Bab 4

Sarah melihat sejumlah uang itu, jumlahnya setara dengan gajinya dua tahun. Tetapi tak ada niatan untuk mengambil uang itu secara cuma-cuma.

"Ambil, lalu kemas barang-barangmu sekarang juga, keluarlah diam-diam tanpa dilihat siapapun, kau menuju ke mobilku, aku antarkan kamu ke terminal."

Sarah semakin bingung dengan tingkah majikannya, sebelumnya David tidak pernah mengajaknya bicara, tetapi kini David menyuruhnya melakukan hal yang tak beralasan, batin Sarah

"Ta-tapi Tuan, Nyonya nanti mencari ku," ucap Sarah yang enggan pergi dari rumah itu. Dia sudah terlalu nyaman hidup bersama keluarga Pak Salim.

David melotot tajam ke Sarah, baru kali ini dia dibantah terlebih lagi itu hanya sekelas pembantu, selama ini David sangat disegani di kantornya, dimana pun ia berada, tak ada yang berani menolak perintahnya.

"Aku anak dari nyonya mu, keputusan ku juga keputusannya, pergilah atau kau akan mendapatkan akibatnya," kata David dengan nada mengancam.

Tanpa mengucap sepatah katapun, Sarah bergegas menyusun barang-barangnya ke dalam tas, David masih di kamar itu memperhatikan Sarah. Dia melirik ke perut gadis itu, membayangkan ada bayinya yang akan tumbuh.

'Tidak, tidak, tidak! Itu tidak mungkin!' David membuyarkan lamunannya.

Setelah Sarah berbenah, dia mengajak pembantunya itu keluar dari rumah dengan mengendap-endap. David membantu membawakan sebagian barang-barang Sarah. Karena mobil lainnya berada di garasi, David memutuskan untuk memakai mobil sport nya saja.

"Masuk cepat!"

Satpam rumahnya tersentak karena melihat majikannya membawa Sarah bersamanya. Dia terkejut karena baru kali ini melihat David bersikap baik pada pekerja di rumahnya.

"Tuan David lagi kesambet kali ya," gumam Security-nya.

Di dalam mobil David ingin banyak menanyakan tentang hal privasi pada Sarah. Dia tahu gadis yang bersamanya itu memang polos, tetapi tentang ilmu kewanitaan, dia pikir tentu cukup dewasa mengetahui tentang intim kewanitaan.

"Apa kau sudah pernah datang bulan?" tanya David menahan malunya. Wibawanya sebagai pria dingin runtuh karena kesalahan Inseminasi.

Sarah terperangah dengan pertanyaan David, seorang pria yang selalu bersikap dingin menanyakan tentang perihal pribadinya, tentu itu jadi keanehan bagi Sarah. Sementara David menepikan mobilnya, dia menanti jawaban Sarah.

"Jawab," kata David.

Sarah tergugu, malu-malu untuk mengatakan itu.

"Minggu kemarin, Tuan .." jawabnya pelan.

David menghela nafas, dia tak tahu menghitung masa subur wanita, tetapi bila harus menanti hingga bulan depan, itu akan menjadi beban pikirannya. David berpikir sejenak, jika ia menyuruh Sarah untuk pulang kampung, dia akan terbebas dari masalah ini. Namun bagaimana jika Sarah sampai hamil? Apakah David tega mengabaikan anak kandungnya? Sekelumit pikiran David yang sudah menggerogoti kepalanya.

"****!" David memukul kemudi mobilnya.

Sarah hanya tertunduk, tangannya basah karena ketakutan.

"Untuk sementara cari kontrakan di sekitar kota ini, tapi hanya untuk sebulan saja. Jangan kemana-mana tanpa izinku, dan jangan pernah kembali ke rumah ku, mengerti?!"

Sarah ingin bersuara karena keputusan David yang sepihak itu, tetapi dia hanya seorang gadis yang tak tahu apa-apa, Sarah baru saja tiga bulan di Kota Jakarta, tentu ia butuh petunjuk dari David

"Sini uang itu, kembalikan, bukan aku tidak ingin memberikannya, kau nanti kabur diam-diam dariku," kata David. Dia takut jika Sarah malah menggunakan uang itu untuk pergi darinya. David harus tahu hasil dari Inseminasi itu.

"Ta-tapi Tuan saya kenapa?" tanya Sarah spontan.

"Ikuti peraturan ku saja, jika kau juga tidak mau menyesal!"

David kembali melajukan mobilnya, dia berkeliling di daerah sekitar untuk mencari kontrakan yang cocok untuk Sarah. Setelah mendapatkannya, dia bernegosiasi dengan pihak pemilik kontrakan, mereka dimintai identitas juga buku nikah.

"Mau berdua tinggal di sini, Pak?" tanya Ibu itu.

David menggeleng, "Tidak, tidak, hanya dia yang ingin tinggal disini," sahutnya.

"Kalian pacaran? Atau keluarga?" tanya Ibu pemilik Kontrakan itu lagi. Dia memang sangat selektif memilih pelanggannya.

David yang tak berdaya lagi mengatakan kebohongan.

"Dia Adik saya, Bu. Sedang mencari kerja disini," jawab David dengan terpaksa.

Sarah hanya jadi penonton saja, meskipun dia juga kebingungan dengan majikannya itu. David dan Sarah di antar di rumah yang David pinta. Kontrakan itu cukup mewah untuk sekelas Sarah yang memakainya, David membayar kontrakan itu selama sebulan. Setelah mengurus perjanjian, pemilik kontrakan itu pamit dari David dan Sarah.

