Samuel tiba di rumahnya, saat itu Fanny tidak sempat menyembunyikan segala yang telah ia kerjakan, termasuk menghapus pesan-pesan yang telah ia kirim ke David. Mengetahui tabiat asli dari istrinya, Samuel ingin memeriksa segala yang dikerjakan Fanny saat ia tak ada di rumah.
"Kau habis dari mana saja?" tanya Samuel.
Fanny gelagapan, "A-aku di rumah aja, Mas."
Samuel malah terkekeh mendengar jawaban istrinya, dia tak percaya itu sebab Fanny bukan istri yang betah di rumah. Fanny selalu bermain cantik di belakang suaminya, pandai menutupi sisi keliarannya. Tetapi Samuel yang tahu dunia luar dan tabiat Fanny tidak mudah percaya.
"Aku lebih percaya naga bisa jalan ketimbang mempercayai ular jujur seperti mu, kau habis dari mana?" tanya Samuel. Dia tahu kemana saja Fanny saat ia keluar kota.
Terlihat jelas Fanny sedang panik, dia selalu menganggap suaminya dapat di bodohi karena Samuel juga sibuk dengan urusan pribadinya. Fanny tidak menyangka Samuel bisa jeli mengamati tingkah lakunya secara diam-diam.
"Ingat ya, Fanny. Aku menikahi mu karena kau hanya hamil, dan ingat, jika kau sampai macam-macam, kau akan kehilangan segalanya, paham?!"
Samuel menengadahkan tangannya ke Fanny, mengisyaratkan dia sedang meminta ponsel istrinya.
"Sini HP mu dulu, aku mau lihat," pinta Samuel.
Fanny terperanjat, dia menggelengkan kepala menolak permintaan suaminya. Fanny mencari ribuan alasan untuk di ucapkan kepada Samuel.
"Ada obrolan antara teman arisan, kami ada privasi, Mas .."
Samuel mengumpat, dia tak percaya dengan alasan Fanny. Samuel membongkar seluruh isi ras istrinya, mengobrak-abrik ranjang mereka, menggeledah laci-laci di meja rias, dan lemari pakaian Fanny, dia mencari ponsel istrinya tapi tak ditemukan.
"Apa yang kau sembunyikan dariku?" tanya Samuel.
Fanny bertekuk lutut, ketakutannya menjadi adegan tangis. Ia takut jika kelakuannya menjalin komunikasi dengan David diketahui oleh suaminya. Karena lelah tak menemukan bukti, Samuel mengalah pagi itu, dia menutup pertengkaran dengan enyah dari kamar. Setelah suaminya pergi, Fanny bergegas kembali mengambil ponselnya yang ia sembunyikan dibawah lemari.
"Aku hampir mati karena benda ini," gumamnya. Segera ia memblokir nomor David. Untuk sementara itulah cara yang paling baik untuk mengamankan dirinya dari suami psikopat.
Samuel yang ada di lantai bawah menerima hasil CCTV dari halaman rumahnya, sangat jelas Fanny keluar dari rumah lewat larut malam, bahkan kembalinya Fanny saat fajar merekah. Fanny kelayapan tanpa meminta izin dari suaminya.
"Brengsek Fanny! Kau benar-benar perempuan ******!" Samuel menghardik.
Saat itu dia ingin seolah tak tahu dengan kelakuan Fanny, akan tiba saatnya Samuel mempermalukan Fannykarena kebiadabannya sebagai istri. Fanny tidak mengetahui bahwa Samuel memasang CCTV, semua itu dirahasiakan olehnya agar dapat mengetahui kelakuan istrinya.
"CCTV jangan sampai di ketahui oleh Fanny," kata Samuel.
Pria paruh baya itu kembali ke kamarnya, menemui Fanny yang sudah lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Fanny menyambut suaminya dengan sapaan mesra, di dalam hati Samuel, ingin rasanya menjambak Fanny seketika.
"Mas sudah makan?"
"Sudah, diperjalanan tadi, besok malam kota akan ke pesta kolega ku, kau harus ikut," ujar Samuel.
Tentu Fanny ingin ikut, berpesta adalah kegiatan yang ia senangi, dia akan tampil cantik dan elegan di hadapan istri-istri pengusaha ternama lainnya. Salah satu menikahi Samuel karena ingin mendapatkan pengakuan, kehormatan, serta penghargaan dari orang-orang.
"Aku ingin keluar lagi, kau tetaplah di rumah mengerti?" kata Samuel lagi. Meskipun ia tahu akan ada kelakuan istrinya yang tidak akan terlintas di CCTV. Fanny seolah menjadi istri penurut, padahal ia memiliki rencana untuk menghubungi David lagi setelah kepergian suaminya.
"Hati-hati, Mas .. Kalau sudah mau pulang, hubungi aku, akan aku siapkan air hangat dan makanan," kata Fanny Dengan mengetahui jadwal kepulangan suaminya, ada kesempatan untuk menghapus jejak ketika menelpon David.
***
Pagi-pagi Gani menelponnya, dia membangunkan David yang masih tertidur. David tetap saja tidak bangun, Sarah yang di dekap oleh David mengerjap, dia mencari keberadaan ponsel yang berdering itu. Setelah mendapatkannya, Sarah menyapa Gani.
"Sarah, bos mana? Astaga, Nona Sarah, Tuan muda udah bangun?" tanya Gani yang harus terbiasa memanggil Sarah dengan sebutan Nona.
Sarah melirik ke David, pria itu masih mendengkur, "Tuan masih tidur, Mas Gani."
"Dimana? Maksudnya kau sekarang dimana?" tanya Gani ingin mengetahui keberadaan bosnya.
"Tuan sekarang ada di dekat saya, Mas .."
Penuturan Sarah menyadarkan Gani bahwa David kelelahan semalaman usai menggasak istrinya. Gani tak ingin menganggu tidur bosnya, dia hanya berpesan kepada Sarah tentang file yang sudah dikirimkan ke email David. Sarah berjanji akan menyampaikan itu setelah David bangun dari tidurnya.
Ketika Gani mengakhiri teleponnya, Sarah tidak sengaja melihat tumpukan pesan dari nomor yang tak memiliki nama di kontak. Pesan-pesan itu tak sengaja ia baca, betapa terkejutnya Sarah saat mengetahui pesan-pesan mesra yang perempuan lain kirim ke David.
'Aku masih mencintai mu, aku minta maaf telah mengkhianati mu ..aku minta maaf karena telah mengabaikan perjuangan mu,
Aku mau kita menjalin hubungan baik lagi, Dav ..
please, jawab ya .. aku masih sayang banget ma kamu , Dav .. sampai mati aku ..'
Deg!
Jantung Sarah berdegup cepat dari biasanya, tangannya gemetar memegang ponsel David. Ada yang aneh di hatinya, ada yang luka padahal tak di lukai oleh siapapun, ada kecemburuan yang tak beralasan. Sarah sadar, ia tak berhak memiliki rasa cemburu terhadap kehidupan pribadi David, namun rasa itu tetap ada meskipun ia malu karena merasakannya.
"Aku tidak boleh menyimpan rasa apapun, aku tidak berhak atas dirinya, aku hanya istri kontrak sepuluh bulan, tugasku hanya melahirkan anaknya kaku pergi," gumam Sarah mengingat kembali sebab dinikahi oleh David.
Sarah memandangi David yang tertidur pulas, tangan David masih melingkar di perutnya. Perlahan Sarah memindahkan tangan David ke bantal, tak ingin di sentuh seperti itu, sisi keegoisan sebagai wanita mencuat, Sarah turun dari ranjang.
"Sarah, bangunlah dari mimpimu, kau harus melihat kenyataan bahwa David hanya menikahi mu dasar kontrak," ucap pada dirinya sendiri.
Sarah tak tahan bila melihat David tertidur, dia memilih keluar kamar untuk menenangkan hatinya. Meneguk air segelas sembari menepuk-nepuk dadanya, malu terhadap dirinya sendiri karena telah menghadirkan cemburu, jika David ampai tahu hal itu, pria itu tentu akan menertawakannya karena sudah terbawa perasaan.
"Mungkin saja jika aku pergi, dialah yang akan menjadi Ibu sambung dari anak ini," lirih Sarah.
Belum apa-apa, Sarah sudah digelayuti kesedihan bila membayangkan saat itu tiba, dia akan kehilangan keindahan selama sembilan bulan, tidak akan sempat merasakan menjadi seorang Ibu yang merawat anaknya.
"Apa aku sanggup pergi darimu .." Sarah mengusap perutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments