Bab 18

Aleta tidak melepaskan pandangannya dari Sarah, mantan pembantunya itu hanya bisa tertunduk sembari memilin jemarinya. Sementara ponsel Sarah berdering terus karena panggilan dari David, pria itu takut jika Aleta sampai membuat Sarah tertekan.

"Apakah itu dari David?" tanya Aleta.

Sarah menganggukkan kepalanya, dia tidak berani menatap Aleta.

"Adikku terlalu takut jika aku sampai melakukan tindakan mencelakai mu," Ketus Aleta.

Sarah terkejut, bukan takut, hanya saja ia tidak bersiap jika Aleta sampai memintanya untuk menjauh dari David. Cukup lama Aleta juga terdiam, dia merasa ada sesuatu yang tudak enak akan terjadi kepadanya, dipikirannya terus-menerus memikirkan Erick, sesekali Aleta mengecek ponselnya, belum ada pesan Erick yang masuk.

"Kamu kemana, sih Rick?" Gumamnya.

Aleta kembali berfokus kepada Sarah, "Mamiku belum tahu hal ini, jika ia tahu, kau harus lebih banyak bersabar karena akan terus menangis mendengar perkataannya."

Sarah tak bergeming, dia cukup tahu selera Mami Greta perihal standar calon menantu, Sarah menyadari, dia akan memberikan skandal bagi silsilah keluarga Pak Salim, keluarga yang sangat memiliki pandangan kualitas tinggi irmata orang-orang disekitarnya.

"Kenapa kau nekat? Kenapa kau diam-diam menikah? Setidaknya kau harus mengakui kesalahan mu di depan keluargaku, tidak bersembunyi seperti seorang wanita yang tidak diajarkan etika oleh orangtuanya," Ujar Aleta. Dia marah terhadap Sarah karena David dan Sarah menikah tanpa melibatkan keluarga.

"Maafkan saya, Nona. Ini di luar kendali saya," sahut Sarah.

Aleta tidak dapat menghilangkan kekesalannya, namun terdengar suara mobil David tiba, Aleta tahu adiknya itu berusaha untuk melindungi Sarah.

"Kakak sudah ada disini, apa yang telah terjadi?" tanya David kepada Kakaknya dan Sarah.

"Tidak terjadi apa-apa, aku belum melakukan sesuatu kepada istrimu," sahut Sarah dengan wajah juteknya.

David tidak ingin terlalu mengekang Kakaknya dengan ketidaksukaan Aleta terhadap Sarah, David justru merasa iba, karena Kakaknya akan gagal menikah.

"Sampai kapan kalian bersembunyi terus? David, Mami bisa shock berat karena tahu ini, kamu tahu 'kan resikonya jika Mami sampai shock?"

David melirik ke Sarah, ia pikir tidak perlu Sarah mendengar perdebatan kecil itu, diapun meminta Sarah ke kamarnya. Baginya, pernikahan sementara itu tidak boleh menyakiti mentao Sarah hingga berimbas ke anak dalam kandungannya.

"Sarah harus mendengar juga," protes Aleta.

"Tidak perlu, Kak. Ini bukan kesalahan Sarah, i u kesalahan ki, dia harus aku lindungi, masuklah ke kamar Sarah," titah David.

Sarah berjalan cepat masuk ke kamarnya, terdengar dari luar perdebatan Aleta dengan David, Kakak beradik itu sedang mencari solusi, bagaimana memberitahu Mami mereka tentang pernikahan David.

"Tapi aku pikir seharusnya lebih dulu memikirkan aku, ada yang lebih harus Kita selesaikan, tepatnya Kak Aleta sendiri, ini tentang Erick," ujar David.

"Maksud kamu? pernikahan Kaka itu gampang, akan membawa kebahagiaan, tapi aku harus bertemu dengan Erick dulu, aku harus mengunju. kantornya," kata Aleta yang belum mengetahui ulah calon suaminya itu.

"Berhenti, Kak. Lupakan dia, Erick pria brengsek, lupakan dia, dan batalkan semuanya," pinta David.

Aleta terkejut, adiknya itu berkat dengan serius.

"Maksud kamu apa sih? urus urusan mu, jangan membuat Kakak bimbang, aku mau pulang," ketua Alea, dia keberatan jika ada yang mencerca calon suaminya.

