Hua Xu dan yang lain segera berjalan di belakang petinggi Sekte Pedang Utara. Orang itu terus berjalan masuk ke ruangan sekte yang besar dan megah.
Setelah beberapa waktu kemudian, petinggi tersebut tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika sudah berada di depan ruangan tertutup.
Ruangan ini tidak terlalu besar. Tapi dijaga ketat oleh dua orang murid senior yang mempunyai tubuh tinggi tegap dengan wajah sangar.
Ketika melihat kedatangan si petinggi, keduanya langsung membungkuk memberikan hormat.
"Apakah Ketua ada di dalam?" tanyanya kepada murid yang berjaga.
"Benar, apakah ada urusan, Tetua?" tanyanya kepada petinggi yang ternyata menjabat sebagai Tetua itu.
"Sampaikan kepada beliau, ada orang dari Sekte Pedang Putih yang ingin bertemu dengannya,"
"Baik. Silahkan Tetua tunggu sebentar,"
Murid itu kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan dan melaporkannya. Tidak lama kemudian, ia sudah keluar lagi.
"Bagaimana?" tanya si Tetua.
"Ketua mempersilahkan tamu ini masuk ke dalam," katanya menjelaskan.
"Baiklah, terimakasih,"
Ia kemudian menoleh kepada Hua Xu dan memerintahkan agar dirinya segera masuk ke dalam. Sedangkan ia sendiri, setelah melaporkan hal itu, segera pergi keluar dan melanjutkan kegiatannya.
Sementara itu, tanpa banyak membuang waktu lagi, Hua Xu pun segera mengajak kedua muridnya masuk.
"Silahkan duduk," kata seorang pria tua berusia seratus tahunan setelah ia berada di dalam.
"Terimakasih, Ketua,"
Hua Xu langsung duduk. Diikuti oleh Qiao Feng dan Lu Tianyin.
Seorang murid tiba-tiba datang dari balik ruangan lain. Di tangannya terdapat nampan yang berisikan arak dan makanan ringan.
Mereka kemudian menyantap semua suguhan itu sambil bersulang arak. Beberapa waktu kemudian, setelah semuanya selesai, terdengar si Ketua mulai bicara.
"Xu'er, bagaimana kabar Ayahmu sekarang?" tanya Ketua itu.
"Ayah baik-baik, saja Ketua. Beliau juga menitipkan salam untuk Ketua," jawabnya.
Dua orang itu memang sudah saling kenal sebelumnya. Apalagi, Hua Xu juga pernah beberapa kali datang ke Sekte Pedang Utara. Baik itu datang sambil membawa murid pilihan seperti sekarang, ataupun hanya datang berkunjung saja.
Maka dari itu, hubunga di antara mereka sudah cukup dekat. Bahkan seperti keluarga sendiri.
"Ah, terimakasih. Rasanya sudah cukup lama, aku tidak berjumpa dengannya. Nanti kalau kau kembali, sampaikan pula salamku kepadanya. Bilang kepada dia, aku ingin bertemu," kata Ketua Sekte Pedang Utara.
"Baik, Ketua. Aku pasti akan menyampaikannya kepada Ayah,"
Mereka kemudian berbincang-bincang beberapa saat. Sekedar mendekatkan diri, karena sudah cukup lama tidak bertemu.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Hua Xu segera menjelaskan kedatangannya. Terkait dia membawa dua murid pilihan Sekte Pedang Putih dan menyerahkannya kepada Sekte Pedang Utara untuk mendapatkan pelatihan lebih lanjut lagi.
Ketua Sekte Pedang Utara yang bernama Hong Lin itu menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Baiklah. Terimakasih atas hal ini. Aku pasti akan melatih dua anak muda itu dengan baik. Semoga saja ... kelak, mereka akan berguna bagi banyak orang,"
"Benar, Ketua. Aku juga berharap kalau keduanya bisa seperti itu,"
Ketua Hong Lin kemudian memanggil kembali satu orang murid senior. Ia menyuruhnya membawa Qiao Feng dan Lu Tianyin ke kamar yang sudah disediakan untuk para murid.
Dua anak muda itu mengangguk. Setelah murid senior tiba, mereka langsung pergi keluar dari ruangan tersebut.
Sekarang di dalam ruangan itu hanya terdapat Hua Xu dan Ketua Hong Lin saja.
"Ketua, bagaiamana keadaan dunia persilatan di sini?" tanya Hua Xu setelah diam beberapa saat.
"Hahh ..." dia tiba-tiba menghela nafas panjang setelah mendengar pertanyaan tersebut.
"Keadaan dunia persilatan masih terbilang aman, Xu'er. Tapi, aman di sini bukan berarti tidak ada kejadian apa-apa. Malah menurut ramalan, sebentar lagi akan terjadi sesuatu," jawabnya dengan wajah muram.
"Sesuatu, sesuatu apa itu, Ketua?"
