"Aku ingin mencari penerus, bukan lain adalah supaya tetap ada orang yang akan mewarisi kekuatanku di masa lalu. Menurutku, sangat disayangkan apabila kekuatanku harus lenyap begitu saja," Pertapa Cahaya Putih kembali menjelaskan.
Untuk mendapatkan kekuatan yang sangat luar biasa, tentu harus mengeluarkan air mata dan darah. Apalagi kalau sampai kekuatan itu benar-benar di atas rata-rata. Tidak bisa dibayangkan berapa banyak pengorbanan yang harus dikeluarkan.
Katana itulah Pertapa Cahaya Putih tidak mau kalau sampai dirinya tidak mendapatkan pewaris. Di satu sisi, dia pun ingin kekuatannya bermanfaat untuk orang banyak.
Walaupun dirinya sudah tidak ada, tapi setidaknya kekuatan yang dulu dia miliki masih ada dan akan terus mengalir dalam jiwa seorang pendekar penerusnya.
"Dan untuk impianku yang belum tercapai, hampir sama seperti dirimu. Aku juga ingin menjadi pendekar nomor satu,"
"Bukankah Tuan Pertapa sudah mencapai titik itu?" tanya Qiao Feng menyela ceritanya.
"Baru hampir. Itu pun hanya di Kekaisaran ini saja. Sedangkan dalam satu benua itu terdiri dari dua Kekaisaran yang besar,"
Qiao Feng menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dia pernah mendengar hal ini dari gurunya. Karena itulah ia tidak banyak bertanya lagi.
"Selain menjadi pendekar nomor satu, aku pun ingin menyatukan dua Kekaisaran yang terdapat di Benua Utara ini. Saat aku masih hidup, sebenarnya hal itu pun sudah hampir berhasil. Sayangnya langit berkata lain,"
Pertapa Cahaya Putih menundukkan kepala. Kalau teringat masa-masa itu, dia selalu merasa sedih.
Kenapa langit tidak mengizinkannya untuk mewujudkan impian itu? Apakah dia salah kalau ingin menyatukan dua Kekaisaran di satu benua?
Ia menuang arak ke dalam cawan. Kali ini Pertapa Cahaya Putih terus minum. Dirinya berhenti ketika arak dalam guci sudah habis.
"Apakah masih ada pertanyaan lagi, Feng'er?" tanyanya kembali.
"Sejauh ini tidak ada, Tuan," jawab anak itu.
"Bagus. Jadi sekarang bagaiamana, apakah kau mau menjadi murid dan meneruskan impianku?" Pertapa Cahaya Putih menatap Qiao Feng lekat-lekat.
Dalam hatinya, dia sangat ingin anak di depannya itu menjadi penerus selanjutnya. Pertapa Cahaya Putih sudah sangat yakin bahwa Qiao Feng adalah orang yang tepat untuk dia jadikan penerus.
Menurut dirinya pribadi, dia sudah memenuhi standar. Qiao Feng mempunyai bentuk tubuh yang kuat dan sempurna. Batinnya juga masih bersih. Sehingga dirinya bisa dengan mudah mendidik anak tersebut.
"Baiklah. Aku mau menjadi muridmu," kata Qiao Feng setelah berpikir beberapa saat.
Ia kemudian bangkit berdiri dan mundur satu langkah. Setelah itu Qiao Feng langsung berwujud sebanyak tiga kali di hadapan Pertapa Cahaya Putih.
"Guru ... terimalah hormat dari muridmu ini," katanya dengan yakin.
Melihat apa yang dilakukan olehnya, Pertapa Cahaya Putih tersenyum sambil mengelus-elus janggutnya yang sudah memutih itu.
"Bangunlah, Feng'er. Sekarang kau sudah resmi menjadi muridku," tukas orang tua itu sambil membantu Qiao Feng berdiri.
Qiao Feng kembali ke posisi semula. Mereka masih duduk berhadapan satu sama lain.
"Guru, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanyanya setelah beberapa saat terdiam.
"Sekarang kau harus istirahat dulu selama tiga hari di atas Pembaringan Dewa Es. Setelah itu baru kau akan memulai latihan selanjutnya,"
"Baiklah. Aku mengerti,"
Tanpa perlu diperintah untuk yang kedua kali, dia langsung berjalan dan segera berbaring di atas Pembaringan Dewa Es.
Qiao Feng lalu memejamkan kedua matanya.
"Fokuskan pikiranmu. Jangan melawan apabila ada satu kekuatan yang merasuk ke dalam tubuhmu," kata Pertapa Cahaya Putih.
Anak itu menurut. Ia segera memfokuskan pikirannya. Dalam waktu singkat saja, Qiao Feng sudah tidak ingat lagi dia sedang berada di mana.
Ia hanya merasakan semakin lama terpejam, semakin terasa jelas pula kekuatan yang masuk ke dalam tubuhnya. Ada hawa panas dan dingin yang mulai bercampur menjadi satu gumpalan energi.
Gumpalan energi tersebut terus menyebar ke seluruh tubuh. Hingga pada akhirnya berhenti tepat di dantiannya.
Selama tiga hari lamanya, Qiao Feng terus berada dalam keadaan berbaring. Jangankan makan, bahkan membuka mata pun dia tidak melakukannya.
Setelah tiga hari berlalu, terlihat Pertapa Cahaya Putih berjalan mendekat ke arahnya. Ia lalu menaruh telapak tangannya di atas kepala Qiao Feng.
"Bagus. Dia sudah berhasil melewati langkah pertama," gumam orang tua itu. "Feng'er, buka matamu dan bangunlah," katanya memberikan perintah.
Qiao Feng langsung membuka matanya lalu bangun dari posisi telentang. Hal pertama yang dirasakan olehnya adalah saat ini, tubuh yang ia miliki terasa sangat ringan seperti kapas.
Selain daripada itu, Qiao Feng pun merasakan ada hawa yang terus mengalir ke seluruh tubuhnya tanpa pernah berhenti.
"Selamat, kau sudah berhasil melewati tahap pertama," kata Pertapa Cahaya Putih sambil memberikan senyuman.
"Terimakasih, guru. Tapi aku tidak tahu apa yang telah terjadi kepadaku selama tiga hari ini," ujarnya dengan jujur.
"Kau pasti tidak akan mengingat apapun. Hanya saja, selama tiga hari ini sebenarnya adalah proses penentuan,"
"Penentuan apa itu, guru?"
"Penentuan hidup dan matimu. Asal kau tahu saja, saat berbaring, diam-diam aku telah menyalurkan hawa panas ke tubuhmu. Bersamaan dengan itu, hawa dingin dari Pembaringan Dewa Es ini juga ikut masuk. Jadi selama tiga hari ini, ada dua hawa berlawanan yang mengalir di tubuhmu,"
"Kalau sampai tubuhmu tidak kuat saat dialiri oleh dua hawa berbeda itu, niscaya saat ini kau sudah mati. Untunglah tubuhmu mampu menerima dan bahkan mengendalikannya. Sehingga hasilnya seperti yang kau rasakan sekarang,"
Pertapa Cahaya Putih menjelaskan dengan mimik wajah serius. Apa yang dia ucapkan barusan memang benar. Apabila seseorang tidak kuat menahan dua energi berbeda yang masuk dalam waktu bersamaan, niscaya orang itu akan langsung tewas dengan kondisi mengenaskan.
Untunglah Qiao Feng bukan tidak termasuk di dalamnya. Sehingga dia bisa hidup sampai saat ini.
Sementara itu, ketika mendengarkan penjelasan singkat barusan, ia langsung merasa kaget bercampur senang.
Itu artinya, secara tidak langsung kekuatan dirinya sudah meningkat.
"Terimakasih, guru. Terimakasih," katanya mengulangi perkataan sebelumnya.
"Jangan dulu berterimakasih," jawab Pertapa Cahaya Putih dengan cepat. "Ini baru permulaan. Setelah ini masih ada banyak ujian yang harus kau lakukan. Setidaknya, kau harus berlatih dibawah bimbinganku selama beberapa tahun supaya semua kemampuanku bisa kau serap dengan baik,"
"Baik. Aku siap menerima semua ujian tersebut," Qiao Feng berkata dengan penuh keyakinan.
Dia sudah bertekad, apapun yang terjadi, ia harus bisa mencapai impian kedua orang tuanya.
Pada saat pertama kali melakukan latihan, saat itu kemampuan Qiao Feng baru setara dengan Pendekar Bumi tahap empat.
Walaupun terbilang rendah, tapi bagi anak seusianya hal itu sudah sangat bagus. Karena diluar sana, banyak anak-anak yang seusia dengan Qiao Feng, justru belum mampu mencapai tahap tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 224 Episodes
Comments
Chafidzoh Roesanto
i like
2023-09-15
2
K4k3k 8¤d¤
🤞💖🤞💖🤞💖🤞💖🤞
2023-08-14
0
K4k3k 8¤d¤
mantab thor lanjut terus update sampai tamat ditunggu sama para reader yang setia menanti mu update kembali
2023-08-14
2