Arthur pun ingin kembali ke kamarnya tetapi suara ibu mertua membuat Arthur mengurungkan niatnya.
“Arthur cepat masak makanan untuk makan malam kali ini. Karena semua pembantu sudah saya berikan cuti selama seminggu maka mulai hari ini sampai satu minggu kedepan kau yang akan memasak seluruh makanan mansion ini,” ucap Olivia.
“Sekarang apa-apaan ini. Simulasi jadi pembantu?” batin Arthur sembari berjalan ke dapur.
“Cepatt jangan lama,” teriak Olivia menggema di mansion Elena.
Arthur semakin ingin memukul nenek peyot itu. Jika saja bukan karena anak yang sedang dikandung Elena mungkin Arthur sudah menghilang dari tempat sialan ini.
Di dapur Arthur termenung, ia bingung ingin memasak apa sedangkan seorang Arthur seorang milyader muda tidak pernah memasak makanan sendiri. Ia terbiasa membeli makanan ataupun dibuatkan oleh pembantunya.
“Damn masak apa ini,” gumam Arthur sembari membuka-buka lemari yang ada di dapur.
Setelah cukup lama Arthur membuka semua lemari akhirnya ia menemukan lima bungkus spaghetti instan.
“Spaghetti” gumam Arthur sembari ia membaca cara membuat spaghetti itu.
Setelah membacanya barulah Arthur membuat spaghetti nya. Arthur dengan telaten memasaknya. Hingga tidak membutuhkan waktu lama spaghetti itu sudah siap.
Tiba-tiba sebuah ide yang licik datang menghampiri Arthur. Ia mengambil saus cabai yang ada di meja kemudian ia tuangkan di atas spaghetti yang akan di santap Olivia, sangat banyak saus cabai yang Arthur tuangkan. Setelah menuangkannya Arthur pun mengaduk spaghetti itu kembali.
“Gini kan indah,” lirih Arthur sembari membawa empat piring spaghetti yang dimana salah satu piring itu terdapat saus cabainya.
Setelah menata semua spaghetti itu di meja makan barulah Arthur memanggil Olivia, Elena dan sahabat Elena.
“Nyona, Nona! Makan malam sudah siap,” ucap Arthur sembari menunggu mereka datang di ruang makan.
Tidak menunggu waktu lama mereka pun sudah mulai berdatangan. Mereka pun duduk di kursi yang telah di sediakan. Arthur pun mulai memberikan satu porsi spaghetti kepada masing-masing orang.
“Selamat makan,” ucap Elena karena memang perutnya sudah mulai lapar.
Semua orang di meja makan itu pun mulai menyantap makanan nya masing-masing.
Sedari tadi Arthur masih setia mengawasi Olivia yang kebetulan ia belum menyentuh makanannya.
“Apakah Spaghetti buatan Arthur enak?” batin Olivia. Kemudian ia pun melihat Elena dan Kayla mereka menyantap makanan nya.
“Sepertinya enak, mari kita coba,” ucap Olivia ssembari mencoba spaghetti itu.
Sesuap spaghetti sudah masuk di mulut Olivia, ia pun mengunyah makanan itu, tetapi tiba-tiba ia berhenti mengunyahnya.
“Haahhhh.... Pedas,” pekik Olivia sembari mengambil satu gelas air yang ada di depannya. Olivia meminum air itu tetapi ternyata air yang diminum itu adalah air yang masih panas, lidah Olivia terasa terbakar.
Elena dan Kayla yang sedang menikmati spaghetti itu pun terheran - heran dengan tingkah Mamanya.
“Panasss,” teriak Olivia sembari berlari ke lemari pendingin (kulkas) untuk mengambil air dingin.
Setelah mendapatkan nya barulah Olivia meneguk air itu. Tetapi sepertinya rasa panas itu tidak bisa hilang dengan mudah. Lidah Olivia terasa terbakar gara-gara air panas tadi.
Sedangkan Arthur sudah lari terbirit - birit ke kamarnya. Tak lupa pula ia mengunci pintu kamarnya dari dalam. Supaya Nenek Peyot itu tidak bisa masuk.
“Hahaha.. Rasakan itu wahai Olivia karena kau hari ini sudah berani menyuruhku ini, itu,” gumam Arthur sembari tersenyum licik.
Sedangkan di ruang makan, Olivia kebingungan mencari Arthur. Dilihatnya sekeliling ruang makan itu hingga dapur tetapi sama sekali ia tidak melihat batang hidung Arthur.
“Dimana dia?“ ucap Olivia frustasi ingin rasanya ia menghajar menantunya yang kurang ajar itu.
“Sepertinya tadi dia lari ke lantai atas,” sahut Kayla yang kebetulan tadi ia melihat Arthur sekilas.
“Baiklah aku akan kesana,” sahut Olivia sembari berjalan ke lantai atas.
“Dimana dia bersembunyi?” gumam Olivia sembari membuka satu persatu pintu yang ada di lantai atas. Tiba-tiba ketika melewati sebuah gudang Olivia terpeleset karena ada minyak di lantai ia berpijak sontak menyebabkan Olivia terjatuh.
