Bab 8

Di belahan kota yang sama, pria berkepala plontos itu melayangkan tamparan keras ke istrinya.

Plak!

Tamparan itu mengenai lagi di pipi Fanny, suaminya itu tak henti menghardiknya. Fanny selalu dipandang sebelah mata, salah satu penyebabnya ialah Fanny dari keluarga miskin, dari Desa, juga memiliki masa lalu buruk. Mereka menikah karena Fanny meminta pertanggungjawaban atas kehamilannya, namun sayang, Fanny keguguran saat usia kandungannya tiga bulan.

"Kamu jahat, Mas! Kamu menyiksa batin aku dan fisik aku!"

"Aku memang seperti ini, aku tidak ingin terikat komitmen, aku ingin di bebaskan dari aturan istri sepertimu!" Suaminya memang jauh lebih dewasa darinya, namun jiwa mudanya tetap menyatu, suaminya tak ingin hidup dengan satu wanita saja, tak ingin menjalani komitmen.

Fanny marah memukul-mukul dada suaminya, dia memakai suaminya karena sakit hati. Baru saja ia mendapati suaminya mengirimkan pesan cinta ke wanita lain.

Fanny tidak terima pengkhianatan itu, dia sudah rela meninggalkan David demi Samuele, karena Fanny terpanah dengan bujuk rayu. Ternyata dia menyadari, meskipun sikap cuek David mengesalkan, tetapi David tidak pernah mengkhianatinya ataupun berperilaku kasar terhadapnya.

"Kau tetap disini, jangan banyak bicara," kata suaminya.

"Aku akan laporkan kamu ke polisi, ini sudah KDRT!" Fanny mengancam.

Suaminya malah tertawa terbahak-bahak, setelah itu menarik rambut Fanny dengan kasar.

"Hei perempuan tidak tahu diri, kau tahu harga dirimu saja dapat aku beli, apalagi hanya untuk membuat orang lain tutup mulut dan telinga, kau mengerti 'kan maksudku," ucap suaminya.

"Kamu yang membuat aku terbuai, ternyata kebahagiaan yang kamu janjikan itu semua palsu! "

"Kamu yang terbuai, kamu yang silau dengan hartaku, lalu apa yang kau bisa?"

"Kita bisa cerai, aku akan kembali ke David, dia jauh lebih baik darimu!"

Samuele tertawa terbahak-bahak, seolah kalimat istrinya itu lelucon.

"Mana mungkin David kembali padamu? Kau hanya sampah di matanya," tuturnya.

Fanny tak berdaya lagi, dia menyimpan amarahnya dalam hati. Terlanjur menikahi Samuel adalah penyesalannya, Fanny benar-benar terbuai dengan kelihaian Samuel merayu. Lagi-lagi Fanny di kunci kan kamar oleh suaminya. Jika pertengkaran usai, Samuel selalu mengurung Fanny di dalam kamar, lalu dia malah keluar bersenang-senang deng wanita lain di klub.

"Ahh! Brengsek! Brengsek!" Fanny membanting barang-barang yang ada di kamarnya. Meluapkan amarahnya menghancurkan segala foto-foto Samuel.

"Aku menyesal mengkhianati mu David," lirihnya.

Fanny menyadarkan kepala ditembok, melirik ke layar ponselnya, dia sangat butuh teman bicara saat ini, tetapi tak ada teman yang bisa ia percaya, satu-satunya orang yang dulu membuatnya nyaman ialah David. Namun aneh bila dirinya harus menghubungi David dengan hubungan mereka yang sudah tidak baik-baik saja.

"Kamu sangat bodoh Fanny," ucapnya menghadir dirinya sendiri.Mulai-baik saja.

"Kamu sangat bodoh Fanny," ucapnya menghardik dirinya sendiri.

Fanny bangkit dari tempat duduknya, dia berjalan sempoyongan melihat ke arah luar jendela, mobil Samuele sudah keluar dari halaman rumah, Fanny tahu suaminya itu akan pergi ke klub lagi, bersenang-senang dengan selingkuhannya.

"Pria brengsek!"

Fanny ke toilet untuk membersihkan wajahnya, agak lebam, dia tidak ingin kondisinya diketahui oleh teman-temanya, betapa malunya dia jika orang-orang sekitarnya jika tahu perlakuan Samuele kepadanya. Suaminya sering ia bangga-banggakan ke teman-temannya, bahkan keromantisan palsu ia pamerkan ke sosial media, guna mengiring opini bahwa dia adalah wanita paling beruntung di dunia.

"Andaikan waktu bisa di putar kembali, aku tidak akan tergoda pria botak itu!"

Fanny membersihkan tubuhnya. Setelah merasa lebih segar Fanny menutupi bagian tubuhnya yang lebam dengan foundation.

"Enak saja! Aku tinggal di rumah, sedangkan dia pergi bersenang-senang, aku tidak mau!"

Dia berencana keluar rumah untuk bersenang-senang, sama seperti yang dilakukan Samuele. Fanny berpesan kepada pekerja yang ada di rumahnya agar tidak memberitahu hal itu kepada Samuel.

"Awas ya kalau bapak sampai tau," ucap Fanny mengancam asisten rumah tangganya.

Fanny menuju ke klub dimana tempat David sering berkunjung, berharap di sana ada mantan kekasihnya itu sedang berpesta. Fanny berniat membangun hubungan baik lagi dengan David Bagaimanapun cara menolak David, Fanny sudah bertekad untuk memperjuangkan mantannya itu kembali.

"Sudah berapa hari dia tidak kemari?" tanya Fanny kepada bodyguard itu.

"Saya kurang tahu, sepertinya Tuan David sangat sibuk."

Fanny tidak yakin dengan hal itu, dia sudah cukup mengenal David, secapek apapun dirinya, pria itu ingin selalu berpesta setiap malam minggunya. Jika David tak ikut hadir, berarti terkendala kesehatannya, pikir Fanny.

"Mungkinkah David sedang sakit?" Ia bertanya-tanya seorang diri.

Fanny keluar dari klub yang bising itu, ia masuk kembali ke dalam mobilnya, memandangi layar ponselnya cukup lama sembari mempertimbangkan keinginannya.

"Apa aku harus menelpon dia sekarang? tapi .." ucapnya ragu.

Dengan tekad sudah bulat, Fanny menelepon ke nomor ponsel David, nomor itu masih sama dengan yang dulu, Fanny merasa ada harapan kembali bersama David sebab pria itu tidak memblokir dirinya.

Mulai harapan kembali bersama David sebab pria itu tidak memblokir dirinya.

Terpopuler

Comments

Intan IbunyaAzam

Intan IbunyaAzam

bsa JD David luluh tggalah Sarah ksian

2023-10-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!