“Elena ada apa?” tanya Arthur, ia tiba-tiba sudah berada di ambang pintu.
“Lihat suamimu yang tidak berguna itu, dia datang dan hanya bertanya ada apa? Heyy pria miskin lihatlah perusahaan istri mu mengalami kebangkrutan. Dan apakah kamu bisa mengembalikannya? Pasti tidak bisa kan, maka lebih baik diam!” ucap Olivia sungguh menusuk hati Arthur.
Sedangkan Arthur pun berpura-pura terkejut. “Apa Nyonya? Perusahaan milik Elena bangkrut? Bagaimana bisa yang saya ketahui jika perusahaan itu merupakan perusahaan yang terbesar di Jakarta bagaimana bisa bangkrut?” tanya Arthur beruntun.
“Ya mana saya tahu? Kau hanya membuat ku pusing! Argh....,” bentak Olivia ia pun mendudukkan dirinya di sebuah sofa yang ada di ruang tamu.
Tiba-tiba beberapa orang pria datang memasuki mansion Elena.
Arthur melihat sekilas orang itu, ternyata mereka adalah orang yang disuruh pihak bank untuk menyita mansion Elena.
“Selama siang Tuan, Nyonya, dan Nona. Perkenalkan kami dari Bank akan menyita mansion kalian karena anda sudah tidak bisa membayar pinjaman di bank. Juga kami mendengar jika perusahaan anda mengalami kebangkrutan,” ucap Pria bertubuh kekar itu.
“Tapi Pak, bisa pakai cara lain, tidak harus menyita mansion saya,” ucap Elena tidak terima mansion nya di sita.
“Tetapi ini sudah perjanjian dari pihak kami dan Tuan Erlan,” ucap orang dari pihak bank.
“Tuan Erlan?” tanya Elena memastikan.
“Iya, Tuan Erlan Wayman Harrison,” sahut Pria itu sembari memberikan kode kepada teman kerjanya.
“Baiklah sekarang anda sekeluarga bisa meninggalkan mansion ini,” ucap teman kerja nya yang lain.
“Kami tidak mau pindah dari mansion ini!” tantang Olivia menambah beban pikiran Elena.
“Udah ma.. Nggak ada gunanya,” ucap Elena sembari menarik Olivia ke dekapan nya.
“Apa kalian tidak dengar? Segeralah angkat kaki dari mansion ini,” ucap pria yang memakai kemeja hitam.
“Nona, Nyona lebih baik kita segera meninggalkan mansion ini, dari pada kita di usir secara kasar,” bisik Arthur kepada Olivia dan Elena.
“Iya,” jawab Olivia.
“Kalau begitu izinkan kami mengemasi pakaian kami,” ucap Elena kemudian berlalu pergi ke kamarnya. Elena pun mengambil kopernya kemudian ia isi dengan pakaian - pakaian nya. Begitu pun Olivia ia juga melakukan hal yang sama dengan mengemasi pakaian nya.
Karena mau tidak mau mereka harus meninggalkan mansion itu.
Setelah selesai mengemasi pakaian itu, mereka pun berjalan menuju ke halte yang tidak jauh dari mansion Elena. Bahkan mobil Elena pun juga turut di sita.
Sesampainya di halte, Olivia menggerutu tidak jelas.
“Sialan! Kini malah aku yang jadi gembel. Bahkan seumur hidup ku, aku tidak pernah berada di titik terendah seperti ini,” ucap Olivia sembari melihat jijik lingkungan sekitarnya.
“Elena, kita mau kemana?” tanya Olivia.
“Kita mencari tempat berteduh dulu saja Ma, lihatlah awan itu sudah berwarna hitam sebentar lagi pasti hujan,” ucap Olivia sembari menunjuk awan hitam di atas tempat mereka berdiri.
“Kalau kalian mau, kalian bisa tinggal di tempat kost saya, meskipun sempit dan kecil tapi setidaknya bisa dijadikan tempat berteduh,” ucap Arthur memberikan usul.
Mendengar itu Elena pun langsung menyetujuinya, karena untuk saat ini tidak ada cara lain yang bisa dilakukan.
“Ya, saya setuju,” ucap Elena antusias.
“Hah? Apa? Tinggal di kost milik mu?” tanya Olivia tidak percaya.
“Iya lah Ma.. Mau dimana lagi?. Kita sudah tidak punya uang saat ini. Seluruh aset juga sudah di jual dan disita oleh bank,” ucap Elena membujuk Olivia untuk mengikutinya.
Setelah berfikir cukup lama barulah Olivia menyetujuinya
“Ya mama ikut saja,” sahut Olivia akhirnya.
Dari arah selatan sebuah angkot datang berhenti di halte itu.
Olivia mengernyitkan dahinya.
“Apa - apaan angkot itu berhenti di sini. Apa penampilan ku sudah seperti orang miskin,” batin Olivia sembari melihat angkot yang tengah berhenti untuk mencari penumpang.
Arthur melihat angkot itu, kemudian ia berinisiatif untuk menaiki angkot itu menuju kost nya.