“Brukk”
“Argh..... Punggung ku!” pekik Olivia dengan keras sembari memegang punggungnya yang sakit.
Arthur yang mendengar teriakan itu dari dalam bersorak gembira. “Hahaha... Kau masuk jebakan ku lagi,”
“Pasti ini ulah Arthur sialan itu,” gumam Olivia sembari ia merangkak untuk berdiri.
Olivia pun melanjutkan langkahnya ke kamar Arthur. Hingga sampailah ia di depan kamar itu. Dengan tidak sabaran Olivia menggedor pintu kamar Arthur.
“Buka Arthur!” teriak Olivia yang sudah berdiri di depan pintu.
“Buka? Mimpi,” bantin Arthur sembari ia menikmati spaghetti di atas sofa yang ada di kamarnya itu.
“ARTHUR HEYYY BUKA SIALAN!” teriak Olivia tentu diabaikan oleh Arthur.
Elena dan Kayla penasaran kenapa sedari tadi Mamanya berteriak akhirnya memutuskan untuk menghampiri mamanya itu di lantai atas.
“Ada apa Ma?” tanya Elena ketika mereka berdua sudah ada di belakang Olivia.
Mendengar pertanyaan itu Olivia pun menoleh ke belakang. “Pria Miskin itu tidak mau membuka pintu inu,” ucap Olivia sembari menunjuk pintu yang ada di depannya.
“Haduhhh Mah, kunci cadangan kan ada,” ucap Elena sembari menepuk pelan kepalanya sendiri.
“Oh iya kan ada kunci cadangan. Mama kok bisa lupa sih,” ucap Olivia sembari turun dari lantai dua.
“Tante kan udah tua,” celetuk Kayla mendapatkan pelototan mata dari Elena.
“Upss... Untung Tante Olivia tidak dengar,” sambung Kayla.
“Haishh..” ucap Elena sembari menggelengkan kepalanya.
“Elena... Kan ini sudah malam, aku pamit pulang dulu ya,” ucap Kayla ia berpamitan karena memang jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
“Ya, hati - hati,” sahut Elena.
Elena pun mengantarkan Kayla sampai depan.
Sedangkan Olivia ia berjalan dengan sangat cepat ke kamar Arthur sembari membawa kunci itu.
Sesampainya di depan kamar Arthur barulah ia membuka pintu itu menggunakan kunci yang ia bawa.
“Ceklek”
Pintu itu pun sukses di buka. Arthur pun berpura-pura tidur supaya tidak menemui Olivia yang sepertinya sedang marah kepadanya.
“Heyyy bangun!” sentak Olivia sembari memukul tubuh Arthur yang berbalut selimut menggunakan gagang sapu.
Arthur pun menggeliat merasakannya, tetapi ia masih berpura-pura tidur.
“Bangun!” teriak Olivia kembali. Suara Olivia sangat keras akhirnya Arthur pun terbangun dari tidurnya.
“Ada apa?” tanya Arthur terlihat sok polos.
“Ada apa? Heyy kau sudah berani membuat Nyonya rumah ini kepedasan. Kemudian kau sudah berani membuat saya terpeleset hingga pinggang ku sakit, dengan cara menyiram minyak goreng di lantai Hah!” ucap Olivia panjang lebar.
“Oh ya? Saya kira yang sangat masukan di spaghetti anda adalah saus tomat. Dan untuk anda yang terpeleset sepertinya bukan ulah saya melainkan sahabat dari teman anakmu itu,” jelas Arthur.
Penjelasan Arthur sontak membuat Olivia terdiam karena ia juga tadi melihat Kayla membawa satu botol minyak goreng berisi satu liter setengah (1,5 liter) dibawa ke lantai dua. Dan kembali turun dengan botol minyak itu sudah kosong.
“Jadi tidak sepenuhnya salah saya,” bantah Arthur.
Olivia seakan ingin menghilang diri dari tempat ini karena sudah menuduh Arthur yang tidak - tidak.
Olivia bungkam seribu bahas ia kemudian membalikkan badan dan berjalan meninggalkan kamar Arthur.
Arthur melihat kepergian Olivia tanpa ingin memberhentikan langkahnya.
“Kayla - Kayla, niat mu ingin membuat Elena yang terjatuh akibat minyak yang kau tumpahkan di lantai justru terkena Olivia. Makannya kalau mau bergerak dilihat-lihat dulu siapa pelindung nya Elena ?” ucap Arthur sembari tersenyum karena yang terkena jebakan Kayla adalah Olivia.
Memang Arthur yang sudah menyusun semua rencana ini supaya yang terpeleset bukan istrinya, jika saja Elena yang terpeleset ada kemungkinan anak yang dikandung Elena keguguran karena kontraksi yang tidak mereda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Muhamad Bardi
semangaaaat...💪💪💪 kak thor ceritanya semakin seru...
ditunggu bab selanjutnya kak thor..
2023-02-24
1
Muhamad Bardi
punya dendam apa ya kayla sama elena🤔🤔..ko dia jahat banget sama elena..
2023-02-24
1