"Aku," jawab Ketua Hong Lin dengan tegas. "Ada apa kau mencari Ketua Sekte Pedang Utara?" tanyanya sambil memandang tajam ke arah orang itu.
"Oh, jadi kau Ketuanya?" orang serba hitam itu tersenyum dingin dibalik cadarnya. Setelah beberapa saat kemudian, dia segera melanjutkan ucapannya. "Perkenalkan, aku adalah salah satu Tetua dari Gunung Tengkorak. Panggil saja si Bayangan Maut Wen Wu. Dan ini juga salah satu Tetua di sana. Ia si Tombak Kejam Ouw Pek," katanya sambil memperkenalkan rekan yang berada di sisinya.
Orang yang mengaku berjuluk si Bayangan Maut itu berhenti bicara sebentar. Dia ingin melihat bagaimana reaksi Sekte Pedang Utara setelah mengetahui siapakah dirinya.
Sementara itu, berbarengan dengan perkenalan tadi, diam-diam hati Ketua Hong Lin tergetar juga. Sebagai orang persilatan, sudah tentu dia tahu tentang Sekte Gunung Tengkorak.
Sekte itu merupakan sekte aliran sesat terbesar di Kekaisaran Yuan!
Selama ini, Sekte Gunung Tengkorak jarang melakukan hal seperti sekarang.
Tapi, kenapa saat ini, ada Tetua dari sana yang sengaja turun gunung? Ada tujuan apa dibalik semua ini?
Sungguh, Ketua Sekte Pedang Utara itu merasa tidak tenang. Ia sangat khawatir bahwa malam ini, di sektenya akan terjadi sebuah hal yang tidak diinginkan.
Beberapa saat kemudian, si Bayangan Maut melanjutkan kembali perkataannya. "Kedatangan kami kemari ingin mengajukan sebuah penawaran,"
"Penawaran apa?" tanya Ketua Hong Lin dengan cepat.
"Kami ingin menawarkan kerjasama. Kami ingin Sekte Pedang Utara ini bergabung bersama Sekte Gunung Tengkorak," si Bayangan Maut Wen Wu tidak basa-basi.
Dia langsung berbicara ke inti permasalahannya. Setelah selesai mengatakan niat utamanya datang ke Sekte Pedang Utara, dirinya langsung menutup mulut sambil tetap memandangi Ketua Hong Lin.
"Apa maksudmu, Tuan?" tanyanya sedikit sopan.
Orang tua yang berjuluk si Pedang Angin Barat itu tidak mau mencari masalah, apalagi dengan Sekte Gunung Tengkorak. Maka dari itu walaupun sebenarnya dia tidak suka, namun terpaksa dirinya harus bersikap sopan kepada orang di depannya tersebut.
"Apakah ucapan rekanku kurang jelas? Ataukah memang telingamu yang tidak normal?" sebelum si Bayangan Maut bicara, si Tombak Kejam Ouw Pek telah mendahuluinya.
Dia merupakan tipe orang yang tidak sabar dan mudah terburu nafsu. Karenanya ketika mendengar jawaban Ketua Hong Lin, ia langsung naik pitam.
"Tunggu dulu, Tuan. Jangan mudah terbawa emosi, maksudku bukan begitu," tukasnya sambil memberikan isyarat dengan tangan supaya ia bersabar.
"Lalu apa maksudmu?" bentaknya dengan nada tinggi.
"Sekte Gunung Tengkorak adalah salah satu sekte terbesar di Kekaisaran Yuan ini. Aku rasa, sekte kami yang kecil sangat tidak sepadan dan merasa tidak pantas menerima tawaran ini,"
"Hahaha ... apa yang kau ucapkan itu memang benar. Tapi, ini merupakan perintah langsung dari Ketua. Jadi walau sebenarnya aku pun tidak sudi, mau tak mau harus tetap menurutinya," di Bayangan Maut tertawa lantang. Ia merasa senang karena sektenya dipuji.
"Tapi tenang saja. Sekte yang menerima tawaran ini bukan hanya sekte kalian. Sekte Gunung Tengkorak juga sudah menyebarkan anggota untuk menyampaikan hal serupa kepada sekte-sekte lainnya,"
Semakin terkejut dan heran hati si Pedang Angin Barat ketika mendengar ucapan barusan. Namun ia tidak berani mengungkapkannya.
Saat ini pikirannya sedang melayang-layang. Ia mempunyai banyak pertanyaan terhadap kejadian yang sedang berlangsung tersebut.
Kenapa Sekte Gunung Tengkorak melakukan hal ini? Apakah kehancuran dunia persilatan sudah dimulai? Apakah ramalan yang dimaksud oleh Peramal Nomor Satu, akan terjadi pada saat ini juga?
