"Wah, aku jadi tidak sabar ingin pergi ke Kotaraja," kata Qiao Feng sambil tersenyum-senyum sendiri.
Diam-diam dia membayangkan Kotaraja yang sudah pasti lebih megah itu.
Sekarang, benaknya dipenuhi oleh berbagai macam bayangan dan pertanyaan tentang Kotaraja.
Berapa luasnya Kotaraja itu? Benarkah lebih megah dari Kota Bunga Emas? Dan lagi, bagaiamana kehidupan di sana?
Berbagai macam pertanyaan itu tiba-tiba muncul di benaknya. Sungguh, ia amat penasaran karenanya.
Sementara di sisi lain, ketika dua orang tersebut sedang berbicara, tampak Li Tianyin sedang mencibirnya.
Beberapa kali ia melirik kepada Qiao Feng sambil memberikan tatapan sinis dan merendahkan.
"Dasar kampungan," katanya perlahan.
Qiao Feng sendiri bukannya tidak tahu atau tidak mendengar perkataan Lu Tianyin barusan.
Dia justru mengetahui dan mendengar ucapannya itu dengan jelas. Hanya saja, Qiao Feng tidak mau memberikan tanggapan. Dia lebih baik diam daripada harus melayani orang seperti Lu Tianyin.
Kalau orang yang mempunyai sifat dan karakter seperti dirinya dilayani, maka urusannya akan panjang. Pasti tidak akan selesai dengan cepat.
Maka dari itu Qiao Feng lebih memilih untuk bersikap acuh.
Sementara itu, tanpa terasa mereka sudah semakin memasuki ke tengah-tengah kota. Hua Xu membawa mereka ke sebuah restoran cukup besar yang terdapat di sana.
"Aku lapar. Sebelum mencari penginapan, ada baiknya kita mengisi perut lebih dulu," ujarnya kepada dua orang remaja tersebut.
"Baik, guru," jawab Qiao Feng.
"Kebetulan, aku pun sudah lapar," Lu Tianyin ikut menjawab. Dia malah berjalan mendahului keduanya.
Hua Xu hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakukan murid yang satu ini. Dia tidak habis pikir, kenapa harus remaja seperti Lu Tianyin yang lolos dalam pertandingan penentuan itu? Kenapa bukan Kim Cun saja?
Kalau memikirkan hal itu, tidak ada yang bisa dilakukan olehnya lagi, kecuali hanya menghela nafas berat.
Mereka pun segera masuk ke dalam dan mencari tempat yang masih kosong. Setelah menemukan meja kosong, ketiganya segera duduk dan memesan makanan.
Sembari menunggu pesanan datang, Hua Xu juga memesan satu guci arak lebih dulu. Dia memang doyan minum arak, sama seperti ayahnya.
Arak yang dia pilih adalah arak wangi yang berkualitas cukup tinggi.
Tidak lama setelah dirinya memesan, seorang pelayan segera datang dan langsung menyuguhkan satu guci arak untuknya.
Hua Xu langsung membuka segel arak. Ia menuangkan ke dalam cawan dan meminum dengan perlahan.
Sedangkan dua murid di sisinya, ia juga memesankan teh hangat untuk mereka. Tidak lupa pula dengan hidangan pelengkap lainnya.
Selama menunggu pesanan itu, Qiao Feng tidak pernah berhenti mengamati keadaan di dalam restoran itu. Walaupun dia belum mengetahui apa-apa, tapi dirinya tahu bahwa orang-orang yang ada di sana, kebanyakan berasal dari kalangan pendekar dunia persilatan.
'Kemampuan orang-orang ini pasti sangatlah hebat. Hemm, kapan ya, aku bisa menjadi pendekar terkenal,' batinnya berkata.
Berbeda dengan Qiao Feng, Lu Tianyin justru asyik makan sendiri. Malah hidangan pelengkap yang ada di atas meja itu, yang disuguhkan khusus untuk mereka berdua, hampir dihabiskan oleh dirinya sendiri.
Melihat ini, lagi-lagi Hua Xu dan Qiao Feng hanya bisa saling pandang dan menghela nafas berat.
Sementara itu, setelah menunggu sekitar dua puluh menit, pesanan mereka pun akhirnya selesai juga. Tiga orang pelayan datang menghampiri sambil membawa nampak berisi makanan lezat.
"Silahkan, Tuan," kata seorang pelayan wanita berusia muda.
"Terimakasih," jawab Hua Xu sambil membalas senyuman yang diberikan oleh pelayan itu.
Si pelayan muda mengangguk. Dia segera pergi lagi untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sedangkan Hua Xu dan yang lain, mereka segera menyantap makanan yang sudah tersedia itu.
"Mumpung masih hangat, mari kita makan," katanya penuh semangat.
Tiga orang itu kemudian melangsungkan kegiatan makan. Karena sudah lapar sejak tadi, maka hanya sekejap saja, semua makanan tersebut sudah masuk seluruhnya ke dalam perut.
