"Kak, boleh aku meminjam kaca?" tanya Ariana. Ketika dua perawat itu telah selesai mengobati semua lukanya, beberapa dipasang perban sebagiannya lagi dibiarkan tetap terbuka.
Selama diobati tadi Ariana lebih banyak melamun, seperti sedang mengurai benang kusut yang sangat ini sedang dia alami.
"Tentu saja boleh Nona, tunggu sebentar akan saya ambilkan," jawab salah seorang perawat. Lalu pergi dari sana untuk mengambil cermin itu.
Ariana yang mendengar disebut sebagai Nona benar-benar merasa asing, dia adalah gadis berusia 18 tahun harusnya dipanggil saja Adik.
Tapi saat sadar jika tubuh ini adalah tubuh kak Sherina, Ariana jadi hanya mampu diam.
"Ini," ucap perawat itu setelah dia kembali lagi dengan membawa sebuah cermin kecil, mungkin besarnya setelapak tangan Ariana.
"Terima kasih," jawab Ariana, dia segera menerima unggulan cermin itu dan mulai mengarahkan ke arah wajahnya.
Deg! jantung Ariana semakin berdegup dengan kencang ketika dia melihat wajah ini.
Kedua matanya terbuka lebar dan menatap lekat-lekat, sejak tadi dia hanya terbayang-bayang saja belum melihat secara langsung wajah ini.
Ternyata kak Sherina terlihat begitu cantik. Namun sekarang wajah ini juga penuh dengan luka.
Entah kenapa tiba-tiba ada air mata yang jatuh dari mata Ariana. Padahal Gadis itu selama ini adalah gadis yang tegar, tidak pernah sekalipun menangis mesti berulang kali mendapatkan caci maki dari sang ayah.
Ku pikir, hidupku sudah paling menderita. Ternyata hidup kak Sherina lebih parah. Batin Ariana.
"Huh!" Ariana membuang nafasnya dengan kasar.
"Kenapa Nona, Apa ada yang terasa sakit?" tanya perawat itu dengan nada cemas, karena dia melihat wanita cantik ini yang menangis. Perawat itu adalah perawat yang memberikan kaca kepada Ariana sementara perawat satunya lagi sudah pergi dari sana.
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku akan langsung pergi dari sini," jawab Ariana pula. Dia berhenti memanggil perawat itu dengan sebutan Kak, karena sepertinya perawat itu berusia lebih muda dibandingkan dia yang sebagai Sherina.
"Jangan Nona, sebaiknya anda menginap dulu di rumah sakit, anda masih membutuhkan perawatan," jelas perawat itu.
Tapi Ariana menggeleng, daripada hanya beristirahat di sini, dia lebih pilih untuk mulai menjalankan misi balas dendamnya.
Entah dimulai dari yang mana dulu, tapi yang jelas dia harus segera keluar dari rumah sakit ini.
Ariana bahkan langsung turun dari atas ranjang itu dan mulai berjalan keluar dari ruang IGD tersebut.
Tidak peduli meski perawat tersebut terus memanggil namanya untuk diminta tinggal lebih dulu.
"Nona! Nona Sherina!"
Ariana tidak mengindahkan panggilan tersebut, dia benar-benar pergi dari sana.
Berjalan dengan kedua mata yang nampak kosong padahal di dalam kepalanya penuh sekali dengan pikiran yang berkecamuk.
Aku tidak bisa datang begitu saja untuk membunuh Mario, aku harus menggunakan identitas ku sebagai kak Sherina.
*Tunggu, jangan tergesa Ariana.
Mario tidak bisa langsung mati, pria itu harus menderita lebih dulu. Merasakan hidupnya yang hancur hingga di titik paling bawah.
Lebih baik jika kamu memukul 2 lalat dalam satu kali pukulan*.
Tim 1 juga harus mendapatkan balasan yang sama, Brandon, Deasy, Jeremy, Lucas.
Ya, mereka semua harus tau lebih dulu bahwa aku bukanlah Sherina yang dulu, mereka harus tau bahwa aku sekarang berbeda.
Ariana terus sibuk sendiri dengan pikirannya, dia terus berjalan keluar dari rumah sakit itu seperti tidak menganggap orang-orang di sekitarnya ada.
"Sher, Sherina?" panggil Sean. Dia telah mengurus semua administrasi untuk mayat gadis malang itu. Visum juga sudah diambil dan sekarang hanya tinggal mengebumikan gadis tersebut.
Tapi Ariana yang belum terbiasa dengan nama itu hanya melengos. Membuat pria itu mengerutkan dahi.
"Sher?" panggilnya sekali lagi.
Karena Sherina tidak mendengar, Sean pun dengan segera menyentuh tangannya.
Ariana yang tersentak kaget segera memutar tangannya dan balik mencekal tangan Sean.
"Aw!" pekik Sean saat dengan cepat tangan kanannya dipelintir hingga berposisi di punggungnya.
Bugh! Ariana menendang kaki belakang pria ini hingga terduduk di lantai.
Brug!
"Sherina!!" pekik Sean, kesal dan kesakitan.
Sadar jika pria ini kak Sean, barulah Ariana melepaskan cekalannya.
Astaghfirullahaladzim. Batin Ariana.
"Maafkan aku kak Sean, ku pikir itu bukan kakak, eh!" aduh! Ariana jadi bingung sendiri, harusnya dia panggil Sean saja, tidak perlu pakai kak.
"Aku pergi dulu!" ucap Ariana, lalu segera berlari dari sana tanpa peduli pada Sean yang masih kesakitan karena ulahnya.
"Astaghfirullahaladzim, apa katanya? kak? sejak kapan dia memanggil ku kak?" Sean benar-benar bingung.
"Apa yang sudah terjadi pada Sherina? tubuhnya sudah penuh dengan luka, bagaimana dia bisa berlari sekencang itu," gumam Sean pula, sungguh dia sangat mencemaskan Sherina. Cemas bercampur bingung.
Sean kemudian bangkit, mengambil ponselnya di saku jas bagian dalam untuk menghubungi sang asisten pribadi-Rion.
"Aku tidak akan kembali ke kantor dan besok juga sibuk, jadi mundurkan semua acara," titah Sean, CEO Aditama Corp.
"Baik Tuan," jawab Rion patuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
aas
masih kebayang sean kecil si anak kodok 🤭 udh jd CEO aja
2025-02-28
0
rin
tor, cerita gerald gembul ada ga ?
2024-09-29
0
andi hastutty
Lanjut
2024-08-20
0