David tertampar dengan perkataan Sarah, Ia mengakui dirinya memang jahat, menjadikan Sarah sebagai pelampiasan nafsunya. Kejahatannya bahkan membuahkan hasil yang nyata, Sarah telah mengandung anaknya, David ragu mengungkapkan kebenaran itu kepada Sarah. Ia takut jika Sarah tidak menerima anak yang ada didalam kandungannya. Bantal itu David rebut secara paksa, dia memaksa Sarah untuk menatap wajahnya.
"Lihat aku, Sarah."
Namun Sarah tetap membuang wajah darinya, David menarik wajah Sarah. Dia mengamati wajah Sarah secara seksama, David baru tersadar, ternyata Sarah secantik itu, hanya di poles sedikit saja, Sarah akan jauh lebih cantik di banding Fanny.
"Dengarkan aku, Sarah apapun yang terjadi, kau akan tetap mendapat tunjangan dariku, aku akan membiayai kebutuhan hidup keluarga mu, asalkan kau menuruti ku selama setahun ini, tidak, tidak sampai setahun, hanya 10 bulan saja," jelas David. Ia ingin selalu berada di sisi Sarah untuk mengontrol perkembangan bayinya.
Sarah menggelengkan kepalanya, dia tak menyetujui kemauan David. Namun David tersenyum miring.
"Sayangnya kau tak memiliki akses untuk menolak, ini bukan permintaan tetapi perintah, kau harus bersama ku sampai anak ini lahir," papar David mengejutkan Sarah.
"Apa? Aku hamil?"
"Ini tidak di sengaja, kita harus Terima itu."
"Aku tidak ingin anak ini! Aku ingin kembali seperti dulu," Sarah membentak ke arah perutnya.
"Jika bisa memilih, anakku pasti tidak akan memilih Ibu sepertimu, berhentilah mengatai anakku, kita akan menikah."
David memandang Sarah dengan serius, Sarah menangis sesenggukan, mendengar kata pernikahan dari David bak momok baru di kehidupannya. Bagaimana bisa ia harus dinikahi hanya sepuluh bulan saja, bukan pernikahan seperti itu ia impikan, lagipula dia tidak memiliki rasa cinta terhadap David. Sarah diam-diam mencintai salah satu pria yang ada di Desanya.
"Lah, kamu kenapa menangis? Kamu mau dinikahi salah satu pria terkaya, aku adalah impian gadis-gadis di luar sana, seharusnya kamu merasa beruntung," jelas David.
Ia merasa Sarah bodoh jika menolak tawarannya, selain berniat bertanggungjawab, Sarah tidak akan kesusahan uang lagi selama sepuluh bulan ke depan.
"Tapi kita tidak saling cinta, aku tidak mau menikah dengan cara seperti ini," sahut Sarah yang tetap pada pendiriannya.
David tertawa, tetapi hatinya terluka karena lamarannya di tolak oleh seorang pembantu. Sulit sekali meyakini Sarah bahwa mereka akan menikah oleh didasari kontrak.
"Kamu pikir aku mau menikahi mu? Kalau bukan karena anak di dalam kandunganmu, itu tidak akan pernah kulakukan, terserahlah kalau kamu ingin melahirkan diluar pernikahan."
Nyali Sarah menciut, dia menundukkan wajahnya sembari menangis. David berusaha menciptakan rasa sabar dihatinya, ia tak ingin bersikap kasar terhadap Sarah.
"Tugasmu hanya melahirkan anak ini, setelah itu pergilah dari kehidupan kami," ucap David menatap tajam Sarah.
Sarah kembali berbaring, menutupi wajahnya dengan selimut. Takut bila Sarah menyakiti janinnya lagi, David memutuskan untuk tetap berada di samping Sarah. Ia mengamati segala pergerakan ibu dari bayinya itu, juga terpaksa mendengar tangisan Sarah.
"Emak ..Aku ingin pulang.." suara lirih Sarah terdengar oleh David.
Sesak mendengar tangisan seorang anak memanggil Ibunya. David pikir bukan saatnya bersikap keras terhadap Sarah, guncangan mental Sarah di babat habis oleh keadaan. Emak Sarah di kampung akan bersedih bila mengetahui kondisi anaknya, bagaimana pun Emak Sarah bertahun-tahun kerja di rumah Davi, bagi Mami Greta, Emak Sarah tidak hanya sekedar asisten rumah tangga, namun sebagai sudah dianggap keluarga.
David mengangkat tangannya, dia perlahan mengusap kepala Sarah.
"Aku minta maaf, ini semua salahku, jadi tolong marilah bekerjasama sampai anak ini lahir, setelah itu dia tidak akan menyusahkan mu lagi, dia akan menjadi tanggungjawab ku sepenuhnya," ujar David dengan penuh ketulusan menanti kelahiran anaknya.
Sarah tak menyahut, dia yang ellah menangis malah perlahan tertidur, hormon kehamilan sudah sangat mempengaruhi sikap dan pola hidupnya. Dia tertidur di balik selimut, membelakangi David yang masih mengusap kepalanya.
"Aku akan berusaha jadi Suami dan Ayah yang bertanggungjawab selama sepuluh bulan, aku janji Sarah.." ucap David kembali.
Tak mendengar suara Sarah lagi, David menjadi cemas, dia takut jika Sarah saat itu berhenti bernafas karena menutupi wajahnya dengan selimut tebal. David menepuk-nepuk lengan Sarah, tapi tak ada respon.
"Sarah, kau baik-baik saja?" tanyanya.
David yang panik menyingkap selimut dari tubuh Sarah, dia memeriksa denyut nadi Sarah, semua baik-baik saja, David lega karena Sarah kembali tertidur. Ia merapikan selimut itu lalu di pakaikan lagi ke tubuh Sarah. David megambil posisi kiri lagi, dia ingin melihat dengan jelas wajah Sarah di saat tertidur.
"Wajah bayiku nanti seperti siapa? Aku atau dia? Atau perpaduan kami?"
David memandang Sarah, tak ada kebosanan yang menyeringai nya. Semakin di tatap, Sarah semakin manis. David berharap jika anaknya perempuan, wajah manis Sarah diturunkan untuk anaknya. David memberanikan diri menyentuh perut Sarah.
"Aku sangat menyayangimu anakku, walaupun kamu ada karena salah pilih Ibu, tetapi kau beruntung karena aku Ayahmu, aku akan menjadikan mu anak yang paling beruntung di dunia ini," ucap David.
Dia merasa bangga karena sebentar lagi akan ada David junior. Ia akan mendidik anaknya menjadi orang hebat melebihi dirinya.
***
Keesokan harinya..
Segala prosesi sederhana itu telah usai, hanya para anak buahnya yang menjadi saksi, Sarah yang berada di dalam kamar mendengar David mengucapkan ikrar itu. Surat perjanjian di antara mereka telah diberikan kepada Sarah, ia harus menandatangani surat perjanjian itu, menguntungkan baginya dari segi materi, namun tidak untuk perasaannya, mungkinkah ia sanggup meninggalkan anak setelah lahir? Surat perjanjian itu sangatlah tidak adil bagi anaknya.
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Pihak : DAVID PHILIP SALIM
Pihak : SARAH ISMAYA
Telah berjanji menjalani pernikahan siri selama sepuluh bulan. Sebagai pihak David (suami), David berhak menafkahi dan bertanggungjawab segala kebutuhan pihak Sarah (istrinya, Sarah.
Tunjangan yang akan Pihak Sarah terima:
-70.000.000,- Untuk pemberian khusus
-10.000.000,- Untuk keluarga pihak
Sarah
-Rumah tempat tinggal untuk sementara waktu
bila ada kebutuhan khusus yang sewaktu-waktu pihak Sarah butuhkan, makan pihak David bersiap membantunya.
Namun sebagai suami, Pihak David berhak atas berbagai aturan yang ditetapkan oleh dari dirinya sendiri.
Hak Pihak Sarah:
-Pihak Sarah harus patuh kepada pihak David
-Pihak Sarah harus melahirkan anak itu secara sehat
-Pihak Sarah harus pergi menghilang setelah melahirkan anaknya, lalu memberikan hak asuh sepenuhnya kepada pihak David
-Pihak Sarah tidak boleh memunculkan diri di hadapan anaknya
Persetujuan di atas sudah disetujui oleh kedua belah pihak, maka bila di antara dari kedua pihak melanggar perjanjian ini, maka akan dipidanakan sesuai hukum yang berlaku ***************
Meskipun di gadis polos dan hanya tamatan SMP, Sarah tahu itu sangat merugikan kaum perempuan. Harga dirinya benar-benar dilabeli uang oleh David, Ia bahkan tak memiliki hak selain menerima uang. Bahkan anak yang dari rahimnya sendiri harus ia lupakan. Inikah cara orang kaya memandang perempuan miskin sepertinya? Batin Sarah.
Ada yang memutar kenop pintu, dibaliknya ada David yang masuk menemuinya, tatapannya kembali dingin karena mendengar pencerahan pernikahan.
"Kau sudah mendatanginya?" tanya David. Ia memeriksa surat perjanjian itu, tetapi tak di kolom bawah nama Sarah belum tertera apapun. David menghela nafasnya, dia bingung dengan tingkah laku Sarah.
"Apa mau mu? Kita sudah menikah, kau harus tandatangan ini, hak asuh anak itu harus sepenuhnya padaku," kata David. Ia berusaha merendahkan suaranya agar tidak membuat Sarah merasa tertekan.
Sarah berdiri dari tempat duduknya, "Apa aku harus melupakan anak ini? Bukankah itu suatu kejahatan, Tuan?"
"Itu sudah jadi hal biasa dalam dunia Inseminasi, ibu perantara harus melupakan anaknya, kau harus cari di internet tentang hal itu, lagipula kau pernah bilang tidak menginginkan bayi itu 'kan? Jadi biar saja aku merawat anak kita," jelas David. Suaranya bergetar bila membicarakan tentang anaknya, nalurinya sebagai Ayah sudah tersematkan di jiwanya.
Sarah terdiam, duduk kembali di sofa, berpikir sejenak, setelah itu menandatangani surat perjanjian itu. Dia menyetujui semua yang menjadi hak David, termasuk memiliki hak asuh anak itu sepenuhnya.
"Anakku tidak akan kekurangan, dia akan menjadi anak yang paling beruntung di dunia ini," ujar David.
Sarah tersenyum, "Iya, Tuan. Dia akan menjadi seorang putri yang istimewa, tetapi .. sudahlah, saya mau istirahat Tuan," Sarah tidak berniat melanjutkan kalimatnya.
Sarah naik di ranjang, efek hamil mudanya membuatnya ingin banyak tidur, sementara David duduk di sofa, dia membaca ulang surat perjanjian itu, cukup adil baginya. David pikir ia berhak karena sudah berniat bertanggungjawab atas kesalahan Inseminasi itu. Lagipula masa depan Sarah juga masih panjang, Sarah berhak hidup bahagia setelah melahirkan anaknya, pikir David.
Matanya melirik ke arah Sarah yang sudah tertidur lelap, saat itu rok Sarah tersingkap, David segera mengalihkan pandangannya, hasrat lelakinya mencuat. David harus mengendalikan hasratnya, doa tidak ingin menyentuh Sarah lagi, dia harus menghargai bahwa pernikahan itu hanya di dasari kontrak.
"Tahan David, tahan," gumamnya.
David keluar dari kamar itu, dia mengenyahkan hasratnya dengan mengajak anak buahnya begadang bersama. Cukup lama hingga tiga jam berselang, David masuk ke kamar lainnya yang ada di rumah itu. Mencoba tiduran sambil memikirkan sembilan bulan ke depan, saat itu akan ada anaknya, tetapi tubuh Sarah malah mencuat di pelupuk matanya.
David membangunkan diri, ia membuyarkan lamunannya tentang tubuh Sarah. Ya, walaupun aroma tubuh Sarah masih melekat di penciumannya, namun ia tidak boleh merendahkan diri memaksa Sarah melakukan itu dengannya, lagipula dia bisa membayar wanita mana saja jika sudah tak tahan. Ia coba memejamkan matanya kembali, tetap saja bayangan Sarah di pelupuk matanya
"Ya Tuhan, aku bisa gila jika seperti ini," gerutunya.
David keluar dari kamarnya, lalu beranjak ke kamar Sarah, pintu itu belum di kunci, tampaknya Sarah tidurnya sangat pulas, perlahan David mendekati, berbaring di samping Sarah. Tersadar ada seseorang didekatnya, Sarah terbangun membuka matanya, dia terkejut karena David sudah bertelanjang dada disampingnya.
"Tuan, ada apa?" tanya Sarah terkejut.
David menutup mulut Sarah dengan tangannya, menatap Sarah penuh hasrat, "Apa salahnya satu ranjang dengan istri?"
Sarah membelalakkan matanya, setelah melepas tangannya dari mulut Sarah, dengan sigap David menciuminya. Sarah memberontak untuk lepas dari pelukan David, tetapi tenaga pria yang sering gym itu tak sebanding dengan tubuhnya yang mungil. David menjilati seluruh batang leher Sarah, tak ada yang luput darinya. Malam itu malam pertama kalinya David melakukannya setelah mereka menikah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Intan IbunyaAzam
ah David konyol hahaaaa
2023-10-25
0