Bab 11

Aleta terkejut dengan penuturan Celine, "Jangan bercanda deh, Cel. Sarah itu pergi dari rumahku kurang lebih sebulan, masa iya langsung jadi Nyonya," ketus Aleta tak percaya dengan cerita sahabatnya.

Celine menjitak kepala Aleta, "Lo pikir gue ngarang ada untungnya apa?"

Aleta berpikir sejenak, di pikirannya jika benar Sarah telah menjadi Nyonya, berarti mantan pembantunya itu sudah menikah dengan pria kaya.

"Mungkin itu satu alasan dia pergi, bisa saja karena berencana menikah dengan suaminya itu," gumam Aleta.

"Nah, itu. Tapi hebat sih, berarti suaminya itu pengusaha sukses, kayak adikmu itu kali ya, David," ujar Celine lepas begitu saja.

Deg!

Aleta tersentak, dia mengingat cerita satpam dirumahnya tentang David membawa Sarah pergi dari rumahnya. Di tambah lagi dengan sikap Gani yang sulit jujur tentang kehidupan pribadi David.

"Tadi dia pake mobil apa? Lo sempat liat gak?" tanya Aleta.

Celine mengingat-ingat, ia sempat melihat Sarah masuk ke dalam mobil.

"Alphard Putih, aku lupa platnya," sahut Celine seraya mengunyah cemilannya.

Memang di kota besar seperti itu ada banyak pengusaha yang memiliki mobil Alphard, tetapi di pikiran Aleta, bukan kebetulan bila Sarah memakai Alphard putih yang sama dengan salah satu koleksi mobil adiknya.

'Aku gak mau menyimpulkan, tapi ini ada tanda-tanda mengarah ke situ, benarkah David dan Sarah ..' ucapnya dalam hati.

Celine mengamati raut kebingungan di wajah Aleta. Menepuk pundak sahabatnya itu.

"Lo kenapa sih? Biarin aja, memang Lo belum dapat pengganti Sarah?"

Aleta membuyarkan lamunannya, dia mengalihkan topik ke arah pernikahannya, diam-diam dia akan menelusuri hubungan David dengan Sarah. Ada satu orang yang akan ia timpakan pertanyaan, seseorang itu tahu pasti hal-hal apa saja yang dilakukan oleh David.

***

Malam tiba, semua rapat David hari itu selesai, ia hendak ingin pulang ke rumah orangtuanya, namun ia tak ingin di jajal pertanyaan dari Maminya. Gani pun mengarahkan agar David segera mempertemukan Pak Salim dan Sarah.

"Itu lebih bagus, Bos. Dari pada nanti semua lebih berantakan, kalau Pak Salim tau, beliau bisa bantu bos tenangkan Nyonya utama," usul Gani yang saat itu duduk di jok depan.

David pikir ada benarnya usulan Gani itu, dia akan mempertemukan Sarah dengan Papinya, malam ini dia akan mengajak Sarah makan malam bersama Pak Salim.

Di perjalanan, David mengisi waktu membaca di internet tentang seputar kehamilan, tips menjaga bayi, dan menjaga Ibu hamil. Ini jadi persiapannya untuk sembilan bulan ke depan. David menyadari hal yang paling utama menjaga janin adalah kebahagiaan Ibunya. Si Ibu calon bayi harus senantiasa bahagia, agar janinnya tumbuh sehat.

"Gani, apa aku akan jadi Ayah yang hebat nantinya?" tanya David tiba-tiba meminta pendapat Gani.

Gani membalikkan badan ke arah bosnya, dia terenyuh karena bosnya benar-benar mempersiapkan dirinya menjadi seorang Ayah.

"Bos, aku belum pernah menjadi Ayah, tapi bila mengingat perjuangan orang tua, termasuk Ayah, lihat saja bagaimana mereka mendidik kita sejak kecil, tapi kita sebagai anak mudeng," jawab Gani dengan logis.

David mengingat masa-masa kecilnya, sejak kecil hingga remaja ia kerap kali memberontak. Papi dan Maminya bahkan menangis karena kelakuannya, timbul di benak David jika mengalami kesulitan demikian, terlebih lagi menjadi seorang Ayah berperan sendiri.

"Bos harus siap dengan kemungkinan yang terjadi, menjadi Ayah itu tidak mudah, Bos. Kita belum tahu, anak bos itu perempuan atau laki-laki, katanya pola aish mereka itu berbeda, Taulah, Bos."

