Gadis cantik yang tak lain adalah Mirna telah berada didepan pintu dapurnya.
Ia membuka pintu dapur, lalu meletakkan ember yang berada diatas kepalanya diatas lantai. Gadis itu mengambil ember kecil berwarna kuning dan membawanya kebelakang halaman dapur, lalu menjemur pakaiannya yang baru saja dicucinya.
Sesaat Ia mendengar suara deru mesin mobil berhenti didepan rumahnya. Ia mmepercepat kegiatan menjemur pakaiannya dan tak sabar ingin melihat sosok sang pengemudi mobil tersebut.
Terdengar suara ketukan pintu didepan rumahnya dan suara seorang pria yang membuat debaran dijantungnya kian mederu.
Ia telah menyelesaikan pemerjaannya, dan bergegas menuju pintu depan rumah lalu membukanya dengan tak sabar.
Seorang pria tampan berdiri diambang pintu, membawa berbagai kebutuhan pokonya dan beberapa helai pakaian baru.
Gadis itu mempersilahkannya masuk, namun pria itu mencoba menolaknya dengan halus.
Namun sesaat mata pria itu melihat sang gadis yang tampak basah dengan balutan kain yaang membalut tubuhnya.
"Mengapa kamu sampai basah seperti ini, dan kakimu sedikit berlumpur" tanya pria itu saat memperhatikan dibagian betis depan sang gadis yang putih bersih bagaikan pualam.
"Air keranku rusak, tidak mengalir, maka Aku mandi disungai, dan tidak sadar tadi terpeleset" ucapnya berbohong.
"Coba Aku periksa mesinnya, mungkin ada yang konslet atau pipa airnya pecah" ucap sang pria, lalu meminta ijin masuk kerumah.
Gadis itu mengangguk, lalu menutup pintu depan rumahnya.
Sesaat pria itu menuju dapur, lalu menghidupkan mesin penarik air tersebut, mencoba memeriksanya.
Gadis itu memperhatikan sang pria, tampak kuku-kuku dijemari pria masih berwarna merah yang terbuat dari daun inai. Mendandakan sang pria baru saja menikah.
Tatapannya begitu sendu. Ia menginginkan pria itu, sungguh terlalu menginginkannya, namun Ia hanya mampu menyimpan perasaannya dalam hatinya yang terdalam.
Pria itu kemudian menuju pintu dapur, lalu melihat ada salah satu pipa air yang pecah.
Pria itu kembali masuk kedalam dapur, mencoba mencari peralatan yang dibutuhkannya untuk memperbaiki pipa air tersebut, agar sang gadis yak kerepotan jika malam hari ingin buang air.
Setelah menemukan alat seadanya yang dianggap dapat membantunya memperbaiki pipa tersebut, Ia kembali kehalaman belakang, dan mulai memperbaikinya.
Gadis itu berdiri diambang pintu, menhandarkan tubuhnya dipintu dapur, memandang sang pria dengan tatapan nanar.
Ketampanan sang pria sang pemilik bola mata yang begitu indah, membuatnya tak berdaya. rasa cintanya kian tumbuh, dan semakin besar pada pria beristri tersebut.
Setelah pria itu selesai memperbaiki pipa air tersebut, Ia beranjak untuk kembali masuk kedalam dapur.
Sang gadis memberi jalan.
Setelah itu Ia mencoba mesin tersebut, dan kini mesin sudah baik dan mengalirkan air dengan baik.
Pria mematikan mesinnya "Sudah diperbaiki, dan kamu tidak perlu lagi repot untuk kesungai" ucapnya dengan tenang.
Pria itu beranjak ingin pergi dan berpamitan kepada sang gadis. Sesaat gadis itu meraih pergelangan tangan sang pria, menatapnya dengan sendu, seolah ingin mengatakan "Tetaplah disini, temani Aku".
Pria tampan yang memiliki bola mata indah dengan senyum tipisnya memandang lembut pada sang gadis.
Lalu Ia mencoba melepaskan gengaman tangan sang gadis di pergelangan tangannya.
Ia mengacak lembut rambut diujung kepala sang gadis "Aku balik dulu, jika ada perlu sesuatu, jangan sungkan-sungkan untuk memberitahuku" ucap lembut.
Gadis itu hanya menatap pasrah, Ia tak mampu mencegah kepergian sang pria. Tatapan begitu mendamba, mengharapkan sang pria untuk berlama menemaninya.
"Baik-baik disini, dan jangan nakal" ucapnya dengan tenang, lalu beranjak meninggalkan sang gadis.
Tatapan gadis itu terus mengikuti kepergian sang pria yang kini sudah berada diambang, pintu dan hendak keluar.
Gadis itu mengejarnya, mendekap punggung pria itu dengan erat, seolah tak rela untuk ditinggalkan.
