Sekarang semua murid Sekte Pedang Putih sedang beristirahat di halaman depan. Ketua Hua bersama dua anak kembarnya tidak berada diluar. Mereka berada di dalam, di sebuah ruangan yang cukup mewah.
"Anakku, menurut kalian, siapa yang terbaik di antara Qiao Feng, Lu Tianyin dan juga Kim Cun?" tanya Ketua Hua Wei sambil memandang ke arah dua anaknya.
Meskipun dalam hatinya, dia sudah mempunyai pilihan terkait siapakah murid yang terbaik, tetapi bagaiamanapun juga, dia harus berdiskusi bersama anak kembarnya.
Ketua Hua adalah orang yang sudah banyak pengalaman. Ia pun merupakan orang yang bijak.
Dan sebagai orang yang bijaksana, tentu saja dia tidak mau berbuat atau mengambil keputusan sesuka hati sendiri.
Hua Xu dan Hua Ming tidak langsung menjawab. Kedua orang itu saling pandang sesaat, seolah-olah mereka sedang bingung.
"Menurutku, yang terbaik adalah Qiao Feng dan Lu Tianyin," kata Hua Xu memberikan jawaban pertama.
"Hemm, kenapa mereka bisa menjadi yang terbaik?" tanya Ketua Hua lebih jauh.
"Pertama, Qiao Feng mempunyai kecepatan dalam bergerak. Di antara dua orang lainnya, dia adalah pemuda yang paling matang. Baik itu dalam gerakan serangan, maupun pertahanan. Qiao Feng juga anak yang cerdas. Dia bisa membaca situasi, mana saat yang tepat untuk menyerang, dan mana saat yang tepat untuk bertahan,"
"Selain daripada itu, dia juga selalu mengawasi keadaan di sekitarnya. Meskipun sedang berada dalam pertarungan, tapi kepeduliannya terhadap sesama tidak pernah berkurang," ucap Hua Wu menjelaskan kepada ayahnya.
Apa yang dia katakan itu sudah terbukti sebelumnya. Saat pertarungan berlangsung, Qiao Feng memang yang paling unggul dari dua murid lainnya.
Kepeduliannya terhadap rekan satu tim juga besar. Buktinya saja dia sempat menyelamatkan Lu Tianyin dan Kim Cun dari bahaya serangan Ketua Hua.
Hal itu sudah dia saksikan dengan jelas sebelumnya. Maka dari itu, Hua Xu yakin bahwa apa yang dia katakan barusan, tidaklah salah.
Ketua Hua yang mendengar ucapan anaknya itu tampak menganggukkan kepala beberapa kali.
Dia sendiri setuju dengan apa yang disampaikan oleh Hua Xu. Maka dari itu, dirinya tidak menolak sama sekali.
"Bagaimana dengan Lu Tianyin dan Kim Cun?" tanyanya kembali.
"Lu Tianyin hampir mirip dengan Qiao Feng. Hanya saja dia lebih ceroboh dan tidak memikirkan orang lain," jawab Hua Ming ikut bicara.
Alasan kenapa Li Tianyin seperti itu, mungkin hal tersebut timbul karena sikap sombongnya. Maka dari itu, tidak heran apabila dia tidak mementingkan orang di sekitarnya.
"Sedangkan Kim Cun sendiri, meskipun dia sudah cukup bagus, tapi masih terdapat beberapa kekurangan lainnya. Dia kurang gesit dalam menghindar. Kurang cepat dalam menyerang, dan kurang kuat dalam bertahan. Kelebihannya yang utama cuma satu, dia bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh musuh, sebelum musuh itu melakukannya,"
Kim Cun, meskipun dia tidak secerdas Qiao Feng, tapi anak muda itu mempunyai prediksi yang cukup tajam.
Sebelum musuh menyerang, dia sudah bisa menebak serangan itu. Sebelum musuh bertahan, dia pun sudah bisa menebak dan memikirkan cara untuk menembus pertahanannya.
Lagi-lagi Ketua Hua menganggukkan kepala. Apa yang dikatakan kedua anaknya tentang tiga murid itu memang tidak salah. Semuanya benar. Sebab dia sendiri mempunyai pendapat yang serupa.
"Hemm, baiklah," ujarnya kemudian. "Kalau begitu, murid yang akan dikirim ke kota, adalah Qiao Feng dan Lu Tianyin,"
"Bagaimana dengan Kim Cun, Ayah?" tanya Hua Xu dengan cepat.
