"Apa tidak ada persyaratan yang lain? Ayah dan orang tuanya Nadia bersahabat baik, Itu sama saja ayah merusak persahabatan yang kami bangun selama bertahun-tahun. Ayah harus bicara apa sama mereka jika rencana ini dibatalkan?"
"Ya sudah jika ayah tak mau, tidak masalah untukku aku juga tak berniat untuk pulang.Lagian juga aku sudah merasa nyaman tinggal di sini"
Setelah mendengarkan ucapan Radit. pak Rijal terdiam memikirkan ucapan sang putra yang sangat beliau kenal, bahwa betapa keras kepalnya sang putra tersebut. Akhirnya beliau bersuara"Baiklah ayah akan menyetujui permintaanmu nak. ayah akan mengatur pertemuan dengan mereka untuk membicarakan pembatalan pernikahan kalian. Asalkan kau segera kembali"
Mendengar persetujuan dari ayahnya membuat Radit tersenyum bahagia" Baik ayah aku akan segera kembali"
" Tapi kau juga harus ikut untuk menemui Nadia. Dan meminta maaf padanya karena membuatnya menuggu sampai selama ini. Ayah harap kau bisa mengerti maksud ayah"
"Baiklah. ayah atur saja aku akan mengikutinya" ucap Radit menyetujui permintaan ayahnya.
"Ingat sebelum acaranya di batalkan kau tak boleh berhubung dengan wanita lain. Untuk menghargai perasaan Nadia. Agar ia tak terlalu terluka" Ucap pak Rijal
"Ya sudah aku tutup dulu telponnya. Salam untuk mama, aku juga sangat merindukannya"
" Papa harap esok lusa kau suda berada di sini" Ucap pak Rijal sambil mematikan telpon.
Setelah panggilannya terputus Radit sangat bahagia tersenyum penuh kelegaan. Meski dia harus kembali ke kotanya. Tapi dia berhasil merayu sang ayah untuk membatalkan acara pernikahan. Yah, walaupun dengan sedikit ancaman.
"Aku berharap setelah sampai di sana kita bisa bertemu kembali" ucap Radit hanya bisa berharap semoga cinta Adira masih tetap untuknya. Karena ia memikirkan Adira sudah di miliki pria lain membuatnya sangat cemburu.
Perlahan ia bangkit berjalan menuju kamar mandi agar bisa membersihkan dirinya dan mendinginkan otak yang hanya berpikir tentang Adira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
saat ini Adira berada dirumahnya, Sedang mendapatkan kunjungan dari mamanya secara mendadak yang datang secara tiba-tiba tanpa memberikan kabar terlebih dahulu.
Meskipun sakit hati dan kecewa atas penghianatan yang dilakukan suaminya. Namun ia tetap tersenyum ceria seperti biasa. ia tak mau membuat mamanya kepikiran dengan rumah tangganya agar tak mengganggu kesehatan sang mama.
Ting Tong....
Pintu di buka oleh Adira setelah mendengar Bel rumah yang berbunyi. Betapa terkejutnya Adira karena melihat perempuan paruh baya yang berdiri di hadapannya.
"Mama" Suara terkejut campur bahagia karena dikunjungi oleh mamanya.
Dengan wajah bahagianya ia segara mendekat dan memeluk sang mama
"ma aku kangen" ucap Adira sambil mendekap erat tubuh mama Anita.
"Mama juga sangat merindukan putri mama yang cantik ini" Membalas pelukan sang putri tak kalah erat
"Papa nggak ikut?" Tanya Adira karena tak melihat pria yang merupakan cinta pertamanya itu.
"Papa lagi kerja. Jadi, mama di antar sopir datang ke sini" jawab sang mama sambil mengelus punggung putri tercintanya dan melepaskan kan pelukannya dari sang putri.
"Padahal rencananya, siang nanti aku mau ke rumah mama. Padahal mama udah kesini" Ucap Adira dengan tersenyum senang
"Kamu mau ke sana sama Aditia?" Tanya mama Anita bukan tanpa alasan bertanya seperti itu. hanya takut terjadi sesuatu seperti empat tahun silam pada putrinya.
"nggak rencananya aku sendiri yang mau pergi. tapi udang nggak jadi soalnya mama udah disini"
"Usahakan kali mau ke rumah mama diantar sama suamimu. Jangan pergi sendiri" Ucap mama Anita Memperingati putrinya.
"Mama ini pikir aku nggak bisa nyetir sendiri apa?" Sambil mengerucutkan bibirnya.
"Bukan begitu sayang mama hanya takut terjadi sesuatu pada dirimu" Menyampaikan ketakutan pada putrinya
"Tenang aja aku bisa jaga diri. Apa mama Masi mengingat kejadian empat tahun lalu? Adira kecelakaan itu suda takdir yang di tetapkan dari sang pencipta. Mungkin bentuk teguran untuk Adira agar lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Jadi mama jangan lagi mengingat kejadian itu" Tutur Adira pada mama Anita.
"Mama hanya takut sayang"
"Ia Adira mengerti ma" Berusaha mengerti kecemasan sang mama
Mama Anita hanya takut kehilangan putri semata wayangnya. Mungkin benar hidup dan mati semua itu adalah ketentuan Tuhan. hanya saja, ia tak sanggup melupakan kejadian naas sang putri yang hampir meninggalkan dirinya. hingga meninggalkan trauma untuk dirinya dan suaminya. Bagaimana ia menyaksikan perjuangan untuk hidup putrinya dengan melewati 6 bulan terbaring koma dirumah sakit dengan disaksikan matanya sendiri. sampai-sampai ia harus membawa sang putri keluar negeri untuk mendapatkan pengobatan yang terbaik. Jadi Tidak semudah itu juga untuk bisa melupakannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Rhayati Yati
mendingan pisah Nadia ,biar suaminya nyesel wanita baik di dia sisain ,kasian dan balik lg aja sama raditiya
2023-03-19
2