Pria itu berhenti sejenak, membiarkan sang gadis itu dengan penuh hasrat kerinduan. Setelah merasa puas memeluk pria itu, Ia melepaskannya dan mencoba merelakan pria pujaannya pergi.
Pria itu melangkah dengan perasaan kacau. Lalu beranjak tanpa menoleh kearah sang gadis yang terus menatapnya.
Suara deru mobil itu melaju meninggalkan perkarangan rumah sang gadis, dan melaju hingga tidak terlihat lagi.
Gadis itu menatapnya dengan tatapan sendu dan penuh pengharapan. Wajah sang pemuda tak mampu hilang dari ingatannya, apalagi ketika menatap bola mata itu, terasa dunianya bagaikan berada disebuah danau berair jernih, penuh dengan ketenangan.
Gadis itu kembali kekamarnya, melepaskan kain penutup tubuhnya yang masih basah, lalu berjalan keluar dari kamar dengan polosnya, lalu meraih pakaian baru yang baru saja dibelikan oleh sang pria.
Ia mengenakannya dengan perasaan yang tak mampu Ia gambarkan.
Ia menyesap aroma pakaian baru itu, lalu membayangkan sang pria pujaannya berada disisinya saat ini. Ia begitu ingin mendapatkan pria itu, namun dengan kerelaan sang pria, bukan tanpa paksaan.
Tanpa gadis itu sadari, sepasang mata sedari tadi telah memperhatikan segala perbuatan sang gadis dari balik jendela kamarnya yang berbahan kaca tersebut.
Berulang kali pria itu menelan salivanya, nafasnya memburu menatap kemolekan tubuh sang gadis yang tanpa celah.
Tubuh sang pengintai bergetar, tak mampu membendung sesuatu yang sedari tadi sudah berdiri tegak diantara sela-sela kedua pangkal kakinya.
Pengintai itu seakan merasa gila menyaksikan santapan yang kini berada dihadapannya.
*****
Hari menjelang tengah hari sore. Nugroho, kakek berusia 64 tahun itu baru saja selesai mencari ikan disungai.
Ia seperti mendapatkan keberuntungan bertemu sang gadis cantik pagi tadi.
Tangkapan ikannya melimpah, dan Ia berniat kngin memberi sedikit rezeki yang didapatnya kepada gadis cantik yang telah menolongnya pagi tadi.
Kakek itu berjalan sedikit kesusahan menaiki tanjakan menuju rumah sang gadis karena banyaknya tangkapannya hari ini.
Sembari meletakkan jaring berbentuk seperti saringan teh dengan ukuran besar tersebut, sang kakek juga memikul ikan dipundaknya dengan sedikit kesulitan.
Kakek tersebut akhirnya sampai juga dipintu depan bagian dapur Mirna.
Kakek itu mengucapkan salam, mencoba memanggil sang gadis dengan suara paraunya.
Gadis itu membukakan pintu dapurnya, lalu melihat sang kakek dengan senyum termanisnya.
"Mau ikan, Cu? Kakek dapat banyak sekali ikan hari ini, ambillah mana yang kamu mau, sisanya akan kakek jual" ucapnya tulus.
"Wah, Kakek kenapa repot-repot, lebih baik Kakek jual saja, untuk menambah kebutuhan belanja dapur" tolak Mirna halus.
"Tidak mengapa, ambillah, kakek Ikhlas, anggap sebagai ucapan terimakasih atas pertolongan kamu pagi tadi" ucap sang Kakek dengan lembut.
Mirna kemudian mengambil seekor ikan berukuran besar, lalu meletakkanya dalam wadah mangkuk plastik.
"Ini saja, Kek, terimakasih. Semoga laris manis dagangannya ya, Kek" Ucap gadis itu dengan senang.
Sang Kakek tersenyum senang, karena gadis itu mau menerima pemberiannya.
Lalu kakek itu berpamitan untuk pulang, dan segera menjual ikan-ikannya.
Kakek itu melintasi jalanan raya, sembari berjalan tertatih memikul beban dipundaknya.
Sesaat sebuah sepeda motor berhenti, lalu memanggilnya "Kek Nugro, banyak dapat tangkapan hari ini?" ucap pengemudi motor itu.
Lalu kakem Nugroho berhenti dan tersenyum, Ia merasa jika akan ada pembeli pertamanya.
Sesaat sebuah motor lainnya juga berhenti dan ikut melihat ikan-ikan hasil tangkapan sang Kakek. Seketika beberapa orang ikut berkerumun, dan membeli hasil tangkapan sang kakek, hingga dalam hitungan menit, dagangan ikan sang kakek sudah habis terjual.
Kakek Nugroho pulang dengan perasaan senang, Ia tak sabar bertemu sang Istri dan menunjukkan hasil penjualannya hari ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
Amara
gadis pembawa keberuntungan
2025-01-18
1
Mie Raisa
lanjut
2023-11-07
1
Rafa Retha
awas bintitan kl suka ngintip
2023-09-26
0