Mendengar Gani, David semakin berlebihan berpikir, Jiak anaknya laki-laki, bisa saja ia mengendalikan itu, tetapi bila perempuan, mungkin kesulitan akan ia alami secara tak ada seorang Ibu yang akan mendampingi anak perempuannya.

Setiba di rumah, David mencari keberadaan Sarah, ia terlebih dulu melepaskan dasinya. Tenyata Sarah ada di meja makan, ada makan malam yang tersaji. Senyum Sarah sangat manis menyambut kepulangannya.

"Kau belum makan?" tanya David.

"Aku sudah makan, Tuan. Tapi mau makan lagi," sahut Sarah dengan suara lembut.

David menyunggingkan senyum mendengarnya, dia lega karena Sarah patuh pada perintahnya untuk tidak telat makan.

"Mari kita makan, aku makan sedikit saja, kita akan keluar malam ini," ujar David.

Meskipun dia lelah, David menyempatkan diri ingin menyuapi makanan ke mulut Sarah, Karena tahu David sangat lelah, Sarah menolak itu. Ia malah menawarkan diri agar berlaku sebaliknya, Sarah yang akan menyuapkan makanan kepada David.

"Apa ini permintaan anakku?" tanya David.

ivi tersenyum seraya mengangguk, David mengusap perut Sarah.

"Kau perhatian pada Ayahmu, sayang .."Ucapnya pada bayinya.

Beberapa sendok suapan sudah tertelan, David mengatakan bahwa mereka akan bertemu dengan Pak Salim malam ini. Sarah terkejut mendengarnya, terlihat jelas raut wajah Sarah ketakutan. David dapat membaca hal itu.

"Aku akan melindungi mu, aku sudah berjanji, selama anakku ada di dalam perut mu, tidak ada yang bisa menyakiti mu, lagipula, kamu tahu 'kan sifat Papiku?"

Sarah tetap saja khawatir, memikirkan reaksi Pak Salim Jiak mengetahui dirinyalah istri David yang disembunyikan selama ini.

"Sarah, semua akan baik-baik saja, jangan pikirkan hal itu, biarkan semua jadi tugasku, anak ini adalah tanggungjawab ku," ujar David.

Sarah melayangkan anggukan saja, ia tak tahu harus berkata apa. David turun dari kursinya, dia menyandarkan kepalanya ke perut Sarah.

"Malam ini kita akan bertemu Kakek, kamu akan baik-baik saja, Nak."

Mata Sarah berkaca-kaca, semampunya dia menutupi rasa harunya karena sikap David yang sungguh bertangungjawab atas dirinya juga anaknya. Ternyata penilaiannya selama ini tehadap David itu salah. David bukan pria yang apatis dan jahat, hanya saja memiliki sudut pandang sendiri menjalani hidupnya.

Mereka bersiap-siap untuk berangkat ke salah satu restoran di kota itu. Sarah di dandani elegan oleh make up artis yang di boking oleh Gani. Sarah sangat cantik dengan riasan bold, Sarah terlihat sangat mirip dengan artis-artis Thailand.

"Sumpah, itu Sarah, Bos?" tanya Gani tercengang.

David memandangi Sarah tak berkedip, Sarah tanpa berdandan pun sudah cantik, ditambah lagi dengan tampilan elegannya malam itu, mengubah gadis Desa menjadi Cinderella.

"Ayo, kita berangkat, Papiku sudah menunggu di restoran," kata David menghampiri Sarah.

Dia meraih tangan Sarah untuk digenggamnya, membuat Sarah terhentak karena sikap David yang romantis. Sepanjang perjalanan, mereka yang berada di jok belakang mengunci mulut masing-masing, tetapi tangan David menggenggam erat tangan Sarah.

Sesekali mata David tertangkap di kaca spion tengah sedang memperhatikan Sarah. Ya, untuk kedua kalinya pria berdarah Thailand itu terpesona terhadap Sarah.

"Setiba disana, kau cukup memberikan salam hormat kepada Papiku, seperti biasanya. Biarkan aku yang mengatasi semuanya," kata David yang memang mewanti-wanti Sarah.

Sarah paham akan hal itu, ini akan jadi bom atom bagi Pak Salim.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!