Keesokan harinya..
Mami Greta kebingungan karena Sarah belum juga ke hotel. Pembantunya itu cukup diandalkan dalam segala kegiatannya, Sarah memiliki daya tangkap cepat sehingga memahami perintah Mami Greta.
"Sarah belum datang, Mi?" tanya Aleta yang sedang di rias.
"Iya, Nih. Anak itu kok belum angkat telpon," keluh Mami David itu.
Dari luar ada Sarah yang datang dengan nafas tersengal-sengal, Mami Greta lega karena pembantunya itu datang juga.
"Maaf, Nyonya. Tadi macet," ucap Sarah, alasan macet hanya menutupi kejadian yang sebenarnya. Sarah menunggu David terlebih dulu pergi dari rumah, sehingga ia lebih leluasa tanpa bertatap muka dengan tuan mudanya itu.
Pesta pertunangan itu akan berlangsung di hotel bintang lima, semua sudah sibuk dengan tugas masing-masing. Sarah juga menemani majikannya di ruang rias, ada Mami Greta yang masuk ke rumah rias itu, dia membawa sebuah paper bag yang berisi gaun biru.
"Sarah, kalau pekerjaan kamu sudah selesai semua, pakai gaun ini, kamu juga harus ikut dalam pesta Aleta," kata Mami Greta. Sebagai majikan, dia harus memperlakukan Sarah dengan baik. Sarah sudah banyak membantunya menyiapkan keperluan Aleta.
Sarah diberikan gaun biru itu, cukup mewah bagi Sarah yang hanya seorang gadis yang berasal dari Desa.
Aleta di bawah keluar oleh Maminya, sementara Sarah mengganti baju. Terdengar suara pembawa acara pertunangan memulai, Sarah tergesa-gesa menyisir rambutnya. Sama sekali tak memakai riasan, setelah itu Sarah keluar untuk mendampingi majikannya. Dia berada di sudut hotel untuk melihat Nona Aleta dari kejauhan.
Matanya malah tertuju pada seorang wanita yang juga bergaun biru saat itu, dia Fanny, Kakak kelas Sarah sewaktu di Desa. Fanny hidup berbanding terbalik dengannya, Fanny sudah sukses dengan bisnisnya karena di dukung oleh suami yang kaya raya, Sam. Fanny menikah dengan pengusaha properti, Sam yang usianya terlampau jauh darinya.
"Fanny udah sangat cantik sekali," gumam Sarah memandang Fanny dari kejauhan.
Sarah ditawari minuman oleh salah satu pelayan hotel, gadis polos itu malah meneguknya sampai habis, tak mengetahui bahwa minuman itu mengandung alkohol.
"Hei!" Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari arah belakang, Sarah terkejut membalikkan badan, ternyata itu Fanny.
"Sendirian saja?" tanya Fanny sambil mengamati penampilan Sarah dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Sarah hanya mengangguk, cara pandang Fanny tetap saja sama seperti dulu, memiliki sifat angkuh, selalu memandang Sarah sebelah mata.
"Masih jadi pembantu? Iya sih, gak jauh-jauh amat dari skill kamu," ujar Fanny menyindir.
Sarah enggan membalas ucapan Fanny, dia selalu membiarkan Fanny berucap semaunya, bahkan sejak SMP mereka memang tidak saling menyukai, membalas cercaan Fanny hanya buang-buang energi saja, pikir Sarah.
"Okylah, kalau begitu, aku pergi dulu, kamu habiskan semua makanan lezat yang tersaji disini, kamu pasti suka 'kan?" ketus Fanny dengan tersenyum miring.
"Iya, Fanny. Bahagia selalu," sahut Sarah.
"Ya ampun, sial banget gue samaan gaun Ama lo, Sar .."
Sarah hanya menghela nafas, dia tak memasukkan kalimat Fanny ke dalam hatinya. Setelah Fanny enyah dari hadapannya, Sarah tak sengaja menyenggol pelayan hotel. Sarah terciprat kuah makanan sehingga mengotori gaunnya. Pelayan hotel itu justru marah, dia melontarkan caci maki kepada Sarah.
"Kamu yang salah, Kok." Sarah membela diri.
Sarah berlari ke toilet untuk membersihkan gaunnya. Saat itu dia berpapasan lagi dengan Fanny, perempuan berambut pirang itu baru saja keluar dari di toilet. Ia membuang pandangan dari Sarah karena tak ingin pamornya jatuh karena mengenali seorang pembantu.
