringah. terkadang Satria memantau keduanya dari balik kaca dashbor. Tak jarang mereka saling menggoda satu sama lain.
Satria menggelengkan kepalanya, melihat ulah pasangan pengantin baru yang tak lain adalah Ibunya sendiri. Keduanya merasa seolah dunia milik mereka dan yang lainnya ngontrak.
Sesaat Satria melirik kearah Syafiyah yang tampak diam dan fokus menatap jalanan. Lalu Satria kembali menyetir dengan menambah kecepatan laju mobilnya.
******
Pagi yang tampak cerah ini. Seorang gadis cantik tengah bersiap untuk mandi kesungai. Meskipun mesin airnya sudah diperbaiki, Ia seperti kecanduan untuk mandi disungai.
Ia menapaki jalanan yang sedikit licin dan telah sampai ditepi sungai.
Bersamaan dengan itu, Ia melihat kakek Nugroho sudah berada diatas sampannya, dan mulai mendayung untuk menjemput rejekinya.
"Semoga dapat banyak ikan ya, Kek" Ucap Mirna sembari tersenyum ramah.
"Terimakasih doanya, Cu" jawab si Kakek dengan senyjm sumringah, lalu mulai mendayung sampan tersebut.
Setelah kakek Nugroho tidak lagi terlihat dan sudah menghilang ditikungan sungai, Mirna masuk kedalam sungai tersebut, lalu membenamkan dirinya disungai.
Gadis itu menikamati momen mandinya yang membuatnya begitu rileks. Sesaat Ia mendengar suara panggilan dari arah nun jauh disana.
Miiiiiirrnaaaa...
Suara itu begitu parau, penuh dendam dan juga amarah.
Mirna tersentak, lalu dengan segera menyelesaikan ritual mandinya.
Sesaat Ia beranjak pulang kerumahnya. Namun Ia merasa aneh, karena melihat pintu dapurnya terbuka.
Mirna segera mempercepat langkah kakinya. alangkah kagetnya Ia saat melihat seorang anak perempuan berusia 7 tahun yang sedang membongkar tudung sajinya, lalu melahab makananya yang Ia simpan untuk sarapan dan makan siangnya.
Saat melihat kehadiran Mirna, Ia ketakutan dan menangis dengan tiba-tiba.
"Maaf, kakak. Aku lapar... Dirumah tidak ada makanan, sudah dua hari ayah tidak membawa uang" ucapnya tersedu.
Ia begitu sangat ketakutan, wajahnya memucat melihat Mirna yang menatapnya. Lalu Ia semakin gemetar saat melihat Mirna menghampirinya dan jarak mereka begitu sangat dekat.
Mirna mengangkat anak perempuan itu, lalu mendudukkan dikursi makan.
"Jika Kamu lapar, maka mintalah. Jika seperti kamu tidak sopan namanya" ucap Mirna mengingatkan. Seketika gadis kecil itu menangis ketakutan.
Lalu Mirna Mengambil piring, menyendokkan nasi ke piring beserta lauknya. "Begini caranya, apakah Kamu faham?" tanya Mirna kepada gadis kecil itu.
Lalu Gadis kecil itu mengangguk mengerti.
"Makanlah... Setelah itu bersihkan semua sisa makanan yang telah kamu buat berantakan" ucap Mirna mengingatkan. Lalu Ia pergi kekamar dan menyalin pakaiannya.
Setelah selesai menyalin pakaiannya, Ia kembali ke dapur, dan mendapati gadis itu sudah selesai makan dan membersihkan meja makan yang tampak berantakan.
Mirna memandangnya "Nah.. Begini lebih baik" ucapnya memberi pujian kepada gadis itu
Gadis kecil itu mengangguk dan tersenyum.
"Sudah kenyang, atau ingin tambah lagi?" tanya Mirna dengan lembut.
"Sudah kenyang, Kak..terimakasih.. Aku pulang dulu" ucap Gadis kecil itu ingin berpamitan.
"Tunggu dulu, ada yang ingin Kakak berikan untukmu" cegah Mirna kepada gadis itu.
Mirna pergi kekamarnya, beranjak mengambil 10 lembar uang 100 ribua-an. Ia memberikannyannya kepada gadis kecil itu.
"Berikan ini pada Ibumu, katakan padanya untuk berusaha" ucap Mirna.
"Wah.. Banyak sekali Kak, kami belum pernah memegang uang sebanyak ini" ucap sang gadis kecil dengan wajah sumringah.
Mirna melipat uang tersebut, lalu mengikatnya menggunakan karet gelang dan meminta anak itu mmebawanya pulang.
"Dimana rumahmu?" tanya Mirna dengan hati-hati.
"Jauh Kak, ada dikelokan sana" tunjuk gadis kecil itu memberitahu.
"Kamu berjalan kaki kemari?" tanya Mirna bingung.
Gadis kecil itu mengangguk lemah " Baiklah, sekarang kamu pulang dan jangan sampai hilang uangnya" ucap Mirna berusaha untuk tenang.
Gadis kecil itu lalu berpamitan untuk kembali pulang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
Mimik Pribadi
Rumah tangga Satria sm istrinya kayanya Hambar bnget y udh Satria nya kurang hot dn kurang berinisitif istrinya jga kelewat sibuk dan nunggu dicolek,,,,,msh mending Bayu dan almarhum Roni 😅😅😅
2023-11-14
0
Rafa Retha
dermawan jg Mirna
2023-09-26
2
Reza Putri
ternyata mirna baik jga
2023-03-05
2