Hua Xu tidak mau berlama-lama lagi di sana. Apalagi malam mulai larut. Dia segera membayar biaya makan dan mengajak dia muridnya pergi mencari penginapan.
"Kita mencari penginapan dulu. Hari sudah terlanjur malam, tidak enak kalau bertamu malam-malam begini," katanya menjelaskan.
"Aku ikut apa kata guru saja," jawab Qiao Feng tidak membantah.
Mereka bertiga kembali menyusuri Kota Bunga Emas untuk mencari penginapan. Setelah ditemukan penginapan yang cocok, ketiganya segera memesan tiga kamar.
Begitu tiba di kamar, masing-masing dari mereka juga langsung tertidur dengan pulas.
Pagi harinya, setelah semua persiapan sudah selesai, Hua Xu, Qiao Feng dan Lu Tianyin segera melanjutkan perjalanannya lagi.
"Guru, apakah Sekte Pedang Utara itu masih jauh?" tanya Qiao Feng di tengah perjalanan.
"Tidak, sebentar lagi kita akan sampai di sana," jawab Hua Xu sambil mengelus kepalanya.
Mereka terus berjalan tanpa berhenti. Sampai akhirnya, tepat pada saat matahari tiba di atas kepala, ketiganya sudah tiba di tempat tujuan.
Di depan sana, dalam jarak sekitar dua puluh tombak, terlihat ada sebuah bangunan yang besar dan megah. Di atas atap bangunan terdapat lambang dua pedang menyilang.
"Itulah Sekte Pedang Utara," kata Hua Xu sambil menunjuk ke sekte yang dimaksud.
"Benar-benar sekte yang megah," ujar Qiao Feng memuji.
"Mari kita ke sana,"
Ketiganya berjalan lagi menuju ke Sekte Pedang Utara. Setelah tiba di depan gerbang, langkah mereka dihentikan oleh dua orang penjaga yang berdiri di sisi sebelah kanan dan kiri.
"Tolong beritahu siapa dan apa tujuan saudara datang ke tempat kami," kata penjaga yang berdiri di sebelah kanan.
"Aku bernama Hua Xu, anak dari Hua Wei, Ketua Sekte Pedang Putih. Datang kemari karena tugas yang beliau berikan," ujarnya menjelaskan.
Penjaga itu segera menganggukkan kepala. Tentu saja mereka tahu tentang hal tersebut.
Karenanya, setelah diberitahu, keduanya langsung membuka gerbang.
"Silahkan masuk, Tuan," kata penjaga itu.
"Terimakasih," jawab Hua Xu sambil melemparkan senyuman hangat.
Mereka pun langsung masuk ke dalam. Pemandangan yang bisa disaksikan saat sudah berada di sana adalah banyaknya murid-murid yang sedang berlatih di tengah halaman depan.
Jumlah murid itu tidak kurang dari ratusan orang banyaknya. Mereka pun terdiri dari pria dan wanita.
"Banyak sekali murid Sekte Pedang Utara," gumam Qiao Feng sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Ini belum seberapa, Feng'er. Di sekte yang terdapat di Kotaraja, malah muridnya jauh lebih banyak lagi,"
"Benarkah, guru?"
"Tentu saja. Nanti kau akan tahu sendiri,"
Sambil berbicara, ketiganya terus berjalan ke depan. Semakin masuk lagi. Tanpa sadar, mereka sudah tiba di dekat pintu.
Seorang petinggi yang sedang melatih para murid sekte tiba-tiba menghampiri Hua Xu. Ia segera bertanya.
"Mohon tanya, dengan siapakah aku berhadapan?" tanyanya dengan sopan.
Hua Xu kembali menjelaskan siapa dia dan apa tujuan sebenarnya. Setelah mendengar hal itu, si petinggi pun menganggukkan kepala.
"Kalau begitu, mari ikut aku ke dalam," katanya sambil berjalan masuk.
###
Berikut tahapan pendekar dan sebagainya, dalam novel Pendekar Sembilan Pedang ini:
Pendekar Bumi 1-7
Pendekar Langit 1-7
Pendekar Surgawi 1-6
Pendekar Alam Nirwana 1-5
Penguasa Alam Sejati 1-3
Senjata rendah 1-10
Senjata menengah 1-10
Senjata puncak 1-10
Senjata Abadi
Siluman Langit
Siluman Surgawi
Siluman Nirwana
Mustika siluman tingkat 1-10
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 224 Episodes
Comments
Chafidzoh Roesanto
up
2023-09-09
0
Djo M
Waah masih jauh ya tahapan Qiao Feng ,baru dasar tingkat 5
2023-08-30
0
hasbullah 123
maaf baru novel ini yg paling aneh ..mungkin pengarangx aneh jg MASA nama tingkatan ada nama SENJATA lucu lucu lucu NGGA JELAS ini AUTHORRx kalix
2023-08-29
3