Beberapa menit berlalu Bi Sri kembali dengan membawa perhiasan Elena, sehingga membuat Elena, Arthur, dan Olivia bingung.
Bi Sri berlari dengan tergopoh-gopoh, sembari membawa perhiasan milik Elena di tangannya.
“Nyona, Nona, Tuan. Saya menemukan perhiasan ini di kamar mandi lantai Dua,” ucap Bi Sri sembari menetralisir napasnya yang ngosngosan karena berlari.
“Hah? Kau menemukan perhiasan ku Bi?” tanya Elena antusias wajahnya kembali ceria mendapati perhiasannya kembali.
“Iya, Non. Sepertinya ketika kemarin Non mandi perhiasannya tertinggal di kamar mandi. Karena Nona melepasnya,” ucap Bi Sri sembari memberikan perhiasan yang telah ia temukan.
Elena pun mengingat - ingat kejadian kemarin dimana ia sedang mandi dan kemudian melepas semua perhiasannya. Setelah cukup lama Elena berfikir barulah ia mengingatnya.
“Iya, Bi. Saya baru ingat jika kemarin saya melepaskan perhiasan itu. Dan kemudian saya tinggal begitu saja,” ujar Elena membuat semua orang bernapas lega. Karena keteledoran Elena membuat para penghuninya kalang kabut, untuk mencari dan juga mengetahui dimana perhiasan itu.
“Kalau begitu Bibi permisi dulu. Mau memasak,” ucap Bi Sri pamit.
“Iya Bi, terima kasih ya,” sahut Elena ia juga lega dan bersyukur tidak ada yang mencuri perhiasannya.
”Ya, Non,” jawab Bi Sri kemudian ia berlalu pergi.
Tiba-tiba Olivia memanas - manasi Elena kembali.
“Masih untung kamu Elena, tadi perhiasannya tidak diambil Arthur,” ucap Olivia sontak membuat Arthur mengelus dada nya.
“Iya Ma,” sahut Elena kemudian ia kembali ke kamarnya.
Sedangkan Arthur ia mendapatkan tatapan mengintimidasi dari Olivia.
“Ya Tuhan,” gumam Arthur lirih.
“Heh.... Kau pria miskin cepat sana siram tanaman bunga yang ada di halaman. Kamu kira tinggal disini gratis?” bentak Olivia sembari berbalik arah mengibaskan tangannya.
Arthur pun terdiam di tempat, bukannya ia menjadi suami untuk bertanggung jawab tetapi kenapa malah dia seakan dijadikan pembantu di mansion ini? Itulah sekelebat pikiran Arthur.
Olivia geram melihat Arthur yang sama sekali tidak bergerak ditempat nya.
“Heyyy, apa kau tidak dengar? Cepat sana kau siram tanaman bunga di halaman!” perintah Olivia untuk yang kedua kalinya.
Mau tidak mau Arthur pun menurutinya. Daripada Olivia terus berbicara hingga membuat Arthur sakit telinga.
Arthur pun berjalan dengan malas ke arah luar mansion. Sembari menggerutu didalam hatinya.
“Bahkan hanya Olivia yang berani memerintah seorang Arthur untuk menyiram tanaman sialan ini. Bilang saja kalau kurang pembantu dirumah ini,” gerutu Arthur sembari mengambil selang air kemudian ia semprotkan di tanaman bunga itu.
Cukup lama Arthur menyiram seluruh tanaman bunga di mansion yang ukurannya sangat luas itu. Olivia sengaja membuat Arthur tidak betah tinggal di Mansion ini. Bahkan tukang kebun saja diberi cuti oleh Olivia untuk libur sementara. Supaya semua pekerjaan tukang kebun bisa diselesaikan oleh Arthur.
“Sialan, Wanita Tua itu. Argh..... Dia tidak tahu saja siapa Arthur yang sebenarnya,” ucap Arthur sembari terus menyiram seluruh tanaman itu.
Sedangkan Olivia membawa seekor anjing untuk ia lepaskan didekat Arthur.
“Anjing baik, kamu tante lepaskan disini ya, lihat didepan ada Seorang pria miskin. Kejar saja dia,” ucap Olivia sembari membuka kalung yang terlilit di leher anjing itu sehingga Anjing itu pun bisa lepas.
“Guk-guk-guk,” anjing itu pun menggonggong. Sembari berlari-lari.
“Heyyy, Anjing lihat didepan mu cepat kau kejar Pria itu,” perintah Olivia kepada seekor anjing. Tetapi malah sebaliknya Anjing itu mengejar Olivia.
Olivia pun berlari ketakutan melihat seekor anjing tengah mengejarnya seperti anjing yang sedang kelaparan.