"Ini kuncinya, di dalam semua sudah lengkap, anak buahku nanti akan membawakan bahan makanan, sekarang masuklah dan jangan kemana-mana," titah David.

Sarah menurut saja, dia menenteng tasnya masuk ke dalam rumah. Sementara David kembali masuk ke dalam mobil. Sejenak Sarah mengintip tuannya itu dibalik gorden.

"Tuan David kenapa bersikap seperti ini?" gumamnya.

David menelpon anak buahnya untuk menyediakan perlengkapan yanga akan diberikan kepada Sarah. Pria yang lelah dengan pemikirannya itu memilih ke klub untuk menghibur diri. Melepas penat dari masalah kesalahan Inseminasi.

***

David sudah tak berdaya, dia berjoget luntang-lantung mengusik pengunjung lainnya. Untuk mengindari kericuhan, ketiga anak buahnya memutuskan untuk membawa bosnya itu keluar dari klub.

"Tuan, lebih baik kita pulang saja," ucap anak buahnya.

"Aku tidak ingin pulang, aku ingin berpesta ..hahahh" kata David tanpa sadar.

Ketiga anak buahnya merasa bertanggungjawab atas keselamatan David, mereka membawa paksa bosnya masuk kedalam mobil.

"Kita bawa bos kemana? Pulang ke rumah Pak Salim?" tanya salah satu dari mereka.

"Nanti bos muda akan kena marah habis-habisan, mending kita bawa ke rumah lainnya," sahut dari mereka lagi.

David duduk tegap, memandangi ketiga anak buahnya itu, "Bawa aku ke kontrakan Sarah, aku ingin memarahi dia habis-habisan."

Ketiga anak buahnya itu terdiam, mereka tahu Sarah tidak salah dalam rencana Inseminasi bosnya, justru Sarah adalah korban, tetapi David malah menganggap Sarah saat itu ceroboh hingga ikut hadir di pesta dengan bergaun biru.

"Bawa aku ke kontrakan Sarah!" David memerintahkan dengan nada membentak.

Tak ada pilihan lain lagi, David di bawa ke kontrakan Sarah yang jaraknya tidak jauh dari lokasi mereka saat itu.

Sarah yang sudah tertidur lelap mendengar suara ketukan pintu berulangkali, sesaat dia ketakutan karena menganggap yang datang itu maling. Namun suara ketukan keras pintu itu di susul suara teriakan David memanggil namanya, membuat Sarah bernafas lega, ketakutan itu seketika lenyap, dia bergegas membukakan pintu.

David berbaring sembari meracau, hanya ada Sarah yang menemaninya di kamar, Sarah perlahan melepas sepatu David. Terdengar David mengumpat nama Fanny. Mendengar itu, Sarah menganggap Fanny yang disebut oleh David adalah Fanny yang berbeda dari yang dia kenal. Saat Sarah ingin beranjak keluar dari kamar itu, David menarik tangannya, tubuh Sarah terjatuh di atas tubuh David, pelukan erat telah dilingkarkan David dipunggung gadis itu.

"Tuan, tolong .. lepaskan aku," ucap Sarah.

David yang di bawah pengaruh alkohol mulai bersikap kurang ajar, punggung Sarah di cium seraya menyebut-nyebut nama Fanny. Sarah meronta dilepaskan, tetapi tenaga David tak sebanding dengan tubuhnya yang mungil.

"Tuan, saya bukan Fanny, lepaskan!" Sarah memukul-mukul kedua tangan David.

David semakin brutal, dia mengganti posisi, giliran dirinya yang menindih tubuh Sarah. Tangan pembantunya itu dicengkeramnya begitu kuat. Mata David memerah, kepalanya sudah di kuasai hawa nafsu.

"Tolong, jangan lakukan itu," ucap Sarah lagi. Air matanya sudah menetes.

"Aku mencintaimu, tapi kau mengkhianati ku!" David tetap saja melihat Sarah sebagai Fanny.

David mencumbui leher Sarah yang jenjang,Sarah menjerit meminta tolong, namun sayangnya anak buah David tak berniat menolong, mereka sudah tahu apa yang telah terjadi dengan Sarah.

"Diam! Diam!" David membekap mulut Sarah.

David merobek baju Sarah, tubuh gadis lugu itu sudah polos tanpa kain ditubuhnya. Sarah kehabisan tenaga, dia tak dapat lagi meminta tolong, kedua tangannya masih dicengkeram erat oleh David.

"Kau harus mengandung anakku, kau sudah mengkhianati ku, kau harus menerima hukumannya." David mengucapkan lagi kalimat yang tak dimengerti oleh Sarah.

David sudah menguasai seluruh tubuhnya, kesuciannya telah direnggut oleh David malam itu. Bahkan menumpahkan benih untuk kedua kalinya di rahim Sarah.

David membisikan ditelinga Sarah kalimat romantisnya, "Semoga anakku tumbuh baik di rahimmu," ucap David tanpa sadar.

Terpopuler

Comments

Intan IbunyaAzam

Intan IbunyaAzam

wah... emag Sarah jodohmu david

2023-10-25

0

Ayu rizkiyati

Ayu rizkiyati

teringat cerita serial turki sepertinya seruu nihh....

2023-06-25

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!