“Bagaimana kalau kita naik angkot saja, pengeluaran menjadi lebih sedikit,” usul Arthur.
“Boleh juga,” jawab Elena ia kini sudah bisa berfikir secara sehat, jika terus-terusan mereka menggunakan uang tabungan Elena secara banyak, maka akan cepat habis dan ini hanya satu-satunya harta Elena.
“Kau gila? Yang benar saja naik angkot,” bantah Olivia ia masih kekeh untuk tidak menaiki angkot itu.
“Ayolah ma... Dari pada jalan kaki,” ucap Elena membujuk sang mama.
Setelah beberapa kali membujuk akhirnya Olivia pun setuju untuk menaiki angkot itu menuju kost Arthur.
“Baiklah,” sahut Olivia terpaksa.
Akhirnya mereka bertiga pun menaiki angkot itu. Ketika mereka memasukinya udara mendadak panas dan gerah di tambah beberapa orang yang dari pasar membawa ayam hidup.
Tak lupa Arthur juga menenteng dua koper di tangannya. Arthur pun juga memasukkan koper itu di dalam angkot.
Olivia pun sontak menyumbat hidungnya menggunakan kedua tangannya. “Ihhh. Bau,” batin Olivia.
Mereka yang tengah duduk di dalam angkot itu melihat jika ada seorang penumpang yang datang lantas mereka berdempetan, supaya Olivia, Elena dan Arthur bisa duduk.
“Sini neng masih longgar!” ucap seorang ibu-ibu yang sepertinya dari pasar.
“I- iya Bu,” jawab Elena grogi sembari duduk di samping ibu tadi.
Sedangkan Olivia ia duduk di samping Arthur yang berada di samping pintu.
“Sudah pak, ayo jalan!” ucap Arthur kepada pak sopir.
“Siap atuh kang” jawab sang sopir itu sembari menginjakkan gas.
“Brum...”
Angkot itu melaju dengan membelah jalanan ibu Kota di siang hari.
Ini adalah pengalaman pertama Elena dan Olivia menaiki kendaraan yang bernama angkot.
Tiba-tiba angkot itu mendadak berhenti. Sehingga orang yang berada di dalam angkot pun kaget.
“Ada apa sih Pak?”tanya seorang penumpang yang membawa seorang anak kecil.
“Itu Bu tadi ada kucing tiba-tiba lewat,” sahut Pak Sopir.
“Makannya hati-hati pak,” sahut ibu-ibu yang lainnya.
“Iya deh bu. Maaf sekali kagi,” ucap Pak sopir kemudian kendaraan yang bernama angkot itu pun berjalan kembali.
Olivia terlihat kesusahan untuk bernapas karena ia menutup hidungnya menggunakan tangannya.
“Kapan sampai nya?” tanya Olivia geram.
“Sebentar lagi,” jawab Arthur sembari melihat jalanan yang mereka lalui.
“Pak nanti berhenti saja di jalan matahari setelah pertigaan,” ucap Arthur kepada pak sopir yang masih fokus mengemudikan kendaraan itu.
Pak Sopir pun melihat Arthur melalui kaca angkotnya.
“Siap pokoknya," jawab Pak Sopir itu mantap.
Lima menit kemudian angkot itu sudah sampai di jalan matahari. Arthur, Elena dan Olivia pun turun dari angkot itu tak lupa koper yang selalu Arthur bawa selalu ada di sampingnya.
“Ini ya pak, tiga orang terima kasih,” ucap Arthur sembari memberikan ongkos kepada Pak Sopir.
“Iya,” jawab Pak Sopir sembari menerima uang itu. Kemudian pak Sopir itu pun menginjakkan gas nya kembali. Berlalu meninggalkan mereka bertiga.
“Arthur dimana tempat kost mu?” tanya Olivia karena memang kakinya sudah merasakan sakit karena terjepit di angkot tadi.
“Dekat kok, tinggal masuk gang, kita jalan kaki,” jawab Arthur.
“Baiklah, cepat!” bentak Olivia mereka bertiga pun melangkahkan kakinya menyusuri jalanan di siang hari.
Sesampainya di kost itu Arthur pun membuka pintunya menggunakan kunci yang ia pegang. Setelah pintu itu terbuka Elena dan Olivia bergegas masuk kemudian mereka merebahkan tubuhnya di sebuah kasur.
“Akhirnya bisa beristirahat,” gumam Elena.
.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
MAKANYA JGN SOMBONG, HIDUP ITU TK SLAMANYA DIATAS.. RODA KHIDUPAN ITU SLLU BRPUTAR, HARI INI LO DI ATAS, BESOK BISA LO DIBAWAH.
2023-06-19
0
Rahman Padaka
hummm rasakan semua itu jdi org kere ,siapa suruh jahat Ama menantu hhhhhhh rasakan olivia
2023-03-07
0
Muhamad Bardi
makanya olivia kalau punya mulut tuh dijaga jangan menghina orang miskin terus, sekarang kebalikannya kan kamu yang sekarang jadi orang miskin gimana enak ga? selamat menjalankan kehidupan baru olivia jadi orang miskin..🤣🤣🤣🤣
2023-03-03
1