“Aaaaa..... Tolong!” pekik Olivia sembari berlari lebih cepat dari anjing itu. Arthur mendengar suara teriakan itu ia pun menoleh ke kanan dan kekiri tetapi ia tidak melihat apapun, apa pendengaran nya salah.
Tiba-tiba Mama mertuanya datang berlari dengan ekspresi Ketakutan, Olivia pun berlindung dibelakang tubuh kekar
Arthur.
Arthur dibuat heran dengan tingkah Mama mertuanya itu. Biasanya Olivia akan bersikap seolah tidak peduli tetapi kenapa sekarang malah seakan Olivia sangat meminta perlindungan darinya.
“Heyy pria miskin! usir Anjing itu," pinta Olivia sembari terus berlindung dibelakang Arthur.
“Hah?” Arthur heran kenapa Olivia kini memintanya untuk mengusir Anjing itu.
“Guk - guk - guk,” Anjing itu menggonggong dengan keras hingga membuat Arthur segera mengusir Anjing itu.
Olivia yang melihat Anjing itu sudah menjauh pun merasa lega, akhirnya ia bisa menghirup udara bebas.
“Setelah selesai menyirami bunga, kau harus menyapu dedaunan yang rontok ini. Tukang kebun sedang ambil cuti. Lantas jika bukan kau siapa yang akan membersihkannya?” ucap Olivia menyuruh Arthur untuk membersihkan dedaunan yang rontok itu.
“Hah? Sialan setelah kau suruh aku untuk menyiram semua bunga mu ini? Sekarang kau menyuruh ku untuk menyapu? Apa kau tidak waras,” batin Arthur sembari menghela nafas kasar.
“Oke lah, Mari kita turuti keinginan wanita paruh baya ini,” batin Arthur tersenyum.
Olivia tidak sengaja melihat sekilas senyum Arthur, seakan tersihir oleh ketampanan Arthur, tanpa sadar Olivia berkata, “Wahhhh Tampan sekali pria miskin itu,” ucap Olivia begitu saja hingga membuat Arthur mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Hm..,” sahut Arthur sembari mematikan kran kemudian ia mengambil sebuah sapu yang biasa tukang kebun gunakan untuk menyapu dedaunan yang rontok.
Arthur pun mulai menyapu semua bagian halaman mansion itu. Meskipun Arthur sudah capek sekali tetapi ia melakukan ini juga demi calon anaknya. Supaya Arthur tidak diusir dari Mansion itu.
Setelah beberapa jam lamanya barulah seorang Arthur selesai membersihkan seluruh halaman mansion yang luas itu. Arthur pun beristirahat sebentar di teras belakang mansion itu.
Bi Sri tidak sengaja melihat Arthur yang kecapean setelah membersihkan halaman mansion. Bi Sri pun menghampiri nya.
“Tuan, sepertinya capek sekali ini Bibi bawakan minuman penghilang rasa haus,” ucap Bi Sri sembari memberikan sebotol minuman dingin.
Dengan senang hati Arthur pun menerima minuman itu, “Wahh terima kasih Bi,” ucap Arthur berterimakasih kepada Bi Sri, karena hanya Bi Sri yang peduli terhadapnya di Mansion ini.
“Sama- sama Tuan,” sahut Bi Sri sembari menemani Arthur duduk.
“Oh iya Tuan, tadi Bibi melihat Elena dan Olivia sepertinya sedang tidak ada di rumah,” ucap Bi Sri memberitahu Arthur.
“Tadi Bibi tidak sengaja melihat mereka keluar menggunakan mobil sepertinya mereka akan belanja,” ucap Bi Sri kepada Arthur.
Entah mengapa Arthur semakin tertarik ingin mengetahui semuanya tentang keluarga Elena. Karena menurut dia keluarga Elena merupakan salah satu keluarga yang tidak biasa.
“Tuan, sebelumnya perkenalkan saya Sri. Panggil saja Bi Sri,” ucap Bi Sri sembari tersenyum ke arah Arthur.
“Oh, hai Bi Sri. Perkenalkan juga, saya Arthur. Bibi bisa panggil Arthur saja tanpa embel-embel Tuan,” ucap Arthur memberitahukan jika ia lebih suka dipanggil nama saja.
Bi Sri yang mendengar itupun merasakan kegembiraan yang teramat dalam. Baru kali ini dalam hidup nya seorang majikan menyuruh pembantu untuk memanggilnya dengan nama saja.
“Tapi Tuan, saya takut nanti Nyonya Olivia marah,” ucap Bi Sri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Nah malu kan kamu..Dia yg teledor malah nyalahin org lain
2024-12-18
0
Muhamad Bardi
ditunggu bab selanjutnya kak thor
2023-02-15
1
Muhamad Bardi
hahahahaa...emang enak olivia senjata makan tuan😂😂😂
2023-02-15
1