Tidak lama berselang, mobil Aleta juga memasuki halaman kantor David, saat itulah Gani masih berdiri melihat kepergian Fanny, pria bertubuh jangkung itu terkejut dengan kedatangan kakak dari bosnya. Aleta keluar dari mobil dengan kacamata hitamnya, dia berjalan ke arah Gani dengan tersenyum miring. Aleta kesal karena Gani berusaha menutupi perbuatan David dari keluarga besarnya.
"Aku datang lagi, membawa kecewa karena kau telah berbohong kepada kami," ucap Aleta.
"Maafkan saya, Nona. Saya hanya mengikuti perintah bos David. "
Aleta berdehem, dia berlalu meninggalkan Gani tanpa mengucapkan kata lagi. Dia menuju ke ruangan kebesaran adiknya, David. Tanpa mengetuk pintu, Aleta membukanta mengejutkan David.
"Kak Aleta," ucap David.
Aleta mausk ke ruangan David sembari melihat kanan-kiri, dia berharap adiknya itu sedang tidak menyembunyikan Sarah di kantornya.
"Kau kaget Kakak datang kemari?" tanyanya.
David menggelengkan kepalanya, dia bepikir, apakah Aleta sempat bertemu dengan Fanny dibawah, batinnya.
"Dimana Sarah kau sembunyikan? oh, maksudku istri kamu?" tanya Aleta.
Deg!
David tersentak, dia kelabakan untuk menjawab, ini sungguh kejutan baginya. David belum mempersiapkan jawaban untuk menjelaskan kepada Kakaknya itu.
"Kau benar-benar nekat! Mami akan jantungan jika tahu kelakuan mu!"
"Aku yang salah, Vivi adalah korban, aku akan jelaskan ke Mami, tapi bukan sekarang, aku akan menunggu waktu yang tepat," kata David.
"Pertemukan aku dengan Sarah, dimana dia?"
"Jangan, Kak. Dia sedang hamil, sekarang dia menjadi tanggungjawab ku, Kakak dan Mami tidak berhak memarahinya," ucap David bernada tegas.
Aleta memahami maksud dari David, tapi tetap saja kelakuan adiknya tidak menghargai mereka sebagai keluarga. Aleta duduk di sofa, menenangkan hatinya, David tahu Kakaknya itu kecewa, namun dia juga tidak akan membiarkan keluarganya memaki Sarah.
"Aku tahu di posisi perempuan, pertemukan aku dengan Sarah."
Aleta berjanji kepada David bahwa dia tidak akan berkata buruk terhadap Sarah, David pun mengiyakan itu, dia meminta Gani untuk mengantarkan Aleta ke rumah tempat tinggal Sarah.
Di perjalanan, Aleta juga tidak berhenti menghubungi tunangannya, tetapi tunangannya itu malah tak menjawab teleponnya, pesannya pun hanya dibaca, tak dibalas oleh Erick. Karena kesal, Aleta mengirim pesan audio kepada Erick.
"Kok kamu hanya read doang, angkat please, aku mau tanyakan tentang bentuk undangan pernikahan kita yang kamu suka," pesan Aleta di pesan audionya.
Namun setelah mengirimkan pesan itu, Erick malah mematikan ponselnya, nomornya sudah berada di luar jangkauan. Aleta berdecak kesal, dia membanting ponselnya di jok mobil. Sejak kemarin Erick sulit dihubungi, Aleta bahkna bingung memilih perlengkapan pernikahan mereka jika seorang diri.
Di jok depan, ada Gani yang mengemudi, dia melirik ke Aleta di kaca spion tengah, Gani hanya menghela nafas sembari menggelengkan kepalanya.
"Kita sudah sampai, Nona.." Ucap Gani memberhentikan mobilnya tepat dikontrakan Sarah.
"Kamu pergi antarkan ke hotel ini, serahkan denah yang aku inginkan, aku lelah jika harus menempuh perjalanan jauh lagi," pintanya ke Gani.
Aleta juga malu bila harus datang ke hotel itu seorang diri, biasanya calon sepasang pengantin yang ikut datang meninjau persiapan pernikahannya, tapi Erick malah sibuk dengan urusannya, tak memberi kesempatan untuk ikut berperan di acara akad maupun resepsi nantinya.
Ketika Gani berada di persimpangan lampu merah, mobilnya berhadapan dengan mobil yang pengemudinya seorang yang tidak asing baginya. Pria itu bersama seorang wanita, mereka bermesraan di dalam mobil, tetapi setelah lampu hijau menyala, mobil itu kembali melaju, Gani memutar arah untuk mengikuti pria dan wanita itu.