"Entahlah. Aku sendiri belum mengetahuinya secara pasti. Yang jelas, untuk sekarang belum menunjukkan apa-apa,"
"Kalau begitu, mungkin ramalan tersebut tidak akan pernah terjadi,"
Jika sesuatu yang diramalkan belum juga menunjukkan tanda-tanda, bukankah bisa jadi, ramalan tersebut tidak akan terbukti?
"Pasti terjadi, Xu'er," jawab Ketua Hong Lin dengan cepat. "Ramalan itu pasti terjadi. Sesuatu yang dimaksud pun sebentar lagi akan terbukti,"
Setiap patah kata Ketua Sekte Pedang Utara tampak sangat yakin. Tidak ada keraguan dalam di dalamnya.
Hua Xu yang mendengar jawaban itu sedikit merasa sangsi. Namun dia tidak mau memberitahukan hal itu.
"Hemm, baiklah, Ketua. Kalaupun memang akan terjadi, semoga saja kita bisa menghadapinya,"
"Aku tahu kau tidak percaya dengan ramalan ini. Tapi, kau harus tahu bahwa peramal ini belum pernah meleset. Apapun yang ia ramal, pasti akan kejadian,"
Ketua Hong Lin tahu bahwa Hua Xu tidak yakin atas ucapannya. Apalagi dia bisa melihat raut wajah dengan jelas. Maka dari itu, ia berusaha untuk membuat anak dari Ketua Sekte Pedang Putih tersebut mempercayainya.
"Memangnya kalau boleh tahu, siapa peramal yang Ketua maksudkan?" tanya Hua Xu penasaran.
"Dia adalah si Peramal Nomor Satu,"
"Si Peramal Nomor Satu?"
"Benar," ujarnya membenarkan.
Hua Xu menampilkan ekspresi terkejut. Tentu saja di tahu siapa itu Peramal Nomor Satu.
Orang itu sangat terkenal di Benua Utara. Khususnya di Kekaisaran Yuan.
Kemampuannya dalam hal meramal memang tidak perlu diragukan lagi. Setiap ramalan yang ia katakan, pasti akan terbukti nyata. Selama ini, dia tidak pernah meleset.
Maka dari itu, wajar apabila semua orang mempercayai setiap ramalannya.
"Ketua, kapan si Peramal Nomor Satu meramalkan hal ini?" tanya Hua Xu lebih jauh.
"Kurang lebih sekitar satu bulan yang lalu,"
"Siapa yang sudah mendengar ramalan ini?"
"Para Ketua dari lima sekte terbesar di Kekaisaran Yuan, semuanya sudah mendengar dan tahu akan hal ini,"
Ketua Hong Lin berhenti sebentar. Ia menarik nafas beberapa kali, kemudian melanjutkan lagi bicaranya. "Aku sendiri diberitahu oleh Ketua Sekte Langit. Maka dari itu, aliran kita sudah waspada sejak dini,"
"Hemm, kalau begini caranya, kita memang benar-benar harus waspada, Ketua," ucap Hua Xu setuju dengan pendapat Ketua Sekte Pedang Utara.
"Tentu, Xu'er. Maka dari itu, beritahukan juga kepada Ayahmu tentang hal ini,"
"Baik, Ketua. Aku pasti akan memberitahukan Ayah,"
Mereka berdua kemudian melanjutkan lagi pembicaraan untuk beberapa saat. Setelah selesai, Hua Xu pamit undur diri.
Tadinya dia ingin langsung kembali ke Sekte Pedang Putih. Namun Ketua Hong Lin menahannya supaya dia mau menginap barang satu atau dua hari.
Karena tidak enak untuk menolak, pada akhirnya, mau tak mau Hua Xu harus meluluskan permintaan tersebut.
Sementara itu, saat ini Qiao Feng dan Lu Tianyin sedang berada di kamarnya masing-masing. Mereka berdua sedang melakukan istirahat.
"Aku tidak menyangka bisa menjadi murid di sekte ini,"gumam Qiao Feng kegirangan.
Sejak kecil, impiannya adalah ingin menjadi murid dari sekte besar. Dan siapa nyana, ternyata dia mampu mewujudkan impian tersebut.
Walaupun sebenarnya Sekte Pedang Utara tidak termasuk ke dalam sekte terbesar di Kekaisaran Yuan, tetapi bagi anak dusun sepertinya, tentu saja sekte itu sudah sangat besar sekali.
Maka dari itu, ia mempunyai kebanggaan tersendiri dalam hidupnya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 224 Episodes
Comments
Chafidzoh Roesanto
siup
2023-09-09
0
hasbullah 123
Tolong di ganti nama tingkatan kultivasi yg bernama senjata biar bagus seperti novel lainx
2023-08-29
0
K4k3k 8¤d¤
💖🤲💖🤲💖🤲💖🤲💖
2023-08-14
0