Tiba-tiba hujan rintik-rintik turun ke bumi, seolah-olah merasakan kesedihan yang di rasakan Ferzo, awan menjadi gelap dan hujan pun turun lebat. Ferzo pun berlari ke bawah jembatan untuk berteduh. Ferzo memeluk barang-barangnya agar tidak kedinginan.
"Bahkan langit mengejekku," ucap Ferzo menundukkan kepala lesu.
Untungnya di bawah jembatan itu bukan sungai, di bawahnya tanah keras yang bercampur bebatuan. Di sana ada beberapa kardus yang terbentang, sepertinya itu adalah tempat seseorang yang sedang beristirahat tapi tidak lama, Ferzo membetulkan kardus itu dan menyusunnya, lalu ia membuka tasnya dan mengambil kain untuk selimutnya.
Tas itu ia jadikan bantal. Terasa dingin yang menusuk akibat hujan yang lebat. Ferzo berusaha memejamkan matanya untuk tidur dan melupakan sejenak rasa sakit yang ia rasa, tapi itu tetap tidak bisa, ia teringat kembali kepada kedua orang tuanya dan menangis sesenggukan.
"Ayah, Ibu, andai kalian masih hidup kalian pasti akan sangat sedih melihat ku seperti ini, aku sudah di usir tak punya pekerjaan dan tempat tinggal lagi, bagaimana aku akan melanjutkan sekolah," ucap Ferzo menangis, air matanya berderai jatuh ke kain yang menyelimutinya.
Karena terus menangis dan banyak mengeluarkan air mata, kepalanya terasa sakit, Ferzo berusaha untuk memejamkan mata agar ia bisa tidur. Akhirnya tak lama kemudian tanpa di sadar ia pun tidur.
Pagi ini ia bangun pagi sekali, ia harus mendapatkan pekerjaan, uang 500 ribu itu mana cukup untuk memenuhi kebutuhannya sebelum ia mendapatkan pekerjaan.
Ferzo mengemasi barang-barangnya lalu membawanya pergi untuk mencari pekerjaan sekalipun hanya menjadi tukang sapu atau tukang cuci piring pun ia mau.
Hari ini ia memilih tidak bersekolah, ia harus mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang agar ia bisa makan.
Di jalan yang masih sepi, orang-orang baru saja membuka pintu rumah. Ferzo sudah berjalan sendirian berharap ada tempat yang bisa menerima dirinya untuk di jadikan pekerja.
Saat ia masih di jalan sendirian dangan menyandang tas entah kemana yang ia ingin tuju, ada dua orang pemotor dari belakang mendekatinya dan langsung merampas tas miliknya dan membawanya kabur.
"Hey! Kembalikan tas ku!" teriak Ferzo yang mengejar motor yang sudah melaju kencang itu, mereka menggasak tas milik Ferzo yang berisi uang 500 ribu satu-satunya yang ia punya.
Ferzo tak kuat lagi untuk mengejar mereka dan ia pun jatuh tersungkur ke tanah, luka di lutut dan sikunya berdarah. Akan tetapi ia bangun lagi dan berlari kembali.
"Tolong! Tolong! Tas ku di curi!" teriak Ferzo di sepanjang jalan dengan berurai air mata hingga suaranya parau, tapi satu pun tidak ada yang menghiraukannya, mereka hanya merasa kebingungan melihat Ferzo berlari dan teriak, bahkan ada yang berpikir jika dia adalah orang gila.
Lagi-lagi ia terjatuh, kakinya sudah tak kuat untuk berlari dan air mata menutupi pandangannya membuat penglihatannya menjadi kabur, di situlah ia bersujud dan menangis sesenggukan. Cukup sudah, kini ia sungguh tak punya apa-apa lagi.
Derita berat apa lagi yang harus ia rasakan? Cobaan seperti apa lagi yang akan terus menghampirinya? Apa ia memang tak di inginkan dunia lagi? Apa ia pergi saja dari dunia ini? Kenapa waktu cepat sekali berputar, yang tau-taunya ia sudah berada di dalam lingkaran penderita yang amat pedih di saat ia belum siap menghadapinya.
Mau tak mau ia harus bangun, dengan tubuh yang lemah, ia berjalan ke tepi. Ferzo berjalan mendekati sebuah toko yang masih tutup entah itu toko yang di tinggalkan, ia duduk di depan teras.
Orang-orang sudah mulai berlalu larang, baik itu pekerja kantoran dan juga anak-anak sekolah mau pun anak kuliah yang bergegas menuju tempatnya masing-masing. Kebetulan juga, jalan itu adalah jalan yang menuju sekolahnya, tentu saja banyak anak-anak sekolah di sekolahnya melawati jalan itu.
"Yun, itu bukannya Ferzo," ucap Iyan yang duduk bertengger di belakang motor besar milik Yun. Yun melihat arah yang di tunjuk Iyan dan berhenti mendadak.
"Benar juga, ngapain dia di sana ya? Kita kerjain yuk," ajak Yun tersenyum menyeringai.
Mereka berdua pun berjalan mendekati Ferzo yang sedang termenung, ia sangat kaget saat kedatangan Yun dan Iyan. Di samping toko ada gang sempit dan buntu perbatasan antara toko dan rumah di belakangnya dan itu tertutup tembok tinggi.
Yun dan Iyan menyeringai lalu membawa Ferzo ke gang buntu itu.
"Hey! Kalian mau bawa aku kemana!" teriak Ferzo berusaha meronta-ronta.
"Diam kamu!" bentak Yun. Mereka pun melempar Ferzo ke gang itu dan mendekatinya.
Mereka pun langsung menghajar Ferzo, menendangnya lalu menjambak rambutnya dan memukuli wajahnya. Yun meninju mata Ferzo membuat ia sangat kesakitan. Iyan juga menendang perut Ferzo dan Yun meninju hidung Ferzo hingga hidungnya keluar darah.
Yun seperti ini karena Ferzo lebih pintar darinya, waktu itu ia di banding-bandingkan oleh wali kelasnya kenapa Yun tidak menjadi seperti Ferzo yang rajin dan selalu mengerjakan PR. Yang di lakukan Yun hanyalah bermalas-malasan karena ia anak orang kaya. Jadi tentu saja ia bisa berleha-leha. Di situlah ia mulai membenci Ferzo lalu mengajak teman-temannya yang lain untuk membuli Ferzo.
Ferzo menyeka darah di hidungnya dan merasa sakit di seluruh badannya. Setelah puas, Yun pun mengajak Iyan untuk pergi.
"Ayo kita pergi," ajak Yun. Mereka berdua pun meninggalkan Ferzo. Yun dan Iyan naik atas motor ya dan berangkat sekolah.
Ferzo rasanya tak berdaya, perutnya sangat sakit, bukan hanya karena sakit di pukul Yun, tapi juga ia sangat lapar karena beberapa hari ini ia tidak makan, uang juga sudah di curi, apa lagi yang ia punya. Ferzo berusaha untuk berdiri dan mencoba mencari makan yang ada di tong sampah atau di mana pun asalkan ia bisa mengisi perut agar tidak kosong.
Ferzo menghampiri tong sampah, dan ia melihat ada sisa makanan di sana, ia segera mengambilnya lalu melahapnya, meskipun itu sungguh tidak layak di makan, akan tetapi keadaan yang memaksanya untuk memakannya.
Ferzo berjalan dari tong sampah ke tong sampah lainnya, untuk mengisi perutnya yang lapar, dirinya saat ini benar-benar terlihat seperti gembel. Jika dirinya seperti ini, siapa yang akan menerimanya bekerja. Baju compang-camping, tubuh penuh luka, mata sayu, ia malah terlihat seperti orang yang tak ingin hidup lagi.
Saat itu Ferzo berjalan dengan tubuh lemas dan oyong ia melewati seorang wanita yang berjalan dari arah yang berlawanan, tiba-tiba saja dompetnya jatuh. Ferzo seketika berhenti karena ia menemukan sebuah dompet di hadapannya. Ia mengambil lalu melihat isi dalamnya. Ferzo sangat terkejut karena isinya uang yang tebal dan berlian. Nita hati ingin mengembalikannya, tapi ia tidak tahu siapa orangnya, Ferzo melihat sekeliling tapi mencari orangnya, tapi mereka hanya lewat saja.
Wanita itu merasa ada yang aneh, ia pun memeriksa tasnya dan mendapati dompetnya sudah tidak ada, Ia beneran panik saat itu dan saat melihat kebelakang, ia melihat Ferzo sedang memegang dompetnya.
"Pencuri! Pencuri!" teriak wanita itu saat melihat dompetnya ada di tangan Ferzo. Ferzo binggung entah apa yang di teriak oleh wanita itu. Para warga beramai-ramai datang dan berlari.
"Di mana pencurinya?" tanya para warga.
"Itu di sana," ucap wanita itu menunjuk Ferzo. Ya saat itu Ferzo memang sedang memegang dompet itu. Mereka pun berlari ke arah Ferzo dan langsung mengepungnya. Wanita itu langsung mengambil dompetnya, dan Ferzo pun di hajar oleh beberapa orang warga hingga sekarat. Mereka memukulinya beramai-ramai dengan sadis dan tidak membiarkan Ferzo untuk menjelaskannya, tapi itu sudah terlambat karena mereka main hakim sendiri. Ferzo mencoba menghalangi kepalanya dari pukulan mereka, tapi mereka lebih kuat dan banyak, mereka menarik tangan Ferzo dan meninjunya dengan kuat, menendangnya lalu menginjaknya.
Luka di tubuhnya sangat parah, hidung yang di tinju Yun tadi dan ia mendapatkan lagi lebih parah, darah segar keluar dari hidung dan mulutnya. Kaki, tangan dan seluruh tubuhnya lebam, tangannya patah di injak-injak oleh warga tadi. Saat ini dirinya sungguh tak berdaya lagi. Mereka pun pergi meninggalkan Ferzo yang sudah sekarat itu.
Penglihatan Ferzo menjadi kunang-kunang, ia tak bisa melihat dengan jelas, rasa sakit di mata dan tubuhnya rasanya tak terasa lagi, tubuhnya lemas dan rasanya ia akan mati. Ia menatap langit dengan tatapan sendu dan air mata mengalir dari ujung matanya. Ia menarik nafas berat dan itu hanya tinggal satu tarikkan nafas saja lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Djudjun Djuarma
Thorrr,, sebaiknya Ferzo dimatiin saja daripada disiksa melulu,,? biar ceritanya cepat tamatnya,,, 😭😭😭
2025-02-01
0
Zainal Abidin91
biasanya kalo MC udah kyak gini kehidupan'nya, kedepan'nya mungkin bkalan naif alur'nya
2025-03-18
0
Singgih Sunaryo
nanti lama2 kau thor yang gw injak2 gw habisin kamu
2024-12-12
0