Bab 13

Pak Salim terlebih dulu pulang, David menyempatkan mengajak Sarah ke pusat perbelanjaan terdekat. Dia telah menelpon menager toko bran ternama itu untuk menyiapkan segalanya untuk Sarah

"Ayo kita masuk," ajak David.

Sarah berdiam diri di tempatnya, meskipun hanya seorang pembantu, dia cukup paham merek-merek terkenal dunia yang sering dipakai Mami Greta dan Aleta.

"Untuk apa, Tuan?" tanyanya.

"Masuk saja, sinilah cepat .." David yang tidak sabar menarik tangan Sarah.

Di dalam toko Sarah ditawarkan beberapa tas oleh sales, David hanya duduk menontonnya, sesekali Sarah melirik ke arah David karena tak ingin menerima hadiah tas itu. David  hanya menyilang kedua tangannya, tak peduli dengan bahasa isyarat Sarah.

"Nona yang memiliki ini, " kata pelayan toko itu seraya menunjukkan tas.

"Ini harganya berapa?" seperti manusia kalangan bawah lainnya, setiap belanja Sarah selalu menanyakan harga terlebih dulu.

"400 juta, Nona .."

"Ahhhpp .." Sarah terkesiap, dia menoleh lagi ke arah David.

Sarah enggan membeli tas itu, dia bergegas ke David, seketika tubuhnya meriang mendengar harga-harga tas di toko itu.

"Tuan, kita pulang saja, aku tidak enak badan .." Ucapnya.

David tak percaya itu, dia tahu sakit Sarah hanya alibi untuk tidak menerima pemberiannya. Karena Sarah mengulur-ulur waktu, David bertindak untuk membelikannya sebuah tas yang lebih mahal dari sebelumnya. Tas itu di bungkus rapi lalu ditenteng David ke arah Sarah.

"Sudah, cepat 'kan?" tanya David.

Seketika tubuh Sarah memelas, tangannya lagi-lagi di tarik oleh David untuk segera masuk ke dalam mobil.

"Kau seorang istri David, harga tidak masalah, asalkan kau menjaga baik anakku," kata David kesal.

Sarah menunduk, "Itu memang tugasku, apa ada yang harus aku lakukan selain itu, Tuan?"

David tersenyum miring dia mendekatkan wajahnya ke telinga Sarah, "Setelah di rumah akan ku beritahu .." Bisiknya.

Tubuh Sarah diraih oleh David untuk lebih dekat dengannya, laju mobil itu membelah jalan, sopirnya hanya tersenyum kecil mendengar dialog tuannya.

Di tengah perjalanan, telepon genggam David di saku jasnya bergetar, dia mengeluarkannya mengecek siapa yang memanggilnya di larut malam seperti itu.

"Fanny .." lirihnya tanpa bersuara.

Sarah melirik ke arahnya, David malah mengabaikan panggilan Fanny lalu mematikan daya ponselnya. Pikiran David terganggu dengan panggilan Fanny akhir-akhir ini, dia bahkan bingung harus menanggapi Fanny atau tidak, rasa cintanya yang tersisa ingin ia hapuskan secara perlahan. Ada Sarah dan anaknya yang butuh perhatian utamanya.

Setiba di rumah, Sarah lebih dulu masuk ke kamarnya, sementara David juga masuk ke kamar pribadinya. Dia kembali menghidupkan ponselnya. Ada banyak pesan Fanny yang menumpuk belum di baca.

"Apa sebenarnya mau perempuan ini? Dia 'kan sudah punya suami," gumam David.

Setelah David usia mencuci muka, panggilan Fanny kembali menggetarkan ponselnya, David menjawab itu tanpa bersuara. Terdengar suara Fanny menyapa sangat bahagia.

"Akhirnya kau mengangkat juga, Dav. Aku ganggu ya?"

"Ada apa? Ini sudah larut malam," sahut David judes.

Fanny memahami David sudah kehilangan simpati karena penghianatan yang dilakukan olehnya.

"Aku minta maaf, Dav. Aku sudah mendapatkan karmanya, huhuhu.." Ucap Fanny sembari menangis.

David tertegun, tangis Fanny menghadirkan rasa kasihan di hatinya, tetapi bila mengingat cara Fanny mengkhianatinya, kebencian David kembali mencuat.

"Hanya itu yang kau katakan? Sudahlah, aku ingin tidur,"  sergah David memutuskan panggilan Fanny. Dia tak ingin di ganggu oleh tangisan-tangisan penyesalan Fanny.

Setelah membersihkan badan, David memakai piyama model kimono, memakai parfum beraroma sensual, kali ini dia akan mengatakan permintaannya yang akan ia ucapkan tadi ketika di dalam mobil.

David memutar kenop pintu kamar Sarah, dia kesal karena Sarah mengunci pintu kamarnya, seolah dia tidak ingin di ganggu oleh siapapun, termasuk David.

"Apa-apaan sih, ngunci pintu," gerutu David kesal.

Dia mengetuk-ngetuk pintu itu, dibaliknya ada Sarah sedang melilitkan selimut ditubuhnya, saat itu Sarah tergesa-gesa membukakan pintu David karena tak ingin tuan mudanya marah, Sarah yang baru saja menyegarkan badannya tak sempat memakai baju.

David tersenyum penuh makna melihat Sarah, "Kau menggodaku?" tanyanya.

