"Hancurkan Sekte Pedang Utara!" kata si Bayangan Maut memberikan perintah kepada empat puluh delapan orang anggotanya.
"Kami terima perintah," jawab mereka secara bersamaan.
Begitu selesai bicara, puluhan orang anggota Sekte Gunung Tengkorak itu langsung melesat secara serempak ke depan sana. Tidak perlu waktu lama, hanya sesaat saja mereka sudah menyebar ke setiap penjuru mata angin.
Puluhan orang tersebut langsung mengambil tindakan. Apapun yang ada di dekatnya, pasti dihancurkan.
Sementara di satu sisi, bersamaan dengan gerakan mereka, Wakil Ketua Sekte Pedang Utara yang berjuluk Pendekar Pedang Putih dan bernama Chin Shi, juga berseru nyaring memanggil murid utamanya.
Satu helaan nafas kemudian, dari dalam sekte segera terlihat murid utama yang keluar berbarengan. Jumlahnya tak kurang dari seratus orang. Mereka sudah menggenggam pedangnya masing-masing.
Tanpa membuang banyak waktu, para murid utama Sekte Pedang Utara langsung menyambut musuh-musuhnya. Dalam waktu yang sangat singkat, pertempuran berdarah sudah terjadi!
Karena tidak mau mengambil resiko terlalu tinggi, akhirnya Ketua Hong Lin juga menyuruh para Tetua agar mereka ikut membantu murid utama.
Sementara itu, kini di tengah halaman depan yang luas tersebut, hanya tersisa empat orang saja.
Mereka adalah si Bayangan Maut, Tombak Kejam, Pedang Angin Barat dan juga Pendekar Pedang Putih.
Keempat orang itu belum melibatkan diri dalam pertempuran. Mereka masih berdiri di tempat masing-masing sambil mengukur kekuatan calon musuhnya.
"Ternyata kau benar-benar nekad," ucap si Bayangan Maut setelah ia diam cukup lama.
"Kenapa tidak? Bagi kami, mati di medan pertempuran jauh lebih baik daripada harus menggabungkan diri bersama kelompok iblis berwujud manusia seperti kalian ini," jawab Ketua Hong Lin dengan tegas.
"Bedebah! Berani sekali kau menyebut iblis kepada kami," si Tombak Kejam Wen Wu semakin marah.
Aura pembunuh yang keluar dari tubuhnya semakin pekat. Aura itu berwarna hitam legam dan saat ini sudah menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Kenapa tidak berani? Jangan pikir bahwa kami akan takut. Kami tidak takut sama sekali kepada kalian!"
Wakil Ketua Sekte Pedang Utara yang sejak tadi menutup mulut, sekarang tiba-tiba angkat bicara.
Sudah lama ia membungkam diri, tapi ternyata, semakin lama ia makin tidak tahan lagi.
"Sudahlah," kata Bayangan Maut Wen Wei menyudahi perdebatan di antara mereka. "Keputusan sudah diambil olehmu. Jadi jangan pernah menyesal apabila sekte ini benar-benar lenyap dari muka bumi," katanya memberikan ancaman.
"Baik. Aku tidak akan menyesali keputusan ini,"
"Bagus. Kalau begitu, terima amukan Tombak Setan ini,"
Wutt!!!
Si Tombak Kejam Ouw Pek sudah bergerak lebih dulu. Tombaknya yang panjang itu langsung menyapu ke arah Ketua Hong Lin. Namun sebelum senjata tersebut mengenai sasaran, si Pedang Pedang Putih yang segera menyambut serangannya.
"Lawanmu adalah aku, setan tua!" katanya sambil mengejek.
"Bagus. Kalau begitu, berikan kepalamu sekarang juga,"
Wushh!!!
Dua bayangan manusia segera menjauh dari tempat semula. Mereka memilih tempat yang lebih leluasa untuk melangsungkan pertarungannya.
Setelah menemukan tempat yang cocok, si Tombak Kejam segera mengeluarkan jurus kelas atas miliknya.
Tombak hitam itu mengeluarkan angin kencang yang berhembus dengan sangat cepat ke depan sana. Bersamaan dengan hal tersebut, tahu-tahu mata tombak sudah tiba di depan wajah.
Untunglah Pendekar Pedang Putih bukan orang lemah. Sebelum tombak itu mengenai dirinya, ia telah berpindah tempat.
"Tebasan Pedang Putih!"
Wutt!!!
Tebasan jarak jauh dilepaskan. Ribuan tebasan pedang langsung mengarah ke arah lawan dengan kecepatan kilat.
Blarr!!!
Ledakan pertama terdengar. Si Tombak Kejam telah menahan jurus lawan menggunakan jurus andalannya.
