Bab 19

Sarah kembali duduk di ujung ranjang, seolah tidak mempedulikan yang dilakukan oleh David. Saat itu dia berpura-pura merapikan selimut, David masuk ke kamar lalu menyimpan ponselnya di laci, saat itu dia tidak ingin di ganggu boleh siapapun, Lagi-lagi segala pekerjaan diserahkan ke punggung Gani, termasuk persoalan Aleta.

"Tuan tidak kembali ke kantor?"

David menoleh dengan wajah kebingungan, "Kau tidak senang aku pulang? kau tidak senang aku ada disini?"

Sarah langsung mengelak, bukan karena tidak senang, hanya saja dia tidak ingin merepotkan David terlalu banyak. Meskipun ia tahu, yang dilakukan David hanya semata menjaga bayinya.

"Aku bisa menjaga diri, Tuan. Jangan mengabaikan pekerjaan Tuan," sahut Sarah.

David mengangguk-angguk, dia menghempaskan tubuhnya di sofa, memandangi perut Sarah. Selang beberapa menit dia memandang perut yang masih rata itu, David beranjak mendekati Sarah.

"Kau masih merasa tidak enak denganku?" tanyanya.

Sarah hanya memberikan jawaban lewat anggukan, wajah polosnya terlihat tertekan, belum usai ia melepaskan ketakutannya dari Pak Salim, datanglah lagi Aleta menyerangnya dengan berbagai cerita tentang Mami Greta.

Memahami ketakutan Satah, David tahu diri bahwa penyebab semua yang dirasakan Satah karena ulahnya dan keluarganya, Sarah sungguh jadi korban, masa depan seorang gadis hancur karena ulahnya.

"Sarah, kamu tatap mataku," pinta David.

Mata yang tidak terlalu sipit itu dipandangioelg Sarah, di batin Sarah sangat memuji ketampanan majikan yang telah menjadi suaminya itu.

"Apakah aku masih jahat sama kamu? Apakah aku terlihat akan menjahati kamu dan bayi ini?"

"Tidak Tuan, aku hanya tidak ingin merepotkan Tuan," jawab Sarah.

David menarik nafas panjang,

"Itu bukan merepotkan Sarah, aku membaca artikel seharian, jika istri sedang hamil, suami harus siaga, suami yang harus berperan penting pertumbuhan bayi dan mental istri."

"Tapi Tuan, kita hanya..." Sarah takut melanjutkan kalimatnya.

David tersadar bahwa pernikahan mereka memang hanya didasari perjanjian di atas kontrak, dimana semua harus berjalan sesuai isi didalam kontrak itu.

"Ikuti saja aturanku dulu, kita harus dapat bekerjasama demi anak ini, setelah itu, aku bebaskan kamu kembali ke kehidupan mu, saat ini ikutlah aturan mainku," ujarnya dengan intonasi tegas.

Sarah menyendukan mata, bukan karena sedih dengar aturan kebijakan David, tetapi Sarah sangat yakin, bagaimana beruntung anaknya kelak memiliki Ayah sehebat David, pria yang memiliki sikap tanggungjawab.

"Kau tidak menyukai itu? oke baik, kau bisa keberatan sedikit, tapi hanya sedikit," kata David. Dia tidak ingin mengusik jiwa istrinya di tengah kehamilan Sarah.

"Aku tidak keberatan, aku akan menurut saja, Tuan.."

David tersenyum puas mendengar jawaban Sarah, nalurinya sebagai lelaki sangat dihargai jika Sarah menurutinya sebagai suami. David meminta Sarah duduk di pangkuannya.

"Naiklah disini, aku akan memanjakan kamu," pinta David seraya menepuk-nepuk pahanya.

Sarah yang masih kaku enggan menuruti permintaan David, namun pria itu malah menarik tubuhnya hingga Sarah duduk di pangkuannya, melingkarkan tangan dipinggang Sarah.

"Kita sudah sepakat untuk melakukan peran sebagai suami-istri selama kontrak kita, jadi jangan bersikap canggung sayang..." bisik David

Suara bisikan David menggelikan telinga Sarah, sangat jelas hembusan nafas pria itu memulai dikuasai oleh nafsunya, ketika berdekatan dengan Sarah, naluri kejantanannya menggebu-gebu, kecocokan kemistri diantara suami istri itu.

"Tuan.. aku boleh bertanya sesuatu?" Entah mengapa Sarah tiba-tiba kelepasan ingin menanyakan sesuatu yang ingin ketahui.

