Hua Wei yang mendengar percakapan kedua anak kembarnya segera memperlihatkan senyuman hangat.
Memang, dalam hatinya, dia sendiri berpendapat bahwa yang akan lolos nanti adalah Qiao Feng dan Lu Tianyin. Sebab kedua orang anak muda itu adalah yang terbaik dari semua murid Sekte Pedang Putih.
Tapi hal itu tidak bisa menjadi patokan. Sebab meskipun mereka yang terbaik, toh masih ada murid-murid lain yang kemampuannya cukup lumayan.
"Sudahlah, kita istirahat saja dulu. Masalah siapa yang akan lolos, itu bagaimana nanti saja," ujar Ketua Hua kepada dua anaknya.
"Baik, Ayah. Kami mengerti," jawabnya secara bersamaan.
Mereka kemudian berjalan masuk ke dalam sekte dan melakukan beberapa persiapan untuk pertandingan penentuan nanti.
Setelah semua persiapan selesai, mereka pun segera istirahat di dalam ruangannya.
Sementara itu di ruangan anak murid, terlihat Qiao Feng sedang berkultivasi. Walaupun kondisi di sana ramai oleh suara rekan-rekannya, tapi dia tetap tidak peduli.
Di mana pun, kapan pun, kalau memang ada waktu, maka Qiao Feng pasti akan melakukan kultivasi.
Mungkin karena hal inilah dia bisa menjadi menonjol di antara teman sebayanya. Mungkin karena hal ini pula dia bisa memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari mereka.
Anak muda itu masih memejamkan mata. Di alam bawah sadarnya, ia mulai melihat ada setitik cahaya putih di kejauhan sana.
Qiao Feng berusaha untuk berjalan mendekat ke arah cahaya putih tersebut. Dia ingin melihat atau bahkan masuk ke dalamnya.
Sayang sekali, tinggal beberapa jarak lagi, tiba-tiba sesuatu telah menghantam tubuhnya dari belakang.
Bukk!!!
Qiao Feng merasakan sakit yang lumayan. Dia segera sadar dan langsung membuka matanya.
Begitu menoleh ke belakang, ternyata di sana ada Lu Tianyin dan satu orang rekannya.
Meskipun tidak banyak bertanya, tapi Qiao Feng tahu bahwa yang baru saja menghantam punggungnya itu tak lain dan tak bukan adalah kaki dari Lu Tianyin.
Dia telah menendangnya!
"Apa maksudmu, Lu Tianyin?" tanya Qiao Feng dengan nada tidak senang.
"Kenapa? Kau tidak suka?" tanyanya dengan nada tinggi.
"Tentu saja. Aku tidak terima kau menendang punggungku begitu saja. Padahal aku tidak punya masalah apapun denganmu,"
Qiao Feng sudah sangat marah. Sebab kejadian seperti ini bukanlah yang pertama kali terjadi.
Anak itu sering mencari masalah dengannya. Bahkan hampir setiap hari.
Selama ini, Qiao Feng lebih memilih untuk mengalah. Tapi ternyata, hal tersebut justru malah membuat sifat Lu Tianyin yang semakin menjadi.
Karena alasan itu, sekarang Qiao Feng berniat untuk memberinya sedikit pelajaran.
"Kalau memang tidak terima, coba saja balas. Itu juga jika kau mampu," Lu Tianyin tertawa sinis. Ia tampak merendahkan Qiao Feng.
Siapa sangka, ketika dirinya masih tertawa, tiba-tiba anak itu merasakan ada sesuatu yang menghantam dadanya dengan keras.
Blamm!!!
Lu Tianyin terdorong mundur sejauh dua langkah. Ia sempoyongan, hampir saja jatuh tersungkur ke atas tanah.
Ternyata sesuatu yang menghantamnya barusan itu adalah kepalan tangan Qiao Feng.
Sakitnya bukan main. Bahkan untuk sesaat, Lu Tianyin merasa kesulitan bernafas. Tapi karena dia tidak mau dipandang rendah oleh rekan-rekannya, maka ia bersikap seolah biasa saja.
"Anak sialan. Berani sekali kau ..."
Dia semakin marah. Pukulan balasan pun segara dilancarkan dengan cepat dan telak. Tapi Qiao Feng mampu menghindarinya dengan mudah.
Suara murid-murid yang lain segera terdengar. Mereka seperti kegirangan menonton pertarungan itu.
Ruangan para murid yang tadinya sepi, sekarang telah diramaikan oleh teriakkan dukungan.
"Berhenti!"
Di tengah-tengah pertarungan antara Qiao Feng dan Lu Tianyin yang mulai seru, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang sangat dikenal mereka.
Suara Ketua Hua!
Di pintu masuk, terlihat dia sedang memandang kepada semua murid dengan tatapan setajam pisau. Kalau sudah seperti ini, maka para murid pun tidak ada lagi yang berani memandang wajahnya.
Semua murid menunduk. Keheningan kembali menyelimuti ruangan tersebut.
"Qiao Feng, Lu Tianyin, apa yang sedang kalian lakukan?" tanyanya dengan tegas.
"Dia yang memulai, Ketua. Saat itu aku sedang berkultivasi, tapi Lu Tianyin tiba-tiba menendangku dari belakang," jawab Qiao Feng sambil tetap menundukkan kepala.
"Benarkah apa yang telah dikatakan olehnya?" tanya Ketua Hua kepada Lu Tianyin.
"Aku ... aku tidak bermaksud ..."
Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Anak muda itu kebingungan. Ia tidak menyangka bahwa hal ini akan sampai di telinga Ketua Hua. Karenanya, Lu Tianyin tidak bisa menjawab ketika ditanya.
"Lu Tianyin, ikut aku!" ujar Ketua Hua sambil membalikkan badan dan melangkah pergi dari sini.
Lu Tianyin tampak tidak terima. Tapi apa mau dikata, ini adalah perintah. Mau tidak mau, dia harus menurutinya.
"Awas saja nanti!" katanya mengancam Qiao Feng.
Lu Tianyin kemudian melangkah keluar mengikuti Ketua Hua.
Setelah kepergiannya, keadaan di ruangan itu pun kembali khidmat. Para murid kembali beristirahat. Ada pula yang melakukan kultivasi seperti layaknya Qiao Feng saat ini.
###
Sore hari sudah datang. Semua murid Sekte Pedang Putih, saat ini sudah berada di halaman depan.
Yang pertama ada di sana adalah Lu Tianyin. Hal itu wajar, sebab tadi, setelah ia membuat masalah, Ketua Hua telah memberikan hukuman kepadanya.
Dia menyuruh muridnya tersebut untuk berdiri di tengah panas terik matahari.
"Lu Tianyin, kau istirahat dulu selama sepuluh menit. Setelah itu segera kembali kemari," kata Ketua Hua kepadanya.
"Baik, Ketua," dia membungkuk hormat, lalu kemudian segera berteduh.
Keadaan para murid sekte sudah berada dalam sikap sempurna. Mereka sedang menunggu Ketua Hua bicara.
"Murid-muridku, seperti yang telah aku katakan sebelumnya. Sore ini, kita akan mengadakan pertandingan penentuan," katanya mengawali pembicaraan lebih serius.
"Yeay!!!"
"Hore ..."
Suara sorak-sorai dari para murid terdengar bersahutan. Mereka menyambut pertandingan penentuan dengan perasaan riang gembira.
Walaupun masing-masing murid tahu bahwa dirinya sendiri belum tentu lolos, tapi setidaknya dalam pertarungan nanti, mereka bisa menilai sampai di manakah kemampuannya.
"Apakah kalian sudah siap?" tanya Ketua Hua lebih jauh.
"Siap," jawab murid serempak.
"Baik. Kalau begitu, kita mulai pertandingan penentuan ini,"
Ketua Hua kemudian menoleh ke arah anak kembarnya. Dia menyuruh mereka untuk membantunya dalam mengawasi pertandingan nanti.
"Kau tenang saja, Ayah. Kami pasti akan mengawasi semua murid yang bertarung," jawab Hua Xu meyakinkan ayahnya.
Setelah beberapa saat kemudian, Ketua Hua mulai memanggil sepuluh orang muridnya. Mereka kemudian dibagi menjadi tiga kelompok.
Begitu masing-masing murid sudah berhadapan, dia segera memulai pertandingannya.
"Mulai!"
Murid yang disuruh untuk tampil pertama segera bertarung. Berbagai macam jurus khas dari Sekte Pedang Putih mulai digelar.
Pertama kali, pertarungan itu hanya pertarungan tangan kosong. Setelah lewat dua puluh jurus, Ketua Hua segera melemparkan pedang kayu kepada murid-murid itu.
Pertandingan pun segera dilanjut dengan adu ketangkasan dengan pedang kayu!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 224 Episodes
Comments
K4k3k 8¤d¤
💖✍🏼💖✍🏼💖✍🏼💖✍🏼💖
2023-08-14
0
K4k3k 8¤d¤
mantab thor lanjut terus update sampai tamat ditunggu sama para reader yang setia menanti mu update kembali
2023-08-14
3
Karya Sujana
menarik
boooommmmmmmmm
2023-08-09
0