"Dia harus sedikit lebih lama lagi berada di sini. Di satu sisi, biarlah nantinya ia menjadi contoh bagi murid-murid lain,"
"Kalau itu keputusan Ayah, maka kami pun setuju," ucap Hua Ming mewakili saudaranya.
Hua Wei menganggukkan kepalanya beberapa kali. Setelah perundingan terkait siapakah murid yang akan dikirim ke kota selesai, maka orang tua itu langsung bangkit berdiri dari posisinya.
"Mari kita sampaikan hal ini kepada mereka,"
Dua orang anaknya juga mengangguk. Mereka pun berdiri secara bersamaan.
Ayah dan anak itu kemudian berjalan keluar dari ruangan.
Para murid Sekte Pedang Putih masih duduk bersila di depan halaman. Mereka sudah tidak sabar ingin mengetahui siapakah yang lolos dalam pertandingan penentuan tadi.
"Murid-muridku ..." Ketua Hua menyapa semua murid.
Para murid langsung berdiri secara serempak. Mereka berdiri dengan posisi siap.
"Aku sudah menentukan siapa yang akan dikirim ke kota minggu depan nanti,"
Ketua Hua menatap semua murid yang sedang menantikan ucapan selanjutnya itu.
Setelah beberapa saat kemudian, dia segera melanjutkan lagi ucapan yang sengaja dihentikannya itu.
"Murid yang akan dikirim ke kota, adalah Qiao Feng dan Lu Tianyin!" katanya dengan semangat.
Begitu kedua nama itu disebut, suara sorak-sorai langsung terdengar menggema. Meskipun tidak semua murid bisa lolos, namun mereka juga tetap merasa gembira.
Sebab secara tidak langsung, murid yang terpilih itu telah mewakili sektenya.
Ucapan selamat dari murid lain juga segera diterima oleh Qiao Feng dan Lu Tianyin.
"Selamat, Qiao Feng. Kau memang pantas mewakili sekte kita," Kim Cun menepuk pundaknya. Ia berkata sambil memberikan senyuman hangat.
Memang, hubungan di antara keduanya sudah terbilang sangat akrab. Bahkan mereka sering membantu satu sama lain apabila di antara keduanya ada yang kesulitan.
Maka dari itu, meskipun tidak lolos, tapi Kim Cun juga sangat gembira. Ia gembira lebih dari murid lain.
"Terimakasih, sahabatku. Ini semua berkatmu juga, coba kalau kita tidak sering melakukan latihan bersama, mungkin aku tidak akan bisa lolos," kata Qiao Feng sambil tertawa kepadanya.
"Kau terlalu merendah, kawan. Tetap saja, kau adalah murid yang berbakat,"
Qiao Feng hanya tersenyum mendengar ucapan itu. Dia sengaja tidak menjawabnya.
Sementara itu, setelah para murid tenang kembali, terdengar Ketua Hua bicara lagi.
"Selamat kepada Qiao Feng dan Lu Tianyin karena kalian sudah lolos dalam pertarungan penentuan," katanya memberikan selamat.
"Untuk murid-muridku yang lain, kalian jangan merasa kecil hati. Kesempatan untuk menjadi yang terbaik masih terbuka lebar. Waktu kalian juga masih banyak. Asal mau berlatih dengan tekun, kalian pun pasti bisa menyusul Qiao Feng dan Lu Tianyin," lanjut Ketua Hua memberikan semangat kepada semua muridnya.
Setelah acara itu selesai, para murid pun dipersilahkan untuk segera kembali ke tempatnya masing-masing. Khusus untuk Qiao Feng dan Lu Tianyin, Ketua Hua menyuruh mereka untuk ikut ke ruangannya.
Setelah tiba di ruangan, keduanya langsung dipersilahkan duduk di kursi yang tersedia.
"Qiao Feng, Lu Tianyin, minggu depan, kalian akan diantar ke kota oleh Guru Hua Xu. Sebelum waktu itu tiba, aku mengizinkan kalian untuk pulang ke rumah masing-masing," kata Ketua Hua tanpa membuang banyak waktu.
"Baik, Ketua,"
"Nah sekarang, kemas barang-barang kalian. Nanti akan ada dua orang yang bertugas untuk mengantarkan kalian sampai ke rumah,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 224 Episodes
Comments
Chafidzoh Roesanto
zip
2023-09-09
0
K4k3k 8¤d¤
mantab thor lanjut terus update sampai tamat ditunggu sama para reader yang setia menanti mu update kembali
2023-08-14
1
Karya Sujana
asikkkkk
boooom
2023-08-09
1