David menyandarkan kepalanya di dada Sarah, "Tentu boleh sayang," sahutnya bermanja-manja.

Sarah menahan senyum gelinya, bukan tidak nyaman, tetapi baginya itu seperti mimpi, majikan yang selama ini hanya menyuruhnya membuat kopi kini memangkunya sebagai seorang suami.

"Apa yang ingin kau katakan? Bilang.."

"Hmm, apakah Tuan akan mencarikan Ibu baru anak ini setelah lahir?" tanya Sarah yang memang ingin tahu rencana David selanjutnya.

David mengerutkan alisnya, dia menebak Sarah sedang dalam fase perasaan yang sensitif sebagai seorang wanita hamil, Sarah tentu memiliki kecemburuan jika anaknya nanti dirawat oleh perempuan lain.

"Jujurlah, kau cemburu?" tanya David menggoda.

Sarah mengelak, " Tidak Tuan, saya hanya bertanya," jawabnya.

David yang ingin menjahili Sarah berkata, "Mungkin saja, aku tidak akan selamanya sendiri."

Raut wajah Sarah seketika berubah muram, dia tidak dapat membohongi hatinya jika memang dia cemburu, rasa cemburu itu double karena akan kehilangan suami sekaligus anak. David memandangi wajah Staah, dia tersenyum kecil karena melihat reaksi istrinya.

"Kalau begitu buatlah kenangan indah, jangan jadikan itu nyata, rawatlah bayi kita selama dia masih di dalam perut," ucap David.

"Baik, Tuan." Hanya itu yang dapat Safah sahutkan.

Dia turun dari pangkuan David karena merasa tidak nyaman, pikirannya tiba-tiba terlintas dengan sosok wanita yang menelpon David.

"Kenapa kamu turun? Sini, dekat lagi, sini," David memaksa lagi.

Sarah enggan, dia malah membaringkan tubuhnya di sofa, membenamkan wajahnya dengan bantal. David berusaha melepas bantal itu, tetapi Sarah begitu kuat memegangnya.

"Kamu kenapa? Hei," tanya David.

"Aku ingin tidur, Tuan.."

"Jangan dulu, aku ingin banyak bercerita sama kamu," David memaksanya untuk bangun.

Sarah pun menyerah, ia membangunkan diri dengan mata yang sudah sembab. David tertegun melihat Sarah sudahem menangis.

"Lupakan perbincangan tadi, kita nikmati saat-saat ini saja," punya David.

David juga sulit menerka dan merencanakan masa depannya, di hati kecilnya, kelak dia tidak ingin memisahkan Sarah dengan anaknya, tapi di sisi lain, dia sulit membedakan perasaan empatinya terhadap Sarah. David takut jika tetap bersama Sarah, suatusaat dia malah akan menyakiti Sarah dengan tingkah lakunya.

"Aku tahu perasaan cemas kami, tapi aku bersumpah, aku akan jadi Ayah yang terbaik untuk anak ini," ucap David yang sudah berkali-kali mengucapkan janji itu.

Tiba-tiba suara ketuakn pintu terdengar memanggilnya, itu salah satu bodyguardnya yang menjaga diri luar. David kembali memakai piyama kimononya.

"Ada apa? riuh banget," tanya David yang menampakkan diri dibalik pintu.

"Maaf, Bos. Pak Gani tadi nelpon, dari tadi doa menelpon Bos, tapi nomor bos tidak aktif, Nona Aleta histeris ingin bunuh diri katanya."

David Terkaget-kaget mendengar reaksi Kakaknya atas kasus perselingkuhan Erick. Sarah yang mendengar itu ikut bersedih, ingin rasanya Sarah menenangkan Aleta, tetapi ia yakin , Aleta akan menolaknya.

"Kamu tetaplah disini, akan ada orang-orang yang menjagamu, aku ingin menemui Kakakku," kata David.

Usai berganti baju, David melancong ke tempat yanig dimaksud oleh Gani. Dabid khawatir jika mental Kakaknya kacau karena ulah Erick. Bumi lagi reaksi kedua orangtuanya jika mengetahui hal itu, malu dan sangat terpukul bagi keluarganya. David pun juga semakin takut jika pernikahannya di ketahui oleh Maminya, tetapi reaksi itu malah akan membawa tanggapan buruk.

"Sial, aku harus bagaimana dengan Sarah, jika Kak Aleta saja sedang seperti ini," gumamnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!