Bab 15

Ia beranjak mengecek kalender, kehamilannya sudah memasuki dua bulan, sisa delapan bulan lagi dia akan mengakhiri perannya sebagai istri, namun mantan kekasih David berusaha kembali menjalin hubungan, akankah David memberi ruang lagi untuk masa lalunya? Akankah perhatian David menipis setelah di renggut oleh wanita itu? Batin Sarah.

Hormon kehamilannya mempengaruhi pola pikir Sarah, pikirannya berlebihan, ketakutannya mendominasi, dia bahkan menangis memikirkan masa depan anaknya jika di rawat oleh wanita itu. Pintu kamarnya terbuka, ada David yang sudah bangun dari tidurnya. Melihat Sarah dengan teliti di ruang TV.

"Kau menangis?" tanya David mengejutkannya.

Sarah menoleh ke David, mengenyahkan air matanya yang tadinya deras mengalir.

"Tidak, Tuan." Sarah berkelit.

David mendekat, dia mengangkat wajah Sarah lalu mengamatinya dengan seksama, terlihat jelas Sarah usai menangis.

"Kau lapar? kenapa menangis?" David paling tidak suka jika dia gagal membahagiakan seseorang.

Sarah tak bergeming, dia tidak akan mengatakan kecemburuannya terhadap wanita yang mengirim pesan kepada David. Sarah yakin kecemburuannya malah akan membuat David tidak nyaman. Sementara David melihat bekas tanda merah cinta di bagian leher Sarah.

"Kau kurang puas semalam?" tanya David frontal.

Sarah geli memasang wajah kecut, "Bukan seperti itu, Tuan .."

"Lalu? Aku bisa memperbaiki tekniknya nanti malam, tenang saja," ujar David sembari menuangkan air dari cerek di gelas.

Agar tidak memaksa mengatakan alasan sebenernya, Sarah pun mengiyakan tebakan David.

"Iya, mungkin seperti itu, Tuan .."

Seketika David  menyemburkan air dari mulutnya, ia terkejut dengan kejujuran Sarah. Baru kali ini David mendapatkan keluhan seperti itu.

"Bisakah kau jangan terlalu jujur, kejujuran seperti itu sangat melukai laki-laki," kata David.

Ia merasa sudah menjadi pria sejati, setiap tiga kali seminggu, David menyempatkan olahraga agar tubuhnya selalu bugar.

"Maafkan aku, Tuan ..tadi Tuan yang menebak sendiri."

David mendelik, Sarah tenyata tidak sepolos yang ia pikirkan.

"Jadi itu benar atau tidak? Kau sangat basah semalam, masa iya, tidak ssssh .. sudahlah lupakan, nanti ada yang mendengarnya," kilahnya.

David malah menarik tangan Sarah untuk ke kamar mandi, dia mengajak Sarah untuk berendam di bathtub bersama, David meminta Sarah agar duduk di pangkuannya, sesekali Sarah tertawa geli dengan adegan itu, bukan romantis namun terasa konyol.

"Kau tertawa lagi? Apakah ini lelucon?" tanya David yang tidak habis pikir dengan tanggapan Sarah selalu.

"Tuan seperti om-om kesepian," sahut Sarah sembari tertawa geli. Tawanya memunculkan lesung pipinya disebelah kiri, membuat David terpesona untuk kesekian kalinya.

David mengambil jurus lagi menggoda Sarah, dia memeluk erat pinggang Sarah dari belakang, sejenak mengusap anaknya yang dilapisi oleh perut Sarah.

"Kau ingin bermain disini?" tanya David berbisik menggoda.

David yang usil bergoyang di bathtub, tawa Sarah kembali menyeringai wajahnya, sesekali mereka saling menyirami wajah dengan air shower. David tertawa lepas, kebahagiaan bersama Sarah memang sederhana, namun sudah menjadi suplemen kekuatan David, pria itu tidak lagi bergantung dengan minuman dan berpesta di klub, David sudah menemukan kebahagiaan jari dirinya sendiri.

"Aku bahagia Sarah, tenyata gadis yang menyebalkan, selalu lelet membuat kopi di rumahku itu menyenangkan," tutur David. Bila mengingat masa-masanya menghardik Sarah melayaninya, David bersalah karena Sarah seringkali jadi sasaran kekesalannya. Bila mengingat masa-masanya menghardik Sarah melayaninya, David bersalah karena seringkali jadi sasaran kekesalannya.

