Fanny tercengang, masih banyak yang ingin ia tanyakan tetapi David malah menutup panggilan, David memblokir Fanny dari kontaknya, menutup akses mantan kekasihnya itu untuk berhubungan lagi.
Gani bertepuk tangan, "Wah, Bos. Mantap, hebat banget, bos."
"Jangan gubris dia lagi, aku mau fokus ke Sarah dan anakku," sergah David yang tak ingin membahas Fanny lagi.
Di tempat yang berbeda, Fanny membanting ponselnya di atas ranjang. Ia merasa dipermainkan oleh laki-laki, setelah David menghabiskan hari-hari dengannya, kini Samuel lagi yang menjadikannya hanya figuran di rumah. Fanny merasa tak memiliki arti sebagai perempuan.
"Soal! Sial! Brengsek!"
Fanny menghardik nama David dan Samuel, setelah lebih Melampiaskan amarahnya ke vas bunga, Fanny kembali memikirkan dengan kekasih yang David maksud.
"Secepat itu dia move on dariku, aku penasaran siapa perempuan yang sudah menarik perhatiannya."
Bukan Fanny namanya jika hanya berdiam diri, menerima penolakan, baginya apa yang inginkan harus ia miliki. Fanny malah meyakini bahwa David hanya mempermainkan kekasih barunya. Bahkan Fanny berpikir bahwa itu hanya alasan David ingin membuatnya cemburu.
"Aku tidak akan berhenti, Dav. Aku akan tetap mengejar mu meskipun kau berlari menjauh," gumam Fanny bertekad.
Dia melihat jam, masih beberapa jam lagi suaminya sedang berada di Singapura. Fanny memutuskan untuk ke kantor David. Fanny merasa sudah hilang kewarasan bila tak mendengar informasi kebenaran itu secara langsung.
Satpam di rumah Samuel saat itu diam-diam memerhatikan gelagat nyonya nya, namun Fanny datang memberikannya sejumlah uang yang lumayan banyak.
"Jangan sampai Bapak tahu saya keluar hari ini," kata Fanny.
Awalnya satpam itu menolak, tetapi karena desakan Fanny, akhirnya ia menerima uang itu, namun di dalam hatinya ia tetap ingin melaporkan kelakuan Fanny kepada Samuel.
"Awas ya kalian!"
Fanny kembali memperingati pembantu dan satpamnya, dia melakukan mobil dengan terburu-buru ke kantor David. Fanny memendam amarah, penasaran, serta kerinduan. Setidaknya jika tak dapat bertemu dengan David, ia bisa mendapatkan informasi kebenaran tentang kekasih David.
"Aku gak mau kalau kamu lepas, Dav. Aku gak mau kamu dimiliki oleh orang lain," gumam Fannysembari mengemudi.
Setiba di kantor David, resepsionis tertegun melihat kehadiran Fanny lagi di kantor bosnya. Hampir seluruh karyawan David tahu bahwa Fanny mantan kekasih bos mereka. Fanny seringkali mengunjungi David ke kantor, atau hanya sekedar makan siang.
Tatapan kesombongan Fanny tetap saja diperlakukan saat itu, "David ada?" tanyanya dengan raut dingin.
Resepsionis itu enggan menjawab, mereka juga belum menerima perintah tentang kehadiran Fanny di kantor. Tak mendapatkan jawaban, emosi David tersulut, dia menggebrak meja resepsionis.
"Kalian tuli? Aku tanya David ada gak di kantor sekarang?" tanyanya setengah membentak.
"Iya Nona, Pak David ada di ruangannya," jawab resepsionis itu.
Fanny bergegas masuk ke lift menunjuk ke ruangan David. Setengah tahun berlalu, kantor David tetap sama di mata Fanny, dia merindukan saat-saat bersama David di kantor itu. Ada beberapa pengawal yang berdiri di depan ruangan David, mereka mencegah Fanny untuk masuk ke ruangan kebesaran David.
"Maaf, Nona. Anda tidak boleh masuk ke ruangan Pak David," kata pengawal itu.
Fanny mengerutkan keningnya, dia berdecak kesal karena diperlakukan demikian.
"Aku ini teman dekatnya, kalian tahu 'kan siapa aku? Minggir, biarkan aku masuk," sergah Fanny mendorong kedua pengawal itu.
