Ariana benar-benar butuh waktu untuk membiasakan semuanya, bagaimana agar dia bisa hidup dengan normal sebagai Sherina.
Hingga tak akan ada lagi kejadian membingungkan seperti barusan.
Sean ya Sean, bukan kak!
Keluar dari rumah sakit tersebut, Ariana langsung berlari menuju jalanan. Menghentikan taksi dan pulang ke apartemennya. Ada uang di saku celana yang dia gunakan untuk membayar taksi tersebut, untunglah uang itu tidak hanyut di sungai.
Semua ingatan Sherina yang berhasil Ariana dapatkan benar-benar membantu hidupnya yang baru.
Bahkan tanpa canggung, Ariana menekan password apartemen itu layaknya tempat ini sudah biasa dia tinggali.
Ingatan yang masih terekam jelas terkadang juga membuat Ariana jadi hidup sebagai Sherina.
Masuk ke dalam apartemen itu Ariana segera menuju kamar dan membersihkan tubuhnya, mengganti baju dengan yang bersih.
Mendatangi dapur dan mengeluarkan semua makanan yang ada di lemari pendingin.
"Aku lapar sekali," gumam Ariana.
"Aku butuh banyak tenaga untuk membalas semua orang-orang itu kan, jadi ayo makan yang banyak."
Ariana melahap semua makanan yang ada, kadang dia tersenyum ketika ingat saat kak Sherina meletakkan semua makanan ini di dalam lemari pendingin.
Ariana tiba-tiba menangis lagi, mendadak gadis tangguh itu jadi cengeng seperti Sherina.
"Tenang kak Sherina, aku juga akan membalaskan dendam kakak," gumam Ariana, bicara pada hatinya sendiri yang terasa sesak.
Namun kemudian menyadari jika sesaknya bukan hanya karena musuh tim 1, melainkan juga kematian sang ibu.
Mommy-nya Sherina- mommy Yasmine meninggal dunia karena tembakan musuh saat sedang menyelamatkan dia dari para penculik.
Daddy William merasa sangat terpukul akan hal itu, dan terus memaksa Sherina untuk jadi polisi, untuk jadi wanita yang kuat hingga tak akan ada satu orang pun yang bisa menyakiti.
Perang batin selalu terjadi diantara Sherina dan sang ayah.
Kenangan menyesakkan yang seperti baru kemarin terjadi.
"Hah!" Ariana membuang lagi nafasnya dengan kasar, kalau sudah seperti itu, Ariana merasa telah membuang rasa sesak tersebut.
Dia menghapus air matanya sendiri dan kembali makan.
Sampai akhirnya rasa ngantuk mulai mendera.
Tidak peduli pada meja makan yang berantakan, Ariana langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah.
Dan tak butuh waktu lama, Ariana pun terlelap. Kemarin dan hari ini benar-benar terasa melelahkan untuk dia.
Klik!! pintu apartemen Sherina terbuka dari luar. Seseorang yang membuka pintu itu adalah Sean Aditama, sang sahabat.
Kondisi Sherina yang memprihatinkan seperti itu tidak bisa membuatnya acuh, apalagi Sean paling tau bahwa Sherina tak punya siapa-siapa lagi untuk bersandar, selain dia.
"Astaghfirullahaladzim Sherina," geram Sean, ketika dia melihat gadis itu malah tidur di sofa.
Tanpa canggung, Sean pun langsung menggendong Sherina dan membawanya ke dama kamar gadis tersebut, dia baringkan di atas ranjang.
Sean kemudian membuka kotak obat yang tadi dia bawa. Pelan-pelan kembali mengobati luka-luka Sherina yang terbuka.
"Harusnya kamu menikah saja dengan ku, tidak perlu jadi polisi seperti ini," gumam Sean, bicara sendiri, karena Sherina tidak akan mampu mendengarnya, gadis itu benar-benar tidur dengan pulas.
Sean sudah bisa menebak, jika semua luka ini Sherina dapatkan ketika dia sedang bertugas.
Selesai mengobati, Sean pun keluar dari dalam kamar tersebut. Menuju dapur dan kembali dibuat tercengang.
"Astaghfirullahaladzim, sejak kapan Sherina jadi jorok begini," gumam Sean seraya geleng-geleng kepala melihat meja makan.
Dia merapikannya.
Mencuci piring juga.
Seharian ini Sean berada di apartemen itu, sampai sore menjelang.
Jam 8 malam barulah Ariana terbangun dari tidurnya. Merasa lebih baik. Merasa lebih tenang meski terbangun di tubuh orang lain.
Ariana melirik jam dinding dan melihat angka jam 8 malam.
Dalam keadaan sepi itu, dia pun bangkit dari tidurnya dan turun dari atas ranjang.
"Tunggu dulu, kenapa aku bisa ada disini? bukannya tadi aku tidur di sofa?" gumam Ariana ketika dia sudah berdiri.
Deg! seketika Ariana dalam mode waspada. Mulai berpikir dengan serius, lalu ingat bahwa yang tau password apartemen ini bukan hanya dia saja, tapi Sean Aditama juga.
Deg! Apa iya kakak itu ada disini? batin Ariana.
Dengan perlahan dia coba keluar dari dalam kamar tersebut, membuka pintu pelan-pelan sekali, pasalnya pintu kamar ini berada tepat di samping ruang tengah, jika pria itu duduk di sana jelas bisa langsung melihat ke arahnya.
Ariana memutar ganggang pintu pelan sekali, sangat pelan, sampai tak ada suara yang tercipta.
Berhasil terbuka sedikit dan dia langsung mengintip.
Deg! benar saja, pria itu duduk dengan santainya sambil membaca sebuah tablet.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
andi hastutty
Penasaran
2024-08-20
0
Yatinah
lanjuuttt kak masih terus penasaran
2024-04-19
2
💞 RAP💞
SENNNNN
2024-02-18
0