***

David ke kantor dengan wajah sumringah, terlihat jelas kebahagiaan David begitu tulus, semua karyawannya dilemparkan senyum, tak ada yang luput, bahkan mereka kebingungan dengan sikap bosnya yang tidak seperti biasanya. Gani yang sudah memahami situasi bersiul, kebahagiaan David sama dengan kenaikan gajinya.

"Kau harus memang naik gaji, Gani." David menebak dipikiran Gani.

Asistennya itu terhenyak, "Beneran, Bos? Wah, terimakasih,  Bos."

David mengangguk-angguk, sejenak dia menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya, membayangkan Sarah di rumah sedang apa, kegiatan apa yang dilakukan bersama bayinya di dalam kandungan. David merasa ingin cepat-cepat pulang bila mengingat Sarah dan bayinya.

"Bos akan awet muda jika selalu tersenyum seperti itu," ujar Gani memuji.

"Benarkah? Iya, setiap hari mengeluarkan hormon oksitosin," ketus David.

Gani senyum-senyum penuh makna, ia tahu apa yang dimaksud oleh bos-nya.

"Hari ini ada rapat apa?"

Gani melihat schedule David, tak ada rapat penting, hanya beberapa proposal yang harus David setujui. Ketika sibuk membaca berkas-berkas itu, ada telepon dari Fanny menyusup ke ponselnya. Sesaat David mengabaikan, tetapi karena merasa terganggu, akhirnya dia menjawab juga.

"Kamu kenapa? Ada apa?" tanyanya.

Gani yang berdiri di samping David menguping.

"David, aku ganggu ya? Maaf ..aku hanya ingin kamu benar-benar maafin aku,"  ucap Fanny dibalik telepon.

David menghela nafas, ia pikir tak ada lagi urusan dengan Fanny, memaafkan atau tidak, David rasa tak ada gunanya untuk diungkit lagi. Merasa tak penting membahas itu, David hanya diam saja, tak merespon ucapan maaf dari Fanny.

"David, kamu masih dengerin aku 'kan? Dav, kau memutuskan untuk itu bukan karena benar-benar mencintai Samuel, aku di jebak Dav, aku diancam," lagi-lagi Fanny memutar balikkan fakta. Justru dialah yang menjebak Samuel hingga pria itu menghamilinya.

David yang tak mau ambil pusing mengiyakan saja, mencoba lebih menghargai wanita, sebentar lagi ia Kana menjadi seorang Ayah, entah anaknya laki-laki atau perempuan, David rasa harus mulai beritikad baik agar anaknya dapat mencontohnya kelak.

"David, aku menderita menikah dengan seorang Samuel, aku setiap hari di pukul, di Jambak, dan di hina, aku merasa tak memiliki harga diri lagi, Dav .."

Cerita Fanny malah tak membuat David berempati, menganggapnya hanya cerita novel fiksi yang tidak penting untuk diserap. David tetap saja mendengarkan sembari membaca proposal. Sementara Gani sudah menebak bahwa wanita yang menelpon David adalah Fanny, perempuan yang teramat sombong di matanya.

"Dav, aku butuh kamu, aku gak punya siapa-siapa lagi, bantu aku bercerai dengan Samuel, aku ingin lepas darinya, ' pinta Fanny penuh harap.

Kuping David sudah panas mendengarnya, dia mematikan panggilan Fanny tanpa berucap sepatah katapun. Di menit kemudian, Fanny kembali meneleponnya, berkali-kali hingga puluhan panggilan tak terjawab Fanny mengotori ponsel David.

"Ada apa sih, Fanny?" tanya David kesal.

"Kamu matiin tadi, aku belum selesai ngomongnya," sahut Fanny dengan nada manja.

David berdecak kesal, "Maaf, aku pikir tak ada gunanya meluruskan itu, kita sudah memiliki kehidupan masing-masing, pilihan kita, apa yang terjadi padamu.itu sudah pilihan hidup mu, Fan. Lagipula aku juga sudah memiliki kekasih, dan kami berdua jauh lebih bahagia sekarang," papar David. Berharap Fanny memahami itu agar tidak mengganggunya lagi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!