Fanny menelepon terus-menerus, beberapa kali panggilannya terabaikan, saat itu David menaruh ponselnya di dalam kamarnya, sementara pria itu sedang di kamar Sarah, bercinta hebat dengan Sarah. Fanny membanting ponselnya, dia kesal karena panggilannya diabaikan oleh David. Ia berharap setelah David membaca pesan-pesannya, pria itu segera menghubunginya lagi.
Di belahan tempat lainnya, David menggerayangi istrinya sepuas hati, ia melampiaskan hasrat yang kemarin-kemarin sudah terpendam. Baru kali itu David merasakan sensasi yang luar biasa, mungkin karena dia melakukan dengan Sarah di dalam ikatan pernikahan, tidak takut akan dosa yang menyertai di dalam permainan hasrat mereka.
"Kau Ibu dari anakku, Sarah ..," bisik David sembari bermain.
Sarah hanya bisa pasrah mencengkram kuat punggung David, awalnya dia tidak menginginkannya, tapi setelah berbagai bujuk raju David, dia menerima segala kenikmatan itu.
David membawanya terbang bersama, mengangkat dirinya layaknya seorang putri dipuaskan oleh pangerannya. Sesekali David menciumi perut Sarah yang masih rata itu, dia membisikkan ungkapan kata sayangnya terhadap anak mereka. Sarah mulai berempati pada pria tampan itu, dia merasa disayangi, David menunjukkan sisi kebesaran hati seorang Ayah terhadap anaknya.
Hujaman itu masih David lakukan, mulutnya meracau tak karuan, kenikmatan itu naik mendebutkan kepalanya, sebentar lagi dia akan menyemburkan benihnya di dalam rahim Sarah.
"Selama kita menikah, aku akan membuatmu bahagia, Sarah..aku janji muahh.." bisik David lagi.
Sarah memandangi David, degup jantungnya berbeda dari biasanya, ternyata melakukan itu bersama David adalah hal yang paling buruk, tapi menyenangkan setelah pria itu menjadi suaminya.
Malam itu David memutuskan untuk tidur bersama Sarah, tanpa berucap sepatah katapun, setelah membersihkan badan, David berbaring di samping Sarah lalu tertidur pulas. Sepanjang malam Sarah tak henti memandangi wajah pria yang sudah menjadi suaminya itu, ia tak menyangka sosok pria yang dingin dan menyebalkan, bisa satu ranjang dengannya dengan takdir yang teramat rumit.
"Aku percaya, semua yang telah terjadi memang sudah seharusnya terjadi, aku akan melahirkan anak ini dengan baik, aku percayakan padamu .." ucap Sarah pada David yang tidur pulas.
***
Keesokan paginya, David bangun dengan meraba bagian kasur di sampingnya, ia mencari keberadaan Sarah. Perempuan berambut panjang sudah tidak ada di ranjang. David beranjak mengecek situasi, apakah anak buahnya tetap menjaga sesuai yang diperintahkan nya, semua akan terkendali. Saat itu Sarah tengah menyusun sarapan di atas meja, menyungging senyum pada David yang masih bertelanjang dada.
"Silahkan sarapan, Tuan .." ucap Sarah.
"Aku mandi dulu, makanlah lebih dulu," sahut David yang kembali bersikap dingin.
Sarah tertegun, pria itu benar-benar memiliki dua kepribadian di mata Sarah. Ataukah memang sikap pria seperti itu? Entahlah, Sarah tidak ingin pusing, dia memilih menunggu David untuk sarapan bersama, kurang sopan bila ia lebih dulu makan mendahului majikannya.
David kembali ke kamarnya, dia mengecek ponselnya yang tadi malam di letakkan di atas laci, terkejut dengan beberapa panggilan tak terjawab dengan nomor yang sangat ia kenali, ada sepuluh pesan Fanny yang juga menumpuk untuk di baca. David membacanya satu per satu, ada banyak ucapan maaf dan masih sayang tertulis di pesan Fanny.
"Sudah kuduga, kamu akan menyesal," gumam David sembari tersenyum miring.
Dia belum berniat membalas pesan Fanny, dia bergegas mandi karena hari itu ada rapat penting di kantornya. Setelah itu David keluar menemui Sarah, perempuan itu masih menunggunya.
