Qiao Feng menganggukkan kepala. Dia terlihat kaget. Mungkin hal tersebut terjadi karena dirinya baru pertama kali mengetahui bahwa di dunia ini ada benda semacam itu.
Meskipun ia sudah sejak kecil dikirim ke sebuah sekte dan bergelut dalam dunia bela diri, tapi dirinya masih belum mengetahui banyak hal.
Karena pada dasarnya, Sekte Pedang Putih yang menjadi tempatnya dulu adalah sebuah sekte kecil. Jadi di sana tidak terdapat benda-benda ajaib seperti yang diceritakan oleh orang tua serba putih barusan.
"Jadi, pembaringan itu bernama Pembaringan Dewa Es, Tuan?" tanyanya memastikan kembali.
"Benar sekali," jawab orang tua serba putih sambil mengangguk.
"Aih, rupanya Tuan mempunyai benda luar biasa semacam ini,"
"Dalam dunia bela diri, benda semacam ini terhitung banyak. Hanya saja, setiap benda diluar sana mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing,"
"Oh, aku malah baru tahu akan hal ini,"
"Suatu saat nanti kau pasti akan tahu banyak hal,"
Qiao Feng tiba-tiba bangkit berdiri. Ia bertanya lagi, "Tuan, bolehkah aku ke sana lagi?" ia menunjuk ke Pembaringan Dewa Es kembali.
"Tentu saja boleh,"
"Terimakasih,"
Qiao Feng lalu berjalan ke arah Pembaringan Dewa Es. Tidak hanya itu saja, ia bahkan kembali berbaring di atasnya.
Alasan kenapa dia melakukan hal ini adalah karena dirinya masih merasa penasaran. Dia ingin tahu, apakah yang dirasakan sebelumnya itu cuma mimpi, atau memang nyata? Suatu kebetulan, atau bukan?
Tapi ternyata, setelah mencoba untuk yang kedua kali, semua terasa nyata. Bukan mimpi. Bukan pula khayalan.
Apa yang dia rasakan sebelumnya, sekarang terjadi lagi!
Orang tua serba putih yang melihat tingkahnya itu menjadi tersenyum. Ia merasa lucu.
"Setelah membuktikannya sendiri, apakah sekarang kau sudah yakin dengan ucapanku?" tanya si orang tua serba putih di tempatnya.
Anak itu tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bersamaan dengan hal tersebut, Qiao Feng berjalan kembali ke arah si orang tua. Dia kemudian duduk di tempat tadi.
"Siapa namamu, anak baik?" tanya si orang tua lagi.
"Namaku Qiao Feng, Tuan,"
"Nama yang bagus. Kau berasal dari mana?"
"Aku berasal dari Desa Matahari Terbenam,"
"Desa tempatmu tinggal ternyata cukup jauh dari sini. Tapi, kenapa kau bisa berada di Sekte Pedang Utara?"
Ditanya demikian, dengan cepat Qiao Feng menceritakan semuanya secara ringkas. Ia bercerita dengan wajah gembira. Namun ketika mengingat peristiwa yang terjadi di Sekte Pedang Utara, kegembiraan itu tiba-tiba saja hilang tanpa bekas.
Sorot mata yang bercahaya mendadak redup. Kegembiraan digantikan dengan kesedihan, kekecewaan dan kemarahan.
Teringat akan peristiwa itu, ia benar-benar marah. Qiao Feng sangat benci terhadap orang-orang yang telah menyerang Sekte Pedang Utara.
Kalau sekte itu benar-benar hancur, itu artinya, impian dan cita-citanya juga lenyap. Sampai kapan pun, dia tidak akan bisa lagi meraihnya.
Bagaimana kalau hal ini sampai diketahui oleh kedua orang tuanya yang berada di desa? Bukankah mereka akan sedih dan kecewa?
Qiao Feng tidak berani membayangkan lebih jauh lagi. Tiba-tiba dia menundukkan kepala. Sesaat kemudian mulai terdengar isak tangis.
"Feng'er, kenapa kau menangis?" tanya si orang tua.
"Ah, tidak, Tuan. Aku tidak menangis," katanya mengelak.
"Jangan berbohong. Coba ceritakan apa yang terjadi kepadamu,"
Orang tua serba putih itu bicara dengan nada lemah lembut. Persis seperti orang tua yang sedang bicara dengan anaknya sendiri.
Karena diperlakukan dengan sangat baik, tentu saja Qiao Feng jadi merasa tidak enak. Akhirnya dia pun kembali menceritakan hal yang sebenarnya.
"Tuan ... sekarang Sekte Pedang Utara sudah hancur lebur. Itu artinya, impian kedua orang tuaku yang ingin melihat anaknya menjadi pendekar nomor satu, tentu saja juga ikut lenyap. Aku ... aku merasa tidak punya muka untuk bertemu dengan mereka lagi. Padahal sebelumnya mereka sudah sangat bangga karena aku berhasil menjadi murid terpilih yang mendapat pelajaran lebih lanjut,"
"Tapi sekarang ... sekarang semuanya sudah berakhir. Kalau saja mereka mengetahui hal ini, pasti kehancuran hatinya lebih mengerikan daripada Sekte Pedang Utara," Qiao Feng bercerita dengan penuh kesedihan. Sesekali dia pun menahan isak tangisnya supaya bisa menyelesaikan cerita tersebut.
Orang tua serba putih tersebut memahami bagaimana perasaan Qiao Feng sekarang. Di satu sisi, dia merasa kagum kepadanya.
Karena di usianya yang masih belia, ternyata dia sudah mampu bercerita seperti orang dewasa.
'Anak ini mempunyai kecerdasan dan kepintaran di atas rata-rata. Hatinya juga diliputi oleh kebaikan. Sepertinya cocok kalau menjadi penerusku,' batinnya berkata sambil memperhatikan Qiao Feng dari atas sampai bawah.
Keadaan di dalam ruangan goa itu hening cukup lama. Qiao Feng tetap menundukkan kepala. Sampai saat ini, dia masih meratapi nasibnya yang malang.
Suara arak yang dituang ke dalam cawan tiba-tiba terdengar. Orang tua itu menenggak arak sebanyak tiga kali.
"Feng'er, jadi, impianmu adalah ingin menjadi pendekar nomor satu?" tanyanya setelah ia terdiam cukup lama.
"Benar, Tuan," jawabnya lirih.
"Apa alasanmu sehingga mempunyai impian seperti itu?"
"Pertama, aku ingin membanggakan kedua orang tua. Kedua, aku juga ingin membantu setiap orang yang kesulitan. Aku ingin bermanfaat bagi semua manusia," jawab Qiao Feng dengan serius.
"Kalau seandainya kau mampu mencapai impian itu, apakah kau akan benar-benar melakukan apa yang baru saja dibicarakan kepadaku?"
"Tentu saja, Tuan,"
"Apa jaminanmu?"
"Nyawaku," katanya tegas. "Kalau benar-benar mampu menjadi pendekar nomor satu, tapi tidak melakukan apa yang dibicarakan barusan, maka aku siap dihukum mati oleh para Dewa,"
Nadanya tegas dan penuh keyakinan. Tidak ada lagi tidak tangis. Tidak ada pula kesedihan.
Orang tua serba putih tersenyum sambil mengangguk. "Kemarilah, mendekat kepadaku," ujarnya.
Qiao Feng menurutinya. Ia langsung mendekat ke arah si orang tua.
"Pejamkan matamu,"
"Baik, Tuan,"
Sepasang matanya langsung dipejamkan. Setelah itu, orang tua tersebut segera memegang kepalanya dengan telapak tangan. Qiao Feng tidak mengerti apa yang dilakukan olehnya. Hanya saja dia merasakan seperti ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya.
Lewat beberapa saat kemudian, si orang tua serba putih terlihat kaget.
'Rupanya anak ini mempunyai bakat yang luar biasa. Dia benar-benar istimewa. Aku rasa, aku telah menemukan pewaris yang cocok,'
Dia kemudian menarik kembali telapak tangan yang menempel di kepala Qiao Feng.
"Feng'er, aku akan membantumu mewujudkan impian itu,"
"Ma-maksud, Tuan?"
"Aku akan membuatmu menjadi seorang pendekar seperti yang kau inginkan,"
"Tuan ... Tuan tidak bercanda, bukan?"
"Tentu tidak. Aku serius," katanya meyakinkan Qiao Feng. "Bagaimana, kau mau?"
"Sangat mau, Tuan. Sangat mau," jawab Qiao Feng gembira.
"Bagus. Kalau begitu, mulai saat ini aku akan mengangkatmu menjadi murid,"
Mendengar ucapannya, anak itu kembali terkejut. Dia memandang orang tua di depannya dengan mata melotot.
"Apakah aku sedang bermimpi?" gumamnya perlahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 224 Episodes
Comments
Ficksu mixue
itu temen nya si MC,emang bnr2 udah mokad ya thor
2024-12-25
2
Chafidzoh Roesanto
update thorrrrr
2023-09-15
1
K4k3k 8¤d¤
💌💌💌💌💌💌💌💌
2023-08-14
0