"Jangan berprasangka buruk dulu, Feng'er," kata Pertapa Cahaya Putih seolah mengetahui isi hati muridnya.
Qiao Feng merasa malu. Kedua pipinya tiba-tiba memerah. Dia kembali menundukkan kepalanya.
"Ketahuilah, alasan kenapa aku menyuruhmu pergi ke sarang Siluman Kera Api bukan untuk membunuhmu. Melainkan untuk menguji sampai di mana keberanianmu. Kau tahu? Diluar sana ada banyak sekali tokoh-tokoh dunia persilatan yang kekuatannya jauh lebih hebat. Bukan cuma itu saja, bahkan di dunia luar masih ada banyak pula siluman yang lebih kuat dari Siluman Kera Api,"
"Selain itu, aku juga ingin membuatmu sadar sejak dini, bahwa di atas langit masih ada langit. Di bawah bumi masih ada bumi yang lain. Kelak, aku hanya berharap kau selalu sadar akan hal ini dan tidak pernah merasa diri paling hebat,"
"Baik, guru. Sekarang aku mengerti, maaf kalau aku sudah beranggapan buruk kepadamu," ujar Qiao Feng merasa bersalah.
Pertapa Cahaya Putih hanya membalas ucapannya dengan senyuman. Senyuman yang menenangkan. Senyuman yang mengandung kasih sayang besar.
"Sebenarnya walaupun kekuatanmu berbeda jauh dengan Siluman Kera Api, tapi kau masih tetap bisa membunuhnya,"
"Dengan cara apa, guru?" tanyanya penasaran.
"Dengan pikiran dan akalmu. Kalau saja tadi kau menggunakan akal ketika bertarung dengannya, pasti dirimu ada kesempatan untuk dapat mengalahkannya. Sayang sekali, kau justru malah dikendalikan oleh nafsu sehingga tidak menggunakan kecerdasanmu yang merupakan anugerah itu,"
"Maaf, guru. Aku mengaku bersalah," kata Qiao Feng dengan cepat.
"Tidak ada yang perlu disalahkan. Justru karena itulah aku memberikan tugas ini kepadamu. Seperti yang kukatakan tadi, tujuannya adalah untuk mendidik dan membentuk dirimu,"
Qiao Feng kembali mengangguk. Dia mendengarkan semua yang diucapkan oleh gurunya dengan seksama. Selama ini, ia memang dikenal sebagai murid yang patuh. Jadi tidak heran bila Pertapa Cahaya Putih sangat sayang kepada dirinya.
"Pesanku kepadamu, tetaplah rendah hati kepada siapa pun juga. Walaupun itu kepada manusia biasa atau bahkan kepada pengemis sekali pun, kau harus tetap menghargainya. Walau dari segala sisi mereka berada jauh di bawahmu, tapi kau harus tetap menghargainya. Yang berbeda itu hanya pakaian luarnya saja. Sedangkan hakikatnya mereka juga sama sepertimu. Mereka manusia yang perlu dimanusiakan. Sampai sini, apakah kau paham?"
"Aku paham, guru,"
"Bagus. Dan terakhir, sebelum melakukan tindakan, pergunakan akal dan pikiranmu. Jangan pernah lebih dulu bertindak baru berpikir. Tapi berpikir dulu, baru bertindak. Hal itu bertujuan supaya kau tidak menemukan kesulitan di tengah jalan nanti,"
"Aku mendengar semua yang diucapkan oleh guru. Aku berjanji, selama hidup akan mengingatnya,"
"Bagus. Aku percaya kepadamu, Feng'er," jawab Pertapa Cahaya Putih sambil tersenyum hangat. "Sekarang pergilah dan segera istirahat. Besok pagi kau harus melanjutkan latihanmu ke tahap berikutnya,"
"Baik, guru,"
Qiao Feng bangkit berdiri. Dia memberikan hormat lebih dulu sebelum pergi dari hadapan gurunya.
###
Semenjak kejadian tersebut, Qiao Feng berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dia mulai berlatih lebih keras daripada sebelumnya. Tindak-tanduknya benar-benar menunjukkan perubahan.
Apa yang ada di dalam diri Pertapa Cahaya Putih, pasti dapat ditemukan juga dalam diri Qiao Feng. Sifatnya, karakternya, tindak-tanduknya, semua benar-benar turun kepada murid semata wayangnya tersebut.
Tidak hanya itu saja, bahkan semenjak kejadian tempo hari, Pertapa Cahaya Putih juga semakin mendidik Qiao Feng habis-habisan. Terutama sekali dalam ilmu bela diri.
