Dengan mengepalkan kedua tangannya kuat, Brandon terpaksa pergi dari sana dan mengurungkan niatnya untuk menemui Sherina secara langsung.
Begitu menjijjikkan bagi dia ketika melihat wanita itu bersikap seperti jallang.
Sherina benar-benar membuat otaknya seperti mau pecah, dalam semalam saja wanita itu berubah sedrastis ini.
Dia masih belum terima tentang kasus Mario yang harus mereka tangani, tiap ingat itu rasanya Brandon pun ingin memecahkan kepalla Sherina.
Arght!! geramnya tak habis-habis.
Sementara itu di depan pintu apartemen Sherina, Sean tahu bahwa Brandon sudah pergi. Tapi dia tetap berada di posisi seperti ini.
Bohong jika Sean tidak menginginkan sebuah ciuman yang sesungguhnya, apalagi jarak mereka begitu dekat, jarak bibir yang mungkin hanya 2 centimeter.
"Sepertinya aku harus mencium mu dengan sungguh-sungguh, karena pria itu belum pergi," bisik Sean, nafasnya yang hangat menyapu bibir Ariana dengan begitu lembut.
Gadis yang awalnya tidak terpengaruh dengan kedekatan ini, seketika jadi merinding.
Ariana yang terkejut pun langsung mencubit lengan Sean dengan kuat, sampai pria itu gaduh kesakitan ...
"Awh!! Sher!!" pekik Sean,
Ariana langsung menoleh ke belakang dan tidak lagi melihat Brandon di sana.
"Kapok! kak Sean bohong kan! katanya Brandon belum pergi, itu sudah tidak ada!!" kesal Ariana, bagaimana bisa disaat seperti ini kak Sean malah menggodanya.
Hiii, rasanya bukan hanya ingin mencubit. Ariana pun ingin membanting pria hidung belang ini.
"Jahat!" keluh Sean.
"Bodo amat!!" kesal Ariana. Dia bahkan langsung masuk ke dalam apartemennya tanpa memperdulikan kak Sean lagi.
Meninggalkan Sean yang terkekeh pelan, Sherina tidak berubah, gadis itu hanya seperti mengulang di masa-masa mereka muda. Di saat usia belasan tahun.
Jam bergulir.
Di jam 8 malam mereka kembali bertemu.
Ariana mengajak Sean untuk mendatangi tempat latihan menembak menggunakan pistol. Ini adalah kali pertama Sean memegang senjata seperti itu, namun Sean adalah murid yang paling cerdas dan patuh, jadi tak butuh waktu lama, Sean berhasil menembak sesuai yang mereka targetkan.
DOR!
DOR!!
DOR!
Suara tembakan terus menggema di tempat latihan tersebut. Ariana selalu menembbak di titik merah dengan tepat.
Selalu membuat Sean terpesona.
DOR!! tembak Sean pula, akhirnya dia membidik tepat di titik merah.
Ariana tersenyum, bangga.
"Bagus," ucap Ariana diantara bibirnya yang tersenyum, berlagak seperti guru.
Malam pertama latihan mereka berjalan begitu baik. Sean juga sudah menghubungi asisten Rion untuk tidak datang ke kantor 1 bulan ke depan.
Sama seperti Sherina yang bersungguh-sungguh untuk misi ini, Sean pun melakukan hal yang sama.
Keesokan harinya Sean menyewa apartemen di samping unit apartemen Sherina, mengubah apartemen itu jadi tempat latihan fisiknya.
Ariana sendiri bahkan begitu tercengang ketika melihat kesungguhan kak Sean.
Ada rasa syukur yang terselip di dalam hatinya.
Andai kak Sherina tahu ini, dia pasti sangat terharu kan. Dia punya kak Sean yang begitu peduli. Batin Ariana.
"Kamu kenapa?" tanya Sean saat dilihatnya Sherina yang melamun, kini mereka berdua berada di apartemen Sean.
"Tidak ada apa-apa Kak, aku harus ke kantor dulu. Jeremy telepon katanya mau bahas tentang kasus Mario," jawab Ariana, dia tidak bohong.
"Hem pergilah, aku hanya akan berlatih di sini," balas Sean.
Ariana menganggukkan kepalanya.
Tanpa banyak kata lagi dia pun segera pergi, tak sabar juga ingin lihat bagaimana rencana Brandon?
Dia yakin, pria itu justru ingin membunnuhnya sekali lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
aas
iyaa bisa lah sean kan jenius dari kecil
2025-02-28
0
andi hastutty
Lanjut
2024-08-20
0
Yatinah
yah karna kecerdasan ariana jd tubuh sherina merespon positif dlm segala hal yh ariana lakukan
2024-04-19
2