Ketua Hong Lin tidak tahu. Walaupun sudah berusaha memeras otak, tapi ia tetap tidak berhasil membaca langkah musuh. Dia pun tidak menemukan jawaban dari semua pertanyaan tersebut.
"Sebenarnya ... kami ..."
"Aku hanya ingin memberitahu, beberapa waktu belakangan, ada beberapa sekte kecil yang menolak tawaran ini. Dan kau tahu apa yang terjadi terhadap sekte itu?" tanya si Tombak Kejam sambil memandangnya.
"Tidak, Tuan," jawab Ketua Hong Lin sambil menggelengkan kepalanya perlahan.
"Semua sekte yang menolak tawaran kami, akan rata dengan tanah!"
Ia berkata dengan tegas. Setiap patah kata yang keluar dari mulutnya, diucapkan dengan tekanan. Sehingga semua orang yang ada di halaman tersebut bisa mendengarnya dengan jelas.
"Jadi bagaimana? Kau mau menerima tawaran kami?" tanya si Bayangan Maut kembali bicara.
"Maaf, Tuan. Dengan berat hati kami akan menolaknya," ucap Ketua Hong Lin dengan nada yakin.
Para Tetua yang ada di sisinya tampak menganggukkan kepala secara berbarengan. Sepertinya mereka sangat setuju dengan keputusan yang diambil itu.
Memang, sebagai sekte yang menganut aliran putih, tentu saja mereka tidak akan sudi menggabungkan diri dengan sekte aliran sesat.
Daripada bergabung bersama aliran hitam, mereka beranggapan lebih baik mampus di tengah pertempuran berdarah.
Setidaknya kematian itu akan dikenang oleh banyak orang. Mereka pun tidak akan mendapat cacian dari sahabat-sahabat dunia persilatan yang sejalan dengannya.
Di satu sisi lain, ketika mendengar jawaban tersebut, sontak saja sorot mata dua orang Tetua Sekte Gunung Tengkorak itu langsung berubah hebat.
Sorot matanya menjadi sangat tajam. Lebih tajam daripada pegang. Selapis aura pembunuh yang pekat langsung dilepaskan keluar dari tubuhnya.
"Tua bangka, kau tidak salah bicara?" tanya si Tombak Kejam Ouw Pek.
"Tidak, sama sekali tidak," katanya menggelengkan kepala.
Wutt!!!
Tiba-tiba orang itu menggerakkan tangan kanannya. Dari udara kosong langsung muncul sebatang tombak hitam mengkilap sepanjang dua meter.
Gagang tombak berbentuk tengkorak yang menyeramkan. Mata tombak yang hitam legam itu, terlihat sangat tajam.
"Kau tahu, Tombak Setan milikku ini sanggup menembus apapun juga? Baja sekeras apapun bisa ditembus, apalagi tubuhmu yang lunak itu," ujarnya sambil terus berusaha menahan emosi.
"Aku tahu, Tuan. Tombakmu sangat tajam, apalagi kalau tidak salah, ini merupakan Senjata Puncak tingkat sepuluh,"
Walaupun musuh sudah mengeluarkan sedikit kemampuannya, tapi Ketua Hong Lin masih terlihat tenang. Dia bahkan seperti sedang bicara dengan sahabatnya sendiri.
"Hahaha ... ternyata matamu tajam juga. Benar, apa yang katakan itu tidak salah. Dan aku rasa, kau tahu sendiri apa akibatnya apabila tombak ini sampai mengamuk,"
Tetua itu kemudian menancapkan senjatanya ke tanah. Seketika halaman Sekte Pedang Utara langsung bergetar keras seperti sedang dilanda gempa bumi besar.
"Jadi, kau tetap menolak tawaran kami?" tanya si Bayangan Maut kembali ikut bicara.
"Benar, Tuan,"
"Baiklah. Kalau begitu, terpaksa aku harus menempuh jalan terakhir,"
Begitu selesai berbicara, dirinya langsung menoleh ke arah anggotanya yang sudah sejak tadi berada dalam keadaan siap.
Anggota yang ia bawa tidak terlalu banyak, mungkin hanya sekitar lima puluh orang, itu pun sudah termasuk dia dan rekannya sendiri.
Tapi walaupun begitu, jumlah kekuatan yang terkandung di dalamnya justru sangat sulit dibayangkan. Apalagi jika ditambah dengan kekuatan dia Tetua itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 224 Episodes
Comments
Chafidzoh Roesanto
up
2023-09-10
0
K4k3k 8¤d¤
mantab thor lanjut terus update sampai tamat ditunggu sama para reader yang setia menanti mu update kembali
2023-08-14
1
Karya Sujana
booommmmm
bam
2023-08-09
1