"Lagi-lagi ketemu dia," ketus Fanny.
Setelah Sarah keluar dari toilet, tiba-tiba sekelompok pria berbaju hitam membekap mulutnya dari belakang, Sarah dibius hingga tak sadarkan. Wajah Sarah ditutup kain hitam lalu digotong keluar hotel. Sekelompok pria itu memasukkan Sarah ke dalam mobil Jeep.
"Bos, perempuan itu sudah kami amankan, kami akan membawanya ke tempat tujuan," kata salah satu pria itu ditelepon.
"Bawa secepatnya sebelum ada yang curiga," sahut suara pria dibalik telepon.
Sarah dibawa ke salah satu klinik terbesar di Jakarta. Sekelompok pria itu membawa Sarah langsung ke ruang tindakan. Ada beberapa perawat dan seorang dokter yang telah bersiap-siap menindaklanjuti Sarah.
"Lakukan secepatnya, bos kami sudah menunggu hasilnya," ujar pria bertubuh kekar itu pada dokter.
"Silahkan kalian keluar, ini hanya butuh setengah jam saja," sahut dokter muda itu.
Dokter itu melakukan tahap Inseminasi kepada Sarah, menyemburkan benih seorang pria dengan alat ke dalam rahim gadis bermata sipit itu. Ada rasa bersalah, karena dokter itu mengetahui Sarah masih suci, belum tersentuh oleh pria manapun. Namun karena tak ingin melanggar perjanjian dengan seorang bos besar, terpaksa dia melenyapkan rasa iba nya.
"Dok, dia masih perawan," ucap perawat itu.
"Kita jalankan saja, itu bukan urusan kita," jawab dokter itu. Dia tak peduli, yang dipikirkannya hanyalah bayaran mahal dari bos besar.
Proses Inseminasi itu berjalan lancar, untuk sementara waktu Sarah dibiarkan tertidur karena pengaruh obat biusnya. Sarah diletakkan di ruang rawat, para pihak medis seolah-olah akan bersikap seolah-olah tak melakukan apa-apa.
"Prosesnya sudah selesai, sepertinya 89% akan berhasil pembuahan, karena gadis itu subur," ucap dokter itu pada sekelompok pria yang menculik Sarah.
"Baiklah, jaga rahasia ini, jika tidak, klinik mu ini akan tutup."
***
Mami Greta keliling ruangan mencari Sarah, tapi dia malah berpapasan dengan anak laki-lakinya, David. Anak keduanya itu baru saja datang di acara Kakaknya.
"Baru nongol, kamu itu, kebiasaan kalau ada acara keluarga, kamu selalu belakangan hadir," protes Mami Greta.
"Tadi ada urusan, Mi. David samperin Kak Aleta dulu ya," sahutnya.
"Iya, Mami cari Sarah dulu, anak itu dari tadi gak terlihat, kemana coba," keluh Mami Greta yang selalu mengandalkan Sarah jika ada keperluan mendesak.
David tak peduli itu, dia masih dendam dengan cara Sarah. David bergegas ke Aleta yang dikerumuni para tamu undangan. David membawa bunga kesukaan Kakaknya, dia menerobos ke kerumunan itu tanpa merasa bersalah menginjak kaki orang lain. Menyapa Kakaknya dengan panggilan ejekan.
"Hei Kakakku yang bermulut rusa, ini hadiah untukmu," ucap David menyerahkan kotak hadiah beserta bunga ke Aleta.
"Kamu!" Aleta menepuk keras pundak adiknya.
Pandangan David malah tertuju pada perempuan bergaun biru, yang tak lain adalah Fanny, mantan kekasihnya yang tengah bergandengan dengan suaminya. David membelalakkan mata, dia terkejut dengan yang disaksikan. Karena panik, David segera enyah dari samping Aleta, dia menepi untuk menelpon anak buahnya.
"Apa yang kalian kerjakan?! Katanya sudah membawa Fanny ke klinik?" tanya David membentak.
"Kami sudah membawanya, Bos. Bahkan proses Inseminasi sudah selesai," sahut pria itu dibalik telepon.
"Hah?! Jangan main-main! Fanny masih ada di hotel, dia masih bersama suaminya, yang kalian bawa itu siapa?" David mengusap wajah dengan kasar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Intan IbunyaAzam
hahaaa slah sasaran haaaaa
2023-10-25
0