Mendengar kerusuhan di luar, Gani pamit sejenak dari David untuk mengecek keadaan. Betapa terkejutnya dia menemukan Fanny berdiri tegap di depan ruangan David.
"Hhmm ..kok, astaga .." gumam Gani terkejut.
Fanny tersenyum miring, aksi nekatnya mengejutkan semua orang, termasuk David nantinya. Fanny menghampiri Gani, asisten David itu membungkam mulut karena terkejut.
"Kau kaget? ya, begitulah namanya Fanny, apapun akan dilakukan ketika menginginkan sesuatu," ucap Fanny sembari mengibaskan rambutnya.
"Nona Fanny, saya sarankan lebih anda pulang saja, ini akan membuat Pak David marah besar, dia sedang tidak ingin di ganggu," kata Gani mewanti-wanti. Dia takut jika kehadiran Fanny mengembalikan perasaan David lagi.
Fanny menggelengkan kepalanya, pertanda tidak peduli dengan peringatan Gani.
"Aku ingin ketemu David sekarang," pinta Fanny bernada tegas. Mulai peduli dengan peringatan Gani.
"Aku ingin ketemu David sekarang," pinta Fanny bernada tegas.
Fanny tetap kekeh ingin masuk, karena tak dapat dikendalikan lagi, kedua pengawal itu memaksa Fanny untuk pergi, mereka menarik tangan Fanny dengan kasar, Gani yang melihat itu hanya tersenyum. Mendengar keributan di luar ruangannya, David keluar mengecek.
"Lepaskan! Jangan sentuh aku!" Fanny memekik.
David nampak dibalik pintu, dia terbelalak melihat Fanny digotong paksa oleh pengawalnya.
"Fanny.." Ucapnya. Suara David didengar Gani dan Fanny.
"David, tolong, bilang sama mereka untuk melepaskan aku, lihat David telah melihat kalian memperlakukan aku seperti ini!"
Gani yang kesal melipat bibir, dari dulu dia tidak menyukai Fanny yang arogan.
"Lepaskan dia," titah David.
Fanny melepas paksa tangannya dari kedua pria berbadan kekar itu. Dia berlari ke arah David dengan bernada manja.
"Dav.."
"Stop!" Saat hendak Fanny memeluknya, David menghentikan itu, ia mundur selangkah untuk menghindari Fanny yang ingin memeluknya.
"Kenapa? Aku rindu, aku kemari untuk bertemu kamu," ucap Fanny.
"Kita tidak memiliki hubungan lagi, sekarang kamu istri orang, dan aku juga memiliki istri, jangan bertingkah seperti wanita yang tidak beretika."
Fanny terkejut lagi dengan reaksi David, dia tidak habis pikir, secepat itu David memilih untuk menikahi gadis lain. Sementara dirinya mulai mengharapkan David lagi.
"Aku tidak percaya kamu sudah menikah, aku yakin kamu tidak akan bisa move on dari ku."
Gani dan pengawal David tertawa mendengar itu, mereka kebablasan menertawakan Fanny di depan David.
"Kenapa kalian tertawa? karena bos kalian ketahuan bohong?" tanya Fanny nyolot.
David malas mendengar perdebatan Fanny, itulah cerewet Fanny yang tidak ia sukai, selalu saja memandang rendah anak buahnya. David ingin kembali masuk ke ruangannya, namun Fanny tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Jangan menghindar, aku masih sayang sama kamu," ucapnya.
"Lepaskan Fanny, kita sudah lama selesai, buka mata dan lihat semuanya, keadaan sudah berbeda, kita adalah masa lalu, dan kita sedang menjalani masa depan dengan pasangan masing-masing," jelas David.
Kedua tangan Fanny yang melingkar di pinggang David dilepas paksa, David maauk kw ruangannya dengan mengunci pintu. Sementara Gani dan kedua pengawal itu memaksa Fanny keluar dari kantor.
"Fanny.. kamu harus tahu sesungguhnya, Tuan David memang sudah menikah, dia sudah sangat bahagia." Gani memberikan penjelasan, dia sengaja ingin menyakiti hati Fanny karena kesombongan Fanny ketika menjalin hubungan dengan David dulu.
Fanny tak berkata apapun, air matanya tak henti menetes, dia melahukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan kantor David yang penuh kenangan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments