“Tuan, sebelumnya perkenalkan saya Sri. Panggil saja Bi Sri,” ucap Bi Sri sembari tersenyum ke arah Arthur.
“Oh, hai Bi Sri. Perkenalkan juga, saya Arthur. Bibi bisa panggil Arthur saja tanpa embel-embel Tuan,” ucap Arthur memberitahukan jika ia lebih suka dipanggil nama saja.
Bi Sri yang mendengar itupun merasakan kegembiraan yang teramat dalam. Baru kali ini dalam hidup nya seorang majikan menyuruh pembantu untuk memanggilnya dengan nama saja.
“Tapi Tuan, saya takut nanti Nyonya Olivia marah,” ucap Bi Sri.
“Tidak usah takut Bu, bahkan Nyonya Olivia tidak akan peduli,” jawab Arthur sembari tersenyum.
“Oh iya, Bi Saya mau izin keluar sebentar ya Bi,” ucap Arthur meminta Izin kepada Bi Sri.
“Iya, Tuan,” sahut Bu Sri.
Mereka berdua pun melangkah memasuki mansion Elena.
Arthur segera bergegas berganti pakaian karena sebenarnya ia mempunyai urusan yang sangat penting kali ini. Untung Elena dan Olivia sedang keluar sehingga memudahkan Arthur untuk keluarga dari mansion.
Setelah selesai bersiap-siap Arthur pun mengambil sebuah telepon genggam miliknya dan menelpon seseorang.
Setelah lama menunggu telepon itu dijawab akhirnya ada suara di ujung telepon.
“Hallo Tuan,” ucap seorang pria di ujung telepon. Sontak mendapatkan semprotan dari Arthur.
“Heyyy jam berapa ini?” ucap Arthur keras sehingga membuat orang yang berada di ujung telepon itu terjungkal kaget.
Pria yang ada di ujung telepon itu pun sontak melihat layar bagian atas di handphone nya.
“Jam sebelas Tuan,” jawab Pria di ujung telepon dengan gugup.
“Lalu?” ucap Arthur dengan tangan yang siap melempar sebuah gelas untuk melampiaskan rasa kesalnya.
“Kenapa Tu--- Astaga... Saya lupa menjemput Anda Tuan,” pekik Pria di ujung telepon. kemudian pria itu mematikan teleponnya.
“Tut... Tut.... Tut...,”
“Dasar Hendri,” gumam Arthur sembari mengatur napasnya.
Ya.. Pria yang ada di ujung telepon tadi adalah Hendri Mukti, Asisten sekaligus sekretaris pribadi Arthur. Pria 30 tahun itu masih berstatus lajang ia belum menikah. Sifatnya yang humoris sangat berbeda dengan sikap bos nya.
Tanpa menunggu lama lagi Arthur segera bergegas untuk turun dari lantai dua ia menghampiri Bi Sri yang kebetulan sedang menyapu lantai bawah.
“Bi Sri, saya izin keluar dulu. Kalau ditanya sama Elena dan Mamanya bilang saja sedang kerumah teman,” ucap Arthur kepada Bi Sri.
Mendengar itu Bi Sri pun menganggukkan kepalanya.
“Iya, Tuan,” sahut Bi Sri.
Setelah mendengar jawaban dari Bi Sri Arthur pun berjalan ke luar dari mansion. Ia pun menunggu sang Asisten pribadinya Hendri untuk segera datang di sebuah warung kopi. Sehingga tidak membuat orang-orang curiga.
Tidak menunggu waktu lama sebuah mobil ferrari hitam berhenti di depan Warung Kopi itu, mendadak semua warga yang sedang asik menikmati secangkir kopi menghentikan aktifitas nya. Mereka pun melihat mobil Ferrari yang sedang berhenti di depan Warung kopi itu.
Arthur memukul jidat nya sendiri. “Astaga kenapa dia memakai mobil itu?” gumam Arthur sembari menggelengkan kepalanya.
Arthur pun berlari menghampiri mobil itu Ia membuka pintu mobil tetapi ternyata di kunci dari dalam.
“Hendri sialan,” umpat Arthur sembari mengetuk beberapa kali kaca mobil di samping kemudi.
Hendri yang tadinya asik bermain ponsel mendadak terlonjak kaget mendapati seorang pria berpakaian compang - camping sedang mengetuk pintu mobil yang tengah ia kendarai.
“Siapa dia? Tetapi mukanya seperti tidak asing,” batin Hendri sembari mengambil uang di dashboard mobil nya.
Setelah Hendri mengambil selembar uang dengan nilai sepuluh ribu rupiah ia pun membuka dengan menurunkan kaca jendela mobilnya.
“Ini,” ucap Hendri sembari memberikan selembar uang tersebut di tangan Arthur. Hendri tidak melihat pria itu dengan teliti.
Arthur yang melihat selembar uang dengan nilai sepuluh ribu rupiah yang ada ditangannya melotot kan matanya tidak percaya akan tingkah Hendri yang kurang ngajar terhadapnya itu.
Kesabaran Arthur pagi hingga siang ini sudah di uji beberapa kali mulai dari Elena yang kehilangan perhiasannya, Ibu Mertuanya yang selalu menyuruhnya sebagai pembantu hingga ia yang diperlakukan seperti seorang pengemis oleh asisten sekaligus sekertaris nya sendiri.
“Whatt?” pekik Arthur sembari melemparkan uang itu di wajah Hendri.
“Kau kira Aku seorang pengemis hingga kau memberikan uang ini,” bentak Arthur.
Hendri pun gelagapan kaget mendengar bentakan dari Arthur.
“Ma- maaf Tuan. Tadi saya kira anda seorang pengemis sehingga saya berinisiatif untuk memberikan sejumlah uang ini,” ucap Hendri ia tidak berani menatap Arthur.
“Hhm..,” jawab Arthur singkat.
“Buka pintunya!” ucap Arthur dingin tanpa ekspresi apapun, hingga membuat Hendri bergidik ngeri.
Buru-buru Hendri pun membuka pintu mobilnya dari dalam. Barulah setelah pintu itu dibuka Arthur pun masuk ke dalam mobil itu.
“Jalan,” perintah Arthur kepada Hendri yang malah terdiam di tempat. Hendri melamun ke arah luar jendela melihat seorang gadis berambut sebahu dengan wajah yang sangat manis.
“Heyyy Aku bilang Jalan, Mau saya potong gaji kamu?” Ucap Arthur sembari mengancam Hendri.
Hendri yang mendengar gajinya akan segera dipotong itu pun segera menancapkan gas mobilnya.
Kendaraan beroda empat itu pun melesat dengan sangat cepat membelah jalanan Ibu Kota di siang hari.
“Aku sedang merencanakan misi ber pura-pura sebagai orang miskin tetapi kenapa kau malah membawa mobil ini,” ucap Arthur geram. Hendri yang mendengar itu pun hanya bisa tersenyum dan menampakkan rasa tidak bersalahnya.
“Soalnya rasanya jika membawa mobil yang kualitas biasa tidak nyaman Tuan, saya terbiasa membawa mobil yang mahal,” jawab Hendri ia tetap fokus mengemudikan mobilnya.
“Hmm...,” sahut Arthur dingin ia kemudian melihat ke jendela mobilnya melihat pemandangan ruko-ruko, toko-toko yang berada di pinggir jalan, tetapi sebuah kejadian membuat Arthur menghentikan mobilnya.
“Berhenti,” ucap Arthur lantang.
Hendri pun segera menginjakkan rem nya.
“Ada apa Tuan?“ tanya Hendri penasaran.
“Kau lihat di luar jendela itu, seorang wanita paruh baya dan seorang wanita hamil yang sedang berkelahi dengan wanita lainnya,” ucap Arthur sembari menunjukkan kejadian yang tengah ia lihat.
Hendri pun melihat keluar, arah yang ditunjukkan tangan Arthur.
“Iya Tuan, saya melihatnya,” sahut Hendri sembari menyaksikan kejadian itu dari dalam mobil.
“Kau turun dan urus mereka. Dan jangan sampai wanita yang tengah hamil itu terluka sedikit pun, se ujung jari pun. Jika sampai terluka maka nyawamu akan melayang,” perintah Arthur kepada bawahannya itu.
“Glek,” Hendri kesusahan menelan saliva nya sendiri ketika mendengar ancaman yang di lontar kan oleh Bos nya itu.
Tanpa bertanya lagi Hendri pun bergegas turun dari mobil dan menghampiri para perempuan yang sedang berkelahi.
“Permisi, Nyonya dan Nona - Nona. Kalau boleh saya tahu ini sedang terjadi apa?” tanya Hendri dengan sopan.
Kemudian Olivia pun menjawab pertanyaan Hendri.
“Ini Tuan tadi kami setelah selesai belanja baju yang branded mahal-mahal terus tiba-tiba Wanita itu datang dan menumpahkan jus mereka dengan sengaja di baju yang baru kami beli,” ucap Olivia menceritakan kejadian versi Olivia.
“Tidak, Nyonya kami berdua tidak sengaja,” sahut Wanita lainnya.
“Sengaja maupun tidak sengaja, kalian harus mengganti semua pakaian yang telah kalian tumpah i jus ini,” ucap Olivia. Ia meminta ganti rugi.
Kedua wanita yang ada di depannya itu pun segera angkat bicara.
“Tapi hanya sedikit bagian yang terkena jus ini,” bantah Wanita yang satunya.
“Baju ini bisa kami cuci . Jika pun Anda ingin menyuruh kami menggantinya dengan yang baru kami juga tidak sanggup,“ sahut wanita yang memegang jus jeruk.
Hendri pusing di buat, mendengar pembicaraan antar wanita yang tidak ada habisnya didepannya itu.
“Jika bukan Bos yang menyuruhku maka aku tidak akan mau berdiri diantara para Wanita yang bertengkar ini,” batin Hendri menggerutu sembari melihat mobil Arthur yang terparkir di pinggir jalan.
“Ya sudah, kalau begitu begini saja. Saya yang akan bertanggung jawab mengganti pakaian Anda. Berapa harga semuanya?” ucap Hendri daripada ia terus-terusan berdiri di situ.
“Heyyy jangan sok jadi pahlawan. Ini hanya urusan ku dengan dua wanita tak bertanggung jawab di depan ku ini,” ucap Olivia.
Hendri menghela napas kesal.
Sekilas Hendri melihat baju yang tersiram jus itu memang barang branded ternama bahkan satu setel baju bisa digunakan untuk membeli satu unit mobil.
“Berapa setel baju yang terkena jus?” tanya Hendri kepada mereka.
“Dua setel pakaian,” jawab Elena yang sedari tadi diam.
“Nomor rekening anda?” tanya Hendri sembari memberikan ponselnya kepada Elena.
Elena pun mengambil ponsel itu dan mengetik kan nomor rekeningnya. Setelah selesai barulah Elena mengembalikannya.
“Delapan ratus juta, sudah saya transfer di rekening Anda. Bisa Anda cek sekarang,” ucap Hendri kepada Elena.
Elena pun membuka ponselnya dan alangkah benar uang senilai delapan ratus juta rupiah telah masuk di rekeningnya.
“Ma, uangnya sudah masuk,” ucap Elena kepada Mamanya.
“Baiklah kalau begitu,” jawab Olivia sembari tersenyum.
“Terima kasih Tuan,” ucap Wanita yang menumpahkan jus tadi.
“Sama-sama Nona,” sahut Hendri.
“Masalah kali ini sudah selesai. Untuk kalian berdua uang saya tidak usah diganti. Saya ikhlas dan kalian semua segera membubarkan diri tidak pantas dilihat seperti ini di siang hari,” ucao Hendri kemudian ia berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Hendri pun berjalan menuju mobilnya.
.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Muhamad Bardi
ceritanya semakin menarik, ditunggu bab selanjutnya kak thor..
2023-02-22
1