"Kau sudah berikan sarapan untuk anakku?" tanya David dengan nada tegas.
Sarah tak bergeming, dia lupa bahwa sekecil apapun perintah David, harus ia patuhi agar dia tidak melanggar peraturan di kontrak mereka. Kediaman Sarah membuat David mengerti bahwa Sarah belum sarapan.
"Aku selalu mengatakan, berikan asupan sehat dan tepat waktu untuk anakku di kandungan mu, dia adalah anak David Philip Salim, dia harus mendapatkan kelayakan, mulai sekarang kau tidak boleh mengerjakan semua itu, aku akan menyediakan tiga pelayan di rumah ini," kata David. Keputusannya itu sudah mutlak, tak dapat di ganggu gugat.
David lagi-lagi meluangkan waktu sarapan sembari menyuapi makanan ke mulut Sarah, adegan sarapan itu sekilas nampak romantis namun tetap dingin di antara keduanya, David memilih membungkam mulut begitupula dengan Sarah.
David tang hendak berangkat memberi pesan kepada anak buahnya agar menanyakan selalu kepada Sarah tentang apa yang dinginkan selama ia tak ada di rumah. Sarah saat itu mengintip di gorden, namun bayangannya dapat dilihat oleh David, pria itu tak menghiraukan, dia masuk ke dalam mobil menuju kantor karena desakan Gani.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, David terus-menerus membaca pesan-pesan Fanny, ada kalimat sedih yang mantannya itu tuliskan.
'Aku tahu aku salah, Dav. Tapi aku ingin memperbaiki kesalahan ku. Aku menderita, aku telah di jebak ..'
Salah satu isi pesan Fanny yang menarik perhatiannya, David masih memiliki sisa rasa sedikit terhadap Fanny, tapi ia rasa itu tidak perlu lagi dipelihara, David harus berfokus pada bayi yang dikandung Sarah, hidupnya harus menjadi pria sukses dan sekaligus Ayah yang luar biasa.
Setiba di kantor, Gani meyambutnya segera. David melihat kepanikan Gani yang tidak seperti biasanya.
"Kau kesurupan?"tanya David.
"Lebih dari itu, Bos. Kemarin ada Nona Aleta menemuiku, dia tahu bos dan Sarah memiliki hubungan," jawab Gani dengan suara rendah.
"Nanti aku akan jelaskan sendiri, siapkan rapat dulu," ujar David. Dia sudah mempersiapkan diri menghadapi resiko itu. Mau tidak mau dia harus menerima hujatan pihak keluarganya.
Ketika memasuki ruangan, David terkejut dengan kehadiran Papinya, Pak Salim saat itu membungkam mulut Gani agar keberaniannya di kantor tak diketahui oleh David.
"Papi kok ada disini?"
"Kamu dari mana saja? Apa yang kau lakukan beberapa hari belakangan ini?" tanya Pak Salim yang ingin mengobrol sesama lelaki kepada putranya.
"Aku banyak urusan, Pi. Semua mendadak," sahut David berkelit. Ia sebenernya ingin jujur tapi waktunya tidak pas untuk itu.
Pak Salim menghampiri anaknya, "Papi juga seorang lelaki, tahu bagaimana kehidupan lelaki muda sepertimu, siapa perempuan itu, Dav? Jujurlah dengan Papi, laki-laki kebingungan itu hanya satu penyebabnya, yaitu urusan wanita."
David menatap nanar Papinya, kemudian menggaruk-garuk alis karena kebingungan. Pak Salim tetap memaksa anaknya untuk jujur, lebih baik dia lebih dulu mengetahui masalah anaknya ketimbang istrinya.
"Ini hanya ketidaksengajaan, ada banyak yang tidak bisa ku ceritakan secara gamblang. Setidaknya nasehat Papi bahwa aku harus selalu jadi laki-laki bertanggungjawab selalu aku lakukan," ujar David.
Pak Salim mengangguk-anggukkan kepalanya, dia paham karakter anaknya yang sudah ia didik bertangungjawab.
"Aku sudak menikahi seorang gadis, Pi .."
Mulai bertangungjawab.
"Aku sudak menikahi seorang gadis, Pi .."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Intan IbunyaAzam
ya dissi baikny David kli" yg bertanggungjawab
2023-10-25
0