Semua ilmu yang dia miliki di masa lalu, telah ia turunkan kepada Qiao Feng. Meskipun masih ada beberapa ilmu yang tidak boleh digunakan karena kekuatannya belum mencukupi, tapi setidaknya anak muda itu sudah mempunyai pemahaman mendalam terkait ilmu yang dimaksud.
Sehingga kalau suatu saat nanti kekuatan Qiao Feng telah cukup, niscaya dia hanya tinggal mempraktekkannya saja.
Tanpa terasa dua tahun sudah berlalu kembali. Itu artinya, sekarang umur Qiao Feng sudah dua puluh satu tahun.
Setelah menginjak usia yang benar-benar dewasa, kegagahan dan ketampanan pemuda itu semakin tampak dengan sangat jelas. Setiap saat, dari tubuhnya selalu mengalir aura agung yang akan membuat siapa pun merasa nyaman apabila berada di dekatnya.
Perubahan yang terjadi dalam diri pemuda itu semakin banyak. Malah saat ini, penampilannya juga ikut berubah. Qiao Feng sangat suka terhadap warna merah cerah. Maka dari itu, mulai dari pakaian atas bawah, sampai jubahnya, selalu menggunakan warna merah.
Baginya, warna merah itu mempunyai arti keberanian.
Keberanian itu sendiri sangat mencerminkan dirinya. Sekarang, setelah mendapat didikan keras dari Pertapa Cahaya Putih, ia tidak lagi merasa takut.
Terhadap hal apapun, Qiao Feng akan selalu berani. Apalagi kalau membahas tentang kejahatan, sudah tentu dia pun berani menumpasnya tanpa pandang bulu.
###
Saat itu waktu masih sore hari. Seperti biasa, Pertapa Cahaya Putih sedang duduk di depan meja sambil minum arak.
"Feng'er, berapa lama waktu yang terlewatkan?" tanyanya secara tiba-tiba ketika Qiao Feng baru masuk ke dalam goa.
"Sudah sekitar dua tahun, guru,"
"Bagus. Sekarang adalah saat yang tepat untuk menjalankan tugas yang dulu belum berhasil itu,"
"Maksud guru?" tanyanya kebingungan.
"Sekarang juga, pergilah ke sarang Siluman Kera Api. Bawa Mustika Siluman itu kepadaku. Kali ini, kau tidak boleh gagal lagi,"
"Jadi, aku harus mengulang kejadian dua tahun lalu?"
"Benar. Tapi sekarang harus berhasil. Kalau sampai gagal, aku tidak akan segan untuk membunuhmu," ucap Pertapa Cahaya Putih dengan serius.
"Baik, guru. Sekarang juga aku akan pergi,"
Qiao Feng menjawab dengan penuh semangat. Dulu, mungkin dia masih ragu terhadap kemampuannya. Tapi sekarang tidak lagi.
Waktu itu, ia tidak yakin bisa menang melawan Siluman Kera Api. Tapi sekarang ... sekarang semuanya sudah berbeda. Apa yang dulu ada di dalam dirinya, sekarang sudah berubah.
Pemuda itu sangat-sangat yakin bahwa dia bisa membalaskan dendam dua tahun lalu.
Setelah sempat berpamitan, tanpa membuang waktu lagi, Qiao Feng langsung keluar dari goa. Begitu tiba diluar, dirinya segera menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Wushh!!!
Ia meleset cepat. Dalam waktu singkat saja Qiao Feng sudah menghilang dari pandangan.
Sekarang dia akan menyambangi sarang Siluman Kera Api seorang diri. Tidak seperti dulu yang ditemani oleh burung gagak hitam.
Bayangan tubuh pemuda itu berkelebat di tengah-tengah pepohonan yang berjajar. Setelah dua tahun tidak ke mana-mana, ternyata keadaan di tengah hujan juga sudah mengalami banyak perubahan. Untunglah Qiao Feng masih ingat ke mana arah yang harus dia tuju.
Karenanya anak muda itu tidak sampai tersesat. Tepat sebelum matahari tenggelam, dia sudah tiba di depan halaman luas wilayah sarang Siluman Kera Api.
"Siluman Kera Api, keluarlah! Aku menantangmu untuk bertarung," katanya dengan suara yang lantang dan berwibawa.
Meskipun di halaman itu masih terdapat banyak kera seperti dua tahun lalu, tapi sedikit pun Qiao Feng tidak menghiraukannya. Walau puluhan ekor kera itu siap menyerangnya, tapi tidak ada rasa takut di hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 224 Episodes
Comments
asri_hamdani
Kalau mau sesuai dengan keinginan ente, bagusnya ente aja yang nulis.
2023-08-17
4
K4k3k 8¤d¤
💓👣💓👣💓👣💓👣💓
2023-08-15
0
Karya Sujana
booommmmmm
2023-08-09
0