Bab 12

Setiba di restoran, David tak melepaskan genggaman tangannya dari Sarah. Sejenak David merapikan jasnya, dia melihat Sarah tegang, David memahami perasaan Sarah karena pertemuannya dengan Pak Salim bukan sebagai majikan lagi, melainkan sebagai menantu.

"Sarah, ingatlah kita memang nikah kontrak, tetapi kita tidak boleh menampakkan itu kepada siapapun kecuali Gani, okay?" ucap David mewanti-wanti lagi.

Sarah mengangguk, meskipun hanya tamatan SMP, namun dia memiliki daya tangkap yang cukup cerdas. David meyakinkan diri agar ia juga bersiap melihat reaksi Papinya.

Terlihat di meja paling sudut, ada Papinya yang gelisah menunggu. David menggenggam tangan Sarah menuju ke tempat Papinya. David berdehem untuk memberitahu bahwa dia dan Sarah telah ada dibelakang Pak Salim.

Pria dengan garis keriput di wajahnya itu tercengang, menyipitkan mata untuk melihat seksama rupa istri dari anaknya itu. Sesaat Pak Salim sulit mengenali Sarah, tetapi ketika Sarah menyapanya, ia tersentak berdiri dari tempat duduknya.

"Malam, Pak .." Sarah  menyapanya sekali lagi.

Pak Salim membungkam mulutnya sendiri, ia tak dapat berucap sepatah katapun dengan kenyataan yang David berikan. Melihat Sarah tampil berbeda membuat Pak Salim meyakini bahwa David benar-benar mencintai mantan pembantunya itu.

"Kalian, ahss .. Ya Tuhan, ada apa ini?!" Pak Salim sungguh terkejut. Ia memegang dadanya yang sudah ngilu.

"Pi, duduk dulu .." Kata David membimbing Papinya kembali duduk di kursi.

Pak Salim melirik lagi ke Sarah, gadis yang setiap hari mengurusi rumahnya kini menjadi pendamping hidup putranya. Sebagai orang tua, Pak Salim sedikit keberatan karena latar belakang keluarga Sarah berbeda dengannya. Pak Salim juga takut jika Sarah bukan wanita yang dapat mendampingi David dari segi bisnis dan berbagai hal lainnya.

"David .. ini beneran, Nak?" tanya Pak Salim, berharap itu hanya guyonan anaknya.

"Seperti yang Pali lihat, ini beneran .. aku dan Sarah sudah menikah, ini semua salahku, aku yang merusak Sarah, maka dari itu aku ingin bertanggungjawab, menjaga Sarah juga anakku yang ada di kandungannya."

Pak Salim merasa sukses mendidik putranya dari pola asuh bertanggungjawab. David menjadi pria bertangungjawab sehingga dapat memiliki perusahaan sendiri, juga mengambil langkah menikahi anak orang.

"Kalian duduklah," pinta Pak Salim.

Pria paruh baya itu menenangkan diri terlebih dulu. Cukup lama ia mengatur nafasnya, dia berusaha berdamai dengan emosinya, berdamai dengan keputusan David menikahi Sarah.

"Maafkan kami, Pi .." Ucap David lagi. Hanya kata itu yang dapat membayar kesalahannya terhadap kedua orangtuanya.

Pak Salim memandangi Sarah, dia tahu jejak pendidikan Sarah, yang hanya tamatan Sekolah Menengah Pertama saja,

ia meragukan jika Sarah akan menjadi istri luar biasa.

"Apa alasan mu menjadi istri dari putra ku?" tanya Pak Salim kepada Sarah.

Sarah melirik ke David, ia ingin menjawab tapi David tidak mengizinkannya.

"Karena akulah, Pi ..Aku membuatnya rusak, aku telah .." Kata David yang malu bila harus menjelaskan secara detail.

Pak Salim paham itu, tetapi jawaban itu tak ingin didengar dari mulut David.

"Bukan dari kamu, Dav. Tapi dari istri mu, Papi ingin tahu mengapa ia bersedia menjadi istri seorang David Philip Salim."

David mengerutkan alisnya, sejenak dia melihat Sarah memainkan jemarinya karena tegang. David mengusap tangan Sarah, pertanda bahwa Sarah tidak boleh ketakutan.

"Kenapa istri mu mendadak bisu? Sarah, saya mau tanya kenapa kamu bersedia menjadi istri dari putraku?" tanya Pak Salim mendesak.

Sarah mengumpulkan keberaniannya, dia tak peduli lagi dengan janjinya terhadap David. Ia ingin membela diri tanpa ingin mempersulit keadaan David, ataupun membocorkan perjanjian kontrak diantara mereka.

"Dulu aku tidak pernah bermimpi di nikahi oleh siapapun, termasuk pria kaya raya. Aku menikah dengan Tuan David karena kami ditakdirkan Tuhan, ada anak yang sudah hadir diantara kami, Pak. Saat ini aku hanya mendampingi Tuan David sebisaku, semampuku, dengan apa adanya diriku, dan juga belajar bagaimana menjadi istri dari orang hebat seperti Tuan David, Aku yang sederhana tidak akan membuat Tuan David kesulitan, aku akan melayaninya sesuai dengan kodrat ku sebagai istrinya, Pak .."

Penjelasan Sarah mencengangkan bagi David, doa tidak menyangka kemampuan berbicara Sarah sangat apik dan berkelas. Di mata David, istrinya itu sangatlah cerdas. Tanggapan Pak Salim juga demikian, awalnya dia mengira Sarah akan menjawab seadanya dengan cara bahwa karena dia sudah terlanjur hamil di luar nikah, ternyata jawaban Sarah mengubah pandangan Pak Salim.

"Begitu, Pi. Aku dan Sarah sedang membangun rumah tangga, ini awal mula untuk kami, mohon doanya, Pi ..kami janji akan membawa keluarga kami menjadi keluarga yan luar biasa," David menambah kan.

Pak Salim terdiam sesaat, untuk pendidikan Sarah bisa dilanjutkan kembali, Pak Salim tahu apa yang akan David benahi terhadap istrinya. Melihat kemantapan hati putranya, Pak Salim tak dapat menolak lagi, menolak pun tak ada gunanya, nyatanya Sarah telah mengandung cucu pertamanya.

"Baiklah, kalian jaga baik-baik anak itu, perlahan Papi akan bicarakan pada Mami mu, tapi tidak untuk sekarang, kita harus tahu reaksi Mami mu, dan David harus lebih bekerja keras lagi, ada anak mu menunggu kehebatan mu, dan kau Sarah jadilah Ibu yang cerdas, dan tahu mendidik anak," ucap Pak Salim berpesan.

Perlahan dia akan menerima Sarah sebagai menantu pertama di keluarganya. Pak Salim juga akan mengawasi perkembangan kehamilan Sarah, bagaimanapun anak yang dikandung Sarah adakah cucu yang selama ini didambakan olehnya. Pak Salim ingin memiliki penerus dari generasi David.

Makan malam berlangsung dingin, hanya sesekali Pak Salim menanyakan keadaan perusahaan kepada David, sementara Sarah makan dengan lahap. Kehamilan trisemester pertama membuat nafsu makannya tak terkontrol. David merasa tidak enak karena dilihat oleh Papinya.

"Sarah .. pelan-pelan .." Bisik David.

Pak Salim mendengar itu menimpali kalimat protes pada anaknya, " Semua perempuan ngidam akan seperti itu, Mami mu juga dulu bertingkah seperti itu ketika mengandung mu."

David menahan tawanya, ternyata anaknya mengikuti jejaknya. Sarah meletakkan sendok karena malu menjadi pembahasan antara Ayah dan anak itu.

"Sarah lanjutkan makan mu, jika kurang, kita pesan lagi, suami mu cukup kayak jika hanya membeli seluruh makanan di restoran ini," ketus Pak Salim.

David dah Sarah tertawa kecil, selera humor Pak Salim kembali mencuat karena Sarah sangat berani mendamaikan hati orang tua yang kecewa itu. Saat Sarah kembali makan, diam-diam David mencuri pandang ke arah istrinya, dari lubuk hati yang paling dalam, David mulai mengangumi Sarah, sosok wanita yang telah mengandung anaknya.

"Kalian tinggal dimana?" tanya Pak Salim. Dia ingin tahu keberadaan tempat tinggal putranya, dia ingin rutin mengecek kondisi Sarah dan janinnya.

"Kami ngontrak, Pi. Rumahku di Garindah tidak aku tempati karena takut Mami nanti kesana," jawab Sarah. Dia memiliki apartemen dan rumah tetapi belum ingin ditempati karena menghindari Maminya.Mulaitemen dan rumah tetapi belum ingin ditempati karena menghindari Maminya.

Terpopuler

Comments

Riki Raffael

Riki Raffael

lanjut

2023-05-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!