Sejalur cahaya hitam tiba-tiba terlihat. Disusul kemudian dengan munculnya tujuh batang tombak yang menyerang Wakil Ketua Sekte Pedang Utara itu dari empat penjuru mata angin.
Serangannya benar-benar cepat dan tepat. Untunglah Pendekar Pedang Putih sudah mengambil langkah lebih dulu.
Kakinya menjejak tanah, sesaat kemudian ia telah melompat tinggi dan berada di tengah udara.
"Selapis Pedang Mengurung Iblis!"
Wushh!
Selapis cahaya pedang keluar dari udara kosong. Lapisan pedang itu langsung melesat ke arah musuhnya.
Pertarungan antara dua tokoh dunia persilatan itu benar-benar menegangkan. Adu jurus di antara mereka segera terjadi.
Di satu sisi lainnya, saat ini Ketua Hong Lin pun ternyata sudah memulai pertarungannya melawan si Bayangan Maut.
Orang tua itu telah mengeluarkan pedang pusaka andalannya. Pedang itu mengeluarkan cahaya putih yang menyilaukan mata.
Setiap kali pedangnya berkelebat, gelombang angin yang besar langsung menerjang ke arah lawannya.
Si Bayangan Maut mengetahui akan kehebatan lawan. Apalagi dia pun sadar bahwa saat ini dirinya sedang berhadapan dengan seorang Ketua sekte.
Maka dari itulah dia tidak mau memandang rendah musuhnya.
Dengan cepat tangan kanannya mengibas perlahan. Tiba-tiba muncul tongkat yang mempunyai mata golok.
Pusaka itu panjangnya hampir tiga meter dan mengeluarkan hawa sesat yang menekan suasana.
Begitu pusakanya keluar, dia langsung menyambut serangan lawan. Pertarungan di antara mereka pun tidak bisa terhindarkan lagi.
Sebagai orang yang mempunyai jabatan tinggi, tentu saja pusaka yang mereka pakai bukanlah senjata kelas rendah.
Setidaknya, empat orang itu menggunakan Senjata Puncak tingkat tujuh ke atas.
Karena hal tersebut, tidak heran apabila pertarungan mereka berjalan lebih seru daripada pertarungan lainnya.
Di tengah malam yang sunyi, suara teriakan menahan sakit dan rintihan menjelang kematian sudah terdengar bersahutan.
Semua peristiwa berdarah itu disaksikan langsung oleh Qiao Feng yang sejak awal sudah melihatnya di jendela kamar.
Anak muda tersebut merasa marah sekali. Dia benci kepada orang-orang serba hitam yang menyerang sektenya. Namun untuk melibatkan diri dalam pertempuran tersebut, tentu saja itu adalah perbuatan paling bodoh.
Menyadari akan kemampuan sendiri, terpaksa Qiao Feng hanya bisa menggertak gigi dan menahan amarahnya kuat-kuat.
Akibat dari pertempuran tersebut, suasana di Sekte Pedang Utara langsung kacau balau. Ratusan murid baru yang sedang beristirahat dengan nyenyak, kini sudah terbangun semuanya.
Dua orang murid senior yang ditemani oleh satu orang Tetua sudah mengumpulkan mereka di satu tempat yang dianggap aman.
"Apakah semua murid sudah terkumpul?" tanya Tetua itu kepada dua murid senior.
"Sudah, Tetua. Mereka sudah berkumpul di tempat ini,"
"Bagus. Kalau begitu, mari kita pergi. Anak-anak itu tidak mengetahui apa-apa, mereka harus bisa hidup lebih lanjut lagi,"
Si Tetua kemudian berjalan lebih dulu. Dia menjadi penunjuk jalan.
Tapi siapa sangka, belum jauh kakinya melangkah, tiba-tiba dari satu sisi telah berkelebat lima bayangan manusia.
"Tidak perduli mereka masih anak-anak atau bukan. Yang jelas, semua orang yang ada di Sekte Pedang Utara, harus mampus malam ini juga," katanya dengan tegas.
Tetua dan murid senior menggertak gigi. Mereka tidak menyangka, ternyata gerakannya sudah diketahui oleh musuh.
"Tetua, bagaiamana ini?" tanya salah satu murid senior sangat panik.
"Tidak ada jalan lain lagi, kecuali melawan mereka dengan sekuat tenaga,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 224 Episodes
Comments
Chafidzoh Roesanto
upp
2023-09-10
0
K4k3k 8¤d¤
mantab thor lanjut terus update sampai tamat ditunggu sama para reader yang setia menanti mu update kembali
2023-08-14
1
K4k3k 8¤d¤
❣🎺❣🎺❣🎺❣🎺❣
2023-08-14
0