Bab 3

"Hah Kok bisa, Bos? Tapi kami bawa gadis bergaun biru," sahut anak buahnya.

"Tolol! Kalian harus bertanggungjawab! periksa wanita yang kalian bawa!"

David terburu-buru menutup teleponnya,ada Mami Greta yang akan menghampirinya, Maki Greta mengajak David untuk bergabung di kumpulan keluarga besar, karena tak ingin mencurigakan, David menuruti Maminya.

"Dari tadi Mami Cari Sarah, kok anak itu gak ada ya," ucap Mami Greta.

"Tahu 'kan pembantu Mami itu lelet, ganti aja, Mi.. " Sahut David.

"Gak ah, sulit cari pembantu yang jujur dan rajin seperti dia," sergah Mami Greta.

David tersenyum masam, pikirannya berkecamuk karena kepikiran dengan kesalahan yang dilakukan oleh anak buahnya. Entah siapa gadis yang sudah jadi korban kesalahan inseminasi mereka.

David duduk di meja bundar bersama keluarga besarnya, ada beberapa sepupu jauh David yang ingin Pak Salim jodohkan dengan anaknya itu. Namun David malah tak menggubris, tangannya di bawah meja sibuk mengirimkan pesan kepada anak buahnya.

'Tolol! Yang kalian bawa itu siapa? Kirim fotonya! '

berharap David segera tahu siapa perempuan yang telah menerima benihnya. Beberapa menit kemudian, pesannya terbalas, David berdehem seolah-olah memperhatikan keluarganya yang sedang mengobrol.

"Apa?! " David memekik di tengah-tengah keluarganya setelah melihat foto yang dikirim oleh anak buahnya.

Pak Salim berserta keluarganya menoleh serentak ke David, "Ada apa, David? " tanya Pak Salim.

David gelagapan, dia meminta pamit ke toilet dengan perasaan yang tak karuan. Berjalan ke toilet sembari menghubungi anak buahnya.

"Kalian benar-benar ya, kenapa harus Sarah? Shiittt!"

Memang benar, gadis yang menerima benihnya ialah Sarah, pembantunya sendiri. David bahkan tak habis pikir mengapa Sarah selalu saja berhubungan dengan rasa kesalnya.

"Bos, yang keluar dari toilet bergaun biru itu dia," sahut anak buahnya lewat telepon.

"Saya tidak mau tahu, Sarah tidak boleh sampai tahu kejadian ini, mengerti?!"

David mengakhiri teleponnya, ia tak dapat bepikir jernih lagi. David geli membayangkan bila Inseminasi itu berhasil terhadap Sarah. Semua berantakan, dia tidak dapat membalaskan dendamnya terhadap Fanny, yang ada malah Sarah yang masuk jebakannya.

"Sial! Semoga pembantu itu gak sampai hamil! " Umpatnya.

***

Sarah tersadar dari pingsannya, matanya terbelalak karena menyadari dia berada di ruang rawat pasien. Meraba sekujur tubuhnya mencari luka, tak ada satupun alat medis yang melekat. Ketika turun dari ranjang periksa, dia merasakan sedikit nyeri di bawah alat vitalnya.

"Auh, ini kenapa tiba-tiba nyeri," gumamnya.

Dari luar ada perawat yang masuk menyapanya, "Mbak Sarah silahkan pulang, tadi Mbak Sarah pingsan, jadi ada seseorang yang membawa Mbak ke klinik kami."

Karena dia gadis yang polos, Sarah mempercayai itu, dia tak menyimpan kecurigaan apapun tentang yang telah terjadi padanya. Sarah bergegas keluar dari klinik, dipikirannya hanya tentang pesta pertunangan Aleta, dia yakin Mami Greta pasti sudah menunggunya, tenaganya sangat diperlukan untuk membantu segala keperluan Aleta.

Dari jauh para anak buah David menguntit, ada rasa bersalah karena Sarah menjadi korban kecerobohan mereka. Belum lagi kemarahan David yang tak berkesudahan. Di tengah perjalanan, ponsel Sarah kembali berdering, itu panggilan Mami Greta, wanita paruh baya itu sedari tadi mengkhawatirkan Sarah.

"Syukur kamu angkat, Sar. Kamu kemana sih? Saya dari tadi cari kamu, mana banyak tugas kamu terbengkalai," ucap Mamu Greta bernada protes.

"Maaf, Nyonya. Tadi katanya saya pingsan lalu di bawa ke klinik, ini saya sudah menuju ke hotel," sahut Sarah yang ketakutan bila majikannya marah.

"Kamu tidak usah ke hotel, langsung ke rumah saja, acara hampir selesai, bersihkan rumah dan lainnya," titah Mami Greta lalu menutup panggilannya.

Di samping Mami Greta ada David yang diam-diam menguping, dia berharap benihnya tak dapat membuahi rahim Sarah

'Ini hari tersial yang pernah aku dapat,' umpatnya dalam hati.

Usai acara pertunangan Aleta, keluarga Pak Salim pulang ke rumah. Suara mobil keluarga konglomerat terdengar terparkir dihalaman rumah, Sarah keluar meyambut majikannya. Seluruh keluarga Salim masuk ke rumah dengan raut wajah yang lelah. Saat itu ada David yang masuk paling akhir, dia melirik Sarah yang berdiri di depan pintu.

"Tuan .." sapa Sarah seperti biasanya.

David melewati Sarah begitu saja, pembawaannya memang selalu dingin, terlebih lagi kepada pekerja di rumahnya. Sementara Sarah keluar menuju ke sopir keluarga, Pak Abi memberikannya barang-barang Mami Greta agar di bawa oleh Sarah ke kamar.

Saat Sarah melewati kamar David, dia merasakan nyeri lagi di selangkangannya, rupanya bekas Inseminasi masih berefek pada alat vital Sarah. David yang ingin masuk ke kamarnya menemukan Sarah sedang menahan nyeri. Sesaat David mengabaikannya, tetapi melihat Sarah meringis kesakitan, dia pun menghampiri pembantunya itu.

"Kamu kenapa?" tanya David.

"Tidak, Tuan. Hanya sedikit nyeri saja," sahut Sarah seraya memegang perut bawahnya.

David menebak, jika pembantunya itu sedang merasakan efek dari Inseminasi. Karena tak ingin ulahnya ketahuan oleh keluarganya, David pun menyusun rencana, dia menyuruh Sarah untuk istirahat terlebih dulu.

"Kamu istirahat, biar saya yang bawa barang Mami," kata David.

Sarah menolak, dia tetap ingin membawa barang Mami Greta, tetapi tatapan David menciutkan nyalinya. Akhirnya Sarah mengindahkan perintah David, dia kembali ke kamar belakang untuk istirahat. David meneliti cara jalan Sarah dibalik tembok, terlihat kaku. Dia segera menelepon dokter yang menangani Inseminasi Sarah Ada sesuatu hal yang juga mengusik pikirannya.

"Saat kau Inseminasi gadis itu, apakah dia masih per*wan?" tanya David yang sangat ingin tahu.

"Iya, Pak David. Tapi kami tidak sampai memecahkan selaput darahnya, makanya dia mungkin hanya nyeri biasa." Jelas Dokter itu.

David tertegun, ternyata pembantunya itu bukanlah gadis yang liar ataupun yang merusak dirinya di luar pernikahan, David semakin merasa bersalah, seorang gadis suci sudah jadi korban kelalaiannya. David menutup telepon tanpa pamit dari dokter itu, dia mondar-mandir di dalam kamarnya mencari solusi untuk Sarah.

"Gila, gue bisa gila mikirin ini," gerutunya.

David tak bisa tinggal diam saja, tak dapat menanti kemungkinan itu. David memutuskan untuk menemui Sarah. Ia menuju ke kamar di bagian dapur. Mengetuk pintu kamar Sarah dengan pelan, tak ingin keluarganya sampai tahu keberadaan dirinya di kamar pembantu.

Di balik pintu, Sarah memunculkan dirinya dengan wajah memelas, tubuhnya berkeringat dingin.

"Tuan .." lirihnya.

David mengamati Sarah benar-benar sedang sakit, sejenak dia memastikan keadaan benar-benar aman, barulah dia menerobos masuk ke kamar pembantunya itu. David mengunci pintu dari dalam. Sarah yang tadinya lemas terkejut dengan aksi aneh dari majikannya.

"Diam! Suara kita jangan sampai di dengar keluargaku!" David mengancam.

Sarah ketakutan, dia menundukkan wajahnya. Sementara David bingung harus mulai darimana menyampaikan musibah itu.

"Bisakah kau berhenti bekerja di rumahku?" tanya David. Ada rasa tidak tega bertanya hal itu, tetapi demi keamanan dirinya, Sarah harus pergi dari rumahnya.

Sarah mengangkat wajahnya, dia menatap David dengan mimik kebingungan, "Apa salah saya, Tuan?"

David menghela nafas, dia sudah merasa menjadi manusia paling jahat di muka bumi, sebab kesalahannya, Sarah yang malah mendapatkan akibatnya. David enggan menjawab, dia mengeluarkan sejumlah uang dari kantong celananya, ada uang sejumlah 50 juta untuk diberikan kepada Sarah.

"Ambillah ini, pulanglah ke kampung halaman mu tanpa memberitahu siapapun," pinta David meletakkan uang itu di atas kasur.

Terpopuler

Comments

Intan IbunyaAzam

Intan IbunyaAzam

wah JD bingung David knp ank buahnya ceroboh

2023-10-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!