Mobil itu berhenti di hotel mewah, Gani masih memperhatikan gerak-gerik pria dan wanita itu, setelah keluar dari mobil, mereka berdua masuk ke dalam hotel, Gani yang penasaran memilih turun untuk menelusurinya.
"Pria dan wanita itu cek in disini?" tanya Gani ke resepsionis.
"Kami menjaga privasi tamu kami," jawab wanita itu.
Gani sudah mengetahui maksud dari jawaban wanita itu, dia keluar tanpa membawa bukti.
"Sial, aku gak bisa mengambil bukti jika tidak memergoki mereka langsung," karena sudah buntu, Gani terpaksa menelpon David. Ia menceritakan kejadian yang ia lihat, dia mengirimkan nama hotel yang memang milik dari teman David itu.
"Bongkar sekarang juga, tunggu aku disana," kata David. Dia mengepalkan tangan mendengar penuturan Gani.
Tidak lama berselang, David datang bersama pengawalnya, Gani saat itu telah memegang kunci kamar pria itu.
"Buka sekarang," kata David kepada pelayan hotel.
Disaat pintu itu terbuka, David berjalan menelusuri kamar hotel dengan luapan emosi yang terlampiaskan. David dan Gani mendapati pria dan wanita itu sedang bermesraan tanpa mengenakan pakaian.
"Brengsek! Sini Lo!" David yang sendiri turun tangan menarik pria itu lalu menonjoknya.
"Kakak gue lo khianati dengan cara seperti ini! Sialan!"..
Dug!
David memukuli Erick berulang kali, bahkan wajah Erick saat itu sudah berdarah-darah karena pukulan keras David.
" Pukul! pukul terus, Lo pikir dengan membunuh gei, Kakak lo gak bakalan sakit hati?!" Tanya Erick yang malag menantang.
"Setidaknya sakit hati Kakak gue sementara, Lo gue bakalan bikin cacat seumur hidup!"
Dug!
David menendang brutal Erick, Gani mencoba melerai, dia tidak ingin Erick terbunuh hanay karena kemarahan David.
"Sudah, Bos. Kita penjarakan saja, ini akan merugikan kita, Aleta, dan nama baik keluarga," kata Gani.
David mengendalikan emosinya, dia menyuruh anak buahnya untuk menangani Erick. Gani membawa David keluar dari hotel itu, dia dalam mobil David tak henti mengumpat Erick yang brengsek.
"Aku tidak tahu harus menjelaskan seperti apa kepada Kakakku," ucap David. Dia tidak dapat membayangkan betapa hancurnya hati Aleta, betapa kecewa keluarganya karena ulah Erick.
"Perlahan saja, Bos. Kita tahu Aleta akan sedih, tetapi lebih baik Non Aleta tahu lebih dulu, daripada mereka nanti terlanjur menikah."
David yakin, kedua orangtuanya akan berkali-kali lipat malu karena ulah mereka berdua, dia dan Aleta akan menjadi penyebab keumdua orangtuanya kecewa. Gani membawa David ke kontrakan Sarah.
***
Sarah tak henti mual-mual, mengeluarkan makanan yang ia makan, tetapi setelah itu, ia memaksa diri lagi untuk menelan sesuatu agar bayinya tetap ter nutrisi. Di pikirannya terbayang-bayang dengan pesan dari mantan kekasih David, sungguh mengusik jiwanya, kecemburuan itu menyusup tanpa diinginkan.
"Aku harus melahirkan kamu secara sehat dan tidak boleh kekurangan apapun," ucapnya sembari mengusap perut.
Terdengar dari luar ada suara ketukan pintu, menganggap itu David yang mungkin pulang cepat, Sarah bergegas membuka pintu, betapa terkejutnya ia mendapati Aleta yang berdiri tegap dengan memandangi dirinya dengan serius.
"Non Aleta..." lirih Sarah yang mulai gemetaran.
"Bolehkah aku masuk ke rumahmu ini? tepatnya rumah adikku juga," tanya Aleta yang ingin menujukkan kekesalannya kepada Sarah.
Sarah mempersilahkan masuk, mereka duduk di sofa dengan saling berhadapan, Aleta tak melepaskan pandangan dari perut Sarah. Aleta tahu, mantan pembantunya itu telah mengandung keponakannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments