Ucapan Tetua Sekte Pedang Utara tidak salah. Karena memang hanya itulah jalan keluar satu-satunya.
"Aku sarankan agar kalian menyerah saja. Siapa tahu, aku bisa berbaik hati sehingga memberikan kematian yang cepat bagi kalian," orang serba hitam yang berdiri di posisi paling tengah bicara sambil tersenyum dingin.
Ia mempunyai postur tubuh tinggi kekar. Sorot matanya sangat tajam. Setajam mata pisau yang siap menembus jantung!
"Siapa kau?" tanya Tetua itu dengan berani.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang jelas, aku adalah salah satu murid utama dari Tetua Bayangan Maut," katanya menjelaskan singkat.
Degg!!!
Jantung Tetua Sekte Pedang Utara berdebar kencang. Dia tahu sehebat apakah si Bayangan Maut itu.
Walaupun yang sekarang ada di depannya hanya murid, tapi ia yakin, kemampuannya pasti tidak berada jauh dibawah dia sendiri. Apalagi, Tetua itu bisa merasakan nasfu pembunuh yang sangat pekat yang keluar dari dalam tubuhnya.
"Hemm ... anak-anak ini tidak tahu apa-apa. Kalau kau ingin bertarung, marilah kita bertarung sampai mati," katanya menantang.
"Hahaha ..." ia tertawa lantang sehingga menggetarkan tempat sekitar. "Bukankah ucalanku sebelumnya sudah jelas?"
Dia kemudian memerintah kepada empat anggota di sisinya untuk mulai melancarkan serangan pertama.
Tidak mau banyak membuang waktu, empat orang anggota Sekte Gunung Tengkorak langsung menurunkan tindakan keras.
Wutt!!!
Golok dan pedang langsung bertaburan di tengah udara. Mereka telah mengeluarkan jurus-jurus yang cukup hebat.
Tetua Sekte Pedang Utara tidak gentar. Satu kali tangannya dikibaskan, segulung angin sudah menerjang empat macam serangan tersebut.
Tidak sampai di situ saja, ia segera mengeluarkan pedang yang tersoren di punggungnya. Begitu senjata berada di tangan, dirinya langsung menyambut serangan lawan.
Murid senior di sisinya tidak mau kalah. Dia pun segera mengambil langkah yang sama.
Dua orang itu sudah mendapat lawannya tersendiri. Masing-masing dari mereka melawan dua orang.
"Kalian urus saja anak-anak itu. Biar dua orang ini aku yang menghadapinya," murid dari Bayangan Maut berkata sambil melompat ke tengah arena pertarungan.
"Baik, kami mengerti,"
Wushh!!!
Empat anggota tersebut segera melompat. Mereka langsung menyerang membabi-buta para murid junior dari Sekte Pedang Utara.
Karena kemampuan anak-anak itu masih berada jauh di bawah mereka, tentu saja hanya dalam waktu singkat pun, sudah banyak korban yang tercipta.
Suara jeritan takut dan menahan rasa sakit mulai terdengar. Darah segar yang keluar dari tubuhnya segera menggenangi tempat sekitar.
Puluhan anak-anak telah tewas. Nyawa yang tak bersalah itu telah melayang begitu saja.
Empat orang serba hitam tadi membunuh tanpa berkedip. Mereka tidak terlihat mempunyai rasa belas kasihan. Mungkin di mata orang-orang itu, anak-anak tersebut ibarat hewan saja.
Sementara di dekatnya, ada Tetua dan murid senior Sekte Pedang Utara yang sedang bertempur sengit melawan murid si Bayangan Maut.
Walaupun keduanya telah melakukan kerjasama yang terhitung baik, tapi nyatanya semua itu masih belum cukup untuk menghadapinya.
Orang serba hitam tersebut benar-benar hebat. Kemampuannya dalam memainkan tombak kembar tidak bisa dibilang rendah.
Permainannya cepat dan telengas. Jurus-jurus dahsyat telah digelar. Sehingga dalam waktu singkat saja, posisi keduanya telah terdesak hebat.
Sekitar tujuh jurus kemudian, terlihat dua batang tombak itu melesat secara serempak. Kecepatannya sulit diikuti mata telanjang.
Slebb!!!
Dengan telak tombak itu menembus jantung Tetua dan murid senior Sekte Pedang Utara. Begitu tombak dicabut keluar, nyawa mereka juga segera melayang.
"Mengurus anak-anak saja tidak becus. Minggir kalian!" bentaknya sangat marah melihat empat anggota yang ia bawa ternyata belum selesai melaksanakan tugasnya.
Empat orang anggota itu menurut. Mereka kembali melompat secara serempak.
Bersamaan dengan itu, dia langsung menggerakkan tombak kembarnya. Segulung angin berhembus sangat kencang.
Wushh!!!
Jurus yang ia keluarkan benar-benar hebat. Tidak bisa dipungkiri lagi, belasan anak-anak yang tersisa, termasuk juga Qiao Feng dan Lu Tianyin, pasti akan tewas apabila terkena jurus itu.
Blarr!!!
Ledakan besar terdengar. Seluruh ruangan tergetar. Entah dari mana datangnya, namun di dalam ruangan itu, kini telah muncul satu sosok serba putih.
"Manusia biadab!" katanya sambil mengibaskan tangan.
Wutt!!!
Cahaya putih melesat cepat membawa rasa dingin menusuk tulang. Lima orang serba hitam itu ingin menghindar, namun sayangnya sudah terlambat.
Begitu cahaya putih tadi menerpa tubuh, mereka langsung membeku. Lalu kemudian hancur menjadi serpihan es.
Orang serba putih melirik ke belakang. Ternyata semua anak-anak tadi tidak ada yang selamat. Kecuali hanya satu orang, yaitu Qiao Feng!
"Anak baik, syukurlah kau masih hidup," ucapnya sambil menghampiri.
"Si-siapa Tuan ini?" tanya anak itu sambil memandangnya.
Suara Qiao Feng sangat lemah. Hal itu terjadi karena dia telah mengalami luka akibat serangan lima orang tadi.
"Nanti kau akan tahu sendiri, Nak. Sekarang ikutlah denganku," katanya sambil membopong Qiao Feng.
"Tu-tunggu dulu, Tuan. Temanku masih hidup, dia juga harus ikut,"
Temen yang dimaksud olehnya bukan lain adalah Lu Tianyin!
"Mana? Mana temanmu? Di sini yang masih hidup hanya kau seorang,"
Ia menoleh ke sana kemari. Ternyata benar, di sana tidak ada yang tersisa, kecuali dia sendiri.
"Tadi ..."
"Sudahlah. Tidak ada waktu lagi. Mari ikutlah denganku,"
Dengan cepat orang serba putih itu membawa Qiao Feng. Hanya sekejap, dia telah menghilang dari pandangan mata.
Sementara di luar sana, ternyata pertempuran hebat yang tadi berlangsung pun, kini sudah selesai.
Di sana tidak ada lagi orang-orang hidup. Semua anggota Sekte Pedang Utara tewas dalam perjuangan mempertahankan "rumahnya".
Di antara korban yang bergelimpangan di halaman besar itu, yang kondisinya paling mengerikan adalah mayat Ketua Hong Lin dan semua Tetuanya.
Tubuh mereka mengalami luka di sana sini. Wajahnya gosong, dadanya melesak. Malah ada pula beberapa bagian tubuh yang hancur.
Sungguh, malam itu menjadi tragedi berdarah yang paling kelam!
Kentongan ketiga sudah terdengar. Suasana malam semakin sepi. Beberapa ekor burung gagak tampak terbang berkeliling di sekitar Sekte Pedang Utara. Mungkin burung gagak itu sudah siap untuk menyantapnya.
Pada saat seperti itu, tiba-tiba binatang tersebut langsung terbang tinggi dan menjauh dari sana.
Tidak lama kemudian, terlihat ada satu orang tua berjubah putih. Dia seperti Dewa, datangnya dengan cara terbang dan turun dengan sempurna.
Tanpa berkata sepatah kata pun, mendadak orang tua serba putih itu menggerakkan kedua tangannya ke depan.
Tiba-tiba tanah di di sana langsung amblas masuk ke dalam. Bumi bergetar dengan hebat, suara bergemuruh terdengar dari dalam perut bumi.
Beberapa kejap kemudian, debu mengepul tinggi dan menutupi pandangan mata. Sedangkan suara-suara tadi masih saja terdengar tanpa berhenti.
Sekitar lima belas menit kemudian, suasana kembali hening. Begitu debu lenyap, keadaan pun langsung berubah.
Apabila ada orang lain di tempat itu, niscaya dia akan merasa kaget setengah mati. Hal itu terjadi karena sekarang Sekte Pedang Utara telah lenyap dari pandangan mata!
Bangunan megah yang berdiri kokoh, sekarang tidak terlihat lagi.
Di sana tidak terlihat apapun juga, kecuali hanya tanah lapang yang sangat luas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 224 Episodes
Comments
Chafidzoh Roesanto
update
2023-09-10
1
K4k3k 8¤d¤
❣👣❣👣❣👣❣👣❣
2023-08-14
0
K4k3k 8¤d¤
semangat semangat terus semangat thor lanjutin update sampai tamat ditunggu sama para reader yang setia menanti mu update kembali
2023-08-14
2