"Erick berselingkuh dengan wanita lain,sekarang dia ada di kantor polisi, aku yang memergokinya langsung," ucap David dengan suara pelan. Dia sangat menghargai Kakaknya.

Aleta menggelengkan kepalanya, semua ucapan David baginya adalah kebenaran, tetapi saat ini Aleta sulit mempercayai adiknya itu. Melihat reaksi kakaknya, Gani diperintahkan untuk mengantar Aleta ke kantor polisi.

"Aku akan membuktikan itu, jika Erick tidak bersalah," ucapan Aleta yang masih percaya jika Erick tetap setia terhadapnya.

Setelah Aleta dan Gani pergi, David menghampiri Sarah di dalam kamar, dia mendapati Sarah sedang diam-diam menangis di ujung ranjang. David paling tidak tega melihat perempuan menangis, dia tahu, selain Sarah yang menangis, setelah bertemu Erick, Aleta juga akan banjir air mata mengetahui kelakuan Erick sebenarnya.

"Aku minta maaf karena perkataan Kak Aleta," ucapnya.

"Tidak Tuan, seharusnya ini yang aku dapatkan, aku juga salah karena ikut menyembunyikan ini," sahut Sarah. Dia tidak ingin David menanggung segalanya, selama menjadi istri David, disitulah Sarah ingin menanggung resiko bersama David.

"Kita memang nikah kontrak, tapi seharusnya memang orang tua mengetahui pernikahan kita, begini saja, jadikan ini rahasia, maksud aku kontrak kita, kita hanya perlu menampakkan odor di depan Mamiku dan keluargaku sebagai suami istri," jelas David.

Sarah hanya mengangguk, sipa tidak siap itulah solusi terbaik, lagipula ia percaya David akan membelanya jika kondisi diluar dugaan mereka.

"Aku ingin mandi dulu, setelah itu makan," kata David.

Ketika ia hendak ke kamar mandi, telepon genggamnya berdering, David melihat ada nomor baru masuk dengan foto Fanny. Karena tidak memiliki waktu untuk melayani Fanny, David mengabaikan ponselnya. Ketika David sedang mandi, ponselnya tetap berdering, Sarah yang penasaran beranjak melihatnya, telepon dari wanita dengan kontak baru tidak berhenti menelpon.

"Sepertinya foto wanita ini tidak asing, tapi aku hati melihatnya dengan jelas," gumam Sarah.

Terdengar suara pintu akan terbuka, Sarah segera kembali ke! tempat duduknya, seolah tidak mengetahui apapun, sementara David kembali mengecek ponselnya.

"Aku keluar dulu sebentar, tunggu aku," kata David dengan menggunakan handuk, dia keluar kamar untuk menjawab telepon Fanny.

Sarah terdiam di ujung ranjang melihat kelakuan David, dia telah berpikir bahwa David memang masih mencintai mantan kekasihnya itu. Sementara David berniat menjauh agara Sarah tifak mendengar percakapan antara dirinya dengan Fanny. David merasa tidak perlu Sarah mengetahui tentang Fanny, lagipula tak ada niatan lagi David untuk kembali kepada istri Samuele itu.

"Apa sih? Aku sedang ingin makan bersama istriku," tanya David kesal.

"Dav, aku hanya butuh kamu sekarang, kita ketemu ya, kita makan bareng," pinta Fanny.

"Hei, kita sudah memiliki pasangan masing-masing, aku pikir kamu juga banyak teman untuk mendengar curhatan kamu, kita tidak boleh berhubungan lagi, ingat itu!"

"Dav, David. please.."

Tut.. tut.. tut.. Panggilannya dimatikan oleh David, nomornya pun kembali diblokir. Fanny mengumpat, dia membanting barang-barangnya ke lantai. Dia pikir, David sulit untuk bangkit darinya, tetapi ternyata dirinya yang sulit bangkit dari David.

"Secepat itu kamu melupakan masa-masa indah kita, siapa wanita yang merebutmu dariku?!"

Fanny tidak akan tinnggal diam, dia akan bertekad untuk mencarinya tahu, dan mendekati Dabid lagi. Dia sudah berakhir menjalani rumah tangga dengan Samuele. Fanny beranjak keluar dari kamarnya, dia melewati pembantu yang saat itu menyiapkan makan siang.

"Nyonya mau kemana?" tanyanya.

"Jangan bilang sama Bapak jika aku pergi, tutup mulut lah!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!