Sarah mengerutkan alis, gagal paham dengan kalimat tanya David.

David menerobos masuk kedalam, mengunci pintu itu. Dengan vulgarnya David melepaskan pengikat kimononya. Tubuhnya yang atletis polos, memperlihatkan sisi kejantanannya. Mata Sarah terbelalak, dia membalikkan badannya dari David.

"Tuan ..jangan mesum," Ucapnya geli.

"Hah? Mesum? Ini bukan mesum, ini lakon suami-istri," David menempelkan kejantanannya di bokong Sarah menggoda Sarah yang teramat malu.

"Aku sudah bilang tadi, akan ku ucapkan permintaanku," bisik David sengaja menghembuskan nafas birahinya di telinga Sarah.

Sebagai wanita normal, birahi Sarah juga ikut bangkit, kecupan hangat David menjelajah di di punggungnya.

"Aku ingin kau menjadi istri sempurna, layani aku .." Pinta David.

Sarah mengangguk, dia membalikkan badan menghadap ke David. Sesaat keduanya saling berpandangan, David menyeka rambut Sarah, di detik kemudian kedua mulut itu menempel. Tubuh Sarah diangkat ke atas ranjang, David yang haus birahi sangat bringas menjilat seluruh tubuh Sarah.

"Tuan .."" Lirih Sarah yang mencengkram erat seprei.

Mendengar ******* Sarah, David kian semangat, ingin memuaskan Sarah terlebih dulu.

****

Pak Salim tiba di rumah, istrinya menunggunya di rumah tamu, raut wajah Mami Greta murung, dia mengkhawatirkan putra bungsunya, David.

"Papi dari mana?"

"Dari ketemu David, dia sibuk sekarang, tai nitip salam buat Mami," sahut Pak Salim yang belum mau menjelaskan perihal yang terjadi kepada istrinya.

"Beneran? Lah kok nitip salam doang, emang David gak rindu ma Maminya, anak itu."

Pak Salim enggan menanggapi, dia sedikit menjauh dari istrinya tidak di jajal lagi pertanyaan. Aleta saat itu ikut nimbrung, dia mengamati wajah Papinya, setelah Mami Greta enyah dari ruang tamu, Aleta menghampiri Pak Salim.

"Papi sudah tahu yang terjadi dengan David?" tanya Aleta menjebak Papinya. Dia ingin mengetahui apa yang telah Papinya ketahui.

Pak Salim terperanjat, dia melihat di sekelilingnya, berharap tak ada yang menguping pembicaraan mereka. Aleta semakin yakin tingkah laku Papinya sedang menyembunyikan sesuatu.

"Papi, jangan beritahu Mami, tapi apa yang sudah David jelaskan? Pasti David tidak menjelaskan semuanya," tanya Aleta mencoba mengecoh lagi.

"Hussh, jangan terlalu nyaring Aleta, nanti di dengar oleh Mami kamu," ketus Pak Salim.

Aleta menggunakan kesempatan itu mencari tahu perihal yang telah terjadi terhadap adiknya.

"Ya udah, kalau gitu Papi jelasin, Aleta sudah tahu, tapi belum yakin sih dengan kebenaran itu, Aleta juga tidak mau mengatakan itu pada Mami," kata Aleta lagi.

Pak Salim yang percaya itu menceritakan tentang pertemuannya dengan David, tentang pernikahan David dengan Sarah, tentang bayi David yang tumbuh sehat di rahim Sarah.

"Apa?!" Aleta terkejut, dia berdiri dari tempat duduknya.

Pak Salim menarik tangan putrinya untuk kembali duduk di sofa, " Jangan ribut, Aleta. Semua telah terjadi, kita tidak boleh memaksa semuanya untuk tidak seperti itu, kalau memang jalan Sarah seperti itu."

Aleta mengusap wajahnya, kecurigaannya benar-benar terjadi, adiknya kawin lari dengan pembantu mereka sendiri, sulit di percaya seorang David yang dingin dan acuh menikahi Sarah yang berasal dari Desa.

"Mereka sekarang tinggal dimana, Pi? Aku mau ketemu David dan Sarah."

Pak Salim tak mau mengungkap tempat tinggal putranya, dia seolah-olah tidak mengetahui itu agar janjinya terhadap David ditepati.

"Mereka tidak mau ngasih tau, kamu cari sendiri sajalah, tapi awas ya, kamu langsung beritahu Mami, Papi akan kecewa berat sama kamu, ini belum saatnya, Sarah sedang mengandung cuci pertama di keluarga ini, kita tidak boleh merusak mental dia," ucap Pak Salim tegas mewanti-wanti anak sulungnya itu.

Aleta hanya ternganga, bukan tak menerima keputusan adiknya, hanya saja semuanya terlalu mengejutkan bagi keluarganya. Pak Salim menyusul istrinya ke kamar, meninggalkan Aleta yang termangu seorang diri.

"Pantas saja Gani menutup mulut rapat-rapat, ternyata itu adalah rahasia besar," gumam Aleta mengingat cara Gani menolak memberitahunya.

Mulai Gani menutup mulut rapat-rapat, ternyata itu adalah rahasia besar," gumam Aleta mengingat cara Gani menolak memberitahunya.

Terpopuler

Comments

Riki Raffael

Riki